Ketika Manado Masih Sebuah Pulau: Menelusuri Jejak yang Terlupakan
- calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
- visibility 95
- comment 0 komentar
- print Cetak

Peta Exacta & Accurata Delineatio karya Jan Huyghen van Linschoten (1595/1596).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nama sering kali berpindah, tetapi jejak sejarah tidak selalu ikut menghilang. Dalam perjalanan panjang sebuah kota, ada kalanya identitas geografis bergeser perlahan hingga masyarakat modern menerima suatu keadaan sebagai sesuatu yang sejak awal memang demikian adanya. Manado mungkin termasuk salah satunya.
Banyak orang mengenal Manado sebagai sebuah kota di pesisir utara Sulawesi, sebuah kawasan yang tumbuh menjadi pusat perdagangan, pemerintahan, dan budaya di Sulawesi Utara.
Namun jika lembar demi lembar arsip lama dibuka kembali, muncul sebuah pertanyaan yang mengusik: benarkah Manado sejak awal merujuk pada daratan yang kini menjadi Kota Manado?
Berbagai sumber primer dari abad ke-16 hingga kajian linguistik awal abad ke-20 memperlihatkan petunjuk yang cukup menarik. Nama “Manado” pada mulanya tampaknya tidak merujuk pada daratan utama, melainkan pada sebuah pulau batu yang berdiri sendiri di utara teluk, pulau yang sekarang dikenal sebagai Manado Tua.
Pulau yang Tergambar dalam Peta Dunia
Petunjuk awal dapat ditemukan dalam dunia kartografi. Pada penghujung abad ke-16, pelaut Belanda Jan Huyghen van Linschoten menerbitkan peta maritim yang menjadi salah satu karya penting bagi pelayaran Eropa menuju Asia.
Peta tersebut lahir dari proses yang nyaris menyerupai operasi intelijen: Van Linschoten diam-diam menyalin dokumen pelayaran Portugis saat berada di Goa, India.[^1]
Di sudut barat laut Pulau Celebes, nama lama Sulawesi tergambar sebuah pulau kecil yang berdiri terpisah dari daratan utama. Di dekat pulau itulah tertulis nama “Manado”.
Yang menarik, tradisi pemetaan berikutnya mempertahankan pola serupa. Kartografer besar Belanda seperti Willem Blaeu dan Johannes Janssonius juga menempatkan “Manada” atau “Manado” sebagai identitas pulau di lepas pantai.
Sementara kawasan daratan yang sekarang menjadi Kota Manado tidak selalu diberi nama yang sama, bahkan beberapa peta lebih memilih menggunakan nama-nama wilayah lokal di pedalaman.
Peta-peta ini tidak sedang menulis legenda. Mereka dibuat untuk kebutuhan navigasi dan perdagangan. Bagi pelaut, kesalahan menempatkan pulau dan daratan dapat berarti hilangnya kapal atau gagalnya ekspedisi.
Dari Laporan Militer ke Arsip Kolonial
Bukti berikutnya datang dari laporan-laporan pemerintahan kolonial. Pada awal abad ke-17, wilayah utara Sulawesi menjadi ruang persaingan kekuatan besar: Portugis, Spanyol, dan kemudian VOC Belanda. Arsip militer Spanyol yang tersimpan di Sevilla menunjukkan penggunaan istilah yang cukup konsisten.
Dalam sejumlah dokumen, para pejabat Spanyol menyebut tujuan ekspedisi mereka sebagai:
“la isla de Manados”
(Pulau Manado)
Mereka bahkan menulis tentang sosok yang disebut:
“el rey de la isla de Manados”
(Raja Pulau Manado).[^2]
Menariknya, istilah serupa juga digunakan oleh VOC Belanda, meskipun keduanya merupakan rival politik. Dalam laporan Komandan Apollonius Schotte maupun Gubernur Jenderal Pieter Both pada awal 1600-an, muncul istilah:
“het eyland Manado”
(Pulau Manado).[^3]
Jika dua kekuatan yang saling bersaing menggunakan penyebutan geografis yang sama, kecil kemungkinan hal itu sekadar kekeliruan administrasi.
Ketika Bahasa Menjadi Saksi
Tiga abad setelah peta dan laporan militer itu dibuat, seorang ahli bahasa Belanda bernama N. Adriani mencoba menelusuri asal-usul nama Menado.
Dalam tulisannya pada tahun 1917 berjudul De Naam “Menado”, Adriani menolak sejumlah dugaan etimologi yang berkembang saat itu. Menurutnya, akar asli nama tersebut adalah Manarow.
Yang penting bukan sekadar bentuk katanya, melainkan lokasi yang dimaksud.
Adriani menulis:
“Itu adalah nama dari pulau berbatu yang terletak di sebelah utara Teluk Menado. Nama itu kemudian berpindah ke kota yang berada di teluk tersebut, sedangkan pulau itu sendiri lalu dikenal dalam bahasa Melayu sebagai Menado Toea atau Manado Tua.”[^4]
Pernyataan ini sekaligus memberi petunjuk lain: daratan utama tempat Kota Manado berkembang sebenarnya telah memiliki identitasnya sendiri, yaitu Wenang.

Nama Wenang dipercaya berasal dari jenis pohon yang tumbuh di kawasan tersebut, yakni Macaranga hispida.
Dengan demikian, terdapat dua identitas yang berjalan berdampingan: Manarow sebagai pulau, dan Wenang sebagai daratan.
Mengapa Pulau Lebih Dipilih?
Pertanyaan berikutnya tentu muncul: mengapa pusat permukiman awal berada di pulau kecil berbatu, bukan di daratan luas yang lebih subur?
Jawabannya berkaitan dengan keamanan.
Pada abad ke-16, wilayah perairan utara Sulawesi bukanlah kawasan yang tenang. Jalur laut dipenuhi persaingan antarkerajaan, perdagangan rempah, hingga serangan kelompok bajak laut.
Pulau kecil yang dikelilingi laut dalam memberi keuntungan strategis. Tebing batu menjadi benteng alami, sementara posisi yang menonjol di lautan menjadikannya titik pengawasan yang ideal.
Bagi para pelaut Eropa, gunung kerucut yang menjulang di pulau tersebut berfungsi seperti mercusuar alami yang terlihat dari kejauhan.
Namun zaman berubah.
Ketika kekuatan kolonial mulai membangun benteng permanen dan memperluas jaringan perdagangan, kebutuhan logistik meningkat. Ribuan serdadu membutuhkan persediaan pangan yang stabil. Daratan Wenang, dengan sungai dan lahan yang lebih luas, menawarkan hal yang tidak dimiliki pulau karang: ruang untuk tumbuh.
Perlahan pusat aktivitas berpindah.
Benteng dibangun di daratan. Pelabuhan berkembang. Jalur perdagangan dibuka.
Dan seperti yang kerap terjadi dalam sejarah, nama ikut berpindah bersama pusat kekuasaan.
Nama “Manado” akhirnya meninggalkan pulau asalnya dan menempel pada daratan Wenang. Sementara pulau yang mula-mula melahirkan nama tersebut perlahan kehilangan peran utamanya.
Sejarah kemudian memberi penanda waktu yang sederhana tetapi penting: Manado Tua.
Kadang-kadang, sebuah nama memang berpindah. Namun jejak asal-usulnya tetap tersimpan diam-diam di peta tua, laporan pelaut, dan arsip yang nyaris terlupakan.
Catatan Referensi
[^1]: Linschoten, J.H. v. (1596). Itinerario, Voyage ofte Schipvaert van Jan Huyghen van Linschoten naer Oost ofte Portugaels Indien. Amsterdam: Cornelis Claesz.
[^2]: Archivo General de Indias (AGI), Sevilla. Seksi Audiencia de Filipinas. Korespondensi militer Pedro de Heredia.
[^3]: Nationaal Archief Den Haag. VOC Overgekomen Brieven en Papieren (OBP). Laporan Apollonius Schotte (1610) dan Pieter Both (1614).
[^4]: Adriani, N. (1917). De Naam “Menado”. Indië; geïllustreerd weekblad voor Nederland en koloniën.
- Penulis: Moderator Malesung
