Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel Sejarah » Batalyon Worang: Pilar Keutuhan NKRI

Batalyon Worang: Pilar Keutuhan NKRI

  • calendar_month Sabtu, 7 Des 2024
  • visibility 108
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada tanggal 21 Maret 1950, Batalyon B (ex-Brigade XVI) secara resmi diubah menjadi TNI Batalyon “Worang” melalui Surat Perintah MBAD No. 320/SU/PH/50 yang ditandatangani oleh KSU-AD Kol. Bambang Soegeng.

Penugasan pertama Batalyon Worang, di bawah pimpinan Mayor H.V. Worang, adalah mengirimkan pasukan ke Makassar, Ibukota Indonesia Timur pada waktu itu, sebagai langkah awal dalam pembinaan keutuhan wilayah NKRI.

 

Batalyon Worang mencapai puncak kehebatannya pada penumpasan RMS (Republik Maluku Selatan), ketika jumlah personelnya mencapai 1.100 orang, menjadikannya sebagai batalyon dengan jumlah terbanyak dalam operasi tersebut.

Batalyon ini terdiri dari beberapa kompi, termasuk Kompi Senapan yang dipimpin oleh Kapten D.J. Somba, Lettu Wim Tenges, Lettu Raf Lalu, dan Lettu Andi Oddang, serta Kompi Bantuan dan Kompi Markas.

 

Batalyon Worang memainkan peran penting dalam berbagai operasi militer yang diamanatkan oleh Presiden Soekarno dan MBAD, termasuk penumpasan pemberontakan Andi Aziz, pengendalian situasi di Sulawesi Utara pasca kekuasaan KNIL, serta peran sentral dalam penumpasan RMS di Ambon.

Setelah penumpasan RMS, Batalyon Worang kembali ke Manado, di mana mereka dipecah menjadi dua bagian, dengan Kompi Somba membentuk Batalyon 707.

 

Selama penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan, Batalyon Worang terus berperan aktif dalam operasi-operasi militer bersama pasukan lain, menunjukkan dedikasi dan keberanian dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

**Kredit Foto**:

Semua foto diambil oleh IPPHOS

Foto Batalyon Worang di Istana Negara diedit oleh Romy Toar Nonutu.

Foto-foto lainnya diedit oleh admin facebook laman Batalyon Worang.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Pantai Malalayang 1911

    Pantai Malalayang 1911

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Foto piknik orang Eropa di pantai Malalayang (Europeanen picknicken bij Malalajang bij Manado) Link sumber: http://hdl.handle.net/1887.1/item:811562

  • Desa Wuwuk, Minahasa Selatan

    Mengungkap Sejarah Desa Wuwuk dan Peran Joel Walintukan dalam Lahirnya KGPM

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Dalam lanskap historiografi Minahasa Selatan, nama Desa Wuwuk atau dalam ejaan kolonial Woewoek, kerap hanya muncul sebagai titik kecil dalam peta wilayah Tareran. Namun ketika arsip-arsip lama di Leiden dibuka kembali, dan laporan para zendeling ditelusuri, desa ini tampil dalam wajah berbeda: sebagai ruang peradaban tua yang menyimpan jejak linguistik, pendidikan, sekaligus pergerakan intelektual yang […]

  • Utang Kopra Petani Minahasa

    Utang Kopra Petani Minahasa

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Menjelang abad ke-20, kopra menggantikan kopi sebagai hasil ekspor utama Minahasa. David Henley dalam Nationalism and Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East Indies mencatat bahwa kewajiban menanam kopi dihapuskan pada 1899. Setelah itu, tanaman tersebut segera kehilangan kedudukannya dalam kegiatan pertanian Minahasa. Tempatnya kemudian diambil alih oleh kopra, yang harganya sempat […]

  • Joppy Worek (Penulis)

    Ketika Waktu Tak Lagi Membatasi: Kisah Tonaas dari Motoling

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Tou Minahasa, dalam akar budayanya, tumbuh dari kesadaran akan rotasi dan dinamika alam. Waktu, bagi mereka, bukanlah garis lurus yang membatasi, melainkan ruang yang lentur, dapat dilalui, dirasakan, bahkan dalam keyakinan tertentu, ditembus. Ingatan tentang hal itu hidup dalam pengalaman-pengalaman sederhana di kampung. Salah satunya berkaitan dengan sosok Opa Rambi, seorang tua yang pada masanya […]

  • Foto Presiden Soekarno di Tondano

    Foto Presiden Soekarno di Tondano

    • calendar_month Minggu, 7 Jul 2024
    • visibility 33
    • 0Komentar

    Presiden Sukarno tiba diujung Selatan kota Tondano (Toulour) dengan menggunakan pesawat ampibi dan disambut dengan meriah oleh masyarakat Tondano pada tanggal, 20 November 1951 Sumber : ANRI Diwarnai oleh : Romy Toar Nonutu

  • Romboken 1924 (Pawiro - LHC Horsting/Engel yong)

    Romboken dalam Arus Kolonial: Dari Persekutuan VOC hingga Sentra Kopi Minahasa

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Di tepian barat Danau Tondano, terbentang sebuah wilayah yang dalam arsip kolonial Belanda kerap dieja sebagai Romboken atau Rembokkan. Kini dikenal sebagai Remboken, kawasan ini menyimpan jejak panjang pergulatan sejarah Minahasa mulai dari persekutuan politik dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), perlawanan militer berdarah terhadap kolonialisme, hingga transformasi sosial akibat penetrasi ekonomi kopi dan pendidikan zending. […]

expand_less