Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Danau Linow dan Jejak Gunung Api

Danau Linow dan Jejak Gunung Api

  • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
  • visibility 58
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Catatan N. Graafland tentang Lahendong

Danau Linow di dekat Lahendong telah lama menjadi salah satu bagian menarik dari bentang alam Minahasa. Dalam catatan N. Graafland, danau ini tidak hanya digambarkan sebagai sebuah perairan yang berada di antara gunung-gunung, tetapi sebagai suatu tempat yang berkaitan erat dengan kekuatan gunung api. Graafland memasukkan danau Linow ke dalam uraian mengenai keadaan alam Minahasa, khususnya ketika membahas rangkaian gunung, gunung api, tanah goyang, mata air panas, serta berbagai gejala panas yang keluar dari dalam bumi.¹

Bagi Graafland, bentuk alam Minahasa tidak dapat dipisahkan dari keberadaan gunung-gunung. Ia menggambarkan bahwa rangkaian gunung di Minahasa berjalan dari utara ke selatan, sementara kaki-kakinya turun ke berbagai arah. Di antara gunung-gunung tersebut terdapat banyak gunung api yang pernah mengeluarkan api pada masa lampau ataupun beberapa tahun sebelumnya. Menurut pengamatannya, kekuatan gunung-gunung itu belum sepenuhnya hilang. Bukti yang ia gunakan adalah terjadinya tanah goyang berulang-ulang serta munculnya tempat-tempat dengan air yang sangat panas dan mengeluarkan bau belerang yang keras. Lahendong disebutnya bersama Langowan, Paso, Tataran, Tanggari dan Likupang sebagai tempat yang memperlihatkan gejala tersebut.²

Graafland kemudian mencoba menerangkan gejala tersebut melalui apa yang ia sebut sebagai kapanasan besar dalam bumi. Menurut penjelasannya, hawa panas bergerak di dalam bumi; pada suatu tempat letaknya lebih dalam, sedangkan pada tempat lain lebih dekat ke permukaan. Kekuatan hawa panas yang bergerak di bawah permukaan bumi itulah, menurut Graafland, yang menyebabkan tanah bergoyang. Ia secara khusus menolak penjelasan yang dianggapnya hanya berupa cerita rakyat mengenai penyebab tanah berguncang.³

Untuk menjelaskan gagasannya, Graafland bahkan memberikan sebuah percobaan sederhana kepada pembacanya. Ia menyarankan mengambil sebuah wadah tanah, mengisinya setengah penuh dengan air, kemudian meletakkannya di atas api dalam keadaan tertutup rapat. Setelah beberapa lama, wadah itu akan menghasilkan tekanan yang membuatnya berbunyi keras. Ia memperingatkan agar percobaan dilakukan dengan hati-hati supaya air panas tidak mencederai orang yang melakukannya. Bagi Graafland, percobaan tersebut digunakan untuk membantu pembaca memahami bagaimana hawa panas dapat menghasilkan tekanan.⁴

Dalam pemikirannya, apabila hawa panas di dalam bumi terlalu banyak, ia akan mencari jalan keluar melalui gunung-gunung yang memiliki puncak. Dari sinilah Graafland menghubungkan munculnya gunung yang meletus, batu, pasir, air dan berbagai gejala lainnya. Sebaliknya, menurutnya, suatu daerah justru memperoleh keuntungan apabila terdapat tempat-tempat di mana hawa panas dapat keluar dengan mudah. Tempat-tempat tersebut menghasilkan mata air panas dan air yang mendidih. Karena hawa panas memperoleh jalan keluar, tekanan di dalam bumi, menurut penjelasan Graafland, menjadi lebih kecil sehingga guncangan tanah juga berkurang dalam jumlah maupun kekuatannya.⁵

Pandangan tersebut menjadi penting ketika Graafland memasuki uraian mengenai berbagai danau di Minahasa. Ia terlebih dahulu membicarakan Danau Tondano sebagai danau yang sangat besar. Menurut catatannya, danau itu membentang sekitar sepuluh mil dari utara ke selatan dan empat sampai lima mil dari timur ke barat. Di dalamnya terdapat berbagai jenis ikan, sementara pada beberapa bagian kedalamannya begitu besar sehingga, menurut perkataan orang yang dicatatnya, tidak dapat diukur. Di tengah danau terdapat mata air besar yang mengeluarkan banyak air, dan beberapa sungai kecil juga mengalir masuk ke dalamnya.⁶

Menariknya, Graafland juga mencatat adanya pemikiran bahwa pada masa dahulu mungkin terdapat sebuah gunung di tempat yang sekarang menjadi Danau Tondano. Menurut gagasan yang ia catat, gunung tersebut mungkin telah tenggelam dan berkaitan dengan gunung api. Namun Graafland juga menyebut bahwa ada orang lain yang menentang pemikiran tersebut. Di sekitar Danau Tondano, dekat Passo dan Remboken, ia mencatat adanya mata air panas. Dengan demikian, dalam catatannya, danau, gunung dan sumber air panas merupakan bagian dari satu rangkaian gejala alam yang saling berhubungan.⁷

Setelah membicarakan Danau Tonsawang, Graafland sampai pada Danau Linow yang terletak dekat negeri Lahendong. Di sinilah catatannya menjadi sangat menarik. Ia menyatakan bahwa, menurut pengamatannya, lebih dapat dipastikan bahwa Danau Linow telah terbentuk oleh gunung-api yang tenggelam. Graafland kemudian mengungkapkan kekagumannya terhadap besarnya pekerjaan gunung api dan kedahsyatan kehancuran yang menurutnya pernah terjadi sehingga mampu menghasilkan sebuah danau yang demikian besar.⁸

Di bagian timur tepi danau Linow, Graafland mencatat adanya pitjej-mandidi, atau tempat air mendidih. Tempat itu juga disertai sebuah kenangan mengenai seseorang dari kalangan yang disebutnya De Vidua, yang mengalami kecelakaan dan meninggal di sana. Catatan tersebut menunjukkan bahwa bagi Graafland, kawasan Linow bukan sekadar sebuah danau, melainkan sebuah lingkungan yang masih memperlihatkan tanda-tanda kekuatan panas bumi. Kehadiran air mendidih di tepi danau menjadi salah satu unsur yang memperkuat gambaran tentang aktivitas panas yang ia hubungkan dengan gunung api.⁹

Hal lain yang menarik adalah perubahan warna air Danau Linow. Graafland mencatat bahwa air danau kerap kali berubah warnanya karena kekuatan belerang dan panas. Pada saat yang sama, ia menyatakan bahwa ikan juga terdapat di dalam danau tersebut. Air dari danau Linow, menurut catatannya, kemudian dialirkan keluar melalui Rano-randang. Jadi, dalam gambaran Graafland, Linow merupakan suatu danau yang memperlihatkan perpaduan antara air, panas, belerang, perubahan warna dan kehidupan ikan.¹⁰

Dengan demikian, danau Linow dalam catatan N. Graafland bukan sekadar tempat yang indah untuk dipandang. Ia menjadi bagian dari cara Graafland memahami Minahasa sebagai tanah gunung api. Rangkaian gunung, tanah goyang, mata air panas, air mendidih dan danau merupakan gejala yang ia coba hubungkan dengan panas yang bergerak di dalam bumi. Untuk Lahendong secara khusus, ia bahkan menyatakan bahwa danau Linow kemungkinan besar merupakan hasil dari gunung api yang tenggelam. Catatan tersebut memperlihatkan bagaimana seorang penulis abad ke-19 berusaha menjelaskan lanskap Minahasa melalui pengamatan terhadap gejala alam yang ditemuinya sendiri atau yang ia kumpulkan dari pengetahuan setempat.¹¹

Catatan sumber:

[1] N. Graafland, Inilah Kitab Batja akan Tanah Minahassa, bagian §6 tentang gunung-gunung dan gunung api.

[2] Ibid, uraian mengenai gunung api, tanah goyang dan mata air panas di Lahendong dan daerah lainnya.

[3] Ibid, penjelasan Graafland mengenai kapanasan besar dan hawa panas di dalam bumi.

[4] Ibid, percobaan sederhana mengenai tekanan hawa panas.

[5] Ibid, hubungan hawa panas, gunung api, air panas dan tanah goyang.

[6] Ibid, uraian danau Tondano.

[7] Ibid, pemikiran mengenai gunung yang mungkin tenggelam dan mata air panas di sekitar danau Tondano.

[8] Ibid., uraian langsung tentang Linow dekat Lahendong.

[9] Ibid, catatan tentang pitjej-mandidi dan kecelakaan di tepi timur Linow.

[10] Ibid, perubahan warna air akibat belerang dan panas serta keberadaan ikan.

[11] Kesimpulan berdasarkan rangkaian uraian Graafland mengenai gunung api, panas bumi dan danau Linow.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Pasukan Tulungan kembali ke Minahasa (ilustrasi)

    Dari Medan Perang Jawa ke Tanah Minahasa: Akhir Perjalanan Pasukan Tulungan

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Tak satu pun sumber yang sudah diperiksa mencatat hari ketika pasukan bantu (hulptroepen) Minahasa kembali menginjak pantai Manado. Tidak ada nama kapal, tanggal berlabuh, atau daftar orang yang pulang. Yang ada hanya serangkaian petunjuk dari arsip Belanda. Petunjuk itu cukup untuk mempersempit waktu kepulangan mereka. Petunjuk itu juga memperlihatkan betapa sedikit yang dicatat tentang mereka […]

  • Kolintang: Sejarah dan Perkembangannya di Minahasa

    Kolintang: Sejarah dan Perkembangannya di Minahasa

    • calendar_month Sabtu, 11 Jan 2025
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Kolintang adalah alat musik gong perunggu yang berasal dari abad ke-17 di Sulawesi Utara, Sumatra, dan Filipina Selatan, yang tersebar melalui perdagangan antar pulau, terutama melalui jalur perdagangan sutra. Pusat perdagangan internasional pada masa itu adalah Ternate dan Tidore, yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah seperti pala dan cengkih. Jalur perdagangan utama melibatkan pelabuhan-pelabuhan penting seperti […]

  • RS Gunung Maria (Wereld Museum, 1920-1930)

    Jejak Pelayanan dan Warisan Kolonial: Sejarah Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Di tengah hawa sejuk Kota , berdiri sebuah institusi kesehatan yang bukan hanya menjadi pusat pelayanan medis, tetapi juga bagian penting dari perjalanan sejarah Minahasa dan perkembangan misi Katolik di Indonesia Timur. Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon merupakan salah satu rumah sakit tertua di Sulawesi Utara yang jejaknya telah terbentang sejak akhir abad ke-19, ketika […]

  • Kaicil. Hi. Djami Bin Syamsuddin Jou/Jogugu Moloku Loloda 1945 – 1977

    Kerajaan Loloda dan Bolaang Mongondow: Mengungkap Jejak Sejarah yang Terlupakan

    • calendar_month Rabu, 23 Jul 2025
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Di kawasan timur Nusantara, sejarah sering kali bergerak mengikuti arah angin dan arus laut. Jalur pelayaran yang menghubungkan Halmahera, Kepulauan Sangihe, pesisir Minahasa, hingga Bolaang Mongondow bukan sekadar lintasan perdagangan rempah, melainkan juga ruang perjumpaan antarelite politik, pertukaran budaya, dan pembentukan silsilah kerajaan. Di antara simpul-simpul sejarah itu, Kerajaan Loloda di Halmahera Utara menyimpan kisah […]

  • Waruga di Kembuan (fb Olke)

    Kembuan: Mata Air, Perang Tondano, dan Lahirnya Permukiman Baru

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Di kawasan utara Kota Tondano, terdapat sebuah wilayah tua yang menyimpan jejak panjang perjalanan permukiman Minahasa: Kembuan. Kini dikenal sebagai desa administratif di Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, Kembuan sesungguhnya merekam lapisan sejarah yang jauh lebih tua dibanding batas-batas pemerintahan modern yang melekat padanya hari ini. Sejarah Kembuan tidak hanya berkaitan dengan lahirnya sebuah desa, […]

  • Anak piara oleh zendeling di Ratahan dan Amurang

    Anak piara oleh zendeling di Ratahan dan Amurang

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Polemik mengenai tindakan para zendeling di Minahasa telah muncul dalam Tijdschrift voor Nederlandsch Indië sebelum empat surat dari Ratahan dan Amurang diterbitkan tahun 1870. Menurut pengantar redaksi, sebuah tulisan anonim dalam bagian Varia edisi Februari 1869 menjadi awal perdebatan. Dua tulisan lain dimuat dalam edisi April 1870: satu membela tindakan para zendeling terhadap tuduhan terdahulu, […]

expand_less