Jejak Alifuru: Catatan Adolf Bastian tentang Kepercayaan Kuno Minahasa (1889)
- calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
- visibility 74
- comment 0 komentar
- print Cetak

Manguni (Otus Manadensis - Ai)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Catatan etnografi abad ke-19 karya Adolf Bastian menghadirkan potret penting tentang kepercayaan kuno masyarakat Minahasa pada masa transisi kolonial.
Observasi yang kemudian diterbitkan dalam Indonesien: oder die Inseln des Malayischen Archipel, Band IV: Borneo und Celebes (1889) merekam bagaimana spiritualitas leluhur masih bertahan di balik arus modernitas Eropa dan kekristenan.
Pengamatan Bastian dilakukan sekitar pertengahan 1880-an dengan fokus wilayah Manado, Tomohon, Tondano, serta kawasan pegunungan Minahasa. Sebagai etnolog Jerman terkemuka, ia memandang wilayah ini sebagai ruang studi unik untuk memahami lapisan kepercayaan lama yang ia sebut sebagai tradisi “Alifuru”.
Latar Belakang: Minahasa di Mata Bastian
Ketika tiba di Minahasa pada akhir abad ke-19, Bastian menemukan masyarakat yang telah lama bersentuhan dengan pengaruh Eropa dan agama Kristen.
Namun, di balik perubahan sosial tersebut, ia mengidentifikasi lapisan kepercayaan yang lebih tua yang masih hidup dalam keseharian masyarakat.
Ia menggunakan istilah “Alifuru” sebutan yang lazim dipakai orang Eropa pada masa itu untuk menyebut penduduk pedalaman beserta praktik animisme mereka.
Bastian memandang Minahasa sebagai ruang di mana Oude Heidendom (kekafiran tua) masih berdenyut di bawah permukaan kehidupan kolonial.
Konsep Empung: Alam yang Dihuni Leluhur
Bastian mencatat bahwa bagi masyarakat Minahasa kuno, alam tidak dipahami sebagai ruang kosong. Dunia dipandang dipenuhi kekuatan tak kasat mata yang disebut Empung atau Opo.
Dalam interpretasinya, Empung bukan semata “dewa”, melainkan leluhur yang didewakan (Deified Ancestors). Roh tersebut diyakini bersemayam di gunung, mata air, dan hutan.
“Di setiap puncak gunung, di setiap celah jurang yang gelap, Alifuru merasakan kehadiran yang hidup. Mereka menyebutnya Empung. Bukan sekadar penguasa alam, tetapi ‘Opo’—kakek moyang yang menjaga tanah ini. Rasa takut dan hormat bercampur baur; seseorang tidak boleh melintas hutan tanpa meminta izin.”
Bastian secara khusus menyoroti penghormatan terhadap Gunung Klabat dan Gunung Lokon sebagai tempat bersemayam Empung yang paling dihormati.
Fosso: Ritual Menjaga Keseimbangan Kosmik
Perhatian Bastian juga tertuju pada upacara adat Fosso (kini sering ditulis Poso atau Foso). Ritual ini dipahami bukan sekadar pesta makan, melainkan kewajiban kosmik untuk menjaga keseimbangan.
Jika panen gagal atau wabah menyerang, masyarakat memaknainya sebagai tanda Fosso telah diabaikan.
Bentuk ritual yang dicatat meliputi:
- Persembahan: altar kecil di ladang dengan sirih, pinang, dan tembakau untuk roh
- Rumah berhala: struktur kecil di pinggir desa sebagai tempat transisi roh
“Ketika gong dipukul dan ‘Tifa’ ditabuh, suasana berubah magis. Penduduk desa berkumpul bukan hanya untuk makan, tetapi untuk memperbarui ikatan dengan yang gaib. Hewan dikorbankan, darahnya ditumpahkan ke tanah sebagai pembayaran utang kepada Empung.”
Walian dan Tonaas: Penghubung Dua Dunia
Bastian menaruh perhatian pada praktik shamanisme Minahasa dan membedakan dua peran utama:
- Tonaas — ahli membaca tanda alam, perbintangan, dan pertanian; menentukan waktu menanam berdasarkan posisi bintang Walanyu (Pleiades)
- Walian — pemimpin ritual sekaligus medium roh
Ia mencatat fenomena kerasukan (trance) dalam ritual tertentu, di mana Walian menari, gemetar, dan berbicara dengan suara yang diyakini sebagai suara leluhur.
“Sang Walian… mulai berputar. Matanya terbalik, tubuhnya kejang. Saat itu dia bukan lagi manusia biasa. Dia adalah wadah. Melalui mulutnyalah para Empung memberikan petuah, teguran, atau ramalan.”
Manguni: Membaca Tanda Alam
Dalam etnografinya, Bastian juga menyoroti praktik augury, yakni ramalan melalui burung Manguni.
Burung ini diidentifikasi secara ilmiah sebagai (Otus manadensis), dan suaranya menjadi pertimbangan sebelum perjalanan, perang, atau membuka lahan.
- Bunyi dari kanan dianggap pertanda baik
- Bunyi dari kiri atau melintang dianggap tabu
“Logika orang Eropa tidak berlaku di sini… keputusan hidup atau mati sering bergantung pada cicitan (bunyi) burung kecil di hutan. Bagi Alifuru, burung itu utusan langsung dari Opo Empung.”
Lokasi-Lokasi Penting dalam Catatan
Beberapa lokasi yang disebut dalam pengamatan Bastian meliputi:
- Watu Pinawetengan — tempat suci pembagian suku dan pusat musyawarah adat
- Danau Tondano — lokasi legenda dan tempat tinggal roh air
- Praktik pemakaman batu di wilayah Airmadidi/Sawangan — deskripsi penguburan dalam wadah batu dengan posisi janin di atas tanah, berbeda dari praktik Kristen
Kesimpulan
Catatan Adolf Bastian dalam Indonesien Vol. IV (1889) menjadi kapsul waktu yang merekam fase senja kepercayaan “Alifuru” di Minahasa.
Meski gereja telah berdiri di banyak desa, ia mendokumentasikan bahwa Empung tetap dihormati, Walian tetap didengar, dan suara Manguni tetap memandu keputusan hidup masyarakat.
Bagi pembaca modern, dokumentasi ini menegaskan bahwa identitas Minahasa berakar pada spiritualitas leluhur yang kompleks dan kaya sebuah fondasi yang telah ada jauh sebelum kedatangan pengaruh Eropa.
Sebagai catatan editorial, penggunaan nomenklatur ilmiah modern (Otus manadensis) pada bagian Manguni merupakan penyesuaian kontekstual untuk pembaca masa kini.
Pada masa Bastian, klasifikasi zoologi kemungkinan masih menggunakan sistem lama seperti genus Scops.
Pemakaian istilah ilmiah modern tidak mengubah substansi observasi historis, melainkan membantu identifikasi spesies secara lebih akurat serta meningkatkan keterjangkauan penelusuran digital dan relevansi ilmiah artikel.
Sumber
A. Bastian, Indonesien: oder die Inseln des Malayischen Archipel – IV. Lieferung.
- Penulis: Moderator Malesung
