Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Profil » Dotu Lolong–Lasut sebagai Pelopor Pendiri Kota Manado

Dotu Lolong–Lasut sebagai Pelopor Pendiri Kota Manado

  • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
  • visibility 325
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Secara ringkas akan kami uraikan riwayat hidup almarhum Dotu Lolong-Lasut yang telah merintis pembangunan Negeri Wenang yang kemudian meluas menjadi Kota Manado sekarang ini.

Dotu Lolong-Lasut alias Ruruares dilahirkan di Negeri Kinilow sekitar permulaan tahun 1400 dan meninggal pada tahun 1520. Beliau adalah anak dari seorang yang bernama Lasut, yang pekerjaannya sebagai Kepala Agama Tombulu “Walian” di Negeri Kinilow.

Pada bulan November 1450 Dotu tersebut bersama para pengikutnya berangkat menuju dataran Gunung Wenang. Sasaran ini telah diputuskan oleh beliau karena di bawah Negeri Kinilow terdapat suatu tempat pemandangan yang disebut dalam bahasa Tombulu “Temboan”, yang dapat melihat ke pantai yang kemudian menjadi Pelabuhan Manado sekarang ini.

Bersama pula pada waktu itu berangkat dari Negeri Kinilow adik bungsu dari Dotu tersebut di atas. Namun kemudian adiknya memisahkan diri dari kakaknya dan bersama para pengikutnya melanjutkan perjalanan menuju Gunung Mandalang dan mendirikan negeri di Pantai Mandalang.

Sementara itu kakaknya, Dotu Lolong-Lasut, setibanya di kaki Gunung Wenang langsung mulai melaksanakan tugasnya sebagai Kepala Agama Tombulu.

Pada malam kedua beliau mendengar suara burung malam yang disebut dalam bahasa Tombulu “Sumoring”, yaitu suatu tanda yang baik (Kinaenaan). Atas isyarat burung tersebut, beliau kemudian memerintahkan para pengikutnya untuk mulai merintis pembukaan hutan yang berada di sekitar Gunung Wenang.

Setelah pekerjaan tersebut selesai, mulailah mereka mendirikan pondok-pondok yang beratapkan daun woka sehingga tempat tersebut sudah menjadi suatu negeri.

Kemudian beliau memerintahkan orang-orangnya untuk mengambil keluarga masing-masing dan dibawa ke negeri baru yang telah diberi nama Wenang.

 

Silsilah Keluarga Dotu Lolong–Lasut

 

Di bawah ini dikutip secara ringkas silsilah keluarga Dotu Lolong-Lasut sebagai berikut:

  1. Dotu Lolong-Lasut, perintis dan pembangun Negeri Wenang yang sekarang disebut Manado sekitar tahun 1450, yang kemudian didatangi oleh Portugis.
  2. Londokambey-Lasut, hidup pada tahun 1520–1600 dan semasa hidupnya melanjutkan usaha ayahnya.
  3. Bastian Hubertus Lasut (Lowuij), hidup sekitar tahun 1600–1717.
  4. Johakim Bernard Lasut, hidup dari tahun 1717–1811. Beliau adalah Mayor Ares (Tikala). Pada tahun 1798 VOC dibubarkan dan kemudian kekuasaan diserahkan kepada Daendels yang menjadi Gubernur Jenderal.
  5. Octavianus Bernard Lasut, hidup dari tahun 1811–1870. Karier beliau adalah sebagai Hukum Besar semasa hidupnya.
  6. Samuel Bernard Lasut, hidup pada tahun 1871–1896 dan merupakan Hukum Besar Ares serta Hukum Besar Manado. Beliau memegang jabatan ini selama 25 tahun sampai dipensiunkan.

Pada masa tersebut empat distrik digabungkan menjadi satu, yaitu:

a. Distrik Ares
b. Distrik Manado
c. Distrik Negeri Baru (Titiwungen)
d. Distrik Klabat Bawah

 

Patung Dotu Lolong-Lasut di Taman Kesatuan Bangsa pusat kota Manado (ist)

Patung Dotu Lolong-Lasut di Taman Kesatuan Bangsa pusat kota Manado (ist)

 

Penjelasan

 

Pada tahun 1920–1921 Pemerintah Hindia Belanda bermaksud merombak dan memusnahkan tugu atau kubur dari Dotu tersebut. Namun pada waktu itu bangkit semangat perjuangan dari keturunan Dotu Lolong-Lasut.

Yang bertindak sebagai kepala keluarga Lasut pada waktu itu adalah Albert Lasut-Waworuntu, bekas Mayor Distrik Sonder, dan adiknya yaitu E.W.J. Waworuntu, bekas Hukum Besar Sonder.

Kedua tokoh ini kemudian mengirim protes keras kepada Gubernur Jenderal di Batavia. Sebagai hasilnya, tuntutan keluarga Lasut dibenarkan dan tugu/kubur tersebut tidak jadi dirombak sebagaimana yang masih dapat kita lihat sekarang.

Tugu tersebut terletak di kompleks pertokoan milik Bang Hong Liong di Manado, pada sudut sebelah kiri di pinggir jalan raya.

Pada tahun 1951 Pemerintah Kota Praja Manado kembali merencanakan pembongkaran tugu tersebut. Atas inisiatif N.B. Lasut, yaitu saya sendiri, diajukan protes keras kepada Pemerintah Kota Praja pada waktu itu.

Setelah beberapa kali proses, akhirnya tuntutan keluarga Lasut kembali dibenarkan.

Manado, 25 September 1969

 

Ditulis oleh:
Nicolas B. Lasut
(Cucu dari Mayor Distrik Ares Johakim Bernard Lasut)

 

 

Kubur Majoor Districk Tikala Ares Manado. Rares Joachim Bernard Lasut. (Foto Nico Worang)

Kubur Majoor Distrik Tikala Ares Manado. Rares Joachim Bernard Lasut. (Foto Nico Worang)

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Kampung Waruga

    Kampung Waruga, Wisata Budaya Megalitikum yang Sarat Sejarah

    • calendar_month Senin, 30 Jun 2025
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Menyusuri Jejak Budaya di Kampung Waruga Minahasa   Jika kamu ingin menyelami sejarah dan budaya lokal Sulawesi Utara, maka Kampung Waruga di Kecamatan Sawangan, Kabupaten Minahasa Utara, menjadi destinasi yang wajib kamu kunjungi. Lokasi ini menyimpan ratusan makam batu kuno yang disebut waruga, peninggalan khas masyarakat Minahasa zaman megalitikum. Waruga merupakan wadah makam berbentuk kubus […]

  • Pertemuan Presiden Maluku Cornelis Francx dan Raja Siau pada awal 1673 (ilustrasi)

    Dua Pagar Kayu dan Perebutan Takhta Bolaang 1672–1673

    • calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Pada 2 Juni 1672 seorang raja datang ke Manado untuk mengadu. Arsip Kompeni menyebutnya “raja Amoera”. Orang Siau baru saja mendarat di negerinya di Bolaang, membawa serta saudaranya sendiri bernama Maccarompius dan mendudukkannya di sana sebagai tandingan. Untuk melindunginya, mereka membuat dua pagar kayu dan menempatkan lima belas orang bersenjata di dalamnya. Peristiwa ini dikenal […]

  • Mergel Putih di Langowan: Penemuan dan Percobaan pada 1862

    Mergel Putih di Langowan: Penemuan dan Percobaan pada 1862

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Pada 14 Juli 1862, E. V. J. Waersegers, arsitek yang menjalankan tugas sebagai insinyur kelas satu di Manado, telah menyampaikan keterangan mengenai kemungkinan adanya bahan-bahan mineral di Keresidenan Manado. Ia belum dapat memastikan bahwa wilayah keresidenan yang luas itu tidak memiliki jenis mergel penting lain atau bahan pengganti yang cocok dijadikan pozolan. Keterangan tersebut kemudian […]

  • Keterangan tentang Moral dan Adat Istiadat Penduduk Minahasa – R. Padtbrugge (1679)

    Keterangan tentang Moral dan Adat Istiadat Penduduk Minahasa – R. Padtbrugge (1679)

    • calendar_month Sabtu, 8 Jun 2024
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Keterangan tentang Moral dan Adat Istiadat Penduduk Minahasa – R. Padtbrugge – 1679 Dokumen “Beschrijving van de Zeden en Gewoonten van de Bewoners van de Minahasa” oleh Robert Padtbrugge, Gubernur Maluku (1682-1687), adalah dokumen yang sering dikutip dalam literatur tentang Minahasa.   Ini adalah dokumen komprehensif pertama yang menggambarkan lingkungan dan masyarakat Minahasa (tahun 1679), […]

  • Ilustrasi Ai

    Perang Tondano–Tombulu: Sengketa Batas, Diplomasi Adat, dan Ritual “Potong Ayam” di Minahasa

    • calendar_month Rabu, 10 Sep 2025
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Jauh sebelum identitas Minahasa terbentuk sebagai kesatuan sosial-politik, wilayah pegunungan Sulawesi Utara dihuni oleh kelompok-kelompok Pakasa’an yang hidup mandiri dan otonom. Masa tersebut dikenal sebagai era fofosohan periode konflik internal atau perang saudara antarkelompok yang kerap dipicu oleh persoalan keseharian. Salah satu konflik yang tercatat dalam sumber klasik kolonial adalah perang antara masyarakat Tondano dan […]

  • Jejak Pendidikan di Tomohon dalam Foto Tahun 1947

    Jejak Pendidikan di Tomohon dalam Foto Tahun 1947

    • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Sebuah foto kenangan merekam suasana sekolah di Tomohon, Minahasa, Sulawesi Utara, pada 1947. Dalam keterangan aslinya, foto tersebut disebut sebagai dokumentasi masa sekolah di HBS 5 tahun (SMA) Tomohon. Tampak para pelajar bersama guru atau tenaga pendidikan berfoto bersama di depan bangunan sekolah. Tahun 1947 merupakan periode penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Baru dua tahun […]

expand_less