Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Kerajinan Pasien Rumah Sakit Sonder: Dari Tempat Tidur Pasien ke Pameran Kawangkoan

Kerajinan Pasien Rumah Sakit Sonder: Dari Tempat Tidur Pasien ke Pameran Kawangkoan

  • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
  • visibility 106
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Rumah sakit pada awal abad ke-20 tidak hanya menjadi tempat orang sakit mendapatkan perawatan. Di Sonder, Minahasa, rumah sakit juga menjadi ruang tempat pasien menjalani aktivitas lain selama masa pemulihan. Salah satu yang menarik adalah kegiatan membuat kerajinan. Pada 1908, hasil pekerjaan tangan para pasien Rumah Sakit Sonder bahkan dikirim ke sebuah pameran di Kawangkoan. Di sana, karya mereka tidak sekadar dipajang, tetapi memperoleh penghargaan. Kisah ini memperlihatkan sisi lain dari kehidupan di rumah sakit yang jarang muncul dalam cerita sejarah kesehatan: pasien bukan hanya penerima perawatan, tetapi juga menghasilkan karya yang kemudian dinilai di ruang publik.¹

Kehadiran Rumah Sakit Sonder sendiri bermula dari kebutuhan masyarakat. Dalam tulisan Het Penningske tahun 1909, diceritakan bahwa Dr. Schoch, yang ketika itu menjadi hulpprediker atau pendeta pembantu di Sonder, menghadapi persoalan yang tidak pernah direncanakannya. Karena masyarakat melihat gelar doktornya dan mengira ia seorang dokter, orang-orang sakit berdatangan dari berbagai tempat untuk meminta pertolongan dan nasihat. Schoch dan istrinya memang memiliki pengetahuan mengenai pengobatan dan perawatan orang sakit, tetapi jumlah pekerjaan semakin berat. Dari lingkungan jemaat kemudian muncul gagasan untuk membangun sebuah rumah sakit kecil.²

Rumah sakit tersebut lahir melalui keterlibatan langsung masyarakat. Sebuah rumah yang dianggap masih dapat digunakan dibeli, kemudian dibongkar dan dipindahkan ke lokasi yang lebih sesuai. Pekerjaan itu dilakukan ketika musim panen padi sedang berlangsung, sehingga waktu kerja harus disiasati. Karena saat itu bulan purnama, masyarakat dapat bekerja setelah matahari terbenam. Warga dipanggil untuk bekerja bersama. Balok-balok berat dan papan diangkut oleh banyak orang, termasuk perempuan dan anak-anak perempuan, sambil bekerja dan bernyanyi. Setelah bangunan selesai, rumah sakit kemudian diresmikan.³

Tidak lama setelah berdiri, rumah sakit memperoleh tenaga dari luar Minahasa. Suster de Ruijter dan kemudian Suster Schoch datang untuk membantu pekerjaan tersebut, bersama tiga perempuan Minahasa yang sedang menjalani pelatihan sebagai perawat. Bahkan, menurut sumber, anak-anak perempuan dari kalangan keluarga kepala-kepala masyarakat juga ikut mendaftarkan diri untuk dididik menjadi perawat. Kehadiran tenaga lokal ini penting karena rumah sakit tidak berdiri sepenuhnya sebagai institusi yang dikelola orang Eropa. Perempuan Minahasa ikut menjadi bagian dari pekerjaan perawatan dan kehidupan sehari-hari rumah sakit.⁴

Dalam laporan tahun 1908, terlihat bahwa Rumah Sakit Sonder semakin mendapat tempat di tengah masyarakat. Polikliniknya dikunjungi 9.475 pasien dan memberikan pertolongan sebanyak 16.393 kali. Pada bagian rumah sakit sendiri tercatat 144 pasien yang dirawat, meningkat dari 90 pasien pada tahun sebelumnya. Para pengelola melihat peningkatan tersebut sebagai tanda bertambahnya kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit. Angka-angka itu menunjukkan bahwa lembaga ini bukan lagi sesuatu yang asing bagi masyarakat Sonder dan daerah sekitarnya.⁵

Hubungan rumah sakit dengan masyarakat juga tampak dalam bentuk bantuan dan kerja bersama. Berbagai negeri memberikan sumbangan beras pada masa pesta panen untuk kepentingan rumah sakit. Ada pula masyarakat yang memberikan kapur untuk pemutihan bangunan. Warga Sonder dan Kolongan-atas datang bekerja secara sukarela untuk mengecat rumah sakit, membersihkan halaman, dan mengurus kebun di belakang bangunan. Laporan menggambarkan kedatangan banyak anak muda yang bekerja sambil bernyanyi sebagai sesuatu yang menyenangkan bagi para pasien. Dengan demikian, rumah sakit bukan sekadar bangunan tempat orang sakit dirawat, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.⁶

Di dalam suasana seperti itulah kegiatan kerajinan pasien berlangsung. Laporan tahun 1908 mempunyai bagian khusus berjudul Arbeid der patiënten atau “Pekerjaan para pasien”. Para pasien Rumah Sakit Sonder membuat sebuah kursi panjang atau kursi berbaring dari rotan (ligstoel van rotan) serta sebuah jalousie, yaitu penutup atau kisi-kisi jendela, yang dibuat dari kayu seho. Kedua benda tersebut kemudian dikirim ke pameran kerajinan pribumi di Kawangkoan (tentoonstelling van Inlandsche arbeid te Kawangko’an).⁷

Hasilnya cukup mengejutkan: kedua karya yang dibuat oleh pasien rumah sakit tersebut memperoleh dua penghargaan juara pertama. Selain itu, saputangan yang dihasilkan melalui kegiatan menjahit juga mendapatkan juara kedua. Ijazah atau diploma penghargaan tersebut kemudian digantung di Rumah Sakit Sonder. Bagi pasien-pasien baru yang datang, penghargaan itu berfungsi sebagai dorongan atau penyemangat untuk ikut melakukan pekerjaan. Dengan demikian, hasil kerajinan tidak berhenti sebagai kegiatan pengisi waktu, tetapi menjadi sesuatu yang memiliki nilai dan pengakuan di luar lingkungan rumah sakit.⁸

Kegiatan kerajinan itu juga perlu dibedakan dari naaivereeniging, atau perkumpulan menjahit, yang dibentuk untuk membantu meningkatkan pemasukan rumah sakit. Perkumpulan tersebut terdiri atas perempuan-perempuan muda dari Sonder dan Kolongan-atas yang datang dua kali seminggu untuk menjahit. Mereka membuat saputangan berdasarkan pesanan dan membordir huruf sesuai permintaan. Dalam satu tahun, mereka menghasilkan 14 lusin saputangan dan memperoleh keuntungan. Sementara itu, karya kursi rotan dan jalousie secara khusus disebut sebagai hasil pekerjaan para pasien.⁹

Apa yang dilakukan para pasien tersebut menunjukkan bahwa kehidupan di rumah sakit tidak sepenuhnya berlangsung dalam suasana pasif. Pasien tidak hanya berbaring menunggu kesembuhan, tetapi dalam kondisi tertentu dapat terlibat dalam pekerjaan tangan. Laporan tersebut tidak menjelaskan secara rinci siapa saja pasien yang membuat setiap benda, berapa lama proses pembuatannya, atau teknik kerajinan yang digunakan. Karena itu, kita tidak dapat menambahkan cerita mengenai proses produksinya di luar keterangan sumber. Yang dapat dipastikan dari laporan adalah bahwa kursi rotan dan jalousie dibuat oleh pasien Rumah Sakit Sonder dan kemudian dikirim ke pameran Kawangkoan.¹⁰

Menariknya, kegiatan tersebut berlangsung dalam lingkungan rumah sakit yang juga memiliki fungsi pendidikan dan pembinaan. Pengajaran Alkitab dilakukan secara teratur. Para pengelola mencatat bahwa pasien yang tinggal beberapa waktu di rumah sakit semakin memahami materi yang diajarkan. Di sisi lain, para perawat Minahasa juga memainkan peran penting dalam kehidupan rumah sakit dan nasihat mereka diterima dengan baik oleh pasien. Dengan demikian, pekerjaan tangan, perawatan kesehatan, pendidikan, dan kegiatan keagamaan berjalan berdampingan dalam kehidupan Rumah Sakit Sonder pada masa itu.¹¹

Kisah kursi rotan, jalousie, dan saputangan ini akhirnya memberi gambaran yang lebih manusiawi tentang sejarah Rumah Sakit Sonder. Di balik angka 9.475 kunjungan poliklinik dan 144 pasien yang dirawat pada 1908, terdapat kehidupan sehari-hari yang jauh lebih beragam. Ada pasien yang menjalani perawatan, ada perawat yang bekerja, ada masyarakat yang datang membantu, dan ada pula pasien yang menghasilkan kerajinan hingga mendapatkan penghargaan di Kawangkoan. Rumah sakit dengan demikian dapat dilihat bukan hanya sebagai tempat penyembuhan, tetapi juga sebagai ruang sosial tempat keterampilan, kerja, dan kreativitas pasien mendapat tempat.

Catatan Kaki

¹ Het ziekenhuis te Sonder in de Minahassa ca.1910, bagian tentang Arbeid der patiënten, yang mencatat pengiriman karya pasien ke pameran Kawangkoan dan penghargaan yang diperoleh.

² Het Penningske, Juli 1909, mengenai Dr. Schoch, kedatangan orang sakit, dan gagasan masyarakat membangun rumah sakit.

³ Het ziekenhuis te Sonder in de Minahassa ca.1910, mengenai pembongkaran rumah, pembangunan kembali, dan kerja bersama masyarakat.

⁴ Het Penningske, mengenai kedatangan Suster de Ruijter, Suster Schoch, dan tiga calon perawat Minahasa.

⁵ Het ziekenhuis te Sonder in de Minahassa ca.1910, laporan 1908 mengenai 9.475 pasien poliklinik, 16.393 kali pertolongan, dan 144 pasien rumah sakit.

⁶ Het ziekenhuis te Sonder in de Minahassa ca.1910, mengenai sumbangan masyarakat dan kerja sukarela warga Sonder serta Kolongan-atas.

⁷ Het ziekenhuis te Sonder in de Minahassa ca.1910, bagian Arbeid der patiënten.

⁸ Ibid., mengenai dua juara pertama, juara kedua untuk saputangan, dan diploma yang digantung di rumah sakit.

⁹ Ibid., bagian Naaivereeniging, mengenai kegiatan menjahit perempuan muda Sonder dan Kolongan-atas.

¹⁰ Keterangan sumber hanya menyebut jenis karya, bahan, pembuat, tujuan pengiriman, dan hasil penghargaan; sumber tidak memberikan rincian teknis pembuatannya.

¹¹ Het ziekenhuis te Sonder in de Minahassa ca.1910, mengenai pengajaran Alkitab dan peran perawat Minahasa dalam kehidupan rumah sakit.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Pesawat Jepang Menembak Pesawat Sendiri: Insiden dalam Operasi Menado, Januari 1942

    Pesawat Jepang Menembak Pesawat Sendiri: Insiden dalam Operasi Menado, Januari 1942

    • calendar_month Rabu, 14 Okt 2026
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Pada Januari 1942, operasi Jepang untuk merebut Menado melibatkan pasukan pendarat, kapal pengawal, pesawat tempur, pesawat amfibi, dan pesawat angkut penerjun. Dalam perjalanan menuju sasaran, satu pesawat angkut Jepang ditembak jatuh oleh pesawat Jepang sendiri. Peristiwa itu dicatat dalam The Operations of the Navy in the Dutch East Indies and the Bay of Bengal, karya […]

  • ⁣⁣Ds. Rompas, Jejak Pendeta yang Aktif Melayani Jemaat Indonesia di Surabaya

    ⁣⁣Ds. Rompas, Jejak Pendeta yang Aktif Melayani Jemaat Indonesia di Surabaya

    • calendar_month Minggu, 9 Agt 2026
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Nama Ds. Rompas muncul dalam sejumlah catatan pelayanan gereja Protestan pada awal 1950-an. Dari sejumlah pemberitaan surat kabar yang terbit pada masa itu, terlihat bahwa Rompas bukan hanya melayani kebaktian jemaat berbahasa Indonesia, tetapi juga terlibat dalam pelayanan bagi mahasiswa Kristen di Surabaya. Salah satu catatan paling awal terdapat dalam Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad […]

  • De Voornaamste Hollandsche Woorden in het Maleisch der Minahasa (1869)

    De Voornaamste Hollandsche Woorden in het Maleisch der Minahasa (1869)

    • calendar_month Senin, 8 Mei 2023
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Buku “De Voornaamste Hollandsche Woorden in het Maleisch der Minahasa”. Kata-kata utama Belanda dalam Bahasa Melayu Manado di Minahasa. DOWNLOAD – GDRIVE – PDF – 1.6MB Diupload oleh Roderick C. Wahr

  • Taman Nasional

    Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Eksplorasi Keindahan Alamnya

    • calendar_month Rabu, 18 Jun 2025
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Surga Alam di Ujung Bolaang Mongondow   Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) berdiri kokoh sebagai paru-paru hijau Sulawesi Utara. Terletak di wilayah Bolaang Mongondow, kawasan ini menawarkan bentang alam tropis yang menakjubkan. Wisatawan yang mencintai petualangan dan keanekaragaman hayati akan merasa betah menjelajahinya. TNBNW menyuguhkan pemandangan perbukitan, lembah, hingga aliran sungai jernih yang mengalir […]

  • Patung Sam Ratulangi di pusat kota Davao (IKPNI-PAHNAS, 2025)

    Dari Minahasa ke Davao: Jejak Sam Ratulangi yang Diabadikan di Filipina

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Di tengah rimbunnya pepohonan di Millennium Park, Davao City, Filipina, berdiri sebuah patung dada yang mungkin mengejutkan banyak pengunjung Indonesia. Patung itu bukan milik tokoh Filipina, melainkan Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi lebih dikenal sebagai Sam Ratulangi pahlawan nasional Indonesia sekaligus putra terbaik Minahasa. Keberadaan monumen tersebut menjadi bukti bahwa jejak perjuangan Sam Ratulangi […]

  • Foto ini diambil oleh Pangeran Leopold dari Belgia dan terdokumentasi dalam koleksi Tropisch Nederland (1938)

    Sejarah Nama “KEMA” di Minahasa Utara: Dari Kaburukan hingga Pintu Interaksi Dunia Luar

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • visibility 211
    • 0Komentar

    Nama awal dari KEMA adalah “KABURUKAN”, yang kemudian menjadi salah satu pintu gerbang awal peradaban Minahasa berinteraksi dengan dunia luar. Untuk pembahasan mengenai Kaburukan, akan ditulis dalam topik tersendiri. Adalah Johan Gerhard Frederich Riedel (J.G.F. Riedel), anak tertua dari penginjil J.F. Riedel yang datang ke Tanah Minahasa bersama J.G. Schwarz pada tahun 1831. Ia lahir […]

expand_less