Soepit dari Tombariri: Kuasa, Amarah, dan Warisan Seorang Kepala Negeri Minahasa
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

Rapat di Manado pada Agustus 1697, ketika Soepit, hukum mayor dari Tombariri, menerima hadiah berupa sebilah pedang Belanda dan seuntai koral biru dari utusan Kompeni.(ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada akhir Agustus tahun 1697, utusan Kompeni VOC dari Ternate menulis kutipan kalimat ini tentang seorang kepala negeri dari Tombariri “Hukum mayor kepala Soepit, yang memerintah seluruh negeri seperti raja, dan yang kata-katanya dipegang para tuan Alfur ini seperti sabda dewa.” Karena itu, lanjut mereka, “terserah kepadanyalah apakah negeri-negeri itu hendak dijaga dalam damai atau dibuat bergolak.” [1]
Soepit tidak meninggalkan tulisan. Ia hanya membubuhkan tanda silang pada surat-surat. Yang tersisa darinya adalah catatan orang lain yaitu jurnal residen, laporan utusan, dan surat-surat Ternate kepada Batavia.
Dari serpihan itu bisa disusun riwayat seorang kepala negeri yang namanya muncul selama hampir setengah abad, dari kontrak 1679 sampai wafatnya pada 20 Desember 1724.
Kapitan di bawah kontrak 1679
Nama Soepit pertama kali tercatat pada kontrak 10 Januari 1679 antara Kompeni dan para kepala negeri “di wilayah Manado”.
Kontrak itu menyebut bahwa orang-orang ini “tidak mengenal maupun mengerti tulis-menulis”. Karena itu tanda dibubuhkan oleh empat perantara yaitu juru bahasa Bastiaan Saway, hakim Maondy, serta dua kapitan, Pacat Soepit dan Pedro Ranty. [2]
Sesudah itu ia muncul sebagai “Kapitan Supit” dalam jurnal seorang utusan Kompeni di pedalaman, sekitar tahun 1681. Ia datang dari Remboken membawa dua marinyo dari Tombatu.
Beberapa hari kemudian ia pula yang mengabarkan bahwa hukum mayor Mangenanto telah mengangkat seorang marinyo, entah atas perintah siapa. [3] Pada masa itu Soepit belum hukum mayor. Ia masih seorang kapitan yang tahu kabar pedalaman dan menyampaikannya kepada Kompeni.
Apakah Pacat Soepit 1679 adalah orang yang sama dengan hukum mayor yang wafat pada 1724? Belum ada surat yang menyatakannya. Rentang 45 tahun itu mungkin dijalani satu orang. Namun kasus Paat (lihat di bawah) menunjukkan bahwa nama seorang kepala bisa diteruskan anaknya tanpa perubahan bunyi.
Hukum mayor dari Tombariri
Pada Jumat 7 Maret 1692, juru bahasa melapor ke benteng Amsterdam bahwa hukum mayor Paat, Soupit, dan Lonto sudah tiba di Manado bersama kepala-kepala negeri pegunungan.
Mereka menghadap pukul tiga sore. Dalam daftar hadir, rombongan Tombariri dicatat bernama Soupit, hukum mayor; Tetengchan, hukum; Polij, kapitan mayor; Talomebo, kapitan. [4]
Setahun kemudian, pada 16 Desember 1693, para kepala menandatangani surat bersama di negeri Tomon. Urutannya adalah “Paat, hukum mayor dari Tomon; Soepit, hukum mayor dari Tombariri; Lonto, hukum dari Tonsaronsong.” [5] Jadi tiga kepala negeri besar masa itu masing-masing berpangkal di negerinya sendiri. Paat di Tomon, Soepit di Tombariri, Lonto di Sarongsong.
Isi surat itu memperlihatkan sisi lain hubungan mereka dengan Kompeni. Para bobato memohon dengan sangat rendah hati agar kepala Kompeni yang sedang bertugas di Manado tidak dipindahkan, alasannya adalah “sebab kami sudah terbiasa dengannya”. Mereka juga mengeluh belum pernah menerima balasan atas surat dan pesan lisan mereka, sehingga “sangat berduka”, seolah Kompeni “tidak lagi memikirkan anak-anaknya”. [6]
Anak di sekolah Manado
Pada November 1692, Soupit datang mengadu ke loji di Manado. Ia mendengar bahwa pendeta Cammiga memerintahkan agar anaknya, “seorang anak berumur sekitar 10 sampai 12 tahun”, tidak lagi diajar di sekolah. Beberapa hari sebelumnya, Cammiga memang menyampaikan kecurigaannya kepada residen. Menurut sang pendeta, Soupit menyekolahkan anaknya untuk kelak memakai pelajaran itu ke arah yang jahat, sebab ia tidak mau berjanji membaptis anak itu. Residen kemudian menjawab bahwa buah pelajaran tidak bergantung pada niat buruk sang ayah. [7]
Krankbezoeker dan guru sekolah lalu dipanggil. Keduanya menyangkal pernah menerima perintah. Mereka hanya mengaku pernah bercerita kepada Soupit bahwa pendeta “punya niat seperti itu”. [8] Arsip tidak mencatat bagaimana nasib anak itu sesudahnya. Namanya pun tidak disebut. Anak ini lahir sekitar 1680–1682.
Rapat Agustus 1697
Pada akhir Agustus 1697, utusan dari Ternate mengumpulkan para kepala negeri bawah dan negeri atas di Manado. Karena beberapa negeri meminta pejabat baru menggantikan yang sudah wafat atau tidak cakap, kontrak 10 Januari 1679 lebih dulu dibacakan dalam bahasa mereka sendiri oleh juru bahasa Manuel Parera.
Sesudah itu para kepala ditanya apakah mereka mengerti isinya dan masih mau menaatinya. Jawabannya: “ja, ja”, diserukan beramai-ramai. [9]
Rapat itu juga mencatat satu pergantian penting. Hukum mayor kepala Paat sudah wafat. Penggantinya diangkat “anaknya, sebagai yang terdekat untuk itu, kapitan Rontom (?) Paat, di negeri Tomon”, menunggu restu pemerintah Ternate. [10] Jadi Paat yang muncul dalam kontrak 1699 dan dalam berita 1724 adalah Paat yang kedua.
Dalam rapat yang sama Soepit menerima hadiah atas permintaannya sendiri. Ia diberi sebilah sabel Belanda bergagang tembaga, senilai 5 rijksdaalder, dan seuntai koral biru besar senilai 1 rijksdaalder.
Para utusan menilai uang 6 rijksdaalder itu “sangat tepat dibelanjakan”. Soepit menyatakan terima kasih, dan seluruh rapat yang menurut taksiran berjumlah 400 sampai 500 orang, ikut bersorak. Rapat bubar pukul lima sore. [11]
Esoknya Sabtu 31 Agustus, para bobato pegunungan pamit pulang. Hanya tiga hukum mayor kepala, Soepit, Lonto, dan Paat yang masih tinggal bersama para utusan di loji. Malam itu Soepit diserang demam berat. Ia pamit dan minta diusung pulang ke tempat kediamannya di Tombariri. [12]
Dua tahun kemudian, Nader Contract 10 September 1699 ditutup dengan “tiga hukum mayor kepala Soepit, Lonto, dan Paat” sebagai pihak pertama dari orang-orang di wilayah Manado. [13]
Pemarah, tetapi tak bisa dilewati
Ternate tidak selalu memujinya. Surat Ternate 15 Juni 1704 menyebutnya “hukum mayor kepala Soepit yang sangat pemarah”. Menurut laporan sersan Kompeni, ia kembali berlaku keras terhadap sesama hukum kepala, Lonto dan dibantu Paat dalam perkara itu. [14]
Enam tahun kemudian seorang utusan dari Ternate berkeliling pedalaman dan jurnalnya memperlihatkan Soepit dari dekat. Rapat di Manado membahas perselisihan antara Tonsea dan negeri-negeri lain.
Perselisihan itu sudah menutup jalan-jalan selama lebih dari lima bulan. Dalam rapat, Soepit “terutama didukung oleh orang Aris”. Ia begitu murka sampai sang utusan dan residen kewalahan menenangkannya dan rapat hampir bubar. Baru keesokan harinya, Kamis 17 April 1710, dicapai kesepakatan bahwa para kepala harus saling menerima sebagai sahabat dalam setiap rapat, dan membiarkan rakyat pihak lain tidak diganggu. [15]
Sabtu 19 April rombongan tiba di Tomon, negeri hukum mayor kepala Paat. Ternyata Soepit juga punya rumah di sana dan rapat diadakan di depan rumahnya. Minggu 20 April mereka berangkat ke Tombariri, “negeri Soepit, kira-kira sejam perjalanan dari Tomon”. [16]
Tombariri ketika itu “seperti terbagi dua” dan terdiri atas 123 rumah yang cukup besar. Soepit dan semua kepala bawahannya menjamu sang utusan dengan ramah, sampai menawarkan “hal-hal yang terlalu jauh”. Ketika utusan itu hendak berangkat ke Sarongsong, negeri Lonto, Soepit mendesaknya menginap semalam lagi.
Di Sarongsong, Lonto bercerita bahwa marinyo Kristen Thomas sempat ditahan di Tombariri oleh kapitan mayor. Thomas baru dilepas setelah Soepit sendiri yang malam itu datang ke Tomon, ia menegaskan bahwa dialah yang mengutus atau mengizinkan Thomas ke daerah pedalaman. Ia bahkan memberi dua bobato sebagai penunjuk jalan. [17]
Kisah kecil ini menjelaskan kalimat 1697. Di wilayah Tombariri, seorang marinyo Kristen dari bawah pun tidak bisa lewat sebelum ada kata dari mulut Soepit.
Wafat, 20 Desember 1724
Surat Ternate 12 Juni 1725 meneruskan kabar dari Residen Adriaan van Leene, bertanggal 14 Maret: “hukum kepala bernama Soepit telah wafat di sana pada 20 Desember yang lalu”. Dengan kematiannya, tulis Ternate, “ketiga hukum kepala Paat, Lonto, dan Soepit kini sudah habis”. Sejak itu negeri-negeri Manado diperintah dan diatur masing-masing oleh kepalanya sendiri. [18]
Kekosongan itu segera diisi dari bawah. Kepala negeri Aris, Klabat atas, Kakaskasen, Tombariri, dan Tongkimbut bawah meminta agar 17 pejabat yang kurang diangkat.
Ternate mengabulkannya dengan resolusi 2 Mei 1725, menunggu restu Batavia. Syaratnya, yang diangkat haruslah “yang terdekat, paling sah, dan paling cakap” untuk jabatan itu. [19]
Tidak semua berjalan tenang. Pada 13 September 1725 Ternate melaporkan bahwa pertikaian di antara orang pegunungan “pecah sejak wafatnya hukum kepala Soupit”, walau kemudian reda dengan sendirinya. Pengiriman beras berjalan seret, begitu pula pembangunan loji. Residen Van Leene sendiri sudah lama tidak berdaya karena lumpuh dan sakit. [20]
Tahun-tahun terakhir Soepit, 1719–1724, dibahas dalam artikel tersendiri.
Sesudah Soepit: anak dari Aris
Enam belas tahun sesudah wafatnya, nama itu kembali. Pada 27 Agustus 1740 dewan Ternate mengangkat “hukum Alfur dari negeri bawah Aris, Tolelieuw Supit” menjadi hukum mayor. Dasarnya usul Residen Smith agar ia diangkat “mengikuti contoh ayahnya yang sudah wafat”. [21] Dalam permohonan para hukum, ayah itu disebut “Soupit tua”. [22]
Soepit berpangkal di Tombariri, sedangkan anaknya memimpin Aris. Namun hubungan dengan Aris sudah terlihat lebih awal. Pada 1710 orang Aris-lah yang paling keras membela Soepit. Pada 1725 Aris termasuk negeri yang meminta pejabat baru sesudah ia wafat.
Tolelieuw diangkat dengan cara yang sama seperti Paat muda pada 1697 dan para pejabat 1725 yang terdekat kepada kepala yang wafat.
Apakah ia anak berumur 10–12 tahun yang bersekolah di Manado pada 1692, arsip belum menjawabnya. Kalau benar, ia berumur sekitar enam puluh ketika diangkat. Kisahnya dibahas dalam artikel tersendiri tentang Tololiu Supit.
Yang jelas gelar yang dipegang Soepit tidak bertahan lama sesudahnya. Pada 30 September 1743 Batavia memerintahkan agar gelar hukum mayor “tetap dihapus”, untuk mencegah kerepotan yang ditimbulkannya. [23] Kepala yang dulu “memerintah seluruh negeri seperti raja” ternyata tidak punya pengganti yang setara.
Catatan kaki
Nama ditulis sesuai dengan bentuk yang tercantum dalam naskah: Soepit, Soupit, Supit, dan Tolelieuw. Tanda (?) menunjukkan bacaan yang belum pasti. Kecuali disebutkan lain, seluruh arsip berasal dari Nationaal Archief, Den Haag, arsip VOC, nomor akses 1.04.02 (selanjutnya disingkat VOC, inv.).
Akses Member
Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.
- Penulis: Alfa Leo
