Ancaman Mengeringkan Danau Tondano: Strategi VOC Menundukkan Tondano pada 1664
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

Permukiman air ini menjadi tempat berlindung ketika konflik dengan Kompeni VOC memuncak pada 1663–1664.(ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada 5 Mei tahun 1664, Gubernur dan Dewan VOC di Ternate menulis ke Batavia bahwa orang Tondano dan Tumon sudah menyerah.
Mereka bersedia menghancurkan negeri dan kubu mereka di atas air, pindah ke daratan, dan menyerahkan semua senapan kepada Raja Amoura. [1]
Pos Kompeni VOC di Manado saat itu hanya berisi 16 orang. Yang menekan Tondano bukan serdadu Kompeni, melainkan pasukan sekutu VOC dari Amoura (Raja Loloda dari Bolaang yang pada saat itu bermukim di Amurang) ditambah satu ancaman bahwa danau tempat mereka bertahan akan dijebol dan dikeringkan. [2]
Artikel ini membaca ulang peristiwa itu dari surat-surat Ternate sendiri. Dari sana tampak bahwa pemindahan Tondano tidak bisa dilepaskan dari satu soal yang lebih sederhana yakni padi yang tidak datang.
Padi yang tidak datang, 1661–1663
Sejak awal, Kompeni menetap di Manado untuk satu hal yaitu beras. Surat-surat Ternate 1656–1658 menyebut tugas pos itu sebagai menjaga de rijstleverende landen, negeri-negeri penghasil beras. [3]
Tondano sudah lama menjadi masalah. Dagh-Register Batavia mencatat bahwa pada 1 Juni 1661 bahwa menurut kabar dari Manado, de rebellen (para pemberontak) telah mundur ke danau, ke tempat orang Tondano. Jumlah mereka di sana sekitar 1.400 lelaki Alfur bersenjata. [4]
Gubernur Ternate mengirim empat chaloep dengan 65 serdadu dan sejumlah Mardijker untuk memerangi mereka dengan bantuan raja Manado. Tujuannya memaksakan tiga syarat yaitu meninggalkan tempat tinggal di atas dan pindah ke pantai, menyerahkan para pemimpin pemberontak, dan membayar denda 50 sampai 60 budak untuk biaya serta padi yang hilang. [4]
Dagh-Register yang sama menjelaskan mengapa Manado dianggap layak dijaga dan pos itu cukup diisi 10 atau 12 orang, sedangkan tempat itu bisa menyerahkan 100 sampai 150 last beras setahun, dengan harga 12 real per last. [4]
Syarat itu tidak dijalankan. Pada 17 April 1663, Ternate melaporkan bahwa sejak Cos pergi, dari Manado baru datang satu last padi. Belum ada harapan pasti untuk jumlah yang lebih besar. [5]
Sebabnya menurut surat itu, seorang padri Spanyol dari Siau telah menghasut lagi penduduk Tondano melawan Kompeni VOC. Untuk menguatkan niat mereka, ia memberi een pot bussecruyt, sepot mesiu, disertai janji-janji lain. [5]
Janji itu disebut dalam halaman berikutnya bahwa orang Spanyol akan kembali mendirikan benteng di sana dan membantu mengusir orang Belanda dengan kekerasan.
Tak lama kemudian, sersan mayor dari Calongo di Siau datang ke Manado dengan 130 sampai 140 orang, onder schyn van vrintschap, berkedok persahabatan. Komandan pos menahan mereka, lalu melepaskannya atas perintah Ternate dengan janji tertulis untuk tidak berbuat apa-apa terhadap Kompeni VOC. [5]
Ternate memprotes kepada gubernur Spanyol di Gammalamma bernama Don Agustín de Cepeda, yang dalam surat disebut den Heere Sepeda. [5] [13] Ia menyangkal dan menimpakan kesalahan kepada orang Siau dan Calongo. Dewan VOC Ternate tidak percaya kata-katanya. Dua surat Spanyol kepada sersan mayor Calongo itu menunjukkan bahwa den pater op Manado, padri di Manado, bertindak dengan sepengetahuan dan atas perintah gubernur Gammalamma. [5]
Menurut surat yang sama, orang Alfur Tondano masih mengandalkan bantuan yang dijanjikan dan terus membuat negeri bergolak. Rakyat yang tunduk kepada Kompeni VOC tidak berani menggarap tanah mereka karena takut, sehingga panen padi terhambat. [5]
Pos yang hampir ditutup
Pada awal 1664, Batavia sudah kehilangan kesabaran. Surat-suratnya terus mengeluhkan perdagangan padi Manado yang buruk. Tidak ada tanda bahwa padi dalam jumlah besar bisa didapat untuk memberi makan Ambon dan Banda. Batavia pun menyetujui penarikan para serdadu dari Manado. [6]
Ternate masih mencoba. Pada Agustus 1663 boekhouder Jacob Geel dikirim ke Manado. Ia kembali ke Ternate pada 21 September. [6] [10] Hasilnya, dalam tiga kali pengiriman, dengan chaloep Candelaer dan Ternaten, hanya 34½ last padi yang sampai. Menurut penduduk, mestinya ada 80 last. [6]
Surat itu memberi satu alasan yang penting: vermits de inwoonderen van Amoura voor aldoen noch met de Alphoreesche padije hun hebben moeten spijsen. Orang Amoura sendiri masih harus makan padi dari orang Alfur, yaitu dari pedalaman. [6]
Jadi padi tidak datang dari pesisir. Padi datang dari pedalaman, dan pedalaman dengan Tondano di dalamnya, sedang melawan.
Ternate lalu menyuruh memberi tahu Raja dan para pembesar Amoura, kalau penanaman padi tidak dilakukan dengan lebih giat, Kompeni tidak akan mempertahankan garnisun di sana dengan biaya besar. [6]
Danau sebagai benteng
Ancaman itu berhasil. Menurut surat 5 Mei 1664, penduduk tidak ingin Kompeni pergi. Mereka mulai membersihkan lahan dan berjanji menyerahkan banyak padi pada musim angin berikutnya, sesuai accoordt yang dulu dibuat dengan Gubernur Cos. [7]
Orang Tondano sendiri ditundukkan dengan dua cara. Pertama, pasukan Compes vrienden der Amouroosen, sahabat Kompeni VOC dari Amoura (Raja Loloda) terus-menerus dikirim menyerang mereka. [7]
Kedua, ancaman setiap hari. Kompeni akan menjebol het lach (waerinne hunne sterckte bestont), tempat kekuatan mereka bertumpu, lalu menyerang het maeir droogh gemaeckt wesende, ketika danau sudah kering. [7]
Surat itu hanya menyebut ancaman. Tidak ada keterangan bahwa danau benar-benar dijebol.
Satu nama disebut, des Sergeants Jan Baptista gepleegden ijver, kegigihan sersan Jan Baptista, kepala pos Manado pada Oktober 1662. [7] [8] Surat tidak menjelaskan apa persisnya yang ia kerjakan seperti memimpin, berunding, ataukah mengatur dari pos.
Hasilnya, die van Tondano en Tumon menyerah kepada Kompeni. Orang Kakas sudah lebih dulu memihak Kompeni. [7]
Tiga syarat
Penyerahan itu bersyarat. Orang Tondano dan Tumon harus: [9]
- menghancurkan sama sekali negeri dan kubu yang mereka dirikan di atas air (‘t eenemael ruineeren);
- pindah tinggal ke daratan (wooninge en residentie op het vaste landt nemen);
- menyerahkan semua senapan kepada Raja Amouro (haer schietgeweer alle aenden Koningh van Amouro overleveren).
Syarat ketiga patut dicatat. Senjata tidak diserahkan kepada Kompeni, tetapi kepada raja di Amoura. Kompeni VOC yang hanya 16 orang bersandar pada sekutunya itu.
Menurut surat terakhir dari Manado, bertanggal 29 Maret 1664, syarat itu sudah mulai dijalankan. Di hadapan sersan Jan Baptista, orang-orang itu mulai membangun negeri baru op aengewesene plaetsen ten vaste lande, di tempat-tempat yang ditunjukkan di daratan. [9]
Gubernur Ternate menulis bahwa harapannya akan padi dari Manado kini bertambah. Karena itu supaya penduduk tidak kecil hati, garnisun Manado dipertahankan noch een jaer, setahun lagi, untuk kepastian dan sebagai percobaan. Ia memohon Batavia memaklumi keputusan itu. [9]
Siapa yang menghancurkan negeri air?
Dagh-Register Batavia meringkas surat Ternate itu dalam entri 22 Juli 1664. Kalimatnya menjawab siapa yang menghancurkan negeri air: hebbende de quaedwillige Tondaners en andere haer eyndelyk onder des Comp:s gehoorsaemheyt begeven ende hare negeryen te water t’eenemael verbrant. Orang Tondano yang membandel dan yang lain akhirnya tunduk kepada Kompeni, dan membakar habis negeri-negeri mereka di atas air. [10]
Jadi pelakunya penghuni negeri air sendiri, sebagai syarat penyerahan. Surat Ternate memakai kata ruineeren, menghancurkan; Dagh-Register memakai verbrant, membakar. Keduanya tidak bertentangan. [9] [10]
Kedua sumber juga saling menerangkan soal tempat negeri baru. Dagh-Register menulis ter plaetse, hun door onsen commandant aengewesen, di tempat yang ditunjukkan komandan kita. Surat Ternate menulis tempat-tempat itu ditunjukkan di hadapan sersan Jan Baptista. [9] [10]
Tiga puluh tahun kemudian
Pemindahan 1664 tidak menuntaskan apa pun. Pada Maret 1692, dalam rapat para kepala di benteng Amsterdam, Tondano masih hadir sebagai dua negeri yaitu de Nieuwe Negorij Sima dengan hukum mayor bernama Lebo dan de Water negorye dengan kapitein mayor Meleban. [11]
Setahun kemudian, Residen Steenkuijler menulis tentang orang Timani. Pada masa orang Kastilia menguasai daratan, mereka menyingkir dari tekanan dan tinggal bersama orang Tondano di negeri air, dengan pemerintahan sendiri. Kini hukum mereka sendiri mendesak agar water dorp itu ditinggalkan, dan orang Tondano sulit menyetujuinya karena sudah saling kawin-mawin. [12]
Dua hal muncul dari keterangan ini. Pertama, permukiman air punya alasan sezaman bahwa tempat berlindung dari tekanan di daratan. Kedua, yang menyerah pada 1664 adalah Tondano en Tumon, dan keduanya diwajibkan meninggalkan negeri air.
Tumon adalah negeri pedalaman yang dibakar pada 12 Agustus 1660 (lihat “Dua Negeri dalam Abu”). Kalau pada 1664 orang Tumon harus meninggalkan negeri dan kubu di atas air, setidaknya sebagian dari mereka tampaknya mengungsi ke danau sesudah 1660 dan tinggal bersama orang Tondano.
Sebutan Timanij pada 1693 perlu dibaca hati-hati. Dalam bahasa Minahasa, tumani adalah istilah untuk memisahkan diri dari kelompok induk lalu membentuk kelompok baru di wilayah baru. [14] Jadi teks arsip die van Timanij bukan nama negeri, melainkan sebutan bagi orang-orang pindahan yakni mereka yang dulu menyingkir dari daratan dan menumpang di negeri air Tondano.
Kalau begitu, keterangan 1693 tidak perlu disamakan dengan satu negeri tertentu, tetapi tetap sejalan dengan nasib orang Tumon pada 1660–1664.
Tahun 1664 Danau itu tidak pernah dikeringkan. Pada akhirnya, orang Tondano tidak menyerah karena keberanian mereka telah padam. Mereka telah bertahan di negeri di atas air, menjadikan danau sebagai perlindungan dan rumah-rumah mereka sebagai benteng menghadapi tekanan Kompeni dan pasukan sekutunya.
Namun, perlawanan yang gigih berhadapan dengan kenyataan yang semakin sulit: ancaman penghancuran permukiman, tekanan militer, dan tuntutan untuk menyerahkan padi serta senjata. Melalui perundingan, mereka akhirnya menerima syarat yang memaksa mereka meninggalkan negeri di atas air dan membangun permukiman baru di daratan.
Kisah Tondano pada 1664 bukan sekadar cerita tentang penaklukan, melainkan juga tentang daya tahan sebuah masyarakat yang berjuang mempertahankan ruang hidupnya hingga pilihan-pilihan yang tersisa semakin sempit. Mereka mungkin tunduk pada kesepakatan, tetapi keteguhan mereka menghadapi tekanan tetap menjadi bagian penting dari sejarah Minahasa.
Catatan kaki
Member Komunitas
Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.
- Penulis: Alfa Leo
