Danau Linow dan Jejak Gunung Api
- calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
- visibility 58
- comment 0 komentar
- print Cetak

Danau kawah Linouw di dekat Lahendong di Minahasa, circa 1915 - KITLV
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Catatan N. Graafland tentang Lahendong
Danau Linow di dekat Lahendong telah lama menjadi salah satu bagian menarik dari bentang alam Minahasa. Dalam catatan N. Graafland, danau ini tidak hanya digambarkan sebagai sebuah perairan yang berada di antara gunung-gunung, tetapi sebagai suatu tempat yang berkaitan erat dengan kekuatan gunung api. Graafland memasukkan danau Linow ke dalam uraian mengenai keadaan alam Minahasa, khususnya ketika membahas rangkaian gunung, gunung api, tanah goyang, mata air panas, serta berbagai gejala panas yang keluar dari dalam bumi.¹
Bagi Graafland, bentuk alam Minahasa tidak dapat dipisahkan dari keberadaan gunung-gunung. Ia menggambarkan bahwa rangkaian gunung di Minahasa berjalan dari utara ke selatan, sementara kaki-kakinya turun ke berbagai arah. Di antara gunung-gunung tersebut terdapat banyak gunung api yang pernah mengeluarkan api pada masa lampau ataupun beberapa tahun sebelumnya. Menurut pengamatannya, kekuatan gunung-gunung itu belum sepenuhnya hilang. Bukti yang ia gunakan adalah terjadinya tanah goyang berulang-ulang serta munculnya tempat-tempat dengan air yang sangat panas dan mengeluarkan bau belerang yang keras. Lahendong disebutnya bersama Langowan, Paso, Tataran, Tanggari dan Likupang sebagai tempat yang memperlihatkan gejala tersebut.²
Graafland kemudian mencoba menerangkan gejala tersebut melalui apa yang ia sebut sebagai kapanasan besar dalam bumi. Menurut penjelasannya, hawa panas bergerak di dalam bumi; pada suatu tempat letaknya lebih dalam, sedangkan pada tempat lain lebih dekat ke permukaan. Kekuatan hawa panas yang bergerak di bawah permukaan bumi itulah, menurut Graafland, yang menyebabkan tanah bergoyang. Ia secara khusus menolak penjelasan yang dianggapnya hanya berupa cerita rakyat mengenai penyebab tanah berguncang.³
Untuk menjelaskan gagasannya, Graafland bahkan memberikan sebuah percobaan sederhana kepada pembacanya. Ia menyarankan mengambil sebuah wadah tanah, mengisinya setengah penuh dengan air, kemudian meletakkannya di atas api dalam keadaan tertutup rapat. Setelah beberapa lama, wadah itu akan menghasilkan tekanan yang membuatnya berbunyi keras. Ia memperingatkan agar percobaan dilakukan dengan hati-hati supaya air panas tidak mencederai orang yang melakukannya. Bagi Graafland, percobaan tersebut digunakan untuk membantu pembaca memahami bagaimana hawa panas dapat menghasilkan tekanan.⁴
Dalam pemikirannya, apabila hawa panas di dalam bumi terlalu banyak, ia akan mencari jalan keluar melalui gunung-gunung yang memiliki puncak. Dari sinilah Graafland menghubungkan munculnya gunung yang meletus, batu, pasir, air dan berbagai gejala lainnya. Sebaliknya, menurutnya, suatu daerah justru memperoleh keuntungan apabila terdapat tempat-tempat di mana hawa panas dapat keluar dengan mudah. Tempat-tempat tersebut menghasilkan mata air panas dan air yang mendidih. Karena hawa panas memperoleh jalan keluar, tekanan di dalam bumi, menurut penjelasan Graafland, menjadi lebih kecil sehingga guncangan tanah juga berkurang dalam jumlah maupun kekuatannya.⁵
Pandangan tersebut menjadi penting ketika Graafland memasuki uraian mengenai berbagai danau di Minahasa. Ia terlebih dahulu membicarakan Danau Tondano sebagai danau yang sangat besar. Menurut catatannya, danau itu membentang sekitar sepuluh mil dari utara ke selatan dan empat sampai lima mil dari timur ke barat. Di dalamnya terdapat berbagai jenis ikan, sementara pada beberapa bagian kedalamannya begitu besar sehingga, menurut perkataan orang yang dicatatnya, tidak dapat diukur. Di tengah danau terdapat mata air besar yang mengeluarkan banyak air, dan beberapa sungai kecil juga mengalir masuk ke dalamnya.⁶
Menariknya, Graafland juga mencatat adanya pemikiran bahwa pada masa dahulu mungkin terdapat sebuah gunung di tempat yang sekarang menjadi Danau Tondano. Menurut gagasan yang ia catat, gunung tersebut mungkin telah tenggelam dan berkaitan dengan gunung api. Namun Graafland juga menyebut bahwa ada orang lain yang menentang pemikiran tersebut. Di sekitar Danau Tondano, dekat Passo dan Remboken, ia mencatat adanya mata air panas. Dengan demikian, dalam catatannya, danau, gunung dan sumber air panas merupakan bagian dari satu rangkaian gejala alam yang saling berhubungan.⁷
Setelah membicarakan Danau Tonsawang, Graafland sampai pada Danau Linow yang terletak dekat negeri Lahendong. Di sinilah catatannya menjadi sangat menarik. Ia menyatakan bahwa, menurut pengamatannya, lebih dapat dipastikan bahwa Danau Linow telah terbentuk oleh gunung-api yang tenggelam. Graafland kemudian mengungkapkan kekagumannya terhadap besarnya pekerjaan gunung api dan kedahsyatan kehancuran yang menurutnya pernah terjadi sehingga mampu menghasilkan sebuah danau yang demikian besar.⁸
Di bagian timur tepi danau Linow, Graafland mencatat adanya pitjej-mandidi, atau tempat air mendidih. Tempat itu juga disertai sebuah kenangan mengenai seseorang dari kalangan yang disebutnya De Vidua, yang mengalami kecelakaan dan meninggal di sana. Catatan tersebut menunjukkan bahwa bagi Graafland, kawasan Linow bukan sekadar sebuah danau, melainkan sebuah lingkungan yang masih memperlihatkan tanda-tanda kekuatan panas bumi. Kehadiran air mendidih di tepi danau menjadi salah satu unsur yang memperkuat gambaran tentang aktivitas panas yang ia hubungkan dengan gunung api.⁹
Hal lain yang menarik adalah perubahan warna air Danau Linow. Graafland mencatat bahwa air danau kerap kali berubah warnanya karena kekuatan belerang dan panas. Pada saat yang sama, ia menyatakan bahwa ikan juga terdapat di dalam danau tersebut. Air dari danau Linow, menurut catatannya, kemudian dialirkan keluar melalui Rano-randang. Jadi, dalam gambaran Graafland, Linow merupakan suatu danau yang memperlihatkan perpaduan antara air, panas, belerang, perubahan warna dan kehidupan ikan.¹⁰
Dengan demikian, danau Linow dalam catatan N. Graafland bukan sekadar tempat yang indah untuk dipandang. Ia menjadi bagian dari cara Graafland memahami Minahasa sebagai tanah gunung api. Rangkaian gunung, tanah goyang, mata air panas, air mendidih dan danau merupakan gejala yang ia coba hubungkan dengan panas yang bergerak di dalam bumi. Untuk Lahendong secara khusus, ia bahkan menyatakan bahwa danau Linow kemungkinan besar merupakan hasil dari gunung api yang tenggelam. Catatan tersebut memperlihatkan bagaimana seorang penulis abad ke-19 berusaha menjelaskan lanskap Minahasa melalui pengamatan terhadap gejala alam yang ditemuinya sendiri atau yang ia kumpulkan dari pengetahuan setempat.¹¹
Catatan sumber:
[1] N. Graafland, Inilah Kitab Batja akan Tanah Minahassa, bagian §6 tentang gunung-gunung dan gunung api.
[2] Ibid, uraian mengenai gunung api, tanah goyang dan mata air panas di Lahendong dan daerah lainnya.
[3] Ibid, penjelasan Graafland mengenai kapanasan besar dan hawa panas di dalam bumi.
[4] Ibid, percobaan sederhana mengenai tekanan hawa panas.
[5] Ibid, hubungan hawa panas, gunung api, air panas dan tanah goyang.
[6] Ibid, uraian danau Tondano.
[7] Ibid, pemikiran mengenai gunung yang mungkin tenggelam dan mata air panas di sekitar danau Tondano.
[8] Ibid., uraian langsung tentang Linow dekat Lahendong.
[9] Ibid, catatan tentang pitjej-mandidi dan kecelakaan di tepi timur Linow.
[10] Ibid, perubahan warna air akibat belerang dan panas serta keberadaan ikan.
[11] Kesimpulan berdasarkan rangkaian uraian Graafland mengenai gunung api, panas bumi dan danau Linow.
- Penulis: Engel Yong
