Opo Supit: Jejak Genealogi dan Puncak Kepemimpinan Konfederasi Minahasa
- calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
- visibility 256
- comment 0 komentar
- print Cetak

Opo Supit (ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam sejarah Minahasa, sedikit tokoh yang jejak politiknya begitu panjang sekaligus kontroversial seperti Pacat Supit Sahiri Macex, atau yang lebih dikenal sebagai Opo Supit. Ia dikenang sebagai pemimpin adat, panglima perang, diplomat, sekaligus tokoh yang berhasil membangun pengaruh lintas walak pada penghujung abad ke-17 hingga awal abad ke-18.
Di satu sisi, Opo Supit dipandang sebagai negarawan yang membawa Minahasa memasuki babak baru hubungan diplomatik dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Namun di sisi lain, kepemimpinannya juga melahirkan konsentrasi kekuasaan yang akhirnya memicu perlawanan dari sesama pemimpin Minahasa.
Perjalanan hidupnya memperlihatkan bagaimana politik, perang, perkawinan, dan legitimasi adat berpadu membentuk salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah awal Minahasa.
Legitimasi dari Garis Leluhur
Tradisi lisan Minahasa menempatkan Opo Supit sebagai keturunan ke-17 dari pasangan leluhur Toar dan Lumimuut, sebuah silsilah yang memberikan legitimasi adat yang sangat kuat bagi seorang pemimpin Minahasa.[1]
Selain legitimasi mitologis tersebut, ia juga memiliki garis keturunan bangsawan yang nyata. Opo Supit merupakan putra Posumah, panglima Tomohon dari Talete yang dikenal memimpin perlawanan terhadap pasukan Spanyol pada pertengahan abad ke-17, dan Winuni, perempuan asal Tombariri. Dari garis ayah, ia merupakan cucu Lumi Worotikan, pemimpin besar Pakasaan Tombulu.[2]
Tahun kelahirannya masih menjadi bahan perdebatan. Sejarawan kolonial Nicolaas Graafland menuliskan bahwa Supit mencapai usia sekitar 110 tahun sehingga diperkirakan lahir sekitar 1628.[3]
Namun rekonstruksi historiografi modern, terutama berdasarkan kronologi aktivitas politiknya, menempatkan kelahirannya lebih masuk akal pada sekitar 1640–1642.[1][2]
Perubahan besar terjadi ketika ayahnya gugur dalam konflik melawan Spanyol. Ibunya kemudian menikah dengan Ombeng, Kepala Balak Tombariri. Sejak saat itu Supit dibesarkan di Katingolan, pusat pemerintahan Tombariri, sebagai anak angkat sekaligus pewaris politik Ombeng.[2]
Dari Anak Angkat Menjadi Penguasa Tombariri
Kesempatan terbesar datang ketika VOC mengundang para pemimpin Minahasa menghadiri perundingan di Benteng Amsterdam, Manado.
Dalam situasi duka setelah wafatnya Winuni, Ombeng memilih tidak hadir. Kesempatan tersebut dimanfaatkan Supit untuk mewakili Tombariri.
Keputusan itu mengubah arah sejarah. VOC mengangkatnya sebagai Kapitein sekaligus mengakui dirinya sebagai Kepala balak/walak Tombariri. Pengakuan kolonial tersebut secara efektif menyingkirkan Ogi, putra kandung Ombeng, yang secara adat lebih berhak mewarisi jabatan tersebut.[2]
Momentum ini memperlihatkan kemampuan politik Opo Supit yang kelak menjadi ciri utama kepemimpinannya: memanfaatkan celah diplomasi untuk memperkuat legitimasi kekuasaan.
Penandatangan Kontrak Bersejarah Tahun 1679
Pada 10 Januari 1679, Gubernur Maluku Robertus Padtbrugge memimpin penandatanganan kontrak persahabatan antara VOC dan para pemimpin Minahasa.
Dalam forum tersebut, menurut Adrianus Kojongian, Supit kembali menunjukkan kecakapan politiknya. Ketika Lontoh Tuunan dari Sarongsong dan Paat Kolano dari Tomohon mengalami kesulitan berkomunikasi dalam bahasa Melayu, Supit mengambil peran sebagai juru bicara utama.
Akibatnya, namanya tampil sebagai tokoh paling menonjol dalam kontrak yang kemudian menjadi tonggak awal hubungan resmi Minahasa dengan VOC, meskipun secara senioritas adat posisi Lontoh sebenarnya lebih tinggi.[2]
Peristiwa ini menandai munculnya Supit sebagai figur politik paling berpengaruh di Minahasa pada akhir abad ke-17.
Membangun Kekuasaan Melalui Perkawinan dan Ekspedisi Militer
Berbeda dengan banyak kepala walak yang kekuasaannya terbatas pada wilayah asal, Opo Supit membangun jaringan politik lintas kawasan.
Strategi pertamanya adalah melalui perkawinan politik. Ia menikahi Laya dari Kamasi serta Suanen dari Ares untuk memperkuat pengaruhnya di kawasan Tombulu.[2]
Strategi kedua ditempuh melalui ekspedisi militer.
Pada 1682, ketika VOC mengirim Sersan Herman Smith menertibkan wilayah Pasan-Ratahan, Tonsawang, dan Ponosakan, Supit memimpin pasukan Minahasa dalam operasi tersebut.[2]
Di Ratahan terjadi peristiwa yang kemudian menjadi legenda lokal. Kepala Balak Pasan, Watuseke, tidak memilih berperang hingga akhir, melainkan menawarkan putrinya yang bernama Woki Konda untuk dipersunting Supit.
Perkawinan itu bukan sekadar hubungan keluarga, tetapi menjadi simbol penyatuan politik kawasan selatan Minahasa ke dalam jaringan kekuasaan Supit.[2]
Ekspansi politiknya terus berlanjut.
Sekitar 1710 ia berhasil memperluas pengaruh ke wilayah Tondano dan memperoleh gelar kehormatan Mamapekasa. Di wilayah Toulour itu ia kembali memperkuat legitimasi melalui perkawinan dengan Riri dan Wair, yang kemudian melahirkan garis keturunan Supit di Tondano.[1][2]
Hoofd-Hoekum Majoor Pertama yang Berpengaruh
Puncak karier politik Opo Supit terjadi pada 10 September 1689.
VOC mengangkat tiga pemimpin Minahasa yakni Supit, Lontoh, dan Paat sebagai Hoofd-Hoekum Majoor atau Kepala Hukum-Mayor Minahasa.[1][2]
Walaupun jabatan itu secara formal dipegang bersama, berbagai sumber menggambarkan bahwa Supit tampil sebagai figur paling dominan.
Ia berfungsi sebagai koordinator para kepala walak sekaligus menjadi mitra utama VOC dalam urusan pemerintahan, keamanan, dan diplomasi.
Tradisi lisan bahkan menggambarkan karismanya begitu besar. Dalam perjalanan antar-negeri ia ditandu layaknya Residen Belanda, memiliki banyak pengikut, dan dikenal sebagai sosok tampan dengan senyum khas yang memperlihatkan “gigi tikus” ketika mengunyah sirih.[1][2]
Ketika Kekuasaan Melahirkan Perlawanan
Namun kekuasaan yang terlalu besar akhirnya menimbulkan resistensi.
Dominasi tiga pemimpin Tombulu yakni Supit, Lontoh, dan Paat dinilai menimbulkan ketimpangan terhadap kelompok-kelompok walak lain.
Berbagai catatan lokal menyebut munculnya praktik pemerasan, penyalahgunaan wewenang, serta meningkatnya ketidakpuasan masyarakat yang mendorong perpindahan penduduk ke wilayah Minahasa Selatan.[1][2]
VOC yang semula mendukung mereka akhirnya mengambil langkah tegas.
Menurut Adrianus Kojongian, Opo Supit dicopot dari jabatan Hoofd-Hoekum Majoor pada 10 Januari 1711, sedangkan Bode Talumewo menyebut masa jabatannya berakhir sekitar 1712.[1][2]
Perbedaan tersebut kemungkinan mencerminkan dua tahap berbeda, yakni keluarnya keputusan resmi VOC pada 1711 dan berakhirnya pengaruh politiknya secara efektif di lapangan pada 1712.
Setelah pencopotan itu, Supit hanya kembali memimpin wilayah asalnya sebagai Kepala Balak/Walak.
Perebutan Jenazah Sang Pemimpin
Kematian Opo Supit pun tidak mengakhiri pengaruhnya.
Adrianus Kojongian mencatat bahwa ia wafat pada Maret 1738, sedangkan Talumewo memperkirakan sekitar 1736.[1][2]
Sesudah wafat, terjadi perebutan jenazah antara kelompok Ares, Tombariri, Tondano, dan Tomohon.
Putra sulungnya, Hukum Mayoor Rondonuwu, mula-mula memutuskan agar ayahnya dimakamkan di Kamasi, Tomohon.
Namun pada malam hari, masyarakat Tombariri yang dipimpin putranya Mongi mengambil kembali waruga tersebut.
Dengan menggunakan tali bambu (tumatikak) serta ritual Sinauan, mereka memindahkan jenazah ke Katingolan, ibu kota lama Tombariri.[2]
Sesudah gempa besar tahun 1845, waruga itu kembali dipindahkan sekitar satu kilometer ke lokasi yang lebih aman melalui ritual Mangaloong.[2]
Kini waruga Opo Supit berada di kawasan Woloan II, Kota Tomohon, tidak jauh dari Gereja GMIM Eben Haezar.
Pada batu nisannya masih terdapat inskripsi Belanda yang menyebutnya sebagai “Der Hocom Majoor Soupit”, menjadi salah satu bukti material mengenai keberadaan tokoh penting dalam sejarah politik Minahasa abad ke-17 dan ke-18.[2]
Warisan Sejarah
Opo Supit merupakan salah satu tokoh yang memperlihatkan transformasi kepemimpinan Minahasa dari sistem lokal berbasis walak menuju struktur politik yang mulai terhubung dengan administrasi kolonial.
Ia membangun kekuasaan melalui kombinasi legitimasi genealogis, kemampuan diplomasi, ekspansi militer, dan aliansi perkawinan.
Di saat yang sama, kisah hidupnya juga menjadi pengingat bahwa konsentrasi kekuasaan yang terlalu besar dapat melahirkan perlawanan, bahkan dari masyarakat yang sebelumnya berada dalam lingkaran pengaruhnya sendiri.
Dalam historiografi Minahasa, Opo Supit tidak sekadar dikenang sebagai penandatangan kontrak dengan VOC, tetapi juga sebagai simbol lahirnya elite politik baru yang memainkan peranan penting dalam pembentukan wajah Minahasa pada masa kolonial awal.
Catatan Kaki
- Bode Talumewo, Rekonstruksi Sejarah dan Silsilah Minahasa mengenai Rentang Hidup Opo Supit (1600/1640–1736). Memuat silsilah Opo Supit sebagai keturunan ke-17 Toar-Lumimuut, kepemimpinannya di Tombariri dan Tondano, gelar Mamapekasa, serta masa jabatan sebagai Hoofd-Hoekum Majoor (1689–1712).
- Adrianus Kojongian, Tiga Serangkai Penguasa Minahasa (Riwayatmu Tomohon). Menguraikan silsilah biologis Opo Supit, perebutan kepemimpinan Tombariri, Kontrak 10 Januari 1679, pengangkatan Hoofd-Hoekum Majoor tahun 1689, ekspedisi militer, aliansi perkawinan, pencopotan jabatan, hingga riwayat pemindahan waruga pada 1738.
- Nicolaas Graafland, De Minahassa: Haar Verleden en Haar Tegenwoordige Toestand (Amsterdam: P.N. van Kampen, 1867). Graafland mencatat usia Opo Supit mencapai sekitar 110 tahun, yang kemudian memunculkan perkiraan tahun kelahiran sekitar 1628, meskipun rekonstruksi historiografi modern lebih cenderung menempatkannya pada sekitar 1640–1642 berdasarkan kronologi aktivitas politiknya.
- Penulis: Moderator Malesung
