Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Babontehu: Kerajaan Kristen Awal di Utara Sulawesi

Babontehu: Kerajaan Kristen Awal di Utara Sulawesi

  • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
  • visibility 97
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah gelombang besar historiografi lokal Sulawesi Utara, nama Babontehu sering hadir dalam dua wajah sekaligus: sebagai ruang historis dan sebagai ruang mitologis.

Dalam tradisi tutur masyarakat, Babontehu dikaitkan dengan silsilah para dotu dan tokoh pendiri yang hidup jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Namun ketika sejarah direkonstruksi secara ketat berdasarkan arsip kolonial primer, laporan ekspedisi, surat-surat misionaris, hingga memori serah terima jabatan VOC maka narasi itu perlahan bergeser menuju bentuk yang lebih administratif dan geopolitik.

Dalam dokumen-dokumen Eropa abad ke-16 dan ke-17, entitas yang kini dikenal sebagai Babontehu hampir tidak pernah disebut dengan nama lokalnya. Arsip Portugis, Spanyol, dan Belanda lebih mengenalnya sebagai “Kerajaan Manado” atau O Rei de Manado, sebuah kerajaan pesisir yang berpusat di Pulau Manado Tua.

Dari sanalah jejak tertulis pertama mengenai masyarakat Manado bermula.

 

Persinggahan Portugis dan Pembaptisan Raja Manado

 

Catatan tertua mengenai eksistensi politik Manado Tua muncul pada 1563 ketika Portugis mulai memperluas jaringan religius dan dagangnya di kawasan timur Nusantara. Situasi Maluku saat itu sedang memanas akibat rivalitas antara Portugis dan Kesultanan Ternate.

Gubernur Portugis di Ternate, Henrique de Sá, mengirim Pastor Jesuit Diogo de Magalhães menuju pesisir utara Sulawesi setelah menerima laporan bahwa armada Sultan Hairun dari Ternate bergerak untuk memperluas pengaruh Islam ke wilayah tersebut.¹

Dalam arsip misionaris yang kemudian dihimpun Hubert Jacobs S.J. dalam Documenta Malucensia, Magalhães menulis bahwa ia tiba di Manado dan berhasil membangun aliansi dengan penguasa setempat. Sang penguasa kemudian dibaptis bersama sekitar 1.500 pengikutnya ke dalam agama Katolik.²

Yang menarik, dokumen Portugis itu sama sekali tidak menyebut nama asli penguasa tersebut. Arsip hanya menggunakan istilah O Rei de Manado, Raja Manado.

Dari sudut pandang historiografi Barat, inilah bukti tertulis paling awal mengenai eksistensi struktur kekuasaan di Babontehu.

Peristiwa itu juga menandai awal transformasi identitas masyarakat Manado Tua. Kekristenan mulai tertanam jauh sebelum VOC hadir di Sulawesi Utara.

Dalam catatan yang sama, disebutkan pula kehadiran penguasa Siau yang ikut menerima baptisan bersama rombongannya.³

 

Wilayah Perebutan antara Spanyol, Ternate, dan VOC

 

Memasuki awal abad ke-17, posisi Manado Tua berubah menjadi wilayah perebutan pengaruh antara Spanyol, Kesultanan Ternate, dan VOC.

Kekuasaan Spanyol yang berpusat di Filipina berusaha mempertahankan jaringan komunitas Kristen di pesisir utara Sulawesi sebagai benteng menghadapi ekspansi Ternate dan Belanda.

Dalam karya Conquista de las Islas Malucas karya Bartolomé Leonardo de Argensola, disebutkan bagaimana komandan-komandan Spanyol secara aktif menjalin hubungan diplomatik dan militer dengan wilayah Manado pada awal 1600-an.⁴

Salah satu tokoh penting adalah Lucas de Vergara Gaviria yang melakukan operasi militer dan diplomatik di kawasan Sulawesi Utara sekitar 1614–1615.⁵

Namun di saat bersamaan, VOC mulai membangun legitimasi hukum melalui perjanjian dengan Kesultanan Ternate. Dalam traktat VOC–Ternate tanggal 26 Mei 1607, wilayah Manado diklaim sebagai daerah taklukan Ternate.⁶

Klaim itu memperlihatkan bagaimana posisi politik Babontehu perlahan kehilangan otonomi. Meski masyarakatnya memiliki identitas lokal tersendiri, dalam arsip kolonial mereka mulai dipandang sebagai bagian dari orbit kekuasaan Ternate dan kemudian VOC.

 

Ancaman Bolaang Mongondow dan Datangnya Padtbrugge

 

Bab paling menentukan dalam sejarah Babontehu terjadi pada 1677 ketika Gubernur VOC untuk Maluku, Robertus Padtbrugge, melakukan inspeksi langsung ke pesisir utara Sulawesi.

Dalam jurnal perjalanannya yang terkenal, Journael van de reijse gedaen bij den commandeur Robertus Padtbrugge, ia menggambarkan kondisi masyarakat Manado Tua yang berada dalam tekanan berat.⁷

Menurut laporan tersebut, komunitas Manadosche di Pulau Manado Tua terus-menerus diserang oleh kekuatan Bolaang Mongondow yang saat itu dipimpin Raja Loloda Mokoagow.

Penyerangan itu bukan sekadar konflik biasa, melainkan juga disertai praktik penangkapan budak yang mengancam keberlangsungan populasi pesisir.⁸

VOC memandang situasi itu berbahaya bagi kepentingan dagang dan militernya. Manado Tua dianggap terlalu rentan untuk dipertahankan sebagai pusat pemukiman utama.

Dari sinilah lahir keputusan yang secara efektif mengakhiri Babontehu sebagai pusat politik mandiri.

 

Eksodus ke Wenang dan Lahirnya Komunitas Borgo

 

Atas arahan Padtbrugge, VOC memindahkan penduduk Manado Tua ke daratan utama di sekitar Wenang, dekat Benteng Amsterdam yang saat itu masih berbentuk benteng kayu.⁹

Permukiman baru itu berkembang di kawasan yang kemudian dikenal sebagai Sindulang.

Pemindahan tersebut bukan sekadar relokasi geografis. Ia merupakan rekayasa sosial dan administratif VOC untuk membentuk kelompok masyarakat baru yang lebih mudah dikontrol.

Penduduk eks-Babontehu yang telah lama terpengaruh budaya Portugis dan Spanyol serta memeluk agama Kristen tidak dimasukkan ke dalam struktur walak Minahasa ketika VOC menyusun sistem pemerintahan baru yang berpuncak pada Verbond 10 Januari 1679.¹⁰

Sebaliknya, mereka ditempatkan dalam kategori hukum tersendiri.

Dalam kajian sosiolog M.J.C. Schouten, kelompok ini kemudian diklasifikasikan sebagai Inlandse Burgers atau warga bumiputra sipil.¹¹

Status itu memberi mereka sejumlah hak istimewa dibanding penduduk pribumi lain.

Mereka dibebaskan dari kewajiban kerja paksa (heerendiensten) dan setoran hasil bumi kepada pemerintah kolonial.

Sebagai gantinya, mereka diwajibkan menjadi milisi cadangan (schutterij) untuk membantu pertahanan VOC di pesisir utara Sulawesi.¹²

Dari komunitas inilah kemudian lahir kelompok sosial yang di kemudian hari dikenal sebagai Etnis Borgo—komunitas Kristen pesisir yang menjadi salah satu unsur penting dalam pembentukan identitas awal kota Manado modern.

 

Sejarah yang Tersisa dalam Arsip

 

Rekonstruksi sejarah Babontehu berdasarkan arsip Iberia dan VOC memperlihatkan bahwa entitas ini pada awalnya merupakan komunitas maritim strategis yang berada di jalur perebutan pengaruh global abad ke-16 dan ke-17.

Namun berbeda dengan tradisi lokal yang menempatkan Babontehu dalam kerangka genealogis dan mitologis, arsip kolonial justru memperlihatkannya sebagai objek geopolitik: diperebutkan Portugis, diklaim Ternate, dimanfaatkan Spanyol, lalu direstrukturisasi VOC.

Ironisnya, justru setelah dipindahkan dari pulau asalnya, identitas masyarakat Babontehu berubah secara permanen.

Mereka tidak lagi sepenuhnya menjadi masyarakat pulau, tetapi juga tidak sepenuhnya dimasukkan ke dalam struktur adat Minahasa.

Di situlah Babontehu perlahan hilang sebagai kerajaan, tetapi bertahan sebagai komunitas sosial yang jejaknya masih dapat ditemukan dalam sejarah awal Manado hingga hari ini.

 

Catatan Kaki

 

¹ Hubert Jacobs S.J., Documenta Malucensia Volume I (1542–1577) (Roma: Jesuit Historical Institute, 1974), hlm. 245–247.

² Ibid.

³ Ibid., hlm. 248.

⁴ Bartolomé Leonardo de Argensola, Conquista de las Islas Malucas (Madrid, 1609), hlm. 312–318.

⁵ Ibid.

⁶ E.C. Godée Molsbergen, Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 (Batavia: Landsdrukkerij, 1928), hlm. 41–43.

⁷ Robertus Padtbrugge, Journael van de reijse gedaen bij den commandeur Robertus Padtbrugge… naer de noordkust van Celebes (1677), arsip VOC Maluku.

⁸ E.C. Godée Molsbergen, Geschiedenis van de Minahassa tot 1829, hlm. 67–70.

⁹ Ibid., hlm. 72.

¹⁰ Ibid., hlm. 74–76.

¹¹ M.J.C. Schouten, Leadership and Social Mobility in a Southeast Asian Society: Minahasa, 1677–1983 (Leiden: KITLV Press, 1998), hlm. 29–31.

¹² Ibid., hlm. 32.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Pantai Mangatasik

    Pantai Mangatasik, Surga Pantai dan Spot Selam di Minahasa

    • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Lokasi Strategis dan Akses Mudah   Pantai Mangatasik terletak di Desa Tanawangko, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Jaraknya sekitar 30 km dari pusat Kota Manado, dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit menggunakan kendaraan pribadi. Karena berada di dekat jalan utama, pengunjung bisa dengan mudah menjangkaunya kapan saja, baik pagi maupun sore hari. […]

  • Pulau Lihaga

    Pulau Lihaga, Surga Tersembunyi yang Masih Jarang Dikunjungi

    • calendar_month Selasa, 27 Mei 2025
    • visibility 78
    • 0Komentar

    Pulau Lihaga: Surga Tersembunyi di Ujung Utara Sulawesi   Jika kamu sedang mencari tempat wisata di Sulawesi Utara yang masih alami dan belum terlalu ramai, maka Pulau Lihaga bisa jadi pilihan sempurna. Terletak di Kabupaten Minahasa Utara, pulau ini menawarkan keindahan alam yang luar biasa, air laut sejernih kristal, dan pasir putih lembut yang memanjakan […]

  • Personel Tainan Kokutai di bandara Langoan, ini adalah satuan elite penerbang Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang berperan penting dalam merebut dominasi udara selama invasi ke Hindia Belanda pada awal Perang Pasifik. (1942, pacificeagles, ijnafphotos, dan Australian War Memorial - Engel Yong)

    11 Januari 1942: Hari ketika Langit Minahasa Dipenuhi Api dan Parasut

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Pagi Minggu, 11 Januari 1942, menjadi salah satu hari paling menentukan dalam sejarah Perang Pasifik di Minahasa. Sejak fajar menyingsing, kawasan Kema, Airmadidi, Kalawiran, hingga pegunungan Lembean berubah menjadi panggung pertempuran besar yang mempertemukan pasukan Jepang, KNIL, dan Sekutu. Di darat, laut, dan udara, peperangan berlangsung hampir bersamaan, sementara warga sipil hanya bisa menyaksikan kedahsyatan […]

  • Utang Kopra Petani Minahasa

    Utang Kopra Petani Minahasa

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Menjelang abad ke-20, kopra menggantikan kopi sebagai hasil ekspor utama Minahasa. David Henley dalam Nationalism and Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East Indies mencatat bahwa kewajiban menanam kopi dihapuskan pada 1899. Setelah itu, tanaman tersebut segera kehilangan kedudukannya dalam kegiatan pertanian Minahasa. Tempatnya kemudian diambil alih oleh kopra, yang harganya sempat […]

  • 14 Lusin Saputangan – Perempuan Sonder Menjahit untuk Membantu Rumah Sakit

    14 Lusin Saputangan – Perempuan Sonder Menjahit untuk Membantu Rumah Sakit

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • visibility 70
    • 0Komentar

    Di tengah aktivitas Rumah Sakit Sonder di Minahasa, berlangsung sebuah kegiatan yang tampak sederhana tetapi memiliki arti penting bagi keberlangsungan rumah sakit yaitu menjahit. Sekelompok perempuan muda dari Sonder dan Kolongan-atas membentuk sebuah naaivereeniging atau perkumpulan menjahit. Mereka datang dua kali dalam seminggu untuk membuat saputangan berdasarkan pesanan dan membordir huruf sesuai permintaan. Dalam laporan […]

  • Pulau

    Pulau Mantehage, Surga Tersembunyi di Kepulauan Bunaken

    • calendar_month Selasa, 8 Jul 2025
    • visibility 288
    • 0Komentar

    🌴 Selamat Datang di Pulau Mantehage! Hai, Sobat Traveler! Kalau kamu sedang cari destinasi wisata yang belum terlalu ramai tapi punya pemandangan luar biasa, Pulau Mantehage bisa jadi pilihan yang tepat banget. Terletak di kawasan Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara, pulau ini menyimpan keindahan alam dan budaya yang masih sangat alami dan jarang dijamah. 🏝 […]

expand_less