Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Sejarah Ares: Dari Kontrak VOC 1679 hingga Tololiu Supit pada 1740

Sejarah Ares: Dari Kontrak VOC 1679 hingga Tololiu Supit pada 1740

  • calendar_month 4 jam yang lalu
  • visibility 10
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di antara negeri-negeri Minahasa dalam arsip Kompeni VOC, negeri Ares (ditulis Aris dalam arsip) paling dekat dengan benteng. Rumah-rumahnya berdiri tepat di belakang loji Kompeni di Manado, begitu dekat sehingga sebuah kebakaran pada 1708 dianggap mengancam benteng Amsterdam sendiri.

Arsip menyebut Aris, bersama Bantik dan Klabat bawah, sebagai beneden negorijen, negeri-negeri bawah. Mereka dibedakan dari negeri-negeri atas di pegunungan dan sekitar danau. Kedudukan itu membuat Aris lebih sering tercatat daripada kebanyakan negeri lain seperti saat kepala negerinya datang ke loji, bersaksi di depan komisi, dan ikut menandatangani kontrak.

Tulisan ini menyusun riwayat Aris dan para hukumnya dari arsip VOC, mulai dari kontrak 1679 sampai pengangkatan Tololiu Supit menjadi hukum mayor pada 1740.

Tombotto dan ancaman Tondano, 1679–1682

Dalam kontrak 10 Januari 1679, Aris disebut paling awal di antara 21 negeri yang hadir di benteng Amsterdam. [1] Peta Padtbrugge dari masa yang sama menaruh nama Aris di muara sungai, bersama Manado, Bantik, dan Klabat, di sekeliling pos berbendera Kompeni. [2]

Kurang dari setahun kemudian, Aris terancam. Pada 10 Januari 1680, kepala pos Manado, boekhouder Abraham van Meijert, melapor kepada Gubernur Padtbrugge bahwa negeri Tondano tampaknya kini sedang mengarah ke “dese negorijs Aris, Clabat, Bantik en Manado”. [3]

Para kepala negeri bawah beberapa kali bersidang. Mereka tidak menemukan kesalahan apa pun pada diri mereka. Lalu Pedro Ranto, “den Hoecum majoor Tombotto van Aris”, dan hukum Klabat berangkat ke Tonsea dan Tondano untuk menyatakan bahwa mereka tidak bersalah. Orang Tondano menolak mendengarkan. [3]

Inilah hukum mayor Aris paling awal yang namanya tercatat. Pedro Ranto disebut terpisah dan negerinya tidak dinyatakan. Orang bernama sama, “Pedro Ranty”, setahun sebelumnya menjadi salah satu dari empat kapitein dan perantara yang membubuhkan tanda di bawah kontrak 1679. [1]

Kapitein Paat diam-diam melaporkan isi rapat orang Tondano. Mereka mengeluh bahwa Kompeni tidak memberi untung dan bahwa “de Hollanders hebben geen hart meer”, orang Belanda sudah tak punya nyali karena tidak membantu mereka berperang melawan Pasan, Ratahan, dan negeri lain.

Pada 31 Desember 1679 semua laki-laki negeri bawah datang ke loji. Mereka meminta Kompeni sekali lagi memberi tahu Tondano bahwa mereka tidak bersalah. [3]

Van Meijert menilai Tondano sudah “rijk en weeldrig”, kaya dan sombong dan sedang berusaha menarik Kakas dan Remboken ke pihaknya. Tetapi sejauh itu orang Tondano belum bergerak dan masih “sitten stil”, duduk diam. [3]

Dua tahun kemudian, Padtbrugge menutup masa jabatannya dengan daftar negeri di bawah Manado beserta jumlah orangnya. Aris tercatat 100, Klabat 70, Bantik 70, dan Manado “met slaven en al”, termasuk budak, 40. Tondano 700 dan Tomon 800. Seluruhnya 3.990. [4]

Lassout dan Lolabij, 1684–1702

Nama yang akan memimpin Aris selama hampir dua dasawarsa sudah muncul pada 1684 yaitu Lassout, berpangkat kapitein mayor. Pada Agustus tahun itu ia terlibat perselisihan dengan sekelompok orang Alfur. Perkara itu juga menyeret hukum mayor Tamboeko dan sersan Randang. Pangkalnya adalah panen padi milik Lassout sekitar dua bulan sebelumnya. [5]

Para kepala negeri bawah dan beberapa kepala negeri atas dipanggil ke loji. Pertengkaran memanas dan menurut penulis jurnal ada “een andere oude wrok”, dendam lama di baliknya. Kepala pos harus memaksa kedua pihak berdamai “met handtastinge”, dengan tangan sampai mereka minum bersama dan berjanji bersahabat lagi. [5]

Sebulan kemudian Lassout tampil sebagai penengah. Ia turun dari negeri atas membawa kabar bahwa seorang Kakaskasen dibunuh di Tomon oleh London, orang Tomon.

Orang Kakaskasen lalu menyerbu Tomon dan menusuki rumah ibu London dengan tombak dari segala arah, tanpa peduli si pembunuh ada di dalam atau tidak, “willende enkel op hare maniere, maar lijf om lijf”, nyawa ganti nyawa. Lassout menghentikan mereka. Malam itu juga para kepala negeri bawah dikumpulkan untuk mencegah tocktocken. [5]

Dua hukum mayor dalam sensus 1695

Pada April 1695, Pieter Alsteijn mencatat semua bobato dan penduduk negeri Minahasa. Aris dipimpin dua hukum mayor, Lolabij dan Lassout. Ia satu-satunya negeri bawah yang punya jabatan itu. Di bawah keduanya ada 11 bobato lain: [6]

Pangkat Nama (ejaan naskah)
Hukum mayor Lolabij; Lassout
Kapitein Paat; Randang
Luitenant Rembang-ang
Vaandrig Kaligis
Sersan Rantij; Ombing; Monnangien
Korporal Lolong
Marinyo Sogho; Monninka; Lepouw

Aris mencatat 700 lelaki bersenjata dan 901 perempuan dan anak. Bersama 13 bobatonya, jumlah jiwanya 1.614, terbesar di antara negeri bawah. [6] Angka ini tidak bisa langsung dibandingkan dengan “100” pada daftar Padtbrugge 1682, karena cara menghitungnya tidak dijelaskan.

Sersan Randang dari perkara 1684 kini menjadi Kapitein Randang. Pada 27 April 1695, Lolabij turun ke Wenang bersama Alsteijn dan hukum mayor Soepit, Paat, dan Lonto; Lassout sudah lebih dulu turun. [6]

Aris berdiri sendiri dari negeri-negeri atas. Ketika 25 bobato negeri atas berkirim surat Melayu kepada Gubernur Cornelis van der Duijn dari Tomon pada 16 Desember 1693, tak satu pun kepala negeri Aris ikut menandatangani. [7]

Melepaskan tocktocken, September 1699

Pada September 1699, utusan Kompeni Paulus de Brievings dan Samuel Hattingh meminta para kepala menghentikan tocktocken. Menurut adat itu, seorang budak yang tak bersalah dibunuh dengan klewang atau dicincang sebagai ganti pembunuh. Kompeni menyebutnya sangat tidak adil, karena seorang budak juga diciptakan Tuhan “tot een redelijk mensch”, manusia berakal seperti orang merdeka. [8]

Soepit berbicara mewakili mereka. Ia berkata sudah lama jijik pada adat itu. Bersama Lonto dan Paat, “gelijck ook de twee beneden hoeckums majoors Lolaby en Lassoet”, ia sepakat melepaskannya. [8]

Dalam rapat umum di loji pada Kamis 10 September 1699, keduanya duduk sebagai hukum mayor di samping tiga hukum mayor kepala, mewakili Aris, Bantik, dan Klabat bawah. Kontrak hari itu mencatat Lolaby dan Lasoet sebagai hukum mayor negeri bawah. Pasal 3-nya memuat penghapusan tocktocken itu. [9]

Rapat Januari 1702

Lolabij menghilang dari arsip sesudah 1699. Dalam rapat besar di loji pada Jumat 27 Januari 1702, utusan Aris berjumlah 19 orang, dan Lassoet satu-satunya hukum mayor. [10]

Pangkat Nama, 1702 Pada 1695
Hukum mayor Lassoet hukum mayor
Hukum Ombing sersan
Hukum Roumondoor —
Kapitein mayor Paat kapitein
Luitenant Renbangkan luitenant Rembang-ang
Vaandrig Sogho marinyo Sogo
Sersan Lollong korporal Lolong
Sersan Moningka marinyo Monninka
Korporal Lepouw marinyo Lepouw

Daftar 1702 juga memuat Kapitein Samboen, Luitenant Baree, Vaandrig Tajou, Sersan Danty, dan lima marinyo. Kaligis dan Randang sudah tidak ada. [10] Hampir semua bobato naik pangkat dalam tujuh tahun itu.

Api pada 25 September 1708

Pada 25 September 1708, sedikit lewat pukul sebelas siang, sebuah kebakaran besar menghanguskan Aris, Bantik, dan Klabat bawah “tot den grond toe”, rata dengan tanah. Penduduk kehilangan seluruh harta bendanya. Di Aris hanya 12 rumah yang masih berdiri, di Bantik hanya 2. [11]

Kabar itu disampaikan para kepala ketiga negeri kepada utusan Kompeni yang tiba di Manado pada Oktober 1708. Menurut mereka, kebakaran itu terjadi “bij ongeluk”, karena kecelakaan. [11]

Dalam rapat umum di loji yang berlangsung empat jam, tiga hukum kepala dan para pemimpin negeri bawah menyampaikan keputusan mereka. Negeri yang terbakar akan ditata ulang supaya kebakaran berikutnya tidak lagi membahayakan benteng Amsterdam dan loji. Mereka meminta utusan Kompeni datang memeriksa ukuran tanah yang sudah mereka patok. [11]

Siang itu juga para utusan berjalan ke tiga negeri yang terbakar. Mereka menyetujui satu perubahan, Aris harus dibangun kembali “een weijnig zuijdelijker”, sedikit lebih ke selatan daripada tempatnya semula.

Tujuannya menyisakan “een ruijm off ledig veld”, tanah lapang yang kosong, di belakang loji. Kompeni berjanji perubahan ini tidak akan membebani penduduk ketiga negeri. [11]

Jadi sebelum 1708, rumah-rumah Aris berdiri rapat di belakang loji Kompeni. Letak Aris yang dikenal sesudahnya adalah hasil penataan ulang sesudah kebakaran itu.

Roemonder, Ombing, dan Tololieuw, 1719–1740

Di depan komisi, Juli 1719

Pada 24 Juli 1719, Kapitein Casper Voges dan onderkoopman Frans Reaal memeriksa keluhan terhadap bekas residen Jacob van Gijn. Dari Aris yang bersaksi adalah hukum mayor Roemonder, hukum Ombing, dan vaandrig Moemok. [12]

Bersama hukum mayor Klabat, hukum Bantik, dan hukum Negeri Baru, mereka menyatakan bahwa Van Gijn memaki mereka “voor honden en beesten”, anjing dan binatang, setiap kali mereka dianggap terlambat datang ke rapat. [12]

Kedua hukum itu sudah lama berada di jajaran Aris. Ombing tercatat sebagai sersan pada 1695 dan hukum pada 1702. Roemonder tercatat sebagai hukum pada 1702 dan kini menjadi hukum mayor. [6][10][12]

Seorang budak dari Siau, sekitar 1727

Pada Juli 1728, fiskal Joan van Cortenbosch menyusun perkara terhadap bekas kepala pos Manado, Jan Swigtman. Pada 5 Juli, tiga kepala memberi kesaksian yaitu hukum mayor Moninka dari Klabat bawah, hukum mayor Remondor dari Aris, dan “den hoekum van gen. negorij Aris Tololieuw genaamt”, hukum negeri Aris bernama Tololieuw. [13]

Mereka menerangkan bahwa kira-kira setahun sebelumnya, Tololieuw datang ke loji. Ia meminta izin kepada Swigtman untuk melakukan toktokken atas seorang budak perempuan yang ia beli dari kimalaha Siau, “voor zijn huijs”, untuk rumahnya. Swigtman mengizinkan. [13]

Mendengar itu, kedua hukum mayor mengeluh. Tetapi yang mereka minta hanya agar pembunuhan itu dilakukan “niet in de negorij maar buijten deselve”, tidak di dalam negeri melainkan di luarnya. Swigtman menyetujuinya juga. Perempuan itu lalu “buijten de negorij gemasacareerd”, dibunuh di luar negeri. [13]

Swigtman bahkan memberikan “een fles arrak en eenige buskruijt tot het doen van drie schoten na gedane toktekken”, sebotol arak dan sedikit mesiu untuk tiga tembakan sesudah toktokken dilakukan. Keesokan harinya kesaksian itu dibacakan ulang dan diterjemahkan ke bahasa Alfur. Ketiga saksi tetap pada keterangan mereka. [13]

Kesaksian itu tidak menjelaskan maksud ‘voor zijn huijs’, apakah untuk tumbal mendirikan rumahnya atau untuk suatu urusan keluarganya.

Yang jelas, 28 tahun sesudah para hukum mayor Aris melepaskan adat itu pada 1699, adat yang sama dijalankan lagi di Aris dengan izin pejabat Kompeni sendiri.

Tololiu Supit, 1740

Tiga belas tahun kemudian, seorang hukum Aris bernama sama naik ke jabatan tertinggi negerinya, besar kemungkinan ia orang yang sama dengan Tololieuw. Pada 1740 para hukum meminta agar “den hoekum uijt de beneden negorij Aris”, Tololiu Supit, diangkat menjadi hukum mayor. [14]

Arsip dan tradisi

Dalam enam puluh tahun, arsip mencatat urutan pemimpin Aris sebagai berikut: Tombotto (1680), Lolabij dan Lassout (1695–1699), Lassoet seorang diri (1702), Roemonder dan Ombing (1719), Roemondor dan Tololieuw (1728), lalu Tololiu Supit (1740). Tidak ada satu keluarga yang memegang jabatan itu turun-temurun.

Di Manado hidup tradisi tentang leluhur bernama Lolong Lasut, pendiri Wenang, beserta garis keturunannya yang memimpin Ares. Arsip VOC tidak bisa menguji tradisi itu sampai abad ke-15. Tetapi arsip menunjukkan dua nama yang sungguh ada di Aris pada akhir abad ke-17 yaitu hukum mayor Lassout, dan Lolong, korporal pada 1695 dan sersan pada 1702. Hubungan keduanya tidak disebut dalam sumber mana pun.

Ketika Lassout mendampingi Alsteijn pada 1695, Aris adalah negeri bawah dengan 1.614 jiwa. Tiga belas tahun kemudian negeri itu terbakar habis, lalu dibangun kembali sedikit ke selatan, menjauh dari benteng yang menjadi alasan keberadaannya.

Catatan kaki

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • gua jepang

    Gua Jepang di Tomohon, Menyusuri Jejak Sejarah yang Seru!

    • calendar_month Selasa, 3 Jun 2025
    • visibility 66
    • 0Komentar

    🏞️ Gua Jepang di Tomohon: Menyusuri Jejak Sejarah yang Seru dan Penuh Makna! Halo, Sobat Traveler! Kalau kamu lagi jalan-jalan ke Sulawesi Utara, khususnya ke Kota Tomohon, ada satu tempat yang wajib kamu kunjungi — Gua Jepang. Ini bukan sekadar gua biasa, lho. Tempat ini menyimpan jejak sejarah masa pendudukan Jepang di Indonesia yang bisa […]

  • Gereja Misi Parepej, Minahasa (1931)

    Gereja Misi Parepej, Minahasa (1931)

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Foto ini memperlihatkan gereja misi baru di Parepej, Minahasa, yang dipersembahkan kepada Santo Yosef dan diberkati oleh Mgr. Walter Panis, M.S.C., Prefek Apostolik Celebes, pada 19 April 1931. Menurut laporan Mgr. Panis dalam Annalen van Onze Lieve Vrouw van het Heilig Hart (1932), bangunan ini dirancang oleh Bruder Van der Linden dan dibangun oleh Bruder […]

  • Marsha - Ella JKT48 Keturunan Minahasa

    Dua Mutiara Keturunan Minahasa: Marsha dan Ella JKT48, Idola yang Bersinar di Ibu Kota

    • calendar_month Senin, 27 Jan 2025
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Indonesia memang dikenal dengan kekayaan budayanya, termasuk dalam hal talenta di industri hiburan. JKT48, sebagai salah satu grup idola terbesar di tanah air, menjadi wadah bagi gadis-gadis berbakat dari seluruh pelosok Indonesia, tak terkecuali dari tanah Minahasa, Manado. Di antara puluhan membernya, dua sosok yang tengah mencuri perhatian adalah Marsha Lenathea Lapian dan Gabriela Abigail […]

  • Dua Prajurit KNIL dari Minahasa yang Berakhir di Belanda

    Dua Prajurit KNIL dari Minahasa yang Berakhir di Belanda

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Hendrikus Kapoh dan Lefinus Tuuk Di pemakaman di Bussum, Belanda, ada dua makam yang menyimpan perjalanan cerita panjang orang Minahasa dalam sejarah militer Hindia Belanda dan Belanda sesudah Perang Dunia ke- II. Mereka adalah Hendrikus Kapoh dan Lefinus Tuuk, dua prajurit Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) yang berasal dari kawasan Manado. Pada Agustus 2026, Pemerintah Kota […]

  • Taman

    Taman Nasional Tangkoko Bitung Surga Tersembunyi di Sulut

    • calendar_month Selasa, 10 Jun 2025
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Yuk Kenalan dengan Taman Nasional Tangkoko! Halo, Sobat Petualang! 🌿 Kamu lagi cari destinasi alam yang antimainstream di Indonesia? Coba deh datang ke Taman Nasional Tangkoko di Bitung, Sulawesi Utara. Tempat ini bukan cuma cantik, tapi juga menyimpan segudang keunikan yang nggak bakal kamu temuin di tempat lain! Tangkoko dikenal sebagai rumahnya tarsius, primata mungil […]

  • FDJ Pangemanann: Pelopor Sastra dan Pers Modern Indonesia

    FDJ Pangemanann: Pelopor Sastra dan Pers Modern Indonesia

    • calendar_month Senin, 13 Jan 2025
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Frederick D. J. Pangemanann (1870–1910) adalah salah satu tokoh perintis dalam sejarah pers dan kesusastraan modern Indonesia. Ia dikenal sebagai jurnalis, pengarang, dan organisator wartawan yang berperan besar dalam mempopulerkan bahasa Melayu sebagai bahasa pers dan sastra populer di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara, Pangemanann aktif di pusat dunia […]

expand_less