Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Juru Bahasa dan Politik Bahasa di Sulawesi Utara, 1563–1699

Juru Bahasa dan Politik Bahasa di Sulawesi Utara, 1563–1699

  • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
  • visibility 103
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dokumen misi dan dokumen negara sama-sama rajin mencatat apa yang dikatakan. Namun keduanya hampir tak pernah mencatat siapa yang membuat perkataan itu sampai.

Seorang padri Portugis berkhotbah di depan ribuan orang yang tidak berbahasa Portugis, sebuah kontrak Kompeni disepakati oleh para kepala negeri yang tidak berbahasa Belanda.

Di antara keduanya selalu ada seseorang yang merjemahkan. Tulisan ini mengumpulkan jejak orang itu di lengan utara Sulawesi dan Nusa Utara, sejauh yang bisa diperiksa halaman demi halaman arsip dari 1563 sampai 1699.

Yang berubah sepanjang 136 tahun itu ternyata bukan pekerjaannya. Yang berubah adalah apakah pekerjaannya punya nama.

Manado, 1563: “hum christão da terra por limguoa”

Pater Diogo de Magalhães SJ membaptis raja Manado beserta sekitar seribu lima ratus orang pada pertengahan 1563 lalu menulis surat dari Manado bertarikh 28 Juli 1563. Surat itu sampai kepada kita karena disisipkan ke dalam surat Pero Mascarenhas SJ dari Ternate, 10 Februari 1564.[^1]

Dalam suratnya sendiri Magalhães tidak menyebut penerjemah sama sekali. Ia menulis bahwa selama lima belas hari ia mengajarkan doktrin kepada sang raja, “praticando com elle cousas da fee“.[^2]

Penerjemah baru muncul beberapa baris kemudian dan bukan dari mulutnya. Sesudah surat Magalhães ditutup, narasi kembali ke tangan Mascarenhas dan di situlah kalimatnya:

“Despois que o Padre Dioguo de Magualhães tornou do Totole… deixou-sse fiquar no Manado e com ele ficou hum christão da terra por limguoa“[^3]

Empat hal perlu dicatat. Pertama, ini kesaksian tangan kedua yang menulis adalah atasan di Ternate, bukan orang yang memakai jasa penerjemah itu.

Kedua, waktunya bukan waktu pembaptisan melainkan sesudahnya. Sesudah Magalhães kembali dari Totole dan memutuskan menetap “pera os confirmar“[^4]

Ketiga, teksnya mantap. Aparat kritis edisi Jacobs tidak mencatat varian apa pun pada baris ini dan jalur naskah yang sama sekali terpisah yang dipakai Artur Basílio de Sá memberi bacaan yang sama, dengan kata lingua dicetak miring — penyuntingnya membacanya sebagai istilah teknis.[^5] Keempat, ia tak bernama.

Satu-satunya keterangan tentang dirinya adalah “christão da terra“: seorang Kristen setempat. Itu berarti ada orang yang sudah dibaptis di kawasan itu sebelum Magalhães datang dan memang begitulah yang dilaporkan dua puluh lima tahun kemudian.

Kolongan, 1568: Seluruh Iman Lewat Satu Mulut

Lima tahun kemudian Mascarenhas sendiri berlayar ke utara. Ia berangkat dari benteng Ternate pada hari Santo Bartolomeus, 24 Agustus 1568 memimpin misa di Manado pada 29 Agustus, lalu pada 4 Oktober bertolak ke Sangihe bersama raja Siau.[^6] Tiga hari sesudah tiba ia sampai di Kolongan, kota utama kerajaan.

Di sana raja, ratu, seluruh principaes (tokoh masyarakat) dan istri-istri mereka berkumpul di sebuah lapangan di bawah pepohonan di tepi laut. Mascarenhas menjelaskan pokok-pokok iman dan pada hari yang sama mereka semua dibaptis serta dinikahkan secara gereja.[^7] Kalimat yang memuat penerjemah berbunyi:

“As quais depois que ouvirão, declarando-lhas eu por hum lingua, estando elles mui attentos, me responderão que estavão tam satisfeitos do que tinhão ouvido, que desejavão muito de serem já christãos“[^8]

Di sini fungsinya jauh lebih besar daripada di Manado tahun 1563. Ia bukan pendamping yang tinggal bersama seorang padri, melainkan satu-satunya saluran pada peristiwa terbesar dalam pelayaran itu. Keputusan sebuah kerajaan untuk berpindah agama diambil atas dasar kata-kata seseorang yang tidak dicatat namanya.

Aparat kritis pada baris ini memberi bukti kecil yang tak ternilai. Juru tulis mula-mula menulis huma lingua — bentuk feminin, yang dalam bahasa Portugis berarti bahasa — lalu membetulkannya menjadi hum, bentuk maskulin.[^9] Pembetulan itu memperlihatkan bahwa penulisnya sadar sedang menyebut seorang orang bukan sebuah bahasa. Untuk sebuah kata yang bisa dibaca dua arah, itu penutup yang bersih.

Ambon, 1570: Seorang Lingua Yang Belum Percaya

Kata yang sama muncul untuk ketiga kalinya, dari penulis yang sama di medan yang sama sekali lain. Pada 15 Juni 1570 Mascarenhas menulis dari Ambon kepada para Jesuit Kolese Goa tentang sebuah negeri yang baru dikunjunginya. Ia menyebut seseorang “ho quoal servia de limgoa ao Padre“.[^10]

Kali ini penerjemahnya punya isi batin. Seorang anak kepala negeri sembuh dari sakit sesudah dibaptis dan Mascarenhas mencatat:

“E caussou em especial gramde admirasão no lymgoa, que llogo dise ao Padre que agora acabara de conhecer e cria verdadeiramente a verdade de nosa fé“[^11]

Ia lalu menceritakannya kepada orang-orang Ambon yang bersamanya dan sesudah perdamaian membujuk kaumnya sendiri untuk menjadi Kristen.[^12] Ini satu-satunya juru bahasa dalam korpus yang berpindah dari menerjemahkan kata orang lain menjadi berbicara atas namanya sendiri.

Dan justru karena itu ia memperlihatkan sesuatu tentang yang lain, orang yang menerjemahkan doktrin belum tentu memeluknya. Di Manado 1563 hal itu ditegaskan secara khusus — hum christão da terra. Di Ambon, penegasan itu tak bisa diberikan.

Tiga dokumen, tiga medan, satu penulis, satu kata. Lingua pada Mascarenhas bukan pilihan diksi sesaat melainkan nama sebuah pekerjaan.

1588: Kata Yang Berganti, Dan Sebuah Kekosongan

Dua puluh lima tahun sesudah Magalhães, Antonio Marta SJ menyusun laporan visitasi untuk seluruh Maluku. Bab 12-nya, “Da christandade do Selebe“, meringkas peristiwa 1563:

“E preegando-lhe o Padre por hum interprete, os bautizou e converteo a todos“[^13]

Katanya berubah bukan lagi lingua melainkan interprete, bentuk Latin-Portugis yang baku. Kedudukan gramatikalnya juga berbeda, penerjemah menempel pada berkhotbah, bukan pada membaptis, jadi sejajar dengan pengakuan Magalhães sendiri bahwa yang ia lakukan selama lima belas hari adalah mengajar.

Dua rambu melekat pada bab ini, Marta menanggalkan peristiwanya dengan ragu-ragu, lewat masa jabatan Rektor: “no tempo do P. Marcos Prancudo, que foi cuido no anno 1563, ou pera lá em cerca.“[^14] Tarikh 1563 yang keras berasal dari surat Magalhães, bukan dari Marta. Dan bab itu ditutup dengan pengakuan bahwa kekristenan di sana telah lenyap sama sekali, “nem há livro de bautizados nem fumo della” — tak ada buku baptis, tak ada asapnya.[^15]

Di kalimat sebelumnya Marta menyebut bahwa Magalhães datang untuk mengunjungi orang-orang Kristen yang sudah dibaptis lebih dulu oleh seorang klerus sekuler yang lewat di kepulauan Celebes.[^16] Orang itu pun tak bernama, dan tak bertarikh. Ia satu-satunya penjelasan yang tersedia bagi frasa “christão da terra” pada 1563: harus ada yang membaptis sang penerjemah sebelum ada padri yang memakainya.

Marta juga mencatat dalam bab metodenya, bahwa pengakuan dosa dan komuni nyaris tak berjalan karena para imam tidak menguasai bahasa setempat.[^17] Itu bukan keluhan sampingan. Itu keterangan bahwa seluruh bangunan misi bertumpu pada orang-orang yang namanya tidak dicatat.

1677: Mesin Yang Bekerja Dua Arah

Seabad kemudian pihaknya berganti, bahasanya berganti, tetapi kebisuannya bertahan. Dalam lampiran jurnal perjalanan Robertus Padtbrugge ke Sulawesi Utara dan kepulauan utara pada 16 Agustus–23 Desember 1677, dua surat kepada raja-raja Taruna, Kandahar, dan Tabukan tercetak dengan kepala yang sama: “Translaatbrief uit het Maleisch in het Duitsch” — surat terjemahan dari bahasa Melayu ke bahasa Belanda.[^18]

Kepala itu lebih berbicara daripada isinya. Kedua surat berasal dari Padtbrugge, ditulis di Manado di Fort Amsterdam pada 5 Oktober 1677. Namun yang diarsipkan adalah versi Melayunya, dan yang dicetak adalah alih bahasanya kembali. Artinya ada penerjemahan yang bekerja penuh ke dua arah, keluar dan masuk pada sebuah kantor gubernur yang sedang menyiapkan perang. Tak satu pun pelakunya disebut.

(Kata Duitsch di sini berarti Nederduitsch, bahasa Belanda, bukan bahasa Jerman.)

1679: Sebuah Nama, Di Urutan Pertama

Dua tahun kemudian nama itu muncul. Kontrak antara Kompeni dan negeri-negeri Minahasa 10 Januari 1679, dibuat di hadapan Padtbrugge sendiri. Lebih dari dua puluh negeri hadir tetapi yang membubuhkan tanda hanya empat orang pribumi dan yang pertama disebut adalah tolk Bastiaan Saway, disusul richter Maondy dan capitains Pacat Soepit serta Pedro Ranty.[^19]

Alasan mengapa hanya empat orang yang menandatangani dinyatakan dalam dokumen itu sendiri, negeri-negeri itu tidak mengenal tulisan.[^20] Dalam ruangan yang penuh orang yang tak bisa menandatangani, orang yang menerjemahkan justru menandatangani lebih dulu.

1699: Pekerjaan Itu Terbelah Menurut Bahasa

Kontrak 1679 diperbarui pada 10 September 1699 oleh capitain Paulus de Brievings dan ondercoopman Samuel Hattingh atas nama gubernur Maluku Salomon Lesage. Penyuntingnya menyatakan sendiri bahwa yang terjadi adalah pembaruan atas kontrak yang dulu ditutup Padtbrugge.[^21] Kedua ujung busur ini satu garis kontraktual, bukan dua peristiwa terpisah.

Yang baru ada di penutupnya. Sesudah daftar panjang para kepala negeri, dokumen itu memuat dua pengesahan terpisah:

“Lager stont: Voor de vertalinge in ‘t Alphoerees, was geteeckent: Manuel Perera, tolcq. Nog lager tusschen het Nederduyts en Maleyts: Ter onser presentie, getekent: Henry de Chiese en Christoffel Doncker“[^22]

Dokumennya melewati tiga bahasa yaitu Belanda, Melayu, Alfur dan tiap sambungan disahkan oleh orang yang berbeda dengan rumusan yang berbeda. Perera bergelar tolcq dan menjamin sisi Alfur, dua yang lain berdiri di sambungan Belanda–Melayu.

Pada 1677 pekerjaan itu tak berpelaku. Pada 1679 ia satu orang dengan satu gelar. Pada 1699 ia sebuah struktur dua sambungan, tiga nama, dan tanda tangan pada masing-masing.

Apa Yang Sebenarnya Berubah

Pekerjaannya sendiri tak banyak berubah sejak 1563. Seseorang yang menguasai dua bahasa berdiri di antara pendatang dan penduduk dan tanpa dia tak ada yang bisa dijanjikan, disepakati, atau dipercayai.

Yang berubah adalah kedudukannya di atas kertas. Pada abad keenam belas ia adalah keterangan tambahan dalam kalimat orang lain — por hum lingua — tanpa nama, tanpa gelar, tanpa jejak lain. Pada akhir abad ketujuh belas ia adalah tolcq, sebuah jabatan yang tanda tangannya diperlukan agar dokumen sah.

Perpindahan itu bukan perpindahan dari Katolik ke Protestan atau dari Iberia ke Belanda semata. Itu perpindahan dari misi ke administrasi, yang pertama memerlukan seseorang untuk dipercaya, yang kedua memerlukan seseorang untuk dipertanggungjawabkan.

Kosakatanya mengikuti: lingua (1564, 1569, 1570) → interprete (1588) → tolk / tolcq (1679, 1699).

Satu rambu perlu dinyatakan terang. Keenam kesaksian di atas melintasi tiga kekuasaan, dua ordo, dan bahasa sasaran yang belum tentu sama. Dokumen 1699 hanya menyebut “‘t Alphoerees” tanpa merincinya, dan tak ada dasar untuk memilih satu bahasa Minahasa tertentu. Ini enam kesaksian tentang satu jenis pekerjaan, bukan satu silsilah jabatan yang bersambung.

Yang Masih Terbuka

Tata bahasa dan katekismus Fransiskan, ±1619–1622. Beredar keterangan bahwa seorang Fransiskan di Manado menyusun tata bahasa, katekismus dalam bahasa daerah, dan sebuah buku adat istiadat pada awal 1620-an. Sumber yang membawanya tidak memuat satu pun catatan kaki dan tidak menyebut nama orangnya, sehingga tidak dipakai sebagai rujukan di sini.

Jalur pemeriksaannya Félix de Huerta 1865, yang mencantumkan karya tulis dengan rumus “Escribió:” atau “escribiendo:” diikuti judul pada baris tersendiri;[^23] dan Juan Francisco de S. Antonio, Chrónicas de la apostólica provincia de S. Gregorio Magno — bukan Parte Primera 1738, yang isinya deskripsi kepulauan, melainkan Parte Segunda (1741) dan Tercera (1744). Judul yang dicari tidak akan berbunyi “tata bahasa” melainkan Arte de la lengua, Vocabulario, atau Doctrina Christiana.

Sebuah kamus Español yang diselamatkan dari pembakaran 1677. Asal keterangan ini belum dapat ditetapkan dan karena itu tidak dimasukkan ke dalam badan tulisan. Yang dapat dinyatakan adalah jalur orang yang mungkin membawa benda semacam itu memang ada dan berdokumen.

Dalam lampiran jurnal yang sama disebut Juan de Leon, “opvoedeling in den geloove” Pater Emanuel Espanjol, yang menjadi pembawa surat antara para Jesuit Spanyol dan gubernur Belanda pada Oktober 1677.[^24] Selain itu Fr. José de Trujillo, prelado konven Ternate, berada di misi Maluku sejak 1654 dan kembali ke Manila pada 1662 — persis rentang pengosongan Maluku oleh Spanyol.[^25]

Juru bahasa yang ikut terbunuh. Beredar pula keterangan bahwa Fray Blas Palomino tewas bersama juru bahasanya. Tarikh kematian Palomino sendiri sudah punya tiga varian dalam kepustakaan dan keterangan tentang juru bahasa itu belum ditemukan dalam sumber bercatatan kaki. Bila terkonfirmasi, itu akan menjadi satu-satunya juru bahasa kawasan ini yang diketahui mati dalam pekerjaannya.

Sumber

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Majoor H.W Dotulong bersama pasukan tiba di pelabuhan Semarang 1829 (ilustrasi)

    Ketika Minahasa Mengirim Pasukan ke Perang Jawa

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Pada tahun keempat Perang Jawa, tentara Hindia Belanda kekurangan orang. Perekrutan serdadu di pulau-pulau luar Jawa yang diatur lewat dokumen Resolutie 13 Februari 1827 hasilnya mengecewakan.¹ Satu-satunya kabar baik datang dari Maluku. Sultan Ternate dan Sultan Tidore bersedia mengirim orang ke Jawa, tetapi hanya sebagai pasukan bantu (hulptroepen), bukan sebagai serdadu tetap. Jenderal De Kock menyambut […]

  • Pulau Saringani dan Raja Kendahe: Akta Penyerahan Tanah kepada VOC Tahun 1688

    Pulau Saringani dan Raja Kendahe: Akta Penyerahan Tanah kepada VOC Tahun 1688

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Ini adalah sebuah penyerahan tanah Mindanao oleh raja Sangihe dan pilar Kompeni yang terus dirobohkan Di tengah memori serah jabatan Gubernur Ternate Jacob van Schoonderwoert kepada penggantinya Hendrik Breton, di antara uraian tentang perahu-perahu Mindanao yang terus berlayar ke pesisir Sulawesi dan uraian tentang Kepulauan Sangir, terselip satu paragraf pendek berjudul SARINGANIJ. Isinya sebuah klaim […]

  • Kisah Tuanku Imam Bonjol yang Berakhir di Tanah Minahasa

    Kisah Tuanku Imam Bonjol yang Berakhir di Tanah Minahasa

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Tuanku Imam Bonjol (Muhammad Shahab, ±1772–1864) dikenal luas sebagai pemimpin utama Perang Padri di Sumatra Barat. Namun, bab terakhir hidupnya tidak berakhir di tanah Minangkabau, melainkan jauh di timur Nusantara: Tanah Malesung atau Minahasa, Sulawesi Utara. Di sanalah, dalam status sebagai tahanan politik pemerintah kolonial Belanda, Imam Bonjol menghabiskan sisa hidupnya hingga wafat dan dimakamkan […]

  • Waruga Dotu Lolong-lasut di Manado

    Ketika Wenang Menjadi Manado: Awal Kota Kolonial di Tanah Minahasa

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Di pesisir utara Sulawesi, sejarah Manado tidak bermula begitu saja sebagai sebuah kota kolonial Belanda. Jauh sebelum VOC membangun benteng dan menjadikan kawasan itu pusat administrasi, pesisir yang kini menjadi jantung Kota Manado telah menjadi ruang hidup masyarakat lokal, tempat berlangsungnya hubungan antara permukiman Minahasa, perdagangan antarpulau, dan jaringan maritim yang menghubungkan Sulawesi Utara dengan […]

  • pemandian

    Pemandian Air Panas Lahendong: Relaksasi Alami di Kaki Gunung

    • calendar_month Senin, 9 Jun 2025
    • visibility 66
    • 0Komentar

    ♨️ Pemandian Air Panas Lahendong: Relaksasi Alami di Kaki Gunung Lokon Hai, sobat traveler! 🌄Kalau kamu lagi cari tempat buat relaksasi alami, Pemandian Air Panas Lahendong di Tomohon, Sulawesi Utara, bisa jadi jawabannya! Berada di kaki Gunung Lokon, tempat ini menawarkan suasana sejuk dan air panas alami yang cocok banget buat healing. Cocok dikunjungi bareng […]

  • Pakaian Wanita Minahasa era 60-an

    Pakaian Wanita Minahasa era 60-an

    • calendar_month Sabtu, 7 Sep 2024
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Dua orang wanita muda asal Minahasa berpose dalam sebuah acara kepemudaan di Australia, 10 Maret 1962 Misses Triena and Isla Sorongan, daughters of Andrew Sorongan from Minahassa , sheltered from the rain under an Indonesian “pajong” at the garden party held at the Wingham International Friendship Centre, March 10, 1962. Source Getty Image Colored by […]

expand_less