Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Rumah Sakit Pembantu di Sonder dan Tomohon

Rumah Sakit Pembantu di Sonder dan Tomohon

  • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
  • visibility 51
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sonder

Pelayanan kesehatan yang dilakukan kalangan zending di Minahasa telah berlangsung sebelum berdirinya rumah sakit pembantu. J. W. Gunning, dalam tulisannya De Protestantsche Zending in de Minahassa tahun 1924, mencatat bahwa para zendeling di Minahasa berusaha memberikan bantuan medis kepada penduduk. Gunning menghubungkan pendirian sebuah hulpziekenhuis atau rumah sakit pembantu dengan tahun 1906. Tetapi dalam catatan sumber Het Ziekenhuis te Sonder in de Minahassa memberikan keterangan lebih rinci bahwa pada 1906 berlangsung persiapan dan pembangunan fasilitas tersebut, sedangkan rumah sakit pembantu di Sonder disebut didirikan dan selesai pada tahun 1907.[1]

Tokoh yang disebut Gunning dalam pendirian rumah sakit pembantu Sonder adalah Dr. S. Schoch, yang ketika itu menjadi hulpprediker atau pendeta pembantu di Sonder. Gunning menyebut Schoch sebagai orang yang berhasil menggerakkan penduduk untuk membuka fasilitas kesehatan tersebut. Dalam catatannya, Gunning juga memberi keterangan bahwa Schoch kemudian menjadi direktur penoeloengschool di Tomohon. Dengan demikian, rumah sakit pembantu Sonder tahun 1906 muncul melalui kegiatan pelayanan zending yang ketika itu juga berkaitan dengan pekerjaan para hulpprediker di Minahasa.[2]

Setelah rencana tersebut berjalan, Schoch meminta bantuan Nederlandsch Zendeling Genootschap (N.Z.G.). Atas permintaannya, N.Z.G. menyediakan dua perawat yang memiliki diploma, yang disebut Gunning sebagai Zuster De Ruyter dan Zuster Schoch. Kedua perawat tersebut ditempatkan untuk bekerja di rumah sakit pembantu Sonder. Gunning juga mencatat bahwa rumah sakit ini memperoleh subsidi pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku ketika itu.[3]

Pelayanan rumah sakit pembantu Sonder tidak hanya dilakukan oleh dua perawat tersebut. Di tempat itu juga dilakukan pendidikan bagi perempuan Minahasa untuk menjadi perawat. Gunning mencatat bahwa perawat-perawat lokal yang memperoleh pendidikan di Sonder kemudian dicari untuk melakukan perawatan secara pribadi. Selain kegiatan kesehatan, terdapat pula kegiatan menganyam rotan. Hasil dari kegiatan tersebut digunakan untuk kepentingan rumah sakit pembantu, sementara pesanan hasil anyaman diterima dari lingkungan yang cukup luas.[4]

Ketika A. C. N. Bouvy menulis De Minahassa en de Geneeskunst tahun 1924, ia kembali mencatat keberadaan rumah sakit pembantu di Sonder. Bouvy menjelaskan bahwa selain dua Indisch Arts yang telah dibahas sebelumnya dalam tulisannya, terdapat banyak hulpprediker yang juga melakukan pekerjaan pengobatan. Dalam bagian khusus berjudul Hulpziekeninrichtingen, Bouvy kemudian menyebut Sonder sebagai salah satu tempat yang memiliki fasilitas kesehatan semacam itu.[5]

Menurut Bouvy, rumah sakit pembantu di Sonder memiliki dua perawat berijazah. Mereka menjalankan poliklinik dan menerima pasien untuk dirawat. Dalam pekerjaannya, kedua perawat tersebut dibantu oleh perempuan dan pemuda Minahasa yang telah mereka latih. Keterangan Bouvy ini sesuai dengan catatan Gunning mengenai adanya kegiatan pendidikan tenaga perawatan di rumah sakit pembantu Sonder. Bouvy tidak memberikan nama kedua perawat tersebut dalam bagian ini, sedangkan Gunning sebelumnya menyebut De Ruyter dan Schoch.[6]

Tomohon

Setelah menjelaskan Sonder, Bouvy langsung menyebut Tomohon. Keterangan mengenai Tomohon jauh lebih singkat. Ia hanya mengatakan bahwa di Tomohon terdapat fasilitas serupa. Bouvy tidak memberikan tahun pendirian rumah sakit pembantu Tomohon dalam bagian tersebut. Ia juga tidak menyebut nama perawat atau jumlah pasien khusus untuk Tomohon. Karena itu, berdasarkan bagian tulisan Bouvy ini, yang dapat dipastikan adalah keberadaan sebuah fasilitas kesehatan di Tomohon yang menurutnya sejenis dengan fasilitas di Sonder.[7]

Bouvy kemudian menjelaskan jenis kasus yang ditangani di fasilitas-fasilitas tersebut. Ia menyatakan sangat menghargai maksud baik dari rumah sakit pembantu itu. Menurut catatannya, banyak kasus sederhana ditangani dan disembuhkan di sana. Ia secara khusus menyebut luka pada kaki dan penyakit kulit sebagai contoh kasus yang dirawat. Namun, Bouvy juga memberikan penilaian bahwa kemampuan fasilitas tersebut terbatas ketika berhadapan dengan penyakit dalam.[8]

Keterbatasan tersebut membuat Bouvy menentukan fungsi yang menurutnya sesuai bagi rumah sakit pembantu Sonder dan Tomohon. Ia menilai fasilitas itu hanya dapat bekerja dengan memuaskan dalam beberapa keadaan karena tidak memiliki bantuan medis yang memadai dan perlengkapannya masih sederhana. Meskipun demikian, Bouvy tidak menganggap keberadaan fasilitas tersebut harus dihentikan. Ia menyatakan bahwa rumah sakit pembantu itu tetap mempunyai alasan untuk dipertahankan, bahkan jika sebuah rumah sakit besar nantinya dibangun.[9]

Menurut Bouvy, kegiatan rumah sakit pembantu sebaiknya dibatasi pada pelayanan poliklinik yang sesuai dengan kemampuan tenaga yang tersedia. Selain itu, tempat tersebut dapat digunakan untuk merawat pasien yang membutuhkan istirahat dan pasien yang sedang dalam masa pemulihan. Ia juga menulis bahwa masing-masing fasilitas itu dapat dijadikan sanatorium, karena letaknya berada di daerah pegunungan. Dalam bagian selanjutnya, Bouvy tetap memilih Manado sebagai lokasi rumah sakit pusat yang direncanakannya, sementara fasilitas di daerah pegunungan mempunyai fungsi tersendiri.[10]

Catatan Gunning dan Bouvy dengan demikian memberikan keterangan yang saling melengkapi mengenai rumah sakit pembantu di Minahasa. Gunning mencatat bahwa rumah sakit pembantu Sonder proses pendirian dimulai tahun 1906 melalui usaha Dr. S. Schoch dan memperoleh dua perawat berijazah dari N.Z.G. Ia juga mencatat adanya pendidikan perawat lokal serta kegiatan anyaman rotan untuk membantu rumah sakit. Bouvy kemudian mencatat bahwa di Sonder dua perawat berijazah menjalankan poliklinik dan menerima pasien dengan bantuan tenaga lokal yang mereka latih. Bouvy juga mencatat keberadaan fasilitas serupa di Tomohon, pelayanan terhadap kasus sederhana seperti luka kaki dan penyakit kulit, serta kemungkinan penggunaan kedua fasilitas tersebut untuk perawatan pasien yang membutuhkan istirahat dan pemulihan.[11]

Catatan Kaki

[1] J. W. Gunning, “De Protestantsche Zending in de Minahassa,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, jilid 80 (1924), hlm. 504; Het Ziekenhuis te Sonder in de Minahassa, hlm. 2–3.

[2] J. W. Gunning, “De Protestantsche Zending in de Minahassa,” 1924, hlm. 504.

[3] J. W. Gunning, “De Protestantsche Zending in de Minahassa,” 1924, hlm. 504.

[4] J. W. Gunning, “De Protestantsche Zending in de Minahassa,” 1924, hlm. 504.

[5] A. C. N. Bouvy, “Uit en over de Minahasa. I. De Minahassa en de Geneeskunst,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 80 (1924), hlm. 371.

[6] A. C. N. Bouvy, “De Minahassa en de Geneeskunst,” 1924, hlm. 371; J. W. Gunning, “De Protestantsche Zending in de Minahassa,” 1924, hlm. 504.

[7] A. C. N. Bouvy, “De Minahassa en de Geneeskunst,” 1924, hlm. 371.

[8] A. C. N. Bouvy, “De Minahassa en de Geneeskunst,” 1924, hlm. 371.

[9] A. C. N. Bouvy, “De Minahassa en de Geneeskunst,” 1924, hlm. 371–372.

[10] A. C. N. Bouvy, “De Minahassa en de Geneeskunst,” 1924, hlm. 372.

[11] J. W. Gunning, “De Protestantsche Zending in de Minahassa,” 1924, hlm. 504; A. C. N. Bouvy, “De Minahassa en de Geneeskunst,” 1924, hlm. 371–372.

Referensi

Bouvy, A. C. N. “Uit en over de Minahasa. I. De Minahassa en de Geneeskunst.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 80 (1924): 364–396.

Gunning, J. W. “De Protestantsche Zending in de Minahassa.” Dalam Uit en over de Minahasa. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 80 (1924).

Het Ziekenhuis te Sonder in de Minahassa dan Maandbericht van het Nederlandsche Zendelinggenootschap, Mei 1909

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Sejarah Berdirinya Desa Talaitad Minahasa

    Sejarah Berdirinya Desa Talaitad Minahasa

    • calendar_month Sabtu, 7 Des 2024
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Desa Talaitad terletak di Kecamatan Suluun Tareran, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Indonesia. Penduduk desa ini sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani/perkebun, dengan komoditas utama seperti cengkeh dan kelapa. Selain itu, mereka juga dikenal sebagai penghasil gula aren (gula merah) dan cairan metanol dari fermentasi nira pohon aren, yang biasa disebut “cap tikus,” sebuah minuman […]

  • Seragam TK GMIM Christian Lansot Ranowangko

    Seragam TK GMIM Christian Lansot Ranowangko

    • calendar_month Sabtu, 11 Jan 2025
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Pakaian adat Minahasa, TK GMIM Christian Lansot Ranowangko, seragam tiap hari kamis. *fb Nancy Welan  

  • kampung

    Kampung Warna-Warni Malalayang, Surga Foto di Manado

    • calendar_month Senin, 9 Jun 2025
    • visibility 135
    • 0Komentar

    🎨 Kampung Warna-Warni Malalayang: Serunya Jalan-Jalan di Kampung Penuh Warna! Hai, Sobat Traveler! 👋Kamu suka cari spot foto kece buat update Instagram atau sekadar hunting tempat estetik? Yuk mampir ke Kampung Warna-Warni Malalayang, salah satu destinasi kreatif dan penuh warna yang ada di Kota Manado, Sulawesi Utara. Tempat ini bukan cuma cantik, tapi juga punya […]

  • Perempuan Dalam Pertanian Minahasa

    Perempuan Dalam Pertanian Minahasa

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
    • visibility 49
    • 0Komentar

    Sebelum menjelaskan keadaan Minahasa pada awal abad ke-20, Henri Zondervan terlebih dahulu menggambarkan pembagian pekerjaan dalam kehidupan masyarakat Minahasa lama. Menurut keterangannya, perempuan diperoleh melalui pembayaran kepada orang tua mereka. Sesudah memasuki rumah tangga, perempuan harus mengurus pekerjaan rumah, mengerjakan pertanian, mengambil air, dan merawat ternak. Pertanian ketika itu masih dijalankan secara sederhana. Penanaman padi […]

  • Manguni (Otus Manadensis - Ai)

    Jejak Alifuru: Catatan Adolf Bastian tentang Kepercayaan Kuno Minahasa (1889)

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Catatan etnografi abad ke-19 karya Adolf Bastian menghadirkan potret penting tentang kepercayaan kuno masyarakat Minahasa pada masa transisi kolonial. Observasi yang kemudian diterbitkan dalam Indonesien: oder die Inseln des Malayischen Archipel, Band IV: Borneo und Celebes (1889) merekam bagaimana spiritualitas leluhur masih bertahan di balik arus modernitas Eropa dan kekristenan. Pengamatan Bastian dilakukan sekitar pertengahan […]

  • Kisah SS Swartenhondt dan MV Norse Lady: Kapal yang Terlibat dalam Konflik Permesta

    Kisah SS Swartenhondt dan MV Norse Lady: Kapal yang Terlibat dalam Konflik Permesta

    • calendar_month Jumat, 7 Jun 2024
    • visibility 133
    • 0Komentar

    SS Swartenhondt adalah kapal penumpang yang dimiliki oleh Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), yang mulai beroperasi pada tahun 1924 hingga 1959. Kapal ini memiliki peran penting dalam sejarah pelayaran Indonesia, termasuk pada masa-masa penuh ketegangan saat konflik Permesta meletus pada tahun 1958. Pada awal tahun tersebut, SS Swartenhondt menjadi salah satu kapal yang ditahan oleh kelompok […]

expand_less