Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Sejarah Desa Pinamorongan: Jejak Leluhur Tountemboan dan Perlawanan Heroik Minahasa

Sejarah Desa Pinamorongan: Jejak Leluhur Tountemboan dan Perlawanan Heroik Minahasa

  • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
  • visibility 220
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Desa Pinamorongan di Minahasa bukan sekadar sebuah wilayah administratif.

Di balik bentang alamnya yang bergunung dan subur, tersimpan kisah panjang tentang perjalanan leluhur, perjanjian adat, bencana, dan perang besar yang ikut membentuk identitas masyarakat hingga hari ini.

Sejarah Pinamorongan berakar pada peristiwa besar yang dikenal sebagai pembagian wilayah Minahasa di Pinawetengan pada tahun 1428. Peristiwa ini, menurut tradisi lisan, dipimpin oleh Lumimuut dan menjadi tonggak awal pemisahan etnis-etnis Minahasa ke dalam wilayah budaya masing-masing.

 

Migrasi Tountemboan Menuju Tenggara

 

Setelah pembagian di Pinawetengan, kelompok etnis Tountemboan mulai bergerak ke arah tenggara. Dalam perjalanan panjang itu, rombongan melewati berbagai daerah yang kini menjadi desa-desa tua di Minahasa.

Sebagian dari mereka memilih menetap di wilayah yang dianggap layak huni, termasuk di kawasan Kawangkoan.

Namun tidak semua berhenti di sana. Di bawah kepemimpinan Tonaas Mawokto, sebagian rombongan melanjutkan perjalanan bersama para tokoh adat yang dikenal sebagai para Dotu: Dotu Mondoringin, Dotu Tutu, Dotu Rumokoy, Dotu Sumewur, Dotu Salombaktas, Dotu Kaleeb, Dotu Makarawung, Dotu Sangian, dan Dotu Ladow.

Perjalanan ini berakhir pada tahun 1464, ketika mereka tiba di sebuah wilayah yang kelak dikenal sebagai Pinamorongan.

 

Pohon Beringin di Bukit Watuleley

 

Untuk menandai kedatangan mereka, para leluhur menanam sebuah pohon beringin di Bukit Watuleley.

Pohon ini menjadi simbol awal kehidupan baru dan penanda hak ulayat mereka atas tanah tersebut. Hingga kini, masyarakat setempat percaya bahwa yang tersisa hanyalah keturunan dari pohon asli yang telah mati dimakan usia.

Namun, wilayah itu bukanlah tanah kosong. Sebelum rombongan Tountemboan tiba, sudah ada sekelompok masyarakat yang tinggal di sebuah kawasan bernama Tawaang, yang kini menjadi area perkebunan.

Lokasi persis permukiman tua itu tidak lagi diketahui, tetapi jejaknya hidup dalam cerita turun-temurun.

 

Dari Tanah Tandus ke Kaki Gunung

 

Awalnya, para pendatang menetap di wilayah bergunung dan berbatu. Mereka mencoba bercocok tanam, namun tanah yang tandus membuat hasil panen selalu gagal.

Karena kondisi alam yang tidak bersahabat itu, tempat tersebut diberi nama Rumbia, berasal dari istilah Marumbi-rumbi yang menggambarkan keadaan tanah yang kering dan tidak subur.

Pencarian tanah yang lebih baik akhirnya membawa mereka ke sebuah kawasan di kaki gunung.

Di sana berdiri Gunung Manembo, yang hingga kini dikenal sebagai gunung tertinggi di wilayah Desa Pinamorongan. Di tempat inilah kehidupan mulai berkembang dengan lebih stabil.

 

Wabah Penyakit dan Perjanjian Leluhur

 

Kedamaian itu tidak berlangsung lama. Sebuah wabah penyakit yang dikenal sebagai sampar atau kolera melanda pemukiman dan merenggut banyak nyawa, terutama anak-anak.

Tragedi ini mengguncang masyarakat dan memunculkan perdebatan besar: apakah mereka harus kembali ke Rumbia atau mencari wilayah baru.

Akhirnya, para leluhur sepakat membagi diri menjadi dua kelompok. Satu kelompok kembali ke Rumbia, sementara yang lain mencari tempat baru.

Sebelum berpisah, mereka membuat perjanjian adat yang sakral: meskipun terpisah wilayah, mereka tetap satu sebagai saudara, dan tanah pertanian yang ditinggalkan harus tetap dihormati oleh semua keturunan.

 

Perang Besar dengan Kerajaan Bolaang Mongondow

 

Memasuki sekitar abad ke-18, wilayah Minahasa diguncang perang besar melawan Kerajaan Bolaang Mongondow.

Konflik ini berakar pada klaim kerajaan bahwa sebagian tanah Minahasa adalah wilayah taklukannya di masa lampau.

Klaim tersebut ditolak oleh puak-puak Minahasa, karena tanah itu secara nyata telah lama dihuni oleh orang Minahasa.

Pertentangan yang tak menemukan jalan damai akhirnya berubah menjadi perang berkepanjangan. Dalam salah satu fase paling genting, pasukan Minahasa terdesak, dan banyak wilayah jatuh ke tangan pasukan Bolaang Mongondow.

Saat itulah Pinamorongan menjadi benteng terakhir Minahasa.

 

Serban Merah dan Kemenangan Terakhir

 

Ketika pertempuran memuncak, para Tonaas Minahasa memerintahkan seluruh pejuang mengenakan serban merah di kepala. Tanda ini berfungsi untuk membedakan kawan dan lawan di tengah kekacauan medan perang.

Setelah pertempuran sengit, Minahasa akhirnya meraih kemenangan. Legenda setempat menyebutkan bahwa Raja Bolaang Mongondow tewas di ujung Desa Pinamorongan, terkena bambu runcing yang dilemparkan oleh seorang Tonaas Minahasa.

Mayat sang raja tidak dibawa kembali oleh pasukannya. Bambu yang menancap di tubuhnya konon tumbuh menjadi rumpun bambu yang masih dikenal oleh masyarakat hingga kini sebagai penanda peristiwa besar itu.

 

Dari Rumbia ke Pinamorongan

 

Untuk mengenang kemenangan dan semangat perlawanan, nama Rumbia diubah menjadi Pinorongan, yang menggambarkan keberanian dan keteguhan orang Minahasa.

Pada masa pendudukan Belanda, nama itu kemudian disesuaikan menjadi Pinamorongan, yang digunakan hingga sekarang.

 

Warisan Sejarah yang Terus Hidup

 

Kisah Pinamorongan bukan hanya cerita tentang perpindahan dan peperangan, tetapi juga tentang perjanjian leluhur, ikatan persaudaraan, dan hubungan manusia dengan tanahnya. Nilai-nilai itu masih hidup dalam adat, tradisi, dan ingatan kolektif masyarakat hingga hari ini.

Di tengah modernisasi, sejarah Pinamorongan tetap menjadi pengingat bahwa desa kecil di kaki gunung ini pernah menjadi saksi perjuangan besar Minahasa dalam mempertahankan martabat dan wilayahnya.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Residen George Fredrik Dürr dan Kapten Puluwang (Ilustrasi)

    Tomohon 1794: Kebohongan, Pemerasan, dan Runtuhnya Wibawa Residen Dürr

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • visibility 46
    • 0Komentar

    Pada penghujung abad ke-18, wilayah Minahasa tidak hanya menjadi panggung tarik-menarik kekuasaan antara penguasa kolonial dan pemimpin adat, tetapi juga memperlihatkan rapuhnya struktur pemerintahan itu sendiri. Di balik simbol otoritas Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), tersembunyi celah besar: ketergantungan pada perantara lokal yang justru membuka ruang penyimpangan. Salah satu episode paling mencolok terjadi pada tahun 1794, […]

  • Bernard Wilhelm Lapian, Pejuang Nasionalis dari Minahasa

    Bernard Wilhelm Lapian, Pejuang Nasionalis dari Minahasa

    • calendar_month Kamis, 4 Apr 2024
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Di tengah arus besar sejarah kemerdekaan Indonesia yang kerap berpusat di Jawa, nama Bernard Wilhelm Lapian hadir sebagai penanda penting bahwa denyut nasionalisme juga tumbuh kuat dari kawasan timur Nusantara. Ia bukan hanya seorang tokoh politik, melainkan juga jurnalis, organisator gereja, dan administrator pemerintahan yang bekerja dalam senyap, namun berdampak panjang. Lahir di Kawangkoan, Minahasa, […]

  • Kerajinan Pasien Rumah Sakit Sonder: Dari Tempat Tidur Pasien ke Pameran Kawangkoan

    Kerajinan Pasien Rumah Sakit Sonder: Dari Tempat Tidur Pasien ke Pameran Kawangkoan

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Rumah sakit pada awal abad ke-20 tidak hanya menjadi tempat orang sakit mendapatkan perawatan. Di Sonder, Minahasa, rumah sakit juga menjadi ruang tempat pasien menjalani aktivitas lain selama masa pemulihan. Salah satu yang menarik adalah kegiatan membuat kerajinan. Pada 1908, hasil pekerjaan tangan para pasien Rumah Sakit Sonder bahkan dikirim ke sebuah pameran di Kawangkoan. […]

  • Asal Usul Fam Lumowa Dari Pangolombian

    Asal Usul Fam Lumowa Dari Pangolombian

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Di wilayah Minahasa, setiap fam atau marga umumnya memiliki kisah asal-usul yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu cerita rakyat yang masih dikenang masyarakat adalah asal usul Fam Lumowa di Wanua Pangolombian, wilayah yang kini termasuk Kecamatan Remboken, Sulawesi Utara. Menurut cerita tua yang diwariskan para leluhur, pada pertengahan abad ke-18 sejumlah keluarga dari Wanua Kamasi […]

  • Menyegarkan Diri

    Menyegarkan Diri di Air Terjun Tunan Minahasa Utara

    • calendar_month Rabu, 23 Jul 2025
    • visibility 31
    • 0Komentar

    Air Terjun Tunan: Destinasi Segar di Tengah Alam Minahasa Utara Kalau kamu lagi cari tempat wisata alam yang tenang, segar, dan belum terlalu ramai wisatawan, Air Terjun Tunan bisa jadi pilihan yang pas banget! Terletak di Desa Talawaan, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, air terjun ini sering disebut sebagai salah satu hidden gem yang wajib dikunjungi […]

  • Sejarah Militer Minahasa dalam KNIL dan Tradisi Soldadu

    Sejarah Militer Minahasa dalam KNIL dan Tradisi Soldadu

    • calendar_month Selasa, 24 Des 2024
    • visibility 370
    • 0Komentar

    Pada dekade 1940-an, menjadi seorang serdadu atau “soldadu” KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger) adalah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Minahasa. Profesi sebagai tentara kolonial Hindia-Belanda ini dipandang sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik, dihormati, dan bergengsi. Tanda tangan kontrak menjadi soldadu menjadi peristiwa yang sering dirayakan oleh keluarga di setiap desa atau negeri Minahasa. Hampir setiap […]

expand_less