Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Bala Keselamatan di Minahasa

Bala Keselamatan di Minahasa

  • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
  • visibility 49
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tahun 1934, Bala Keselamatan (Leger des Heils atau The Salvation Army) di Minahasa masih merupakan salah satu cabang yang paling muda dalam lingkungan Bala Keselamatan di Hindia Belanda. Dalam artikel berjudul “De Heilsstrijd in de Minahasa” yang dimuat dalam edisi jubileum 40 tahun Bala Keselamatan di Hindia Belanda, Minahasa digambarkan sebagai pos terdepan paling timur organisasi tersebut. Para anggota Bala Keselamatan di Minahasa merasa memiliki ikatan persaudaraan yang kuat dengan kelompok-kelompok Bala Keselamatan lainnya di seluruh kepulauan. Penulis (an Ed. Rosenlund) menyebut bahwa kehadiran Bala Keselamatan di Minahasa merupakan hasil dari kerja keras dan ketekunan komandannya.

Ketika penulis dan istrinya tiba di Manado hampir dua tahun sebelumnya, “seluruh pasukan” bahkan baru terdiri atas mereka berdua beserta dua anak mereka. Namun, mereka datang bukan untuk sementara, melainkan untuk menetap dan mengembangkan pekerjaan Bala Keselamatan di wilayah tersebut.

Perkembangan itu berlangsung di tengah berbagai kesulitan. Artikel tersebut mencatat bahwa pekerjaan Bala Keselamatan menghadapi kesalahpahaman, penolakan, dan penganiayaan. Pada sejumlah tempat, pertemuan mereka pernah dilempari batu, bahkan salah seorang anggota pernah diserang dan dianiaya. Ada pula orang tua yang tidak memahami kegiatan Bala Keselamatan sehingga orang-orang yang telah bertobat dikurung selama berminggu-minggu. Namun, menurut laporan tersebut, setelah dibebaskan mereka justru datang kembali dan meminta untuk didaftarkan sebagai rekrut.

Salah satu kisah yang dicatat adalah mengenai seorang perempuan muda yang datang ke tempat pertobatan dalam sebuah pertemuan. Ibunya mengikuti dan memukulinya karena sang anak ingin menjadi prajurit Bala Keselamatan. Pemimpin pertemuan kemudian berdoa dengan suara keras untuk perempuan tersebut. Hasilnya, bukan hanya sang anak yang bertobat, tetapi ibunya juga berlutut dan memohon pengampunan atas dosa-dosanya.

Daya tarik Bala Keselamatan bahkan menjangkau daerah pedalaman. Penulis menceritakan kedatangan dua pemuda dari sebuah desa yang jaraknya lebih dari 100 kilometer dari Manado. Ketika ditanya apa yang mereka ketahui tentang Bala Keselamatan, keduanya menjawab bahwa ayah mereka mengatakan kepada mereka bahwa prajurit Bala Keselamatan adalah “krijgslieden Gods”, atau “prajurit-prajurit Allah”. Perkembangan yang lebih nyata terlihat pada 11 Maret 1933, ketika gedung pertama Bala Keselamatan di Minahasa dibuka di Julianalaan 19, Manado. Gedung tersebut memiliki kapasitas hampir 300 orang. Dalam pembukaannya, 31 orang pertama dilantik sebagai prajurit Bala Keselamatan di bawah panji organisasi, sementara 34 orang disebut telah datang kepada Tuhan. Kurang dari setahun kemudian, tepatnya 17 Februari 1934, gedung Manado II dibuka secara resmi.

Pada saat peringatan dua tahun keberadaan Bala Keselamatan di Minahasa, organisasi itu juga telah memikirkan perluasan fasilitas. Rencana mereka adalah menggunakan gedung-gedung Bala Keselamatan pertama di Minahasa, yakni ruang pertemuan sekaligus tempat tinggal perwira di korps Kakas, Sonder, dan Tompaso. Di Manado, di bawah pimpinan Mayor Rosenlund, berkembang pula sebuah Gezins- en Liefdebond, atau perkumpulan keluarga dan kasih.

Pada waktu yang sama, Bala Keselamatan sedang merencanakan pembentukan pasukan kepanduan di berbagai pusat. Perhatian terhadap kaum muda dianggap penting karena, sebagaimana dinyatakan dalam laporan tersebut, “kaum muda dan Bala Keselamatan memang seharusnya bersama-sama”. Sekolah Minggu telah dilaksanakan secara teratur di sembilan tempat yang berbeda.

Menariknya, laporan tersebut juga memberikan sebuah gambaran kecil mengenai bagaimana kegiatan Bala Keselamatan mulai dikenal di kalangan anak-anak Manado. Di sebuah Sekolah Froebel milik Gereja Protestan, seorang guru meminta anak-anak menyanyikan sebuah syair. Seorang anak kecil maju dan mulai menyanyikan “Angkatlah bandera jang soetji…”. Guru itu kemudian membuat sebuah bendera kecil dari saputangan dan tongkat agar sang anak dapat melanjutkan nyanyiannya. Namun anak tersebut menolak dengan mengatakan, “Tidak maoe.” Ketika ditanya mengapa, ia menjawab, “Boekan bandera itoe” : “Bukan bendera itu” — lalu kembali duduk. Penulis laporan menganggap peristiwa tersebut sebagai tanda bahwa pekerjaan Bala Keselamatan mulai dikenal di kalangan anak-anak Minahasa.

Selain kaum muda, Bala Keselamatan juga melakukan pelayanan kepada para narapidana di Manado. Sejak kedatangan mereka, pertemuan-pertemuan telah diadakan di lingkungan penjara dan, menurut laporan tersebut, kegiatan itu mendapat penghargaan. Sampai saat laporan ditulis, lebih dari 100 orang laki-laki disebut telah bertobat. Bahkan untuk pertama kalinya, salah seorang dari mereka yang telah bertobat dilantik sebagai prajurit Bala Keselamatan di dalam tembok penjara. Penulis menyadari bahwa hasil pekerjaan tersebut tidak selalu dapat segera dilihat karena para narapidana yang dibebaskan kemudian tersebar ke berbagai tempat. Dengan demikian, pelayanan Bala Keselamatan di Manado tidak terbatas pada gedung pertemuan atau kegiatan keagamaan, tetapi juga menjangkau lingkungan penjara.

Pada 1934, perkembangan Bala Keselamatan di Minahasa telah jauh berbeda dibandingkan masa awal kedatangannya. Panji Bala Keselamatan telah berkibar di lima korps dan berbagai pos luar, sementara jumlah orang Minahasa yang ingin bergabung di bawah warna merah, kuning, dan biru disebut segera mencapai 1.000 orang. Laporan itu juga mencatat bahwa masih banyak tempat yang telah menunggu kedatangan Bala Keselamatan selama berbulan-bulan. Namun keterbatasan jumlah perwira membuat mereka belum mampu memenuhi seluruh permintaan tersebut. Pada masa itu, Bala Keselamatan rata-rata mengadakan sekitar 100 pertemuan setiap bulan, dengan kira-kira 7.000 orang hadir. Buku mereka mencatat lebih dari 200 prajurit, 109 rekrut, dan hampir 500 orang yang telah bertobat.

Bagi Mayor Ed. Rosenlund, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa cabang termuda Bala Keselamatan di Minahasa memiliki kekuatan hidup yang besar. Ia bahkan menyatakan keyakinannya bahwa Bala Keselamatan mempunyai masa depan yang besar di Minahasa. Catatan ini memperlihatkan sebuah organisasi yang pada awalnya hadir dengan jumlah anggota yang sangat kecil, kemudian berkembang menjadi jaringan yang memiliki korps, pos luar, kegiatan pendidikan agama bagi anak-anak, kepanduan, perkumpulan keluarga, serta pelayanan kepada narapidana. Namun sumber tersebut juga menunjukkan bahwa pertumbuhan itu tidak berlangsung tanpa hambatan. Penolakan, kekerasan, keterbatasan tenaga, dan luasnya wilayah pelayanan menjadi bagian dari perjuangan mereka. Karena itu, sejarah Bala Keselamatan di Minahasa pada awal 1930-an bukan hanya kisah tentang pertumbuhan sebuah organisasi keagamaan, tetapi juga tentang usaha membangun pelayanan baru di tengah masyarakat Minahasa.

Referensi: Strijdkreet, edisi jubileum 40 tahun Het Leger des Heils in Nederlandsch-Indië, 1934, artikel “De Heilsstrijd in de Minahasa”, oleh Ed. Rosenlund, Majoor.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Dari Minahasa, Hukum Besar Sonder Mempertaruhkan Jabatannya

    Dari Minahasa, Hukum Besar Sonder Mempertaruhkan Jabatannya

    • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Menjelang akhir abad ke-19, penduduk Minahasa menghadapi berbagai kewajiban yang ditetapkan pemerintah Hindia Belanda. Penanaman kopi, kerja wajib, dan pembayaran pajak menyita banyak tenaga serta waktu masyarakat. Dalam tulisan Myth and Reality in Minahasan History: The Waworuntu-Gallois Confrontation, Mieke Schouten menjelaskan bahwa keadaan tersebut mendorong Albert Lasut Waworuntu, Hukum Besar Sonder, mengambil langkah yang belum […]

  • Tinoransak (foto ist)

    Tinoransak: Sejarah Kuliner Pedas Khas Minahasa dari Ritual Adat hingga Modern

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • visibility 64
    • 0Komentar

    Di tengah geliat kuliner Nusantara yang semakin modern, masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara masih mempertahankan satu warisan rasa yang lahir dari hubungan panjang antara manusia, alam, dan ritus adat: tinoransak. Hidangan pedas berbumbu kuat yang dimasak di dalam bambu muda ini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya yang telah hidup sejak masa pra-kolonial. […]

  • Berenang di Eris di pesisir timur Danau Tondano (repro foto KITLV Leiden, 1930)

    Sejarah Eris: Transformasi dari Wanua Tradisional menuju Distrik Administratif Minahasa

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • visibility 260
    • 0Komentar

    Di pesisir timur Danau Tondano, terbentang wilayah Eris—sebuah kawasan tua di Minahasa yang menyimpan lapisan sejarah panjang sejak masa peradaban lokal hingga era kolonial Hindia Belanda. Kini dikenal sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Minahasa, Eris pada mulanya merupakan sebuah wanua atau komunitas permukiman tradisional masyarakat Tou Tondano yang hidup mandiri dengan struktur sosial berbasis […]

  • Dongue, ratu kerajaan Kaidipang (ilustrasi)

    Ketika Ratu Kaidipang Menulis kepada Spanyol

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Pada 26 Juli 1606, Juan de Esquivel maestre de campo Spanyol yang baru saja merebut Ternate menulis surat kepada lima penguasa di lengan utara Sulawesi. Ia menawarkan hal yang sama kepada semuanya, mereka tidak perlu lagi membayar upeti kepada Ternate yang menurutnya telah menguasai benteng itu selama tiga puluh satu tahun lamanya secara lalim. Sebagai […]

  • Sebelum Bergabung dengan Permesta, Kawilarang Menawarkan Diri Menjadi Penengah

    Sebelum Bergabung dengan Permesta, Kawilarang Menawarkan Diri Menjadi Penengah

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Sebelum meninggalkan Washington dan bergabung dengan Permesta di Minahasa, Kolonel A.E. Kawilarang menawarkan diri untuk membantu menengahi perselisihan antara PRRI dan pemerintah di Jakarta. Menurut Audrey R. Kahin dan George McT. Kahin dalam Subversion as Foreign Policy: The Secret Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia, ia mengirim telegram kepada A.H. Nasution, mengusulkan perjalanan ke Padang […]

  • Kiawa Minahasa: Sejarah Desa Tertua, Ritus Wanua, dan Makna Nama Kiowa

    Kiawa Minahasa: Sejarah Desa Tertua, Ritus Wanua, dan Makna Nama Kiowa

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • visibility 253
    • 0Komentar

    Desa Kiawa di jantung Minahasa, Sulawesi Utara, menyimpan kisah panjang yang tidak hanya hidup dalam memori kolektif masyarakat, tetapi juga terdokumentasi dalam kajian ilmiah awal abad ke-20. Salah satu rujukan primer terpenting mengenai asal-usul desa ini terdapat dalam buku monumental Tontemboansche Teksten, Vertaling karya J.A.T. Schwarz, yang diterbitkan di Leiden pada tahun 1907. Dalam kumpulan […]

expand_less