Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Pengobatan Tradisional, Pendeta, dan Dokter di Minahasa

Pengobatan Tradisional, Pendeta, dan Dokter di Minahasa

  • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
  • visibility 62
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

A. C. N. Bouvy adalah seorang dokter yang pernah bertugas di Minahasa. Tahun 1924, ia menulis artikel berjudul De Minahassa en de Geneeskunst. Dalam tulisan itu, Bouvy menjelaskan keadaan kesehatan dan pelayanan medis di Minahasa. Ia tidak hanya membahas dokter dan rumah sakit, tetapi juga bidan, petugas vaksinasi, pendeta, hulpprediker, zendeling, penyembuh pribumi, serta obat-obatan yang digunakan masyarakat.

Menurut Bouvy, pelayanan medis resmi di Minahasa terdiri atas seorang dokter Eropa, dua dokter pemerintah atau Gouvernements Indisch Artsen, dan sebuah rumah sakit pribumi di Manado. Ia menyebut kelompok ini sebagai bantuan medis resmi dan berdasarkan keahlian. Selain itu, masih ada bentuk bantuan kesehatan lain yang tidak berasal langsung dari tenaga dokter pemerintah.

Bouvy juga mencatat peran para bidan. Menurutnya, jasa bidan cukup banyak digunakan dalam proses persalinan. Dokter biasanya baru dipanggil apabila terjadi kasus khusus, dan sering kali dokter dipanggil setelah mendapat saran dari bidan. Selain bidan, terdapat pula para vaccinateurs atau petugas vaksinasi. Mereka mempunyai wilayah kerja masing-masing, melakukan perjalanan keliling, dan mencatat nama orang yang telah divaksinasi dalam buku harian.

Dalam bagian berjudul “Genezers”, Bouvy menjelaskan bahwa masyarakat juga memperoleh nasihat kesehatan dari pendeta, hulpprediker, dan praktisi pengobatan lokal. Ia menggunakan istilah Inlandsche genezers untuk menyebut orang-orang yang melakukan pekerjaan pengobatan tanpa pendidikan medis resmi. Keterangan ini merupakan cara Bouvy sendiri menggambarkan kelompok penyembuh yang berada di luar sistem kedokteran formal.

Para zendeling juga mempunyai peran dalam pelayanan kesehatan. Menurut Bouvy, zendeling biasanya mempunyai persediaan obat dan memberikan obat tersebut secara gratis kepada masyarakat. Bouvy berharap, apabila pelayanan dokter semakin mudah dijangkau, para zendeling dan pembantu lainnya dapat mendorong penduduk untuk lebih sering mencari pertolongan dari tenaga medis yang terlatih.

Ia juga menilai bahwa penggunaan pelayanan medis modern (medis Eropa) ketika itu masih terbatas. Ia menulis bahwa kepercayaan masyarakat terhadap cara pengobatan medis modern masih kecil. Sebagai contoh, ia menyebut sebuah rumah sakit yang hanya mempunyai sekitar 50 pasien untuk wilayah dengan sekitar 220.000 penduduk. Bouvy juga menceritakan bahwa terkadang ia harus berusaha keras membujuk pasien agar mau dirawat di rumah sakit. Dia juga membahas obat-obatan yang digunakan oleh masyarakat Minahasa dan sekitarnya. Dia menulis bahwa setelah melakukan pencarian, ia tidak menemukan obat tradisional yang menurutnya benar-benar khas Minahasa. Menurut catatannya, tumbuhan yang digunakan sebagai obat pada umumnya sama dengan tumbuhan yang digunakan di daerah lain di Hindia Belanda. Ia juga mengatakan bahwa jumlah jenis tanaman obat yang digunakan di Minahasa menurut pengamatannya tidak terlalu banyak.

Cara penggunaan obat tersebut juga dijelaskan oleh Bouvy. Masyarakat menggunakan rebusan atau sari tumbuhan untuk diminum. Untuk luka atau bagian tubuh yang mengalami peradangan, mereka menggunakan daun yang telah dikunyah, tembakau, atau kunyahan sirih. Bouvy juga mencatat bahwa masyarakat pada saat yang sama sudah menggunakan obat-obatan yang ia sebut sebagai obat “Barat”. Bouvy mencatat bahwa suatu kali seseorang menawarkan kepadanya sebuah obat untuk penyakit beri-beri. Penjual obat itu mengaku telah menyembuhkan ratusan penderita dan mengatakan bahwa obat tersebut sepenuhnya berasal dari tumbuhan. Setelah sepuluh hari, menurut catatannya, tidak terlihat adanya perbaikan. Karena itu, pasien kembali diobati dengan cara yang biasa digunakan oleh Bouvy.

Menjelang akhir tulisannya, Bouvy kembali membahas kebiasaan memberikan obat secara gratis. Ia mengatakan bahwa zendeling sejak lama memberikan bantuan kesehatan dan obat-obatan kepada masyarakat. Obat yang sebenarnya disediakan untuk orang yang membutuhkan, menurut Bouvy, juga diberikan kepada orang yang mampu. Ia kemudian menghubungkan keadaan ini dengan kebiasaan masyarakat yang menurutnya belum terbiasa membayar jasa dokter dan obat. Bouvy juga mencatat jumlah dokter asal Minahasa. Menurutnya, tahun 1908 terdapat dua belas putra Minahasa yang bekerja sebagai dokter, tetapi ketika ia menulis pada 1924 hanya tersisa tiga. Bouvy berpendapat bahwa salah satu penyebabnya adalah masyarakat tidak cukup menggunakan dan membayar jasa dokter-dokter tersebut. Ia mengusulkan agar masyarakat yang mampu membayar pelayanan dokter dan obat, sementara orang yang tidak mampu tetap memperoleh bantuan.

Catatan Bouvy tahun 1924 menunjukkan bahwa masyarakat Minahasa memperoleh bantuan kesehatan dari berbagai pihak. Selain dokter dan rumah sakit, mereka juga mendapat bantuan dari bidan, petugas vaksinasi, rohaniwan, pendeta pembantu (hulpprediker), zendeling, dan pengobat lokal. Bouvy mencatat bahwa penggunaan pelayanan kedokteran Eropa masih terbatas dan kepercayaan terhadapnya menurut penilaiannya masih kecil. Pada saat yang sama, catatannya menunjukkan bahwa bantuan kesehatan di Minahasa ketika itu berasal dari lebih dari satu kelompok dan tidak hanya dijalankan oleh dokter yang bekerja dalam pelayanan medis pemerintah.

Referensi: A. C. N. Bouvy, “De Minahassa en de Geneeskunst,” dalam Uit en over de Minahasa, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 80 (1924)

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Pria Babontehu (Ilustrasi)

    Sejarah Babontehu: Jejak Migrasi, Diplomasi, dan Eksodus dalam Catatan Kolonial

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Di mulut Teluk Manado berdiri sebuah pulau berbentuk kerucut yang hari ini tidak berpenghuni. Namanya sekarang Manado Tua. Tiga setengah abad lalu pulau itu ramai, dan penduduknya dikenal dengan nama lain: Babontehu. Riwayat mereka bisa ditelusuri, tetapi tidak dari satu sumber. Yang kita punya ada empat, ditulis pada empat zaman yang berbeda, dan keempatnya saling […]

  • Manguni: Burung Penentu Nasib dalam Catatan Ilmuwan Jerman Abad ke-19

    Manguni: Burung Penentu Nasib dalam Catatan Ilmuwan Jerman Abad ke-19

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Pada penghujung abad ke-19, ketika Eropa tengah giat memetakan dunia melalui ilmu pengetahuan dan ekspedisi ilmiah, seorang etnolog Jerman bernama Adolf Bastian menaruh perhatian pada wilayah yang bagi banyak sarjana Barat kala itu masih dianggap sebagai “pinggiran dunia”: kepulauan Nusantara. Melalui karya besarnya Indonesien: oder die Inseln des Malayischen Archipel, khususnya bagian IV. Lieferung: Borneo […]

  • Residen Manado periode 1826-1827, Daniel Francois Willem Pietermaat (WikiTree)

    Setiap Sungai Harus Dibayar: Perjalanan Pengantin dalam Adat Minahasa

    • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
    • visibility 52
    • 0Komentar

    D.F.W. Pietermaat menulis tentang pengantin dalam adat Minahasa, dalam buku “Statistieke aanteekeningen over de Residentie Menado,” yang diterbitkan dalam Tijdschrift voor Neêrland’s Indië tahun 1840, dijelaskan bahwa tata cara perkawinan di setiap distrik Minahasa tidak sepenuhnya sama. Meskipun demikian, sumber tersebut melihat adanya keseragaman tertentu dalam pelaksanaannya. Perbedaan terutama terlihat antara perkawinan pasangan yang berasal […]

  • Jatuhnya Tondano–Tomohon 1958: Saat CIA Mencatat Kekalahan Permesta di Minahasa

    Jatuhnya Tondano–Tomohon 1958: Saat CIA Mencatat Kekalahan Permesta di Minahasa

    • calendar_month Rabu, 19 Feb 2025
    • visibility 57
    • 0Komentar

    Di ruang-ruang analisis di Langley, markas besar CIA, peta Sulawesi Utara pada pertengahan 1958 tidak dilihat sebagai lanskap kepulauan tropis. Ia dibaca seperti papan catur. Setelah Operasi Merdeka pendaratan amfibi TNI yang berhasil menguasai garis pantai para analis Amerika mengalihkan perhatian ke satu benteng terakhir: Dataran Tinggi Minahasa. Di dataran tinggi inilah terletak poros Tondano–Tomohon, […]

  • Logo Marechaussee te Voet, korps kesayangan ratu Belanda

    Sersan Rotinsulu: Dari Lumpias ke Medan Perang Aceh

    • calendar_month Minggu, 30 Mar 2025
    • visibility 204
    • 0Komentar

    Di antara deretan nama prajurit dari Minahasa yang tercatat dalam sejarah militer Hindia Belanda, Rotinsulu menempati tempat tersendiri. Ia bukan seorang jenderal, bukan pula tokoh besar dalam buku sejarah resmi. Namun dalam satu peristiwa di pedalaman Aceh pada akhir abad ke-19, namanya menjelma simbol keberanian yang sunyi tanpa gemuruh, tetapi menentukan. Rotinsulu lahir di Lumpias, Manado, […]

  • Sidang Dewan Negeri Minahasa 1 Oktober 1789 (Ilustrasi)

    Perang Tateli 1789: Dari Pembantaian Berdarah ke Lahirnya Dewan Negeri Minahasa

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • visibility 266
    • 0Komentar

    Pada akhir abad ke-18, kawasan pesisir utara Sulawesi, yang kini dikenal sebagai Minahasa, menjadi arena konflik berdarah yang mempertemukan dua kekuatan besar: tradisi adat yang mengakar dan intervensi kolonial yang berusaha menegakkan ketertiban. Peristiwa yang dikenal sebagai Perang Tateli 1789 bukan sekadar bentrokan antar-kelompok. Ia merupakan akumulasi panjang dari sengketa wilayah, solidaritas komunal, serta kuatnya […]

expand_less