Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel Sejarah » Dari Mana Air Keran Manado Berasal? Menelusuri Perusahaan Air Minum pada Masa Kolonial

Dari Mana Air Keran Manado Berasal? Menelusuri Perusahaan Air Minum pada Masa Kolonial

  • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
  • visibility 27
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Air yang disalurkan melalui jaringan perpipaan Manado pada awal 1930-an berasal dari mata air yang ditulis sebagai “Koemahoekoer”. Keterangan ini terdapat dalam laporan F. H. van de Wetering, De Gemeente Manado: Nota van Overdracht, bertanggal 16 Juni 1933. Laporan tersebut menyebut lokasi sumber air, kapasitas pasokan, pengambilalihan jaringan oleh pemerintah kota, serta tarif dan penerimaan perusahaan. Nama sumber air dalam tulisan ini dipertahankan sesuai ejaan dokumen.

Riwayat pengelolaannya berkaitan dengan pembentukan pemerintahan kota. Bagian “De Gemeente Manado” dalam Vijfentwintig jaren decentralisatie in Nederlandsch-Indië, 1905–1930 mencatat bahwa pada 1 Juli 1919, Manado menjadi wilayah pemerintahan tersendiri dengan keuangan sendiri. Sebelumnya sudah terdapat Gemeentefonds dan Pasarfonds. Pada tahun-tahun awal, pekerjaan pemerintah kota mencakup melanjutkan kegiatan Gemeentefonds dan mengambil alih pekerjaan yang sebelumnya ditangani dinas pekerjaan umum.

Menurut Van de Wetering, jaringan air Manado dibangun oleh Burgerlijke Openbare Werken, yang disingkat B.O.W., untuk kepentingan kota. Ia menyebut jaringan tersebut dibuka pada Oktober 1922. Dengan demikian, pembukaan layanan air dan pengambilalihan pengelolaannya oleh gemeente merupakan dua peristiwa berbeda. Jaringan sudah tersedia beberapa tahun sebelum perusahaan itu secara resmi diserahkan kepada pemerintah kota pada awal 1931.

Mengenai tahun mulai beroperasi, terdapat perbedaan antara sumber. Tabel penyediaan air dalam Vijfentwintig jaren decentralisatie in Nederlandsch-Indië, 1905–1930 mencantumkan Manado sebagai kota yang menggunakan mata air, dengan tahun pengoperasian 1923. Sementara itu, laporan Van de Wetering secara khusus menyebut Oktober 1922 sebagai waktu pembukaan. Kedua keterangan tersebut dicatat menurut masing-masing dokumen; bahan yang diperiksa belum menjelaskan penyebab perbedaannya.

Dalam laporan tahun 1933, Van de Wetering menjelaskan bahwa penyerahan jaringan mengalami keterlambatan karena beberapa persoalan. Mula-mula terdapat kekurangan tenaga, kemudian kerugian operasi, dan akhirnya kekurangan air. Kapasitas maksimum pasokan sebesar 14 liter per detik ternyata tidak mencukupi. Dewan kota meminta peningkatan kapasitas pasokan, yang memerlukan pembangunan saluran pipa kedua sebelum pengambilalihan dapat diselesaikan.

Rencana tersebut sudah tercatat dalam uraian tentang Manado pada buku desentralisasi tahun 1930. Disebutkan bahwa dewan memutuskan mengambil alih jaringan air pemerintah setelah saluran pipa kedua selesai. Pada saat uraian itu ditulis, pembangunan saluran tersebut sudah dimulai. Sumber ini mencatat tahap rencana dan pekerjaan, sedangkan laporan Van de Wetering kemudian memberikan tanggal keputusan serta penyerahan resminya.

Van de Wetering mencatat keputusan pengambilalihan dalam rapat dewan kota tanggal 19 Juni 1930, melalui keputusan nomor 200 GB 1/1/15. Tabel penerimaan perusahaan juga memberikan keterangan bahwa sejak Agustus 1930, penerimaan telah dipungut oleh gemeente. Pemungutan tersebut mendahului penyerahan resmi yang berlangsung pada 1 Januari 1931. Tanggal-tanggal itu menunjukkan tahapan administratif yang dicantumkan secara terpisah dalam laporan.

Pada saat penyerahan, nilai pengambilalihan jaringan ditetapkan sebesar 367.270 gulden. Menurut laporan tersebut, keuntungan yang diperoleh kemudian telah diperhitungkan sebagai pengurang biaya pembangunan dan biaya modal lainnya. Pemerintah kota harus membayar nilai pengambilalihan dalam dua puluh angsuran tahunan, masing-masing 18.363,50 gulden, disertai bunga lima persen setahun atas sisa utang. Ketentuan pembayaran ini juga tercantum dalam bagian mengenai pinjaman dan kewajiban gemeente.

Sumber air yang memasok jaringan disebut berada sekitar 14 kilometer dari Manado, pada ketinggian 475 meter. Van de Wetering menuliskan namanya sebagai Koemahoekoer. Debit mata air tersebut sangat berubah-ubah, dari 14 hingga 108 liter per detik. Ia juga mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir sebelum laporan dibuat, debitnya tidak turun di bawah 20 liter per detik.

Selain mencatat persoalan sumber dan kapasitas, laporan tersebut memuat pengaturan pembayaran pelanggan. Dewan kota menetapkan tarif pada 1 April 1931 melalui keputusan nomor 108 GB 1/1/9. Tarif dibagi menjadi penggunaan rumah tangga, penggunaan industri dan keperluan bukan rumah tangga, serta keperluan khusus gemeente. Untuk pelanggan rumah tangga, besar biaya tetap bulanan atau vastrecht dikaitkan dengan nilai sewa rumah yang digunakan dalam penetapan pajak personal.

Rumah dengan nilai sewa sampai 25 gulden per bulan dikenai biaya tetap 1,50 gulden untuk memperoleh 10 meter kubik air. Pemakaian di atas jumlah itu dibayar 0,20 gulden per meter kubik. Untuk kelompok sewa di atas 25 sampai 50 gulden, biaya tetapnya 2,50 gulden dengan jatah 13 meter kubik, sedangkan kelebihan pemakaian dikenai 0,22 gulden per meter kubik.

Pada kelompok sewa di atas 50 sampai 75 gulden, biaya tetapnya 3,50 gulden untuk 16 meter kubik. Kelompok di atas 75 sampai 100 gulden membayar lima gulden untuk 20 meter kubik. Kelompok di atas 100 sampai 125 gulden membayar 6,50 gulden untuk 24 meter kubik, sementara kelompok di atas 125 sampai 150 gulden membayar delapan gulden untuk 26 meter kubik. Kategori tertinggi dalam tabel dikenai biaya tetap 10,50 gulden untuk 35 meter kubik.

Untuk industri dan penggunaan bukan rumah tangga, tarif air ditetapkan sebesar 0,40 gulden per meter kubik. Tabelnya juga memuat sewa saluran bulanan menurut ukuran saluran. Penggunaan khusus gemeente dikenai tarif 0,10 gulden per meter kubik, dengan sewa meter air menurut ukurannya. Penyaluran air diatur melalui Verordening waterverstrekking gemeente Manado, yang disebut dimuat dalam Javasche Courant tahun 1931 nomor 95.

Walaupun demikian, Van de Wetering menyatakan bahwa menambahkan lebih banyak pipa pasokan tidak lagi berguna. Dalam rapat tanggal 17 Juli 1931, dewan kota memutuskan mengajukan permohonan untuk sumber kedua, “Pantjoeran Sembilan”. Sumber ini disebut berjarak 6,5 kilometer dari Manado, pada ketinggian 88 meter. Debitnya dicatat tetap sebesar 14 liter per detik, dan airnya harus dipompa.

Permohonan mengenai Pantjoeran Sembilan memperoleh keputusan yang menguntungkan dari Direktur Burgerlijke Openbare Werken pada 9 Mei 1932, nomor E 51/1/10. Akan tetapi, uraian Van de Wetering masih menyebut pemompaan sebagai pekerjaan yang harus dilakukan. Karena itu, dokumen tersebut membuktikan adanya permohonan dan persetujuan atas sumber kedua, tetapi tidak memberikan tanggal ketika air Pantjoeran Sembilan mulai disalurkan kepada pelanggan

Perluasan pelayanan tercatat melalui pemasangan 400 meter air baru dan penyambungan beberapa kampung. Van de Wetering menghubungkan langkah tersebut dengan kemajuan awal penerimaan perusahaan. Beberapa alat penyalur air otomatis juga dipasang. Melalui alat itu, satu sen dapat digunakan untuk memperoleh air sebanyak dua kaleng minyak tanah. Laporan tersebut tidak menyebut kapasitas kaleng dalam liter ataupun nama kampung yang memperoleh sambungan.

Tabel penerimaan mencatat jumlah 78.372,13 gulden pada 1930, meningkat menjadi 88.645,64 gulden pada 1931, lalu turun menjadi 80.680,57 gulden pada 1932. Angka-angka ini dicantumkan sebagai penerimaan, bukan keuntungan bersih. Van de Wetering menyebut penurunan sewa rumah telah mengurangi penerimaan dari biaya tetap, dan berkurangnya daya beli masyarakat juga memengaruhi perusahaan. Sejak Agustus 1931, perusahaan-perusahaan gemeente membayar jumlah tetap untuk penggunaan air.

Rincian penerimaan tahun 1932 tidak hanya mencakup penjualan air kepada pelanggan pribadi. Tabel tersebut juga memisahkan penerimaan dari pengguna industri, dinas pelabuhan, dinas gemeente, dinas pemerintah, sewa meter, dan sewa saluran. Terdapat pula penerimaan dari biaya administrasi, denda atau teguran, biaya pemasangan, serta material. Dengan demikian, jumlah tahunan perusahaan mencakup beberapa jenis penerimaan yang dibukukan dalam kategori berbeda.

Dalam tabel anggaran gemeente untuk 1933, perusahaan air tercantum dengan angka 84.000 gulden. Angka tersebut merupakan angka anggaran, bukan penerimaan aktual ataupun keuntungan perusahaan. Pada kolom 1931, angka perusahaan lebih besar karena turut memuat nilai pengambilalihan jaringan pemerintah. Laporan memberi tanda khusus dan keterangan mengenai komponen tersebut. Angka dalam tabel keuangan ini perlu dibaca menurut posnya, terpisah dari tabel penerimaan bulanan yang mencatat penjualan air dan pembayaran lainnya pada 1930–1932. Bagian keuangan laporan juga membedakan penerimaan dan pengeluaran operasi dari penerimaan dan pengeluaran modal perusahaan.

Dalam buku telepon Januari 1940, pelayanan perusahaan air masih tercatat sebagai bagian dari administrasi kota. Sentral gemeente di Fortweg menggunakan nomor 209 dan melayani bagian perusahaan air serta pembukuan, bersama bagian pemerintah kota lainnya. Layanan gangguan gemeente tercantum dengan nomor 246. Buku petunjuk itu diperbarui sampai 20 Desember 1939, sehingga entri tersebut merupakan catatan layanan pada penghujung masa sebelum pendudukan Jepang.

Daftar pustaka

Van de Wetering, F. H. 1933. De Gemeente Manado: Nota van Overdracht, 16 Juni 1933. Manado: Handelsdrukkerij Liem Oei Tiong & Co.

Vijfentwintig jaren decentralisatie in Nederlandsch-Indië, 1905–1930. 1930. Bagian “De Gemeente Manado” dan tabel penyediaan air kota.

Telefoongids Menado en Amoerang. Nomor 47, Januari 1940. Diperbarui sampai 20 Desember 1939.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Masyarakat Minahasa membunyikan bia (kerang) saat Mapalus (ilustrasi)

    Metamorfosis Mapalus: Dari Tradisi Komunal ke Instrumen Kolonial

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Di tanah Minahasa, Sulawesi Utara, mapalus bukan sekadar praktik gotong royong. Ia adalah fondasi sosial yang mengikat hubungan kekerabatan (taranak) dan komunitas kampung (ro’ong) dalam satu sistem yang menyatu dengan alam. Namun, di balik citra harmonis tersebut, sejarah mapalus memperlihatkan perjalanan panjang, dari mekanisme bertahan hidup hingga menjadi bagian dari mesin kolonial. Untuk memahami transformasi […]

  • Uang Bergilir sebelum Arisan ‘Mekekajaan dalam Mapalus’

    Uang Bergilir sebelum Arisan ‘Mekekajaan dalam Mapalus’

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Mapalus dalam catatan sejarah Minahasa tidak terbatas pada kerja bersama di kebun. Kegiatan ini juga digunakan untuk mengangkut bahan bangunan, mendirikan rumah, membuka hutan, dan mengumpulkan uang. Uraian paling rinci mengenai bentuk terakhir terdapat dalam tulisan A.H.D. Supit berjudul “Mapaloes”, yang mula-mula dimuat dalam majalah Mangoeni Nomor 5 tahun 1926. Tulisan tersebut kemudian diterbitkan kembali […]

  • Potret prajurit suku Bantik di daerah Minahasa, Sulawesi Utara, foto sekitar tahun 1900 (KITLV/Ohannes Kurkdjian)

    Dari Pesisir ke Arsip Kolonial: Kisah Suku Bantik di Manado

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • visibility 318
    • 0Komentar

    Dalam peta administrasi Minahasa abad ke-19 ada satu distrik yang wilayahnya tidak menyatu. Ia terpecah menjadi dua kantong yang mengapit pusat kota Manado, dan ia bertahan lebih lama daripada distrik-distrik tetangganya yang satu per satu dilebur. Itulah Distrik Bantik. Sudah Tercatat pada 1675 Penyebutan Eropa yang paling awal atas orang Bantik terdapat dalam laporan visitasi […]

  • Dotu Lolong Lasut (ilustrasi)

    Dotu Lolong–Lasut sebagai Pelopor Pendiri Kota Manado

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • visibility 321
    • 0Komentar

    Secara ringkas akan kami uraikan riwayat hidup almarhum Dotu Lolong-Lasut yang telah merintis pembangunan Negeri Wenang yang kemudian meluas menjadi Kota Manado sekarang ini. Dotu Lolong-Lasut alias Ruruares dilahirkan di Negeri Kinilow sekitar permulaan tahun 1400 dan meninggal pada tahun 1520. Beliau adalah anak dari seorang yang bernama Lasut, yang pekerjaannya sebagai Kepala Agama Tombulu […]

  • Sangihe Sebelum 1600: Kerajaan, Raja, dan Tradisi yang Terputus

    Sangihe Sebelum 1600: Kerajaan, Raja, dan Tradisi yang Terputus

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Ada dua kumpulan bahan tentang masa awal Sangihe, dan keduanya nyaris tidak pernah bertemu. Yang pertama adalah kisah Gumansalangi dan Kerajaan Tampungang Lawo — diwariskan lisan, ditulis ulang berkali-kali dalam seabad terakhir, dan kini menjadi kerangka baku hampir semua tulisan populer tentang asal-usul Sangihe. Yang kedua adalah surat-surat Jesuit Portugis dari Ternate, Tidore, dan Ambon […]

  • Ny. Antoinette Waroh 1901-1991 (Repro, Wikipedia)

    Antoinette Waroh, Satu-satunya Perempuan di Parlemen Negara Indonesia Timur

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Sejarah politik Indonesia kerap dipenuhi nama-nama besar laki-laki yang memimpin revolusi, menyusun konstitusi, dan mengarahkan jalannya negara. Namun, di balik narasi besar itu, terdapat sosok perempuan dari Minahasa yang berhasil menembus ruang politik yang hampir sepenuhnya didominasi kaum pria. Namanya Antoinette Wailan Waroh. Di masa tuanya, masyarakat mengenalnya dengan panggilan penuh hormat: “Oma Parlemen”. Julukan […]

expand_less