Geologi serta Tanah Vulkanik Minahasa
- calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
- visibility 58
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kawah Gunung Mahawu di Tomohon 1930-an (Majalah Van O. L. Vrouw van het H. Hart - 1936)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Salah satu catatan tentang tanah di Minahasa berasal dari E. V. J. Waersegers, arsitek yang sementara menjalankan tugas sebagai insinyur kelas satu di Manado. Dalam surat 14 Juli 1862, ia menyatakan belum dapat memastikan bahwa Keresidenan Manado tidak mempunyai jenis mergel penting lain atau bahan mineral pengganti yang cocok sebagai pozolan. Setelah melakukan pemeriksaan lanjutan, ia menemukan suatu jenis mergel di Distrik Langowan, Afdeling Tondano.
Dalam laporan tertanggal 8 September 1862, Waersegers menggambarkan mergel Langowan sebagai bahan yang tampak seperti kaolin atau tanah porselen Cina. Warnanya putih, lunak, dan terasa berlemak ketika disentuh. Bahan tersebut tidak larut di dalam air, tetapi dapat dicampurkan dengan air dalam segala perbandingan. Mergel itu berbuih ketika terkena asam. Setelah dibakar, penyusutannya hanya sedikit dan warnanya tetap hampir putih.
Waersegers menguji bahan tersebut dengan membakarnya sendiri di dalam krus lebur dari Hessen. Ia mencampurkan mergel bakar dengan kapur koral dan air sungai, lalu membentuknya menjadi bola-bola kecil. Benda itu mengeras di dalam air dalam waktu lima puluh menit dan, empat jam kemudian, melekat kuat pada dasar gelas. Campuran lain yang diletakkan di dasar sungai berair mengalir juga disebut mengeras dengan cepat dan sempurna.
Percobaan lain menggunakan mergel bakar, kapur koral lama yang telah dipadamkan, seperempat bagian pasir laut, dan air laut. Bola hasil campuran itu mengeras di bawah air sungai dalam satu setengah jam. Dua jam kemudian, bola tersebut dapat digulingkan di atas lantai batu tanpa pecah. Bubuk mergel bakar yang ditempatkan dalam gelas bersama sedikit air, tanpa kapur atau bahan tambahan lain, telah kering dan mengeras keesokan harinya karena airnya terserap.
Waersegers menyebut pemeriksaannya atas susunan mergel itu belum sempurna. Ia mencantumkan tanah silika, alumina, magnesium karbonat, kapur karbonat, air, dan kehilangan sebagai unsur-unsur yang diperiksa. Mergel tersebut, baik sebelum maupun sesudah dibakar, melekat pada lidah lebih kuat daripada tanah liat pipa dari Gouda. Menurut laporannya, pipa Gouda baru yang ditumbuk menjadi bubuk tidak mempunyai sifat hidraulis seperti tanah Langowan. Pemeriksaan lanjutan akan diputuskan setelah peti berisi contoh-contoh bahan diterima pengurus perkumpulan ilmu alam.
Dalam buku yang terbit pada 1867, N. Graafland menggambarkan Minahasa sebagai wilayah yang hampir seluruhnya terdiri atas pegunungan. Menurut uraiannya, tanah terus naik dan turun, sedangkan rangkaian pegunungan utama membentang dari timur laut menuju barat daya. Di sekitar dataran tinggi Tondano, rangkaian itu terlihat terbagi dua sebelum bagian-bagiannya kembali menyatu. Graafland menghubungkan bentuk gunung, bagian yang terangkat, runtuhan, dan kawah bertepi curam dengan asal vulkaniknya.
Gunung-gunung yang disebut Graafland antara lain Klabat, Dua Saudara, Empung, Rumengan, Mahawu, Masarang, Lokon, Kasehe, Tatawirang, Tampusu, Lingkoan, Kawin, Kawatak, Manimporok, Kelelondei, Soputan, Sempo, dan Lolombulan. Ia menulis bahwa sebagian besar gunung tersebut pernah bekerja satu kali atau lebih, bahkan beberapa di antaranya dengan hebat. Graafland juga mencatat gempa bumi yang kerap terjadi dan menyebut arahnya kadang-kadang menunjukkan tempat asal guncangan.
Graafland mencatat beragam hasil mineral di Minahasa. Selain emas, ia menyebut bijih yang menurutnya layak diperiksa, aliran air yang terasa seperti tembaga, tempat-tempat yang dianggap menunjukkan keberadaan besi, serta belerang di Pegunungan Masarang, sekitar Danau Linow, Tataaran, dan lokasi lain. Jenis batu yang disebut mencakup balok-balok trakit, batu sabak, kristal gunung putih tembus cahaya menyerupai alabaster, apala yang mula-mula lunak lalu mengeras, dan batu pasir.
Jenis tanahnya juga beragam: tanah liat murni, campuran tanah liat dengan kapur atau pasir, tanah gambut, pasir berlumpur di daerah rendah, dan lapisan humus dengan ketebalan berbeda. Graafland menyebut sejenis tanah pipa atau kapur yang terbentuk dari trakit terbakar dan tanah liat di dekat sumber mendidih serta tempat yang sangat vulkanis. Warnanya merah, kuning, dan putih. Jenis putih digunakan untuk mengapur rumah dan dinilai seorang pengawas pekerjaan air di Manado sesuai untuk semen yang dapat mengikat pasangan batu di bawah air.
Ketika menggambarkan pendakian ke Soputan, Graafland menyebut permukaan berkerikil, kerak lava yang mudah terlepas, dan bongkahan batu besar yang menurut keterangannya terlempar keluar saat letusan. Di kawah terlihat asap serta uap belerang. Dalam uraian mengenai Rano Asem yang dikutipnya dari Spreeuwenberg, terdapat cekungan-cekungan berbentuk mangkuk, kolam belerang mendidih, dinding batu terjal, dan batu yang terbakar hingga berubah menjadi tanah kapur.
Di antara Langowan dan Tompaso, Graafland mencatat beberapa tempat yang mengeluarkan uap. Permukaan tanah tidak rata dan sebagian terlihat amblas. Di sana tampak kapur putih dan gradasi tanah merah yang perlahan berubah menjadi putih. Ia menyebut panas di dalam tanah cukup kuat untuk mengubah batu menjadi kapur. Dari lubang-lubang uap terkadang menyembur bahan panas, sedangkan tempat yang suatu hari tampak sebagai tanah biasa dapat berubah menjadi sumber yang menyemburkan lumpur abu-abu.
Graafland juga menulis bahwa tongkat yang dimasukkan ke dalam tanah di kawasan itu segera menjadi sangat panas. Di sebelah kanan jalan terdapat sumber mendidih dengan air yang cukup jernih, tetapi mengeluarkan bau belerang. Ia menyatakan bahwa kemampuan penyembuhan sumber-sumber tersebut belum banyak diperiksa. Uraian tahun 1867 itu berakhir tanpa menyajikan hasil penelitian lanjutan atas tanah panas, sumber mendidih, maupun hubungan langsungnya dengan contoh mergel Langowan yang dikirim Waersegers pada 1862.
Referensi:
Graafland, N. De Minahassa, haar verleden en haar tegenwoordige toestand. 2 jilid. Rotterdam: M. Wijt & Zonen, 1867.
Koninklijke Natuurkundige Vereeniging in Nederlandsch-Indië. Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië. Deel XXV. Batavia–’s-Gravenhage: H. M. van Dorp–Martinus Nijhoff, 1863.
Waersegers, E. V. J. “Over het voorkomen eener mergelsoort in het distrikt Langowang, residentie Menado.” Dalam Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, Deel XXV, 376–378. Batavia–’s-Gravenhage: H. M. van Dorp–Martinus Nijhoff, 1863.
- Penulis: Engel Yong
