Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Tololiu Soepit, Hukum Mayor yang Kehilangan Kekuasaan pada 1744

Tololiu Soepit, Hukum Mayor yang Kehilangan Kekuasaan pada 1744

  • calendar_month 7 jam yang lalu
  • visibility 10
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Surat kompeni VOC dari Ternate pada September 1745 mencatat syarat orang-orang Manado yang mengungsi ke Bolaang.

Mereka tidak akan pulang, “sekalipun Kompeni mengirim komisaris seribu kali”. Satu-satunya jalan, kata mereka, adalah bila bekas hukum mayor Tolelieuw Soepit dan dua hukum lain yang sangat mereka benci datang sendiri menjemput. [1]

Lima tahun sebelumnya, para hukum justru meminta Kompeni mengangkat orang yang sama. Tololiu Soepit adalah anak Soepit tua dari Tombariri. Ia diangkat menjadi hukum mayor pada 1740, kehilangan komandonya pada 14 Oktober 1744, dan wafat sebelum September 1745.

Anak Soepit tua

Ayahnya adalah Soepit, hukum mayor kepala dari Tombariri yang wafat pada 20 Desember 1724. [2] Kisah sang ayah dibahas dalam artikel lain. Dalam permohonan para hukum pada 1740, ayah itu disebut “Soupit tua”. [3]

Pada November 1692 Soepit mengadu karena anaknya yang berumur 10 sampai 12 tahun dilarang bersekolah di Manado. [4] Apakah anak itu Tololiu, arsip belum menjawab. Kalau benar, ia berumur sekitar enam puluh tahun ketika diangkat menjadi hukum mayor pada 1740.

Soepit berpangkal di Tombariri, sedangkan Tololiu adalah hukum di “negeri bawah Aris”. Namun Aris sudah lama dekat dengan keluarga ini. Pada 1710 orang Aris-lah yang paling keras membela Soepit dalam rapat di Manado.

Permintaan para hukum, 1740–1741

Pada 26 April 1740 para hukum berkumpul di negeri Aris, di hadapan utusan Ternate Anthonij Everhard Meder dan Johannes Pauwen. Mereka meminta “hukum Alfur dari negeri bawah Aris, Tolelieuw Soepit” diangkat menjadi hukum mayor. [5] Dalam permohonan tertulis, mereka menyebutnya pengganti yang patut bagi “Soupit tua”. [3]

Alasan mereka, menurut laporan Meder dan Pauwen lebih bersifat praktis. Dengan satu kepala yang paham dinas Kompeni, kontrak, dan adat mereka sendiri, pekerjaan bongkar muat kapal dan perbaikan loji akan lebih mudah. Residen pun cukup memberi perintah kepada satu hukum mayor, “daripada berurusan dengan begitu banyak kepala negeri yang tak cakap”. [6]

Dewan Ternate mengabulkannya dalam rapat 27 Agustus 1740, mengikuti usul Residen Jan Smith agar ia diangkat “meniru contoh ayahnya yang telah wafat”. [7]

Batavia memberi restu dalam surat 25 Februari 1741, dan juga menyetujui sebuah hadiah “untuk pengukuhannya dalam jabatan”. [8] Pada 16 Oktober 1741 Ternate memerintahkan Residen Smith memperkenalkan hukum mayor baru itu kepada para kepala bawahannya dengan khidmat. [9]

Hadiah tahunan yang ditolak, 1742–1743

Setelah diangkat, Tololiu meminta hadiah tahunan dari Kompeni. Alasannya, ayahnya dulu menerima hadiah seperti itu. Dewan VOC di Ternate kemudian memeriksa catatannya dan pada 19 September 1742 menilai klaim itu “tidak berdasar”. [10]

Setahun kemudian ia mengulang permohonan itu “dengan sangat rendah hati”, kali ini mengikuti “contoh para leluhurnya”. [11] Hasilnya tidak tercatat dalam surat yang sama. Yang jelas, Batavia segera mengambil keputusan yang jauh lebih besar.

Jabatan yang dihapus, 1743–1744

Dalam surat 30 September 1743, Batavia memutuskan bahwa gelar hukum mayor “harus tetap dihapus”, untuk mencegah kerepotan yang ditimbulkannya. [12] Dalam naskah, bulan itu ditulis 7ber, yaitu September (dari kata Latin septem). Bila dibaca sebagai bulan ketujuh, jadinya Juli. Kemungkinan besar inilah asal tarikh “30 Juli 1743” yang beredar sebagai tanggal pencopotannya.

Perintah itu lambat dijalankan. Pada 1744 Batavia mengulang bahwa sudah “lebih dari waktunya” Tololiu ditempatkan tanpa komando dan disamakan dengan hukum lain, hanya berkuasa atas negerinya sendiri. [13]

Residen akhirnya melaksanakannya pada akhir 1744. Laporannya dibahas dewan VOC Ternate dalam rapat Selasa, 17 November 1744.

Pada 14 Oktober 1744 (dalam naskah 14e 8ber), dalam pertemuan semua kepala negeri atas dan bawah, komando Tololiu dicabut “di depan umum, di muka loji Kompeni”. Sesudah itu Tololiu sendiri meminta dilepas juga dari jabatan hukum Aris, dan hidup tanpa pangkat “seperti orang pribumi lain”. [14]

Ternate menilai kata “mencabut” (ontzeggen) yang dipakai residen melampaui maksud Batavia. Residen diminta menjelaskan maksud sebenarnya kepada Tololiu. Bila ia tetap ingin mundur dari jabatan hukum Aris, permintaannya boleh dikabulkan, asal ada pengganti yang cakap. [14]

Para pengungsi di Bolaang, 1744–1745

Sementara itu, orang-orang dari beberapa negeri Manado lari ke Bolaang. Surat Ternate 31 Agustus 1744 mencatat keluhan mereka. Seorang yang berkunjung ke sana menilai keluhan itu hanya dalih pemberontakan.

Namun para pengungsi tetap mengeluh, pahit dan serempak, tentang “pemerasan dan penindasan” beberapa hukum, “terutama” hukum mayor Tolelieuw Soepit. Hal itu juga mereka katakan di depan residen di Bolaang. [15]

Surat Ternate 13 September 1745 mencatat syarat mereka untuk pulang, yang dikutip di awal artikel ini. Pada saat itu Tololiu sudah disebut “geweesen hoecum majoor”, bekas hukum mayor. [1] Pengungsian terus berlanjut. Sebelas keluarga dari Romon pun dilaporkan lari ke Amurang dan Bolaang. [14]

Wafat dan tongkat perak

Dalam surat bertanggal 6 September 1745, residen Manado melaporkan “wafatnya bekas hukum mayor Tollolieuw Soupit”.

Kabar itu baru diteruskan Ternate ke Batavia pada September 1746. [16] Jadi Tololiu wafat sebelum 6 September 1745, sekitar setahun sesudah komandonya dicabut. Angka “1769” yang beredar tidak punya sandaran dalam arsip.

Di Aris, residen lalu mengangkat kapitan Pangharapang dan Manga Antong menggantikan “para hukum yang sudah wafat, Tolelieuw Soupit dan Maane(?)”. Pengangkatan itu menunggu restu Ternate. [17] Pangharapang bukan nama baru. Pada Agustus 1744, Tololiu sendiri bersama para hukum dan bobato Aris meminta Pangharapang menggantikan hukum Aris yang wafat bernama Koemowal. [18]

Tanda jabatannya bertahan lebih lama dari orangnya. Dalam rapat dewan Ternate, Senin 25 Mei 1750, dibahas surat komandan Tabukan, Hendrik Meilhop, tentang raja Chandar (Kendahe) di Sangihe. Raja itu mengangkat putranya, Emanuel Manabon, menjadi kapitan-letnan, dan memohon pengangkatan itu dikukuhkan.

Tongkat pendahulu Emanuel hilang ketika seluruh negerinya lari ke gunung. Dewan pun memutuskan memberi Emanuel tongkat rotan berkepala perak yang tersimpan di gudang besar Ternate, milik “almarhum hukum mayor Manado, Toeloeliou Soupit”. [19]

Tongkat yang dulu menandai jabatan hukum mayor Manado berakhir di tangan seorang kapitan-letnan di Sangihe. Jabatan yang dipegang ayah dan anak itu sudah dihapus enam tahun sebelumnya.

Catatan kaki

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Pulau

    Pulau Mantehage, Surga Tersembunyi di Kepulauan Bunaken

    • calendar_month Selasa, 8 Jul 2025
    • visibility 290
    • 0Komentar

    🌴 Selamat Datang di Pulau Mantehage! Hai, Sobat Traveler! Kalau kamu sedang cari destinasi wisata yang belum terlalu ramai tapi punya pemandangan luar biasa, Pulau Mantehage bisa jadi pilihan yang tepat banget. Terletak di kawasan Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara, pulau ini menyimpan keindahan alam dan budaya yang masih sangat alami dan jarang dijamah. 🏝 […]

  • Mayor Alexander Herman Hermanus Kawilarang (A. Kojongian)

    Jejak Keluarga Kawilarang dari Perang Jawa hingga Republik

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Di antara riak besar sejarah kolonial Hindia Belanda, terdapat kisah keluarga-keluarga yang lintasan hidupnya membentang jauh melampaui satu zaman. Keluarga Kawilarang adalah salah satunya. Dari Perang Jawa pada abad ke-19 hingga pembentukan Tentara Nasional Indonesia pada abad ke-20, garis keturunan ini menghadirkan ironi, kesinambungan, sekaligus dinamika sejarah Indonesia. Salah satu figur sentral dalam lintasan itu […]

  • Nicolaas Graafland 1827 - 1898 (Repro)

    Graafland vs. Malesung: Siapa Membentuk Budaya Minum Orang Minahasa?

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Di ruang publik Sulawesi Utara, sering muncul anggapan bahwa budaya gemar pesta dan mabuk-mabukan di Minahasa merupakan “warisan kolonial” dari pergaulan dengan bangsa Eropa, terutama Belanda. Narasi ini kerap dikaitkan dengan masuknya minuman keras, gaya hidup Barat, serta kebiasaan perayaan yang dianggap berlebihan. Namun, jika ditelusuri lebih dalam melalui sumber etnografi, tradisi lisan, dan arsip […]

  • Pegawai Walter Kaudern 1917

    Pegawai Walter Kaudern 1917

    • calendar_month Sabtu, 11 Jan 2025
    • visibility 33
    • 0Komentar

    Potret pegawai Walter Kaudern bersama kerabatnya (suku Minahasa) di sekitar danau Tondano, Sulawesi Utara, yang berdiri di tengah adalah juru masak bersama istrinya, foto dokumentasi Ekspedisi Walter Kaudern ke Sulawesi antara tahun 1917 – 1921.   (The National Museums of World Culture)   ©️ Indonesian Overseas History II

  • Wem Kumontoy dan Mayor (Purn) Jongky R. Kumontoy

    Wem Kumontoy dan Mayor (Purn) Jongky R. Kumontoy

    • calendar_month Rabu, 5 Nov 2025
    • visibility 235
    • 0Komentar

    Dalam historiografi militer Indonesia, nama Mayor (Purn) Jongky (Jonkey) Robert Kumontoy dikenal sebagai pemimpin legendaris Pasukan Gerilya 500 (PG 500) dalam Operasi Trikora. Namun, jauh sebelum keberanian itu tercatat di Papua pada 1962, ada satu nama yang nyaris tenggelam dalam ingatan kolektif Minahasa: Wem Kumontoy kakak kandungnya. Kisah dua bersaudara ini membentang dari Tondano yang […]

  • 14 Lusin Saputangan – Perempuan Sonder Menjahit untuk Membantu Rumah Sakit

    14 Lusin Saputangan – Perempuan Sonder Menjahit untuk Membantu Rumah Sakit

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Di tengah aktivitas Rumah Sakit Sonder di Minahasa, berlangsung sebuah kegiatan yang tampak sederhana tetapi memiliki arti penting bagi keberlangsungan rumah sakit yaitu menjahit. Sekelompok perempuan muda dari Sonder dan Kolongan-atas membentuk sebuah naaivereeniging atau perkumpulan menjahit. Mereka datang dua kali dalam seminggu untuk membuat saputangan berdasarkan pesanan dan membordir huruf sesuai permintaan. Dalam laporan […]

expand_less