Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Dari Siau ke Manado: Jejak Anak-Anak Raja dalam Arsip Jesuit

Dari Siau ke Manado: Jejak Anak-Anak Raja dalam Arsip Jesuit

  • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
  • visibility 94
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada Juli 1563 seorang padri Jesuit bernama Diogo de Magalhães menulis surat dari Manado. Ia baru saja membaptis raja negeri itu bersama seribu lima ratus orang dalam lima belas hari, dan ia menyebut Manado “kepala utama seluruh Celebes“.[^1]

Dalam surat yang sama ia mencatat sesuatu yang mudah terlewat, di Manado itu pula ia menemukan raja Siau yang datang dari pulaunya dan membaptisnya di sana atas permintaan yang gigih.[^2]

Dua raja, satu tempat, satu tahun. Dua puluh lima tahun kemudian yang satu punya statistik jemaat dan yang lain tidak punya apa-apa, bahkan buku baptisnya pun tidak ada.

Artikel ini tentang satu perbedaan yang terdokumentasi di antara keduanya yaitu raja Siau menyerahkan anaknya ke rumah ordo di Ternate dan raja Manado sejauh arsip yang tersimpan, tidak ada.

Anak Berumur Dua Tahun

Antonio Marta, Visitator Maluku, menulis laporan visitasinya pada April 1588. Dalam Bab 14, “Da christandade de Siao“, ia menceritakan kembali peristiwa 1563, ketika Magalhães berkhotbah di Pulau Manado, kebetulan raja Siau sedang berada di sana, ia terkesan pada apa yang dikatakan padri itu, lalu dibaptis “dan bersamanya seorang anaknya yang berumur dua tahun, yang sekarang memerintah, bernama D. João“.[^3]

Sang ayah bernama baptis D. Jerónimo; nama pribuminya, menurut catatan penyunting, Pasuma.[^4] Kesaksian sezaman atas nama itu ada, pada November 1579, Lourenço Pinheiro menulis dari Goa bahwa dari Celebes datang kabar baik, yaitu “Dom Jeronimo, rei de Sião” dalam keadaan makmur dan berjaya.[^5]

Satu koreksi yang perlu dinyatakan di muka. Sejumlah penulis lama menempatkan pembaptisan raja Siau di Siau. Itu keliru: dari keseluruhan konteks surat Magalhães, pembaptisan itu terjadi di Manado.[^6] Raja Siau datang ke Manado, bukan sebaliknya.

Pemulihan Takhta, Dan Sebuah Pemberian

Enam tahun kemudian pada awal 1569, sebuah armada Portugis di bawah Pero Mascarenhas berlayar ke Siau. Raja Siau sedang dalam perang dengan sebagian negerinya sendiri. Pada 23 Januari sembilan belas orang Portugis menyerbu Passem (Paseng), sebuah negeri di atas bukit yang dianggap kuat, dan membunuh seratus orang.

Lebih dari seribu orang lari ke pegunungan dan akhirnya menyerah dengan dua syarat yang diajukan sang raja: semuanya menjadi tawanannya dan menyerahkan dua puluh budak beserta emas dan harta kepada orang Portugis.[^7]

Lalu, dalam laporan yang sama:

“Kami berangkat dari Siau, meninggalkan raja menguasai seluruh pulau. Raja memberi saya anaknya, sang morgado, untuk dibesarkan di sini di rumah kami di Ternate dan diajar. Umurnya kira-kira delapan atau sembilan tahun, sangat lincah dan sangat elok.”[^8]

Tiga hal patut diperhatikan pada kalimat itu.

Pertama, tidak ada syarat. Kata kerjanya deu-me — diberikan. Tujuan yang dinyatakan hanya dua yaitu criar dan doutrinar, membesarkan dan mengajar. Tidak ada bahasa sandera, jaminan, upeti, atau perjanjian.

Kedua, kalimat sebelumnya adalah pemulihan takhta. Dua kalimat berturut-turut, kami pergi meninggalkan raja menguasai seluruh pulau — raja memberi saya anaknya. Kesalingan itu tidak perlu diargumenkan cukup dibaca berurutan.

Ketiga, umurnya taksiran mata, bukan catatan. “Será de idade de oyto ou 9 annos” — “kira-kira”. Salinan naskah lain menambahkan bahwa anak itu anak sulung, menegaskan istilah morgado.[^9]

Surat itu ditutup dengan keterangan bahwa ia ditulis “atas perintah Padre Rektor”, dan pada lembar terakhirnya dinyatakan sebagai carta geral untuk Malaka, yang sesudah dibacakan di sana akan diteruskan ke India.[^10] Penyerahan itu, dengan kata lain, diumumkan ke seluruh jaringan ordo.

Yang Tidak Dilaporkan Ke Roma

Pada 29 Juli 1569, Luís de Góis seorang Superior Maluku dan atasan Mascarenhas menulis kepada Jenderal Serikat di Roma. Ia meringkas keadaan, enam tahun lalu dua raja dan sejumlah pemuka dibaptis, salah seorang raja diusir dan datang ke benteng meminta bantuan; komandan armada memulihkannya ke atas kerajaannya; seorang padri menyertainya, membaptis sejumlah orang, dan menangguhkan pembaptisan yang lain karena kekurangan imam.[^11]

Penyerahan anak itu tidak disebut sama sekali. Laporan resmi ke Roma menghilangkan apa yang ditulis Mascarenhas ke Malaka dan India. Itu bukan bukti apa-apa dengan sendirinya, surat ringkas memang membuang hal-hal kecil, tetapi ia berguna sebagai ukuran karena bagi Superior, peristiwa itu tidak cukup besar untuk masuk laporan tahunan.

Ayah Datang Menengok

Pada 1570 raja Siau berlayar ke Ternate dengan sebuah korakora untuk menengok anaknya tanpa tahu bahwa perang sudah pecah. Korakora musuh keluar mengejar. Ia berbelok ke Jailolo bersama delapan puluh orangnya dan orang Portugis menerimanya untuk membantu mempertahankan benteng. Ketika benteng itu jatuh, ia lari ke hutan bersama orang Portugis dan ditawan orang Tidore.

Pada malam Epifani, 6 Januari 1571, ia lolos dengan sebuah perahu kecil. Gelap sekali dan ia tidak dapat menemukan benteng, ia sudah melewatinya dan hampir sampai ke pihak musuh. Para penjaga Portugis melihat sebuah cahaya besar di laut dan mengira itu api perahu yang tersesat, lalu menyalakan api dari benteng. Ia melihatnya dan berbalik.

Jerónimo de Olmedo, yang menulis peristiwa ini ke Goa, menyebut raja itu sebagai “seorang raja Kristen dari Celebes, yang anaknya bernama Dom João ada di rumah kami”.[^12]

Sudah Bisa Membaca

Tahun 1576, Nicolau Nunes menulis kepada Martim da Silva. Ia menggambarkan kepulauan Celebes banyak raja, di antaranya dua atau tiga raja Kristen yang dibaptis dan diajar oleh para padri Serikat.

“di antaranya saya tinggalkan seorang anak pangeran di rumah kami di Ternate di Maluku, yang bernama Dom João dan yang ingin ikut saya ke India ini, dan sudah bisa membaca.”[^13]

Tujuh tahun sesudah diserahkan. Anak itu masih di sana, sudah melek huruf, dan ingin pergi lebih jauh.

Lalu ada celah. Antara 1576 dan 1588 kita hanya punya satu titik, kabar 1579 bahwa ayahnya masih memerintah dengan makmur.[^5] Kapan D. João pulang, bagaimana ia naik takhta, apa yang terjadi dalam dua belas tahun itu, tidak ada dalam korpus yang tersedia.

Yang kita tahu hanya ujungnya. Pada 1588 Marta menulis: “que agora reina” — yang sekarang memerintah.[^3]

Dua Bab Yang Bersebelahan

Laporan Marta 1588 menempatkan dua hal berdampingan, dan tidak mengomentari hubungan di antara keduanya.

Bab 12, “Da christandade do Selebe.” Magalhães membaptis dan mempertobatkan orang Manado melalui seorang penerjemah, dan tinggal beberapa waktu untuk mengajar. Tetapi sesudah ia pergi, tidak ada yang datang menggantikan. Dan penutupnya:

“sekarang kekristenan itu hilang seluruhnya, tidak ada buku baptis, tidak ada pula asapnya.”[^14]

Bab 14, “Da christandade de Siao.” Empat belas negeri di keliling pulau, tujuh di antaranya seluruhnya atau hampir seluruhnya Kristen; jumlah orang Kristen antara seribu tiga ratus dan seribu empat ratus jiwa. Raja berkedudukan di Pere — Pehe, di Teluk Pehe pesisir barat.[^15]

Satu padri, satu tahun. Dua pembaptisan. Dan dua puluh lima tahun kemudian, satu punya cacah jiwa sementara yang lain tidak punya arsip sama sekali.

Perlu ditegaskan bahwa Marta tidak menyatakan sebab-akibat, dan artikel ini pun tidak. Banyak hal lain berbeda antara Siau dan Manado baik itu letak di jalur pelayaran Manila, ukuran pulau, hubungan dengan Ternate, keberadaan orang Portugis yang tinggal dua bulan di Siau pada 1563.[^16]

Tetapi satu perbedaan tercatat hitam di atas putih dan bukan perbedaan yang kecil yakni garis takhta Siau melewati rumah ordo, garis takhta Manado tidak.

Frasa Marta juga memberi keterangan sampingan yang berharga. “Nem há livro de bautizados” — ketiadaan buku baptis dicatat sebagai kejanggalan. Artinya buku baptis adalah hal yang normalnya ada.

Bandingannya: Seorang Anak Yang Lain, 1563

Supaya jelas apa yang tidak dikatakan surat Mascarenhas, ada gunanya menaruh sebuah surat lain di sebelahnya.

Pada Desember 1563 sampai Februari 1564, Padre Marcos Prancudo mengirim dari Ternate ke Goa seorang anak bernama Franciscus, kemenakan raja Ternate, putra Kaicil Guzarate — kapten armada yang pada tahun yang sama sedang mengislamkan penduduk Sulawesi utara secara paksa.[^17] Ayahnya menyayanginya sebagai anak tunggal.

Surat itu menulis: “Hunc ab ipso vitae limine domi educavimus” — anak ini kami besarkan di rumah sejak awal hidupnya. Dan alasan pengirimannya dinyatakan tanpa dibungkus: karena Kaicil Guzarate adalah satu-satunya biang kekacauan kerajaan itu, dengan anaknya dikirim ke Goa “kami berharap tidak akan ada tempat bagi badai dan kerusuhan umum”.

Ketika anak itu dibawa ke istana untuk berpamitan kepada raja dan ayahnya, tangis dan ratapan orang-orang sedemikian rupa “sehingga engkau akan mengira upacara sedang dilakukan bagi seseorang yang sudah mati”.

Itu jaminan politik yang dinyatakan sendiri, enam tahun sebelum Siau. Ketika Mascarenhas menulis deu-me el-rrey seu filho tanpa satu pun kata syarat, kontrasnya bukan dugaan kita, ia terukur terhadap contoh tandingan dari ordo yang sama dan benteng yang sama.

Dan praktiknya lebih tua lagi didalam sepucuk surat kapten Ternate kepada Raja Portugal yang ditulis sebelum 1549, ada dua gobernador yang berangkat ke benteng untuk menjadi Kristen dan menaruh dua anak mereka di korakora lain agar juga dibaptis. Cuaca memaksa para ayah kembali; anak-anaknya sampai. Kapten menulis: “yang ada dalam kuasaku, dan aku menunggu ayah-ayah mereka, untuk menjadikan mereka Kristen dengan penuh kehormatan, karena mereka orang-orang yang sangat terkemuka.”[^18]

Penitipan anak elite di tangan orang Portugis dengan kata lain, bukan penemuan Jesuit. Ia sudah menjadi tata cara benteng sebelum ordo mapan di Maluku.

Manila, 1637

Tujuh puluh empat tahun sesudah Magalhães, pola itu muncul lagi namun kali ini dari Manado.

Pada 23 Juli 1637, Fr. Juan López menulis dari Cavite kepada Prokurator Diego de Bobadilla. Dalam sebuah kapal terakhir yang keluar dari Ternate datang kabar bahwa raja Manado, empat puluh legua dari Ternate, meminta bantuan kepada Gubernur D. Pedro de Mindiola melawan sejumlah pemberontaknya sendiri. Ia juga mengirim putra ahli warisnya, berumur enam belas sampai tujuh belas tahun, “supaya dibesarkan bersama orang Spanyol”, dan meminta padri untuk membaptis rakyatnya.

Anak itu, tulis López, “dibesarkan di rumah kami bersama pangeran Siau yang sebaya dengannya”.[^19]

Dua hal menonjol. Yang pertama, urutan permintaannya: serdadu, anak, lalu padri. Yang kedua, kali ini permintaan padri itu dipenuhi — Fr. Pantaleão Freire dikirim ke Manado pada paruh pertama 1637.[^20] Sepanjang berkas yang tersedia, inilah pertama kalinya sebuah permintaan padri dari Manado benar-benar dijawab.

Nasib pangeran Manado itu tidak diketahui. Ia tidak muncul dalam surat tahunan 1642 maupun 1645. Kebisuan itu sendiri adalah temuan dan kita menyatakannya sebagai kebisuan bukan sebagai kesimpulan.

Adapun pangeran Siau yang menemaninya, penyunting Documenta Malucensia menduga ia adalah raja yang kemudian dikenal sebagai D. Ventura Pinto de Morales dan dari situ menyimpulkan bahwa ayahnya, D. Juan, masih memerintah pada 1637.[^21] Keduanya dugaan penyunting dan harus dibaca begitu.

Apa Yang Tidak Bisa Kita Katakan

Sebuah artikel yang bertumpu pada arsip harus jujur tentang batasnya. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada D. João antara 1576 dan 1588. Dua belas tahun itu kosong dan dilompati.

Angka-angka abad ke-16 tidak sepadan satu sama lain. Pada 1563 Siau ditaksir berpenduduk dua puluh sampai dua puluh lima ribu jiwa dengan enam ribu orang perang.[^22] Pada 1588 Marta mencacah kurang dari dua ribu lima ratus. Selisih sepuluh kali lipat itu tidak bisa dijelaskan sebagai penurunan penduduk; ia perbedaan antara taksiran dari kapal dan hitungan dari darat.

Tarikh pemerintahan sang ayah bertabrakan di dalam edisi yang sama. Satu catatan menyebut Jerónimo memerintah 1549-1587; catatan lain, dari penyunting yang sama dan merujuk sumber yang sama, menyebut 1549-1578. Salah satu pasti salah cetak, dan kita belum tahu yang mana.[^23]

Nama pribumi D. João tidak berasal dari dokumen sezaman. Bentuk “Buisang” atau “Wuisang” datang dari sebuah terbitan modern bukan dari surat abad ke-16 dan belum kami lacak ke sumbernya.

Dan yang paling penting adalah kesetiaan raja Siau tidak boleh dilukis sebagai persahabatan. Mascarenhas sendiri menutup pujiannya atas raja itu dengan kalimat yang keras bahwa ia “akhirnya lebih tunduk pada kehendak kami daripada seorang budak kepada tuannya”, dan bahwa apa yang tampak baik bagi para padri, itulah yang baik baginya dan bukan yang lain.[^24] Kalimat itu memperlihatkan bagaimana hubungan tersebut dinilai dari sisi ordo dan tidak pantas disaring keluar.

Penutup

Yang tersisa kalau semua kehati-hatian di atas sudah diperhitungkan adalah kesimpulan ini.

Pada 1563 seorang padri singgah di dua tempat dan membaptis dua raja. Yang satu, enam tahun kemudian, menyerahkan anak sulungnya ke sebuah rumah di Ternate. Anak itu belajar membaca di sana, pulang entah kapan dan pada 1588 memerintah sebuah pulau yang setengah negerinya Kristen. Yang lain tidak menyerahkan siapa-siapa dan pada 1588 kekristenannya tidak meninggalkan asap.

Tujuh puluh empat tahun kemudian, raja Manado mengirim putranya ke Manila untuk dibesarkan bersama seorang pangeran Siau. Pola yang sama, satu generasi terlambat, dan kali ini tanpa ujung yang tercatat.

Catatan kaki

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Desa Sampiri, kecamatan Airmadidi, Minahasa Utara

    Sampiri dan Kisah Sebuah Negeri: Dari Hutan Tonsea Menuju Desa Modern

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Di Minahasa, sejarah desa tidak selalu tersimpan dalam lembar-lembar arsip kolonial. Sebagian hidup dalam ingatan masyarakat, diwariskan dari para tetua kepada anak cucu, diceritakan kembali dalam pertemuan keluarga, di beranda rumah, atau ketika orang-orang tua mengenang asal-usul kampungnya. Desa Sampiri di wilayah Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, merupakan bagian dari jejak panjang sejarah itu. Sebagian kisahnya […]

  • Ilustrasi

    Jebakan “Wanita Cantik” di Tepi Pantai: Strategi Mamanto-roring Menumbangkan Raja Kowalan

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Sejarah peperangan di Minahasa tidak selalu ditentukan oleh kekuatan fisik atau jumlah pasukan. Dalam sejumlah kisah lama, kemenangan justru diraih melalui kecerdikan strategi yang dalam tradisi lokal dikenal sebagai keter dan nehel. Salah satu kisah unik tentang taktik perang tersebut terekam dalam hikayat tua Tonsea sebagaimana dicatat oleh J.G.F. Riedel dalam Inilah Pintu Gerbang Pengatahuwan […]

  • Loji batu didalam benteng Amsterdam Manado (ilustrasi)

    Dari Abu Menjadi Benteng Permanen: Kebakaran Manado dan Lahirnya Loji Batu

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Pada fase awal ekspansi kolonial di semenanjung utara Celebes, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) menghadapi tantangan yang tidak hanya datang dari rival politik dan kekuatan lokal, tetapi juga dari kelemahan mendasar dalam infrastruktur mereka sendiri. Catatan penting dalam buku Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 karya E.C. Godée Molsbergen, yang merujuk pada arsip Memorie van Overgave […]

  • Carel Marinus Visser dan Tragedi di Air Terjun Tonsea Lama

    Carel Marinus Visser dan Tragedi di Air Terjun Tonsea Lama

    • calendar_month Selasa, 7 Mei 2024
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Pada tanggal 21 September 1855, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Charles Ferdinand Pahud, melakukan kunjungan resmi ke Tondano. Dalam rombongan tersebut turut serta Carel Marinus Visser, bekas Gubernur Maluku yang sedang menghadapi kasus penggelapan keuangan yang rencananya akan disidangkan di Batavia. Setibanya di Tondano, Gubernur Jenderal langsung menuju rumah Controleur (Loji) untuk bertemu dengan pejabat-pejabat setempat. […]

  • Ketika Perempuan Tondano Mengangkut Kayu untuk Membangun Gereja

    Ketika Perempuan Tondano Mengangkut Kayu untuk Membangun Gereja

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Tondano, Minahasa, dalam catatan perjalanan Dr. H. Kraemer tahun 1926 Ada sebuah kisah singkat dalam laporan perjalanan Dr. H. Kraemer ke Minahasa yang mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan gambaran penting mengenai hubungan antara masyarakat Tondano, kehidupan gereja, dan pemerintah kolonial. Kraemer mencatat bahwa pada suatu masa di Tondano, masyarakat sedang membangun sebuah gereja. Mereka telah […]

  • Tollelieuw dan Mackatoppa, berjalan bersama di tengah ketegangan politik Minahasa dan Bolaang Mongondow pada 1695.(ilustrasi)

    Nama-Nama Pemimpin Minahasa dalam Catatan VOC Tahun 1695

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Pada April 1695 seorang pejabat Kompeni VOC berkeliling ke negeri-negeri Minahasa. Ia mencatat nama setiap bobato, yaitu para pemimpin negeri dari hukum sampai marinyo, serta jumlah lelaki bersenjata, perempuan, dan anak di tiap negeri. Daftarnya masih tersimpan di Nationaal Archief, Den Haag, sebagai lampiran surat dari Ternate bertanggal 1 Oktober 1695. [1] Daftar itu memuat […]

expand_less