Relasi Sosial dan Rasial: Orang Minahasa dan Orang Eropa
- calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
- visibility 49
- comment 0 komentar
- print Cetak

orang Minahasa bersama dengan orang Eropa di Eris, Tondano - circa 1930 KITLV
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
T. F. Viersen adalah seorang pendidik Belanda yang lama hidup dan bekerja di Minahasa. Ia dikenal sebagai kepala sekolah pemerintah di Menado dan kemudian pensiun sebagai gepensioneerd onderwijzer. Sumber lain menyebut bahwa selama lebih dari dua puluh tahun berada di Minahasa, ia berhubungan dengan berbagai lapisan masyarakat dan memiliki pengalaman langsung dalam dunia pendidikan setempat. Kedekatannya dengan masyarakat Minahasa membuat pandangannya berbeda dari sekadar laporan seorang pejabat kolonial. Ia bahkan mendorong guru-guru pemerintah Minahasa membentuk organisasi untuk mempertahankan sekolah pemerintah ketika kebijakan pendidikan kolonial mulai mengancam kedudukan sekolah-sekolah tersebut.
Brosur Viersen tahun 1912, Mijne verwijdering uit de Minahassa, harus ditempatkan dalam suasana hubungan yang semakin tegang antara pemerintah kolonial, masyarakat Minahasa, dan kelompok Eropa yang memiliki kepentingan terhadap pendidikan serta zending. Pemindahan Viersen ke Jawa pada 1912 kemudian dipandang oleh Perserikatan Minahasa sebagai sesuatu yang berkaitan dengan sikapnya dalam mempertahankan kepentingan pendidikan Minahasa. David Henley mencatat bahwa ketika Viersen dipindahkan ke Jawa, Perserikatan Minahasa menerbitkan tulisan yang mengecam rencana pengambilalihan sekolah pemerintah oleh Nederlands Zendelinggenootschap (NZG). Dengan demikian, persoalan pribadi seorang guru Eropa berubah menjadi bagian dari persoalan yang lebih luas mengenai hubungan kekuasaan antara pemerintah kolonial dan masyarakat Minahasa.
Relasi sosial antara orang Eropa dan orang Minahasa dalam konteks ini tidak sederhana. Di satu sisi, Viersen sendiri merupakan orang Eropa yang berada di dalam struktur kolonial. Namun di sisi lain, ia menunjukkan keberpihakan kepada sekolah pemerintah yang dianggap masyarakat Minahasa sebagai jalan menuju status sosial dan pekerjaan yang lebih tinggi. Sekolah pemerintah bahkan dikenal sebagai sekolah pangkat, karena pendidikan tersebut dipandang sebagai jalan menuju kedudukan, status, dan pekerjaan bergengsi. Karena itu, persoalan sekolah sebenarnya juga merupakan persoalan mobilitas sosial masyarakat Minahasa.
Di sinilah hubungan antara orang Eropa dan Minahasa menjadi menarik. Orang Eropa tidak selalu tampil sebagai kelompok yang sepenuhnya berhadapan dengan masyarakat penduduk setempat. Viersen justru menjadi contoh bahwa terdapat orang Eropa yang dapat menjadi sekutu kepentingan masyarakat Minahasa. Ia membantu guru-guru Minahasa membentuk Perserikatan Guru-Guru Residentie Menado untuk melawan rencana konversi sekolah pemerintah. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa batas rasial dalam masyarakat kolonial tidak selalu menghasilkan dua kelompok yang sepenuhnya terpisah. Ada ruang kerja sama ketika kepentingan sosial dan politik bertemu.
Namun demikian, kesaksian Viersen juga memperlihatkan adanya hierarki kekuasaan kolonial. Dalam bukunya ia menggambarkan bagaimana pejabat Eropa dapat menggunakan jabatan, promosi, pemindahan, dan bahkan kemungkinan kehilangan kedudukan untuk memengaruhi sikap kepala-kepala Minahasa. Menurut Viersen, beberapa Hoofden tidak berani menyampaikan pendapat sebenarnya karena khawatir terhadap pemindahan, promosi yang buruk, atau pemberhentian. Ia bahkan mencatat adanya kepala-kepala Minahasa yang secara terbuka menyampaikan kepadanya bahwa dahulu mereka dapat mengemukakan pendapat, sedangkan kemudian mereka merasa harus diam demi mempertahankan “baantje” atau jabatan mereka.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa relasi rasial bekerja melalui struktur administrasi, bukan hanya melalui sikap pribadi. Orang Eropa menduduki posisi yang memungkinkan mereka menentukan karier, penempatan, dan kesempatan orang Minahasa. Karena itu, hubungan sosial yang tampak harmonis di permukaan sebenarnya menyimpan ketimpangan kekuasaan. Viersen melihat persoalan tersebut sebagai sesuatu yang merusak kewibawaan pemerintah sendiri. Menurutnya, masyarakat Minahasa cukup berpendidikan untuk memahami apabila kebijakan pemerintah dijalankan melalui cara-cara yang dianggap manipulatif. Bahkan ia menilai bahwa tindakan semacam itu menyebabkan kepercayaan masyarakat kepada para Hoofden dan pemerintah menjadi terganggu.
Menariknya, Viersen juga memperlihatkan bahwa hubungan sosial tidak hanya ditentukan oleh warna kulit, tetapi juga oleh agama, kedudukan, dan kedekatan dengan kekuasaan kolonial. Ia sangat keras mengkritik perlakuan berbeda terhadap pejabat yang dianggap dekat dengan zending dibandingkan pejabat lain. Dalam pengamatannya, para zendeling dapat menerima penghormatan dan keramahan khusus di rumah kediaman Resident, sementara pejabat pemerintah yang dianggap tidak sejalan justru diperlakukan lebih dingin. Viersen melihat praktik tersebut sebagai bentuk “propaganda diam-diam” yang menggunakan hubungan sosial untuk mencapai tujuan keagamaan.
Pada saat yang sama, masyarakat Minahasa bukan kelompok yang pasif. Para Hoofden, guru, tentara, dan kelompok terdidik mulai menggunakan organisasi, surat, petisi, dan tulisan untuk menyampaikan kepentingan mereka. Dalam konflik pendidikan, protes tidak hanya datang dari pejabat lokal, tetapi juga dari guru-guru dan kelompok masyarakat yang semakin sadar akan kepentingan bersama. Henley melihat episode tersebut sebagai salah satu tanda awal berkembangnya politik massa Minahasa. Pemerintah kolonial ternyata masih dapat dipengaruhi apabila tuntutan disampaikan secara damai dan menggunakan bahasa politik yang dianggap loyal.
Relasi orang Eropa dan orang Minahasa dengan demikian memiliki sifat yang paradoks. Masyarakat Minahasa berada dalam struktur kolonial yang menempatkan orang Eropa pada posisi kekuasaan lebih tinggi, tetapi pada saat yang sama masyarakat Minahasa telah memperoleh tingkat pendidikan dan pengalaman administratif yang memungkinkan mereka menegosiasikan kedudukannya. Mereka (orang Minahasa) tidak sekadar menerima kebijakan dari atas. Dalam persoalan sekolah, mereka bahkan mampu menggunakan dukungan sebagian orang Eropa seperti Viersen untuk mempertahankan kepentingan mereka sendiri.
Karena itu, kisah Viersen tidak tepat dibaca hanya sebagai cerita tentang seorang guru Belanda yang berselisih dengan pemerintah kolonial. Mijne verwijdering uit de Minahassa menjadi pintu untuk melihat bagaimana hubungan sosial dan rasial bekerja di Minahasa pada awal abad ke-20: ada hierarki antara orang Eropa dan Minahasa, tetapi juga terdapat hubungan pribadi, solidaritas, persaingan, negosiasi, dan bahkan kerja sama lintas kelompok. Masyarakat Minahasa berusaha mempertahankan ruang sosial yang telah mereka bangun melalui pendidikan, jabatan, dan organisasi, sementara pemerintah kolonial berusaha mengendalikan arah perkembangan tersebut. Dalam konteks inilah pemindahan Viersen ke Jawa memperoleh makna yang lebih luas: ia menjadi simbol bahwa bahkan seorang Eropa yang berpihak pada kepentingan pendidikan Minahasa dapat berbenturan dengan kepentingan kekuasaan kolonial.
Referensi:
Viersen, T. F. 1913. De invoering der onderwijs-reorganisatie in de Minahassa. Amsterdam: Blikman & Sartorius.
Henley, David. Nationalism and Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East Indies.
Hamerster, M. 1916. Een kijkje in de Minahasa.
- Penulis: Engel Yong
