Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Profil » Dotu Lolong–Lasut sebagai Pelopor Pendiri Kota Manado

Dotu Lolong–Lasut sebagai Pelopor Pendiri Kota Manado

  • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
  • visibility 323
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Secara ringkas akan kami uraikan riwayat hidup almarhum Dotu Lolong-Lasut yang telah merintis pembangunan Negeri Wenang yang kemudian meluas menjadi Kota Manado sekarang ini.

Dotu Lolong-Lasut alias Ruruares dilahirkan di Negeri Kinilow sekitar permulaan tahun 1400 dan meninggal pada tahun 1520. Beliau adalah anak dari seorang yang bernama Lasut, yang pekerjaannya sebagai Kepala Agama Tombulu “Walian” di Negeri Kinilow.

Pada bulan November 1450 Dotu tersebut bersama para pengikutnya berangkat menuju dataran Gunung Wenang. Sasaran ini telah diputuskan oleh beliau karena di bawah Negeri Kinilow terdapat suatu tempat pemandangan yang disebut dalam bahasa Tombulu “Temboan”, yang dapat melihat ke pantai yang kemudian menjadi Pelabuhan Manado sekarang ini.

Bersama pula pada waktu itu berangkat dari Negeri Kinilow adik bungsu dari Dotu tersebut di atas. Namun kemudian adiknya memisahkan diri dari kakaknya dan bersama para pengikutnya melanjutkan perjalanan menuju Gunung Mandalang dan mendirikan negeri di Pantai Mandalang.

Sementara itu kakaknya, Dotu Lolong-Lasut, setibanya di kaki Gunung Wenang langsung mulai melaksanakan tugasnya sebagai Kepala Agama Tombulu.

Pada malam kedua beliau mendengar suara burung malam yang disebut dalam bahasa Tombulu “Sumoring”, yaitu suatu tanda yang baik (Kinaenaan). Atas isyarat burung tersebut, beliau kemudian memerintahkan para pengikutnya untuk mulai merintis pembukaan hutan yang berada di sekitar Gunung Wenang.

Setelah pekerjaan tersebut selesai, mulailah mereka mendirikan pondok-pondok yang beratapkan daun woka sehingga tempat tersebut sudah menjadi suatu negeri.

Kemudian beliau memerintahkan orang-orangnya untuk mengambil keluarga masing-masing dan dibawa ke negeri baru yang telah diberi nama Wenang.

 

Silsilah Keluarga Dotu Lolong–Lasut

 

Di bawah ini dikutip secara ringkas silsilah keluarga Dotu Lolong-Lasut sebagai berikut:

  1. Dotu Lolong-Lasut, perintis dan pembangun Negeri Wenang yang sekarang disebut Manado sekitar tahun 1450, yang kemudian didatangi oleh Portugis.
  2. Londokambey-Lasut, hidup pada tahun 1520–1600 dan semasa hidupnya melanjutkan usaha ayahnya.
  3. Bastian Hubertus Lasut (Lowuij), hidup sekitar tahun 1600–1717.
  4. Johakim Bernard Lasut, hidup dari tahun 1717–1811. Beliau adalah Mayor Ares (Tikala). Pada tahun 1798 VOC dibubarkan dan kemudian kekuasaan diserahkan kepada Daendels yang menjadi Gubernur Jenderal.
  5. Octavianus Bernard Lasut, hidup dari tahun 1811–1870. Karier beliau adalah sebagai Hukum Besar semasa hidupnya.
  6. Samuel Bernard Lasut, hidup pada tahun 1871–1896 dan merupakan Hukum Besar Ares serta Hukum Besar Manado. Beliau memegang jabatan ini selama 25 tahun sampai dipensiunkan.

Pada masa tersebut empat distrik digabungkan menjadi satu, yaitu:

a. Distrik Ares
b. Distrik Manado
c. Distrik Negeri Baru (Titiwungen)
d. Distrik Klabat Bawah

 

Patung Dotu Lolong-Lasut di Taman Kesatuan Bangsa pusat kota Manado (ist)

Patung Dotu Lolong-Lasut di Taman Kesatuan Bangsa pusat kota Manado (ist)

 

Penjelasan

 

Pada tahun 1920–1921 Pemerintah Hindia Belanda bermaksud merombak dan memusnahkan tugu atau kubur dari Dotu tersebut. Namun pada waktu itu bangkit semangat perjuangan dari keturunan Dotu Lolong-Lasut.

Yang bertindak sebagai kepala keluarga Lasut pada waktu itu adalah Albert Lasut-Waworuntu, bekas Mayor Distrik Sonder, dan adiknya yaitu E.W.J. Waworuntu, bekas Hukum Besar Sonder.

Kedua tokoh ini kemudian mengirim protes keras kepada Gubernur Jenderal di Batavia. Sebagai hasilnya, tuntutan keluarga Lasut dibenarkan dan tugu/kubur tersebut tidak jadi dirombak sebagaimana yang masih dapat kita lihat sekarang.

Tugu tersebut terletak di kompleks pertokoan milik Bang Hong Liong di Manado, pada sudut sebelah kiri di pinggir jalan raya.

Pada tahun 1951 Pemerintah Kota Praja Manado kembali merencanakan pembongkaran tugu tersebut. Atas inisiatif N.B. Lasut, yaitu saya sendiri, diajukan protes keras kepada Pemerintah Kota Praja pada waktu itu.

Setelah beberapa kali proses, akhirnya tuntutan keluarga Lasut kembali dibenarkan.

Manado, 25 September 1969

 

Ditulis oleh:
Nicolas B. Lasut
(Cucu dari Mayor Distrik Ares Johakim Bernard Lasut)

 

 

Kubur Majoor Districk Tikala Ares Manado. Rares Joachim Bernard Lasut. (Foto Nico Worang)

Kubur Majoor Distrik Tikala Ares Manado. Rares Joachim Bernard Lasut. (Foto Nico Worang)

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Kapal La Bayonnaise French Corvette 1849 (Leon Seth de Loche)

    Ketika Pelaut Prancis Terpukau Minahasa: Potret Manado pada 1849

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Pada pertengahan abad ke-19, ketika Hindia Belanda masih berada dalam fase konsolidasi kekuasaan kolonial, wilayah Minahasa telah menarik perhatian banyak pengelana, ilmuwan, hingga perwira angkatan laut Eropa. Salah satu catatan paling menarik datang dari perwira Angkatan Laut Prancis, Admiral Edmond Jurien de La Gravière, yang singgah di Teluk Manado pada Juni 1849 bersama korvet La […]

  • Orang Sonder ‘Mapalus’ Membangun Rumah Sakit di Minahasa

    Orang Sonder ‘Mapalus’ Membangun Rumah Sakit di Minahasa

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Pembangunan fasilitas kesehatan di Minahasa tidak hanya berkaitan dengan kehadiran dokter, obat-obatan, atau lembaga zending. Di Sonder, berdirinya sebuah rumah sakit pada 1907 juga memperlihatkan keterlibatan langsung masyarakat setempat. Mereka menyumbangkan tenaga, hasil panen, bahan bangunan, hingga waktu untuk merawat lingkungan rumah sakit. Kisah tersebut tercatat dalam Het Ziekenhuis te Sonder in de Minahassa dan […]

  • Suku Bajo di Minahasa abad ke-17 (ilustrasi)

    Orang Bajo di Minahasa 1682: Penguasa Laut yang Menopang Perdagangan Global

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Pada 1675 seorang pendeta Kompeni mencatat tiga puluh lima perahu orang Bajo berlabuh di muka Manado dan menggambarkan mereka sebagai orang laut tanpa agama. Tujuh tahun kemudian seorang gubernur VOC menulis berhalaman-halaman untuk membantahnya. Kedua dokumen ini adalah kesaksian tertulis tertua tentang orang Bajo di perairan Minahasa. Apabila dibaca berdampingan, keduanya memperlihatkan perdebatan kecil di […]

  • Dana Kesehatan 25 Sen: Gagasan Ziekenfonds untuk Tonsea

    Dana Kesehatan 25 Sen: Gagasan Ziekenfonds untuk Tonsea

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Dalam tulisan De Minahassa en de Geneeskunst yang terbit tahun 1924, A.C.N. Bouvy membahas perkembangan dan keadaan pelayanan kesehatan di Minahasa. Bouvy menulis berdasarkan pengalamannya selama empat tahun bekerja sebagai dokter di daerah tersebut. Menurut keterangannya, dokter pertama yang datang ke Minahasa kemungkinan adalah seorang perwira kesehatan yang bertugas bersama permukiman militer di Benteng Manado. […]

  • Gereja Imanuel Baju (Foto Tribunnews)

    Sejarah Embrio Jemaat Kristen di Bahu: Dari Kawasan Persinggahan hingga Tumbuhnya Persekutuan Iman

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Kawasan Bahu di Manado, Sulawesi Utara, menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah, khususnya dalam perkembangan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakatnya. Sebelum dikenal sebagai bagian dari wilayah perkotaan Manado seperti saat ini, Bahu pada mulanya merupakan daerah pinggiran yang didominasi hutan kecil dan menjadi tempat persinggahan bagi masyarakat Minahasa yang melakukan perjalanan dari pedalaman menuju kota. Hingga […]

  • Desa Wuwuk, Minahasa Selatan

    Mengungkap Sejarah Desa Wuwuk dan Peran Joel Walintukan dalam Lahirnya KGPM

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Dalam lanskap historiografi Minahasa Selatan, nama Desa Wuwuk atau dalam ejaan kolonial Woewoek, kerap hanya muncul sebagai titik kecil dalam peta wilayah Tareran. Namun ketika arsip-arsip lama di Leiden dibuka kembali, dan laporan para zendeling ditelusuri, desa ini tampil dalam wajah berbeda: sebagai ruang peradaban tua yang menyimpan jejak linguistik, pendidikan, sekaligus pergerakan intelektual yang […]

expand_less