Hilangnya Tradisi Lama
- calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
- visibility 58
- comment 0 komentar
- print Cetak

Frans Sumampouw Watuseke
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tradisi lama di Tondano dan wilayah Minahasa lainnya mencakup cerita rakyat, teka-teki, nyanyian, serta berbagai kebiasaan yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran. F. S. Watuseke mencatat bentuk-bentuk tradisi tersebut dalam sejumlah artikel yang terbit antara 1957 dan 1980. Sebagian telah berhenti dilakukan, sebagian sedang menghilang, dan sebagian lainnya hanya bertahan dalam ingatan sejumlah kecil orang tua. Dalam tulisannya, Watuseke menghubungkan perubahan itu dengan perkembangan pendidikan, masuknya media modern, dan meningkatnya penggunaan pelayanan kesehatan modern.
Dalam kehidupan lama masyarakat Tondano, teka-teki, dongeng, mitos, dan berbagai cerita menjadi permainan yang disukai. Orang saling memberikan teka-teki pada malam hari sebelum tidur. Teka-teki juga dimainkan ketika mereka bekerja di ladang saat panen. Jika hujan menghentikan pekerjaan, mereka duduk bersama sambil menunggu cuaca kembali kering dan menggunakan waktu itu untuk saling memberikan teka-teki. Dalam bahasa Tondano, kegiatan saling memberikan teka-teki disebut ma’ingkotan, sedangkan sebuah teka-teki disebut iingkoten.
Nyanyian juga menyertai berbagai kegiatan. Lagu dibawakan dalam upacara keagamaan, peresmian rumah baru, penanaman dan pemanenan di ladang, pekerjaan bersama, percintaan, dan peperangan. Lagu untuk menanam atau memanen padi disebut kekamberun. Lagu yang mengiringi pekerjaan berat seperti pembangunan jalan disebut kekereien. Orang yang bernyanyi sendiri ketika menyiangi kebun atau halaman membawakan kekokowen. Dalam peresmian rumah baru, masyarakat menyanyikan sesabon secara bersama-sama. Ada pula lagu anak-anak yang disebut tetabaken ne oki’.
Kebiasaan lama juga mengatur tindakan suami dan istri selama kehamilan. Mereka tidak diperbolehkan menghalangi jalan yang biasa dilalui atau berdiri dan duduk di tangga karena tindakan itu dipercaya dapat menyebabkan bayi lahir dalam posisi sungsang. Keduanya tidak boleh memintal tali atau benang agar bayi tidak terlilit tali pusar. Mereka juga tidak diperkenankan membuat simpul yang kuat dan hanya boleh membuat simpul longgar. Berbagai ketentuan lain mengatur cara makan, tidur, dan pekerjaan selama masa kehamilan.
Sesudah kelahiran, terdapat praktik pemanasan terhadap ibu yang disebut merarang. Watuseke menyaksikan praktik ini untuk terakhir kalinya pada 1939. Pemanasan dimulai pada hari ketiga setelah persalinan dan diteruskan sampai hari kesembilan. Kegiatan dilakukan dua kali sehari, antara pukul 05.00 dan 07.00 serta pukul 17.00 dan 19.00. Ibu duduk sekitar satu meter dari perapian, sedangkan tubuh bagian atasnya diolesi minyak kelapa agar panas lebih mudah ditahan. Bagian punggung mendapat perhatian khusus selama pemanasan.
Sesudah pemanasan, ibu meminum cairan yang dibuat dari daun turi dan serewung. Daun turi ditumbuk dan diperas hingga menghasilkan cairan kehijauan, kemudian dicampur dengan cuka dan bawang putih. Daun serewung juga ditumbuk dengan air dan diperas hingga menghasilkan cairan berwarna keunguan. Minuman tersebut diberikan sejak setelah persalinan sampai hari kesembilan. Setelah meminumnya, ibu mengisap jeruk kecil untuk menghilangkan rasa yang tidak menyenangkan.
Menurut catatan Watuseke, praktik pemanasan ibu setelah melahirkan tidak lagi dilakukan sejak 1942. Namun, praktik lain yang disebut masosot masih bertahan lebih lama. Dalam masosot, berbagai tanaman dicuci dan direbus dalam periuk besar atau kaleng minyak tanah. Wadah berisi cairan panas ditempatkan di bawah kursi berlubang. Ibu kemudian duduk tanpa pakaian di atas kursi itu, sedangkan tikar dipasang mengelilinginya dalam bentuk kerucut agar uap naik di sekitar tubuh. Sesudahnya, cairan rebusan didinginkan dan digunakan untuk mandi.
Pada 1957, Watuseke menerbitkan cerita mengenai Salangkew, seekor burung mitologis dalam cerita rakyat Tondano. Tulisan itu diterbitkan sebagai sumbangan bagi pengetahuan tentang bahasa dan sastra Tondano. Watuseke menyebut Tondano sebagai bahasa yang paling sedikit dipelajari dan paling kurang dikenal di antara empat bahasa besar Minahasa. Teks Salangkew menjadi teks Tondano pertama yang diterbitkan dengan terjemahan bahasa Belanda. Sebelumnya, bahan bahasa Tondano terutama tersedia dalam bentuk daftar kata dan uraian tata bahasa.
Setelah kembali ke Minahasa, Watuseke mulai menanyakan cerita dan teka-teki lama, terutama kepada orang tuanya. Ia mencatat sejumlah cerita dan teka-teki yang masih dapat diperoleh. Beberapa cerita Tondano kemudian diterbitkannya, termasuk kisah Salangkew. Pengumpulan tersebut dilakukan ketika generasi yang pernah mengenal permainan lama masih dapat dimintai keterangan, meskipun banyak orang tua tidak lagi mengingat bentuk yang diwariskan secara tepat. Menurut Watuseke, hanya beberapa orang yang sangat tua masih mampu mengingatnya.
Pada 1962, Watuseke masih menyaksikan pelaksanaan masosot. Persalinan ketika itu dapat berlangsung di rumah sakit, tetapi penguapan terhadap ibu tetap dilakukan sesudahnya. Ia membedakan keadaan tersebut dari praktik pemanasan yang sudah tidak dilaksanakan sejak 1942. Watuseke juga menyatakan bahwa kebiasaan lama lebih lama dipertahankan di perdesaan daripada di kota, meskipun pengaruh Tondano, Manado, dan kota-kota lain juga telah memasuki desa di tepi pantai dan sekitar danau.
Dalam artikel mengenai kehamilan dan kelahiran yang terbit pada 1970, Watuseke menyatakan bahwa sulit menentukan sejauh mana kebiasaan tersebut masih dijalankan. Di Kota Tondano, berbagai kebiasaan itu sedang menghilang. Ia tidak lagi mendengar pelaksanaan pemanasan ibu, sedangkan masosot masih pernah dilihatnya pada 1962. Watuseke menyebut bahwa meningkatnya perkembangan masyarakat menyebabkan kebiasaan lama menghilang dan digantikan cara yang lebih modern. Perubahan itu disertai meningkatnya permintaan terhadap pengobatan modern.
Dua tahun kemudian, Watuseke menerbitkan 32 teka-teki Tondano dengan terjemahan bahasa Belanda dan catatan bahasa. Ia menyatakan bahwa masa teka-teki, dongeng, cerita, dan mitos di Minahasa telah menjadi masa lalu atau sedang menuju ke sana. Menurutnya, keadaan tersebut berkaitan dengan semakin luasnya hubungan dengan dunia luar. Buku, surat kabar, film, dan radio turut meningkatkan pengetahuan masyarakat serta membuka jalan bagi gagasan modern.
Generasi muda yang memperoleh pendidikan lebih tinggi daripada generasi sebelumnya tidak lagi mengenal permainan pergaulan berupa teka-teki dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Orang-orang yang lebih tua masih pernah mengalami masa ketika permainan itu berlangsung, tetapi kebanyakan tidak lagi mengingat bentuknya secara lengkap. Karena itu, Watuseke mengumpulkan teka-teki dari orang yang masih mengetahuinya. Teka-teki yang diterbitkannya memperlihatkan benda-benda dalam kehidupan sehari-hari, antara lain anjing, perahu, kapuk, setrika, pisau, busa, mangga, korek api, telur, sepatu, senapan, jarum, dan daun pisang.
Sekitar tujuh atau delapan tahun sebelum artikel nyanyian Tondano diterbitkan pada 1975, Watuseke mencatat sejumlah lagu dari orang-orang tua di wilayah Tondano dan Tonsea. Lagu-lagu itu membicarakan padi, matahari, bulan, bintang, dan angin. Isinya tidak jauh berbeda dari nyanyian yang pernah diterbitkan J. G. F. Riedel. Pada masa Watuseke melakukan pencatatan, hanya beberapa orang yang sudah sangat tua dan pernah mempelajari serta menyanyikan lagu-lagu tersebut saat muda masih mengenalnya dengan baik.
Watuseke menjelaskan bahwa nyanyian lama Minahasa telah banyak dilupakan. Syair yang dipelajari di sekolah, nyanyian gereja, serta lagu populer yang disebarkan melalui industri piringan hitam dan radio telah mengambil tempatnya. Puisi lama yang masih bertahan dapat disimpan karena ada orang yang tertarik untuk mencatat dan menerbitkannya. Namun, materi yang telah diterbitkan dalam bahasa-bahasa Minahasa dinilainya belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan puisi yang sebelumnya diwariskan secara lisan.
Nyanyian percintaan Tondano yang dicatat Watuseke pernah dinyanyikan sebagai lagu makamberu oleh perempuan saat menanam dan memanen padi. Lagu-lagu tersebut berisi bahasa Tondano dengan sejumlah kata Melayu Manado dan Tombulu. Kata Melayu digunakan secara sengaja untuk memberikan suasana hidup dalam nyanyian atau membangkitkan kegembiraan pendengar. Penggunaan semacam itu terutama ditemukan dalam lagu percintaan, sedangkan dalam lagu-lagu lain yang dicatat Watuseke tidak ditemukan kata Melayu yang sengaja dimasukkan dengan cara serupa.
Setelah itu tahun 1980, Watuseke menerbitkan tiga nyanyian percintaan dari Tonsea. Ketiga lagu itu hanya masih terdengar sebagai bagian dari nyanyian maramba’. Lagu tersebut tidak lagi dinyanyikan ketika seorang pemuda mengajukan lamaran atau ketika pemuda dan pemudi menyatakan perasaan cinta. Watuseke menyebut fungsi lama itu sepenuhnya telah menjadi bagian dari masa lalu. Karena puisi Minahasa yang tersedia dalam bentuk cetak masih sedikit, ia menerbitkan ketiga lagu tersebut sebagai bahan bagi pengetahuan mengenai puisi Minahasa.
Lagu Tonsea pertama menceritakan Mondolewo’ dan Saramei serta dibawakan dalam tarian maramba’ ketika rumah baru diresmikan. Para peserta berjalan sambil menghentakkan kaki, berbaris dengan tangan diletakkan pada bahu orang di depan, kemudian melewati semua ruangan rumah. Setelah itu, mereka berkumpul membentuk lingkaran di ruangan terbesar. Lagu kedua menggambarkan lamaran pemuda dari keluarga terpandang kepada perempuan dari kedudukan lebih rendah, sedangkan lagu ketiga juga berbentuk percakapan mengenai hubungan seorang pemuda dan perempuan.
Catatan Watuseke sejak 1957 sampai 1980 memperlihatkan keadaan berbeda dari setiap tradisi. Cerita Salangkew diterbitkan ketika bahan tertulis bahasa Tondano masih terbatas. Pemanasan ibu telah berhenti sejak 1942, tetapi masosot masih terlihat pada 1962. Teka-teki hanya diingat secara tepat oleh sejumlah kecil orang berusia sangat tua. Nyanyian Tondano telah digantikan oleh pelajaran sekolah, nyanyian gereja, piringan hitam, dan radio, sedangkan lagu percintaan Tonsea bertahan dalam maramba’ tetapi tidak lagi digunakan untuk lamaran atau pernyataan cinta.
Referensi:
Watuseke, F. S. “Salangkew, een mythische vogel in een volksverhaal uit Tondano (Minahasa).” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 113, no. 4 (1957): 341–360.
F. S. Watuseke “Oude gebruiken bij zwangerschap en geboorte in Tondano.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 126, no. 4 (1970): 448–454.
F. S. Watuseke “Tondanose Raadsels.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 128, no. 2/3 (1972): 330–336.
F. S. Watuseke “Tondanose Liederen—En Tetabaken né Toudano.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 131, no. 2/3 (1975): 236–246.
F. S. Watuseke “Minahasische Liederen uit Tonséa’.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 136, no. 2/3 (1980): 353–371.
- Penulis: Engel Yong
