Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Pakaian Pengayau Minahasa

Pakaian Pengayau Minahasa

  • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
  • visibility 87
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

G. A. Wilken mencatat perlengkapan seorang pengayau Minahasa dalam karyanya Het Animisme bij de Volken van den Indischen Archipel, yang diterbitkan di Amsterdam oleh J. H. de Bussy tahun 1884. Keterangan tentang pakaian tersebut muncul ketika Wilken membahas pengayauan, tengkorak, rambut manusia, serta keyakinan mengenai jiwa di berbagai masyarakat Kepulauan Hindia. Untuk keterangan khusus mengenai perlengkapan pengayau Minahasa, Wilken merujuk kepada N. Graafland, De Minahasa, jilid I, halaman 129, catatan kaki.

Dalam catatan tersebut Wilken menulis secara singkat: “De uitrusting van een koppensneller in de Minahasa bestond uit een zwarte tjidako (schaamgordel), zwarten hoofddoek, helm met menschenhaar omzet, en het zwaard met idem.” Dalam bahasa Indonesia, keterangan itu berarti bahwa perlengkapan seorang pengayau di Minahasa terdiri dari tjidako hitam atau cawat, penutup kepala hitam, helm yang dikelilingi atau dihiasi rambut manusia, serta pedang yang juga dihiasi rambut manusia.

Keterangan Wilken mengenai pakaian tersebut merupakan catatan kaki dari pembahasan yang lebih luas mengenai rambut dan tengkorak. Sebelum memberikan kesimpulannya mengenai pengayauan, Wilken menjelaskan bahwa di kalangan orang Minahasa pernah terdapat nama orang maweikere. Menurut keterangannya, kata itu tersusun dari mawei, yang berarti membawa — secara khusus membawa melewati bahu kiri di bawah lengan dan kere, yang berarti rupa, wajah, kepala, atau tengkorak. Wilken menerjemahkan maweikere secara harfiah sebagai “schedeldrager” yaitu “pembawa tengkorak”.

Wilken kemudian membicarakan keadaan ketika bukan seluruh tengkorak yang disimpan, melainkan hanya rambutnya. Ia menulis bahwa jika hanya rambut yang dipertahankan, rambut itu dibawa bersama pemiliknya. Dalam pembahasan yang sama ia menghubungkan kebiasaan menghiasi senjata termasuk pedang dan tombak dengan rambut manusia. Setelah itu Wilken menjelaskan bahwa di berbagai kelompok lain di Kepulauan Hindia, rambut orang yang terbunuh juga dapat dipasang pada perlengkapan dan dibawa sebagai pengganti seluruh tengkorak.

Keterangan tersebut berada dalam konteks yang sama dengan catatan mengenai pedang pengayau Minahasa. Wilken secara eksplisit menyebut bahwa pedang dalam perlengkapan seorang koppensneller Minahasa dihiasi dengan bahan yang sama seperti helm, yaitu rambut manusia. Karena itu, berdasarkan uraian yang benar-benar terdapat dalam sumber Wilken, unsur perlengkapan yang disebutkan hanya empat: tjidako hitam, penutup kepala hitam, helm dengan rambut manusia, dan pedang dengan rambut manusia. Wilken tidak memberikan uraian lebih terperinci dalam bagian tersebut mengenai bentuk, ukuran, bahan helm, jenis pedang, atau cara rambut itu dipasang.

Pembahasan mengenai perlengkapan itu ditempatkan Wilken dalam uraian tentang pemeliharaan tengkorak dan rambut. Ia menulis bahwa kebiasaan menggunakan tengkorak sebagai benda pelindung terdapat di berbagai masyarakat Kepulauan Hindia. Dalam kerangka pembahasannya, Wilken menyebut pembunuhan seseorang dan penyimpanan tengkoraknya dengan anggapan bahwa jiwa yang dikaitkan dengan tengkorak tersebut dapat menjadi schutsgeest, atau roh pelindung bagi pemiliknya. Ia kemudian menempatkan praktik koppensnellen sebagai salah satu bentuk yang dibahas dalam konteks tersebut.

Wilken juga membedakan bentuk-bentuk pengayauan yang ia temukan dalam sumber-sumber yang digunakannya. Dalam catatannya, ia menyebut dua cara: seseorang sengaja dibunuh, sering kali melalui serangan tersembunyi, atau kepala orang yang gugur dalam perang dipotong dan dibawa. Keterangan ini diberikan sebagai penjelasan umum mengenai praktik pengayauan di masyarakat-masyarakat yang dibahas Wilken dan bukan sebagai keterangan khusus bahwa kedua cara tersebut selalu dilakukan di Minahasa.

Dalam bagian mengenai Minahasa, keberadaan rambut pada perlengkapan pengayau menjadi unsur yang berulang. Wilken terlebih dahulu menyebut rambut yang dapat dibawa sebagai pengganti seluruh tengkorak, kemudian mencatat senjata yang dihiasi rambut. Ia mencatat tentang perlengkapan Minahasa secara khusus menyebut helm dan pedang sebagai dua benda yang menggunakan rambut manusia. Keterangan ini bersumber dari Graafland yang dikutip Wilken, sehingga Wilken bukan menyatakan bahwa ia sendiri menyaksikan seorang pengayau Minahasa mengenakan perlengkapan tersebut.

Dengan ini demikian memberi gambaran yang sangat ringkas tetapi spesifik mengenai penampilan seorang pengayau Minahasa sebagaimana tercatat dalam literatur yang digunakan Wilken. Warna yang disebut hanya hitam, diterapkan kepada tjidako dan penutup kepala. Sementara itu, unsur yang disebut berhubungan dengan rambut manusia ada pada helm dan pedang. Dan dalam catatan Wilken, ia tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai baju, alas kaki, perisai, perhiasan tubuh, warna pedang, ataupun perlengkapan lain yang dikenakan seorang pengayau Minahasa. Karena itu, unsur-unsur tersebut tidak dapat ditambahkan apabila uraian dibatasi hanya kepada apa yang dicatat Wilken tahun 1884.

Referensi: G. A. Wilken, Het Animisme bij de Volken van den Indischen Archipel, Eerste Stuk (Amsterdam: J. H. de Bussy, 1884)

 

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Pantai Bahu Mall

    Pantai Bahu Mall, Spot Sunset di Tengah Kota

    • calendar_month Jumat, 11 Jul 2025
    • visibility 138
    • 0Komentar

    Pantai Favorit Warga Manado di Tengah Kota   Pantai Bahu Mall merupakan salah satu destinasi tepi laut yang mudah diakses di Kota Manado, Sulawesi Utara. Terletak di belakang Bahu Mall, pengunjung bisa langsung menikmati suasana pantai hanya dengan berjalan kaki dari area parkir pusat perbelanjaan. Karena itulah, pantai ini menjadi tempat favorit warga untuk bersantai, […]

  • Majoor Abraham Donatius Wakkary: Pahlawan Militer Minahasa di KNIL

    Majoor Abraham Donatius Wakkary: Pahlawan Militer Minahasa di KNIL

    • calendar_month Selasa, 24 Des 2024
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Abraham Donatius Wakkary adalah salah satu tokoh besar Minahasa yang mencatatkan namanya dalam sejarah militer Hindia-Belanda. Bersama Tololiu Dotulong, ia menjadi Groot Majoor, perwira tertinggi di pasukan yang menjadi embrio KNIL, dengan keistimewaan berasal dari kesatuan kavaleri (pasukan berkuda). Lahir di Manado pada 15 Juni 1796, Wakkary berasal dari Negeri Baru, sebuah balak Minahasa yang […]

  • De kampung Watulaney in Minahasa 1904 (Arsip Utrecht 1904)

    Jejak Wanua di Kaki Pegunungan Lembean: Sejarah Desa Watulaney dalam Arsip Kolonial Abad ke-19

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Di kaki Pegunungan Lembean, di antara jalur tua yang menghubungkan pedalaman Danau Tondano dengan pesisir timur Minahasa, berdirilah sebuah wanua tua bernama Watulaney. Kini desa itu masuk wilayah Kecamatan Lembean Timur, Kabupaten Minahasa. Namun jauh sebelum batas administratif modern terbentuk, Watulaney telah hidup sebagai komunitas tradisional masyarakat Toulour yang memiliki struktur adat, ruang sakral, serta […]

  • Partai Minahasa Raya

    Partai Minahasa Raya

    • calendar_month Sabtu, 18 Mei 2024
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Pengantar: Ada sebuah tulisan berjudul Partai Politik Lokal Minahasa PARADIGMA BARU MINAHASA. MOTIF PERLUNYA PARTAI POLITIK LOKAL DI MINAHASA SEBAGAI STRATEGI JANGKA PANJANG MEMBANGUN ’ROH JATIDIRI’ MINAHASA? Yang saya baca pada 07 April 2009. Maaf, saya tidak tahu penulisnya, tetapi sangat menarik dan lama saya simpan. Berikut ini saya posting lengkap sekedar meningatkan bagi para […]

  • Kain Bentenan dalam Catatan Graafland dan Jasper–Pirngadie

    Kain Bentenan dalam Catatan Graafland dan Jasper–Pirngadie

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Dalam De Minahassa yang terbit pada 1867, N. Graafland menulis tentang bentenangsch fabrikaat, atau tenunan Bentenang. Ia menjelaskan dalam catatan kaki bahwa Bentenang dahulu merupakan nama bersama bagi distrik Passan dan Ratahan. Graafland belum memakai sebutan “kain Bentenan” dalam bagian tersebut. Buku terbitan 1867 ini mencatat keberadaan dan pemakaian tenunannya, tetapi tidak menyebut kapan kain […]

  • Keanekaragaman Budaya Sulawesi Utara, Warisan yang Kaya dari Negeri Nyiur Melambai

    Keanekaragaman Budaya Sulawesi Utara, Warisan yang Kaya dari Negeri Nyiur Melambai

    • calendar_month Kamis, 28 Mar 2024
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Sulawesi Utara adalah salah satu provinsi di Indonesia yang kaya akan keanekaragaman budaya. Berbagai suku dan etnis yang mendiami wilayah ini telah membawa serta tradisi dan adat istiadat yang kaya akan nilai-nilai budaya yang unik. Dari pesta adat hingga seni pertunjukan, Sulawesi Utara memiliki beragam warisan budaya yang memperkaya identitasnya sebagai “Negeri Nyiur Melambai”. Salah […]

expand_less