Plancius Membawa Wisatawan ke Minahasa Tahun 1924
- calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
- visibility 99
- comment 0 komentar
- print Cetak

Barisan mobil-mobil di negeri Sawangan, keterangan “𝘋𝘦 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘦 𝘳𝘪𝘫 𝘷𝘢𝘯 𝘢𝘶𝘵𝘰’𝘴 𝘪𝘯 𝘕𝘦𝘨𝘰𝘳𝘪𝘫 𝘚𝘢𝘸𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯.” Ini langsung terkait dengan narasi cerita ketika rombongan turis kapal Plancius diarak melalui desa-desa. Di Sawangan, Hukum Tua Wangke bahkan menyambut dengan rumah dihias, patung Willem III, serta penyambutan meriah. Foto ini menangkap momen iring-iringan mobil turis yang jadi tontonan warga.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tanggal 10 Mei 1924, kapal Plancius membawa rombongan wisatawan menuju Minahasa. Peristiwa tersebut dicatat oleh L. H. C. Horsting dalam bukunya Van Leven en Werken in Indië (1928), khususnya dalam bagian “De Plancius-toeristen in de Minahassa (1924)”. Horsting sendiri mengikuti perjalanan rombongan tersebut dan mencatat berbagai kejadian sepanjang kunjungan mereka. Ia menulis bahwa ketika kisah itu diterbitkan, rombongan wisatawan telah meninggalkan Minahasa dan Plancius kembali menjalankan rute rutinnya dari Deli melalui Singapura menuju Surabaya dan kembali lagi.
Menurut Horsting, pada tanggal 10 Mei itu ada dua pihak yang memperoleh keuntungan dari kegiatan tersebut, yaitu Tondanosche waterleiding dan para wisatawan Plancius. Kunjungan wisatawan berlangsung bersamaan dengan sebuah perayaan yang berkaitan dengan jaringan air Tondano. Horsting menjelaskan bahwa air pegunungan yang kelak akan mengalir melalui jaringan tersebut belum tersedia pada saat pesta berlangsung. Namun, kedatangan para wisatawan secara tidak terduga membawa pemasukan uang, sementara para wisatawan dapat menikmati berbagai hal yang dianggap menarik dari Minahasa di tempat perayaan.
Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, Horsting sudah berada di dermaga. Dari kejauhan ia melihat lampu puncak kapal Plancius. Ia bersama rombongan kemudian berangkat menggunakan sebuah perahu motor untuk mendekati kapal tersebut. Tepat pukul enam, Plancius menjatuhkan jangkar, sesuai dengan rencana perjalanan. Dari atas perahu motor, Horsting melihat kapal itu diterangi cahaya pagi yang memberikan warna merah muda pada badan kapal yang berada di atas air yang masih gelap.
Setelah naik ke kapal, Horsting bertemu dengan sejumlah wajah yang sudah dikenalnya, termasuk orang-orang dari Deli. Ia menggambarkan para penumpang sebagai wisatawan dengan latar yang beragam. Setelah sarapan singkat, mereka menuju daratan. Sekitar lima puluh kendaraan telah menunggu untuk membawa para wisatawan. Setelah perjalanan singkat melewati kota, rombongan bergerak menuju daerah pegunungan. Dalam perjalanan tersebut, Horsting mencatat pemandangan Klabat yang tampak jelas dengan garis kerucut gunungnya di bawah langit cerah.
Perjalanan rombongan kemudian melewati Ajer Madidi. Di sana telah tersedia pasukan kehormatan berkuda yang terdiri atas Ukung Tua (Hukum Tua) dan Kepala Jaga Pasukan tersebut berada di bagian depan barisan panjang kendaraan dan kemudian memimpin rombongan melewati desa. Di sepanjang jalan, Horsting melihat bendera, pintu-pintu halaman yang dihias, kelompok masyarakat yang bersorak, anak-anak muda yang bernyanyi, serta perempuan-perempuan yang menaburkan bunga.

Saat berlabuh di Gorontalo, SS Plancius adalah kapal uap penumpang yang diluncurkan di Belanda pada tahun 1922 (ist)
Horsting menulis bahwa para wisatawan tentu memperoleh kesan tentang negeri dan masyarakat yang mereka kunjungi. Ia secara khusus menyatakan bahwa pertunjukan penyambutan tersebut, menurut pengamatannya, bukan dilakukan karena paksaan. Ia menggambarkan orang Minahasa dalam kesempatan seperti itu sebagai masyarakat yang dengan sendirinya antusias dan menikmati pesta. Dalam tulisannya, ia bahkan membayangkan bagaimana besar antusiasme masyarakat apabila Ratu Belanda datang berkunjung ke Minahasa.
Di Sawangan, rombongan kembali memperoleh sebuah kejutan. Hukum Tua Wangké, yang disebut Horsting sebagai seorang mantan tentara, telah menghias rumahnya. Di serambi rumah terdapat patung dada Willem III yang dikelilingi bendera dan panji-panji. Wangké sendiri duduk di sampingnya. Para wisatawan memenuhi halaman, galeri, dan tangga rumah. Di satu sisi terdapat kelompok perempuan yang menyanyikan lagu-lagu yang dikenal, sedangkan di sisi lain sejumlah veteran tua dengan tanda jasa dan salib ekspedisi terlihat dan terdengar. Sebuah pasukan berkuda juga ditempatkan di pintu masuk. Wangké kemudian menerima ucapan terima kasih atas perhatian khusus yang diberikannya kepada rombongan.

“Para veteran tua, dada dipenuhi dengan tanda jasa.” Di Sawangan ketika para veteran Minahasa, yang pernah ikut militer Hindia Belanda, hadir untuk menyambut turis. Mereka tampil bangga dengan medali dan tanda kehormatan
Setelah itu rombongan tiba di Tondano. Horsting menyebut sebuah lapangan yang biasanya disebut Walterplein telah berubah menjadi tempat pesta. Apa yang ditampilkan di sana menurutnya adalah Minahasa dalam gambaran “Voorheen en Thans, het Verleden en Heden”—masa lalu dan masa kini. Pada bagian yang ia ceritakan, perhatian diarahkan kepada keadaan masa kini. Di tempat tersebut terdapat Kabesaran para orang tua, perempuan-perempuan yang menari, serta tarian step dan foxtrot. Para wisatawan turut menikmati pertunjukan tersebut.
Pertunjukan lainnya adalah tarian perang yang dibawakan oleh anak-anak kecil di bawah perintah seorang komandan muda. Menurut Horsting, mereka pada awalnya menjalankan tarian tersebut dengan sangat serius. Namun, seorang wisatawan tiba-tiba menaburkan segenggam uang logam kepada kelompok yang sedang melakukan tjakalille. Keseriusan dan disiplin kelompok itu pun berubah. Di sekitar tempat pesta juga terdapat banyak penjual perempuan. Para wisatawan membeli berbagai barang, termasuk cerutu, pita berwarna oranye, dan benda-benda lainnya. Horsting mencatat bahwa seorang wisatawan dari Deli membayar satu rijksdaalder untuk sebuah tarian step.
Horsting kemudian menghubungkan pesta tersebut dengan pembangunan jaringan air Tondano. Ia menulis bahwa ketika air pegunungan yang jernih nantinya mengalir melalui keran-keran jaringan air Tondano dan penyakit tifus menjadi bagian dari sejarah, orang masih akan mengingat pesta tersebut dan para wisatawan Plancius. Setelah makan siang, rombongan melanjutkan perjalanan mengelilingi Danau Tondano. Mereka melewati desa-desa yang dihias hingga tiba di Kakas, tempat gerbang kehormatan telah didirikan. Musik bambu terdengar di sana, tetapi rombongan hanya dapat berhenti sebentar karena sambutan yang diberikan ternyata tidak diperhitungkan dalam rencana awal perjalanan. Sebelum gelap, mereka harus kembali berangkat.
Rombongan kemudian melewati Tomohon dan hanya turun sebentar di sebuah tempat di mana dari Emboengweg terlihat pemandangan Teluk Manado beserta pulau-pulau di sekitarnya. Dari sana, Plancius terlihat jelas di tempat berlabuh. Pada pukul enam, kapal tersebut mengangkat jangkar dan berlayar menuju Ternate. Rombongan wisatawan kemudian melanjutkan perjalanan mereka menuju Kepulauan Maluku. Horsting menutup catatan perjalanan itu dengan kesan yang ia tuliskan mengenai Minahasa: rombongan memperoleh sambutan yang hangat, melihat negeri yang indah, dan memperhatikan para perempuan muda Minahasa.
Dalam bagian berikutnya, Horsting kembali mengenang Planciade pertama tahun 1924. Ia menyebut bahwa dirinya menjadi saksi penerimaan rombongan dan mengikuti perjalanan tersebut dari awal hingga akhir. Ia juga menjelaskan bahwa antara 1915 dan 1925 ia hampir setiap tahun mengunjungi Minahasa, melintasi wilayah itu ke berbagai arah dan mendaki banyak puncaknya. Karena itu, kisah kedatangan wisatawan Plancius dalam tulisannya ditempatkan sebagai salah satu pengalaman yang ia saksikan sendiri selama bertahun-tahun berada di Minahasa.
Referensi: L. H. C. Horsting, Van Leven en Werken in Indië (Weltevreden, N.V. Boekhandel Visser & Co., 1928), bagian “Minahassa-Filmpjes – De Plancius-toeristen in de Minahassa (1924)”.
- Penulis: Engel Yong
