Sejarah Embrio Jemaat Kristen di Bahu: Dari Kawasan Persinggahan hingga Tumbuhnya Persekutuan Iman
- calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
- visibility 95
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gereja Imanuel Baju (Foto Tribunnews)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kawasan Bahu di Manado, Sulawesi Utara, menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah, khususnya dalam perkembangan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakatnya.
Sebelum dikenal sebagai bagian dari wilayah perkotaan Manado seperti saat ini, Bahu pada mulanya merupakan daerah pinggiran yang didominasi hutan kecil dan menjadi tempat persinggahan bagi masyarakat Minahasa yang melakukan perjalanan dari pedalaman menuju kota.
Hingga awal abad ke-20, Bahu belum termasuk wilayah administratif Kota Manado. Kawasan ini masih menjadi bagian dari wilayah Malalayang dan dikenal sebagai daerah peristirahatan di sepanjang pesisir Teluk Manado. Seiring waktu, keberadaan para pendatang yang mulai menetap menjadikan Bahu berkembang menjadi sebuah kampung tersendiri, meskipun secara administratif baru kemudian dipisahkan.
Nama “Bahu” sendiri memiliki akar yang erat dengan kondisi alam setempat. Penamaan ini diambil dari jenis pohon bakau yang dahulu banyak tumbuh di sepanjang pesisir pantai Bahu. Dalam bahasa Tountemboan, pohon tersebut dikenal sebagai kalimbowan, yang memiliki bunga kuning menyerupai kembang sepatu. Masyarakat setempat kemudian menyebutnya sebagai pohon Bahu. Kini, keberadaan pohon tersebut sudah semakin jarang ditemukan, namun namanya tetap melekat sebagai identitas wilayah.
Selain itu, terdapat pula pandangan lain yang menyebut bahwa nama Bahu mencerminkan semangat persatuan dan gotong royong masyarakat yang mendiami kawasan tersebut sejak awal. Hal ini menunjukkan bahwa selain faktor alam, nilai sosial juga turut membentuk identitas lokal Bahu.
Secara geografis, Kelurahan Bahu terletak di bagian barat daya Kota Manado, membentang sepanjang pesisir Teluk Manado. Di sebelah utara berbatasan dengan laut dan Kelurahan Sario Tumpaan yang kini berkembang pesat dengan berbagai pembangunan, termasuk kawasan perbelanjaan modern.
Di sisi timur, wilayah ini berbatasan dengan Kampus Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) dan Kelurahan Kleak. Sementara di bagian selatan, Bahu berbatasan dengan Kelurahan Malalayang Timur dan Batu Kota.
Di tengah perkembangan wilayah tersebut, kehidupan keagamaan masyarakat Bahu, khususnya umat Kristen, memiliki perjalanan yang tidak sepenuhnya terdokumentasi secara rinci pada masa awal. Tidak ditemukan catatan tertulis yang menjelaskan secara pasti bagaimana bentuk ibadah pertama jemaat Kristen di Bahu sebelum tahun 1927.
Namun, berdasarkan penelusuran sejarah, masyarakat yang mendiami kawasan ini berasal dari suku Tombulu dan Tountemboan, yang sebagian besar telah memeluk agama Kristen, meskipun ada pula yang masih berada dalam kepercayaan tradisional.
Sebelum Bahu berdiri sebagai kampung tersendiri, aktivitas pelayanan keagamaan terpusat di Malalayang. Masyarakat Bahu mengikuti ibadah di wilayah tersebut, baik dalam bentuk persekutuan umum maupun ibadah keluarga.
Pelayanan rohani saat itu ditangani oleh para pelayan gereja, termasuk penolong jemaat dan guru Injil yang berasal dari Malalayang.
Salah satu tokoh yang dikenal dalam pelayanan awal di Bahu adalah Penolong Rombang. Ia tinggal di Malalayang, namun aktif melayani kebutuhan rohani masyarakat Bahu, terutama sebelum adanya rumah ibadah permanen dan guru jemaat yang menetap di wilayah tersebut.
Perkembangan signifikan terjadi pada akhir tahun 1927, ketika Bahu secara resmi dipisahkan dari Malalayang secara administratif. Keputusan ini disetujui oleh Hukum Tua Malalayang serta pejabat Onder Distrik Manado Khusus Luar Kota saat itu. Meski demikian, dalam hal kepolisian, Bahu masih berada dalam wilayah Malalayang.
Pemisahan administratif tersebut membawa dampak langsung terhadap kehidupan keagamaan masyarakat.
Jemaat Kristen di Bahu mulai merasakan kebutuhan mendesak untuk memiliki tempat ibadah sendiri serta pelayanan rohani yang lebih mandiri. Berdasarkan data sensus saat itu, terdapat sekitar 46 kepala keluarga dengan total 138 jiwa yang mendiami kampung tersebut.
Sebelum berdirinya rumah ibadah pertama atau kanizah pada tahun 1927, kegiatan ibadah sebenarnya telah berlangsung secara aktif. Masyarakat mengadakan persekutuan dalam lingkup keluarga maupun kelompok kecil antar tetangga. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan iman telah tumbuh dan berkembang meskipun belum didukung fasilitas yang memadai.
Pembangunan kanizah pertama yang berlokasi di tanah milik keluarga Mundung menjadi tonggak penting dalam sejarah jemaat Kristen di Bahu. Kehadiran rumah ibadah tersebut menandai awal terbentuknya persekutuan yang lebih terorganisir dan mandiri.
Memasuki periode berikutnya, pelayanan jemaat semakin terstruktur dengan hadirnya guru jemaat pertama, Jan Senduk, yang melayani pada tahun 1928 hingga 1931. Kehadirannya menjadi bagian penting dalam memperkuat fondasi kehidupan rohani masyarakat Bahu yang terus berkembang.
Sejarah embrio jemaat Kristen di Bahu mencerminkan perjalanan panjang sebuah komunitas dalam membangun identitasnya dari kawasan persinggahan sederhana hingga menjadi bagian integral dari perkembangan Kota Manado.
Lebih dari sekadar catatan sejarah, kisah ini juga menggambarkan kuatnya semangat kebersamaan, iman, dan gotong royong yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Bahu hingga kini.
Penulis John Damongilala referensi Ivan RB Kaunang
- Penulis: Moderator Malesung
