Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Sembilan Belas Tanda: Kontrak Minahasa dan Kompeni, 10 September 1699

Sembilan Belas Tanda: Kontrak Minahasa dan Kompeni, 10 September 1699

  • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
  • visibility 76
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada 10 September 1699, di loji Kompeni VOC di sisi benteng Amsterdam Manado, sebuah kontrak ditutup dan disumpahkan.

Di bawah naskah Belanda itu, dibubuhkan cap Kompeni dari lak merah dan dua tanda tangan pejabat VOC. Sedangkan di bawah naskah Melayu dibubuhkan sembilan belas merk — tanda, bukan tanda tangan — milik para hukum dan kapitan negeri-negeri Minahasa. Dan di bawah keduanya terpisah lagi, tanda tangan seorang juru bahasa yang menjamin alih bahasa ke dalam “‘t Alphoerees”.

Dokumen ini terbit sebagai nomor DCVI dalam jilid keempat Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum susunan F. W. Stapel, hlm. 161–168.[^1] Teksnya terbit lebih dulu, dengan redaksi yang berbeda, dalam E. C. Godée Molsbergen, Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 (1928), sebagai bab VII yang seluruhnya berjudul “Het verbond van 10 September, 1699“, hlm. 88–104.[^2]

Kedua terbitan itu bersandar pada arsip yang sebagian berbeda dan justru selisih di antara keduanya yang membuat dokumen ini menarik.

Nilainya bukan hanya pada sepuluh pasal perjanjiannya melainkan pada dua daftar yang mengiringinya yaitu daftar penanda tangan dan daftar kewajiban kerja tiap negeri terhadap benteng dan loji. Kedua daftar itu jika digabungkan adalah salah satu potret administratif Minahasa yang paling padat dari abad ke-17.

Dua Redaksi, Satu Kontrak

Stapel menyatakan sumbernya secara terbuka. Teks kontrak diambil dari Godée Molsbergen hlm. 90 dan seterusnya dan juga terdapat dalam Overgecomen brieven tahun 1701, buku kesepuluh, bagian Ternate, folio 183 dan seterusnya. Keterangan pengantarnya bersandar pada Godée Molsbergen hlm. 89 dst. serta pada sebuah daghregister yang tidak diterbitkan, catatan harian kapten Paulus de Brievings dan pedagang muda Samuel Hattingh atas tugas mereka di Manado, 30 Agustus–19 September 1699.[^3]

Stapel menambahkan satu catatan yang selama ini mudah terlewat, penutup dan bagian penandatanganan berbunyi agak berbeda pada Godée Molsbergen dibanding pada Overgecomen brieven dan ia memilih memakai versi yang terakhir.[^4]

Setelah kedua terbitan itu dibandingkan langsung, “agak berbeda” ternyata berarti sangat berbeda:

Godée Molsbergen 1928, hlm. 93 Stapel (Overgecomen brieven), hlm. 165–166
Cap “‘s Comps klein Zegel gedrukt in roode lak” cap Kompeni dalam lak merah, tanpa kata klein
Tanda tangan Kompeni P. D. Brieving en Samuel Hattingh Paulus de Brievings en Samuel Hatting
Saksi “(in margine) ter onser presentie H. D. Chieze en C. Doncker” “Nog lager tusschen het Nederduyts en Maleyts: Ter onser presentie, getekent: Henry de Chiese en Christoffel Doncker”
Sembilan belas nama kepala Minahasa tidak ada ada, lengkap dengan gelar dan negeri
Juru bahasa Manuel Perera tidak ada ada: “Voor de vertalinge in ‘t Alphoerees, was geteeckent: Manuel Perera, tolcq”

Konsekuensinya perlu dinyatakan terus terang bahwa daftar sembilan belas penanda tangan dan nama juru bahasa hanya ada pada redaksi Overgecomen brieven. Siapa pun yang bekerja dari Godée Molsbergen saja tidak akan pernah menjumpai satu pun nama kepala Minahasa dalam dokumen ini. Itu sebabnya nama-nama itu praktis tak pernah dikutip dalam tulisan populer tentang 1699.

Satu rincian editorial lain tetap berlaku: daftar kewajiban negeri tidak terdapat dalam daghregister para komisaris. Daftar itu ada pada Godée Molsbergen dan Stapel memutuskan memuatnya walaupun begitu.[^5] Jadi daftar kewajiban berdiri satu tingkat lebih jauh dari naskah kontrak dan sebaiknya selalu dikutip dengan kesadaran itu.

Latar: Manado Sebelum 1699

Godée Molsbergen membuka babnya dengan neraca. Secara keuangan Manado bukan keberhasilan bagi Kompeni. Dalam perhitungan beban dan laba Gubernemen Maluku untuk tahun-tahun 1690–1692, comptoir Manado menyumbang beban f 35.606:7:7 berbanding laba f 11.005:2 — selisih yang membuat Batavia meminta penjelasan apakah tidak ada kelalaian dalam pengurusan dan pengejaran laba di sana.[^6]

Di darat, urusan yang menyita tenaga adalah Bolaang. Raja Loloda Maccoago telah dilengserkan oleh para bangsawan dan rakyatnya sendiri karena pemerintahannya yang lalim, tetapi tidak melupakan rakyat yang membelot dan tetap merancang serangan. Ia sempat mencoba mengejutkan “Bergboeren” — orang pegunungan Manado — di Tompasso, tetapi dipukul mundur oleh pihak-pihak yang bersekutu. Rencana balasan untuk menyerang Maccoago di Mondona dicegah oleh Residen Herman Jansz. Steynkuyler, dengan pertimbangan bahwa di daerah pegunungan itu tidak banyak yang bisa dicapai.[^7] Loloda Maccoago wafat tidak lama sesudah itu.

Di antara dua peristiwa itu jatuh sebuah bencana. Godée Molsbergen mencatat letusan Goenoeng Soedara — digambarkan terletak di barat laut Selat Lembeh pada lintang utara satu derajat empat puluh menit — yang meletus dengan retakan, gemuruh, dan dentuman dahsyat yang tidak lazim, berlangsung dari 29 Januari sampai 9 Februari 1694.

Suaranya terdengar sampai Ternate, Batjan, dan di mana-mana. Abu yang dilemparkan ke seluruh negeri Manado begitu banyak sehingga banyak atap rumah runtuh. Sejak 30 Januari sampai 6 Februari menyusul gempa-gempa berat disertai kegelapan, udara suram, dan tanda-tanda tak biasa lainnya. Di Ambon, sembilan puluh lima mil jauhnya dentuman berat itu ikut terdengar tanpa ada yang tahu dari mana asalnya.[^8]

Latar politiknya dinyatakan langsung sesudah itu, Gubernur Maluku Salomon le Sage (ditulis Lesage dalam naskah kontrak), yang memerintah dari 1696 sampai 1700, memandang perlu memperbarui kontrak dengan Minahasa yang dahulu ditutup Padtbrugge. Menurut Godée, pasal-pasal perjanjian ini memperlihatkan di titik mana ia merasa perlu mempertajam batas kewajiban kedua pihak.[^9]

Perjanjian 1694 Dengan Bolaang: Tiga Tanggal, Satu Naskah Hilang

Pasal 2 kontrak 1699 memperbarui ikatan yang dibuat “akhir September 1694” di hadapan pedagang muda Pieter Alsteyn dan Stephanus Thierry serta panji David Haak, bersama para wakil berkuasa dari mendiang raja Boulang, Loloda Maccoago.

Naskahnya tidak selamat. Stapel menyatakan perjanjian 1694 itu tampaknya hilang, dalam buku harian perjalanan Pieter Alsteyn ke Manado 1694 (Overgecomen brieven 1697, buku ketujuh, bagian Ternate, folio 18 dst.) pun tidak ada salinannya.

Yang terbaca hanya catatan tanggal 20 September bahwa kesepakatan yang digarap pada tanggal 16 antara orang Alfur Mongondow dan Manado beserta para kepala negeri dibacakan, ditandatangani, dan dikuatkan dengan sumpah dalam sidang penuh.[^10]

Godée Molsbergen sebaliknya, ia menyatakan isinya tetap diketahui bahwa Minahasa harus dibiarkan tenang oleh Bolaang-Mongondow, termasuk dalam soal upeti dan kedua pihak tidak boleh memasuki wilayah satu sama lain.[^11]

Tanggalnya bergerak-gerak di tiga tempat, dan itu sendiri sudah di data:

  • naskah kontrak: ultimo September 1694 (akhir September);
  • ringkasan Godée Molsbergen hlm. 89: “31 September 1694” — tanggal yang tidak mungkin ada;
  • Godée Molsbergen hlm. 103, mengutip berkas Bolaang: sebuah onderling contract dengan para kepala Manado tertanggal 21 September 1694, di hadapan Sekretaris Pieter Alsteijn dan panji David Haak yang menetapkan bahwa distrik Bolaang berakhir di tanjung Poigar.[^12]

Kalau ketiganya menunjuk dokumen yang sama, maka batas Poigar adalah isi perjanjian 1694 yang hilang itu dan kontrak 1699 memperbaruinya tanpa menyebut batasnya.

Catatan buku harian Alsteyn (“digarap tanggal 16, dibacakan tanggal 20”) membuat tanggal 21 September masuk akal sebagai hari penandatanganan formal, sedangkan “31 September” pada Godée hampir pasti salah cetak. Ini pantas diuji ke berkas aslinya sebelum dipakai sebagai sebuah kepastian.

Isi Kontrak: Sepuluh Pasal

Godée Molsbergen mendahului kutipan naskahnya dengan ringkasan sepuluh butir dalam bahasa Belanda modern.[^13] Yang berikut adalah ringkasan dari naskah kontraknya sendiri.

Pasal 1. Perjanjian dan kontrak dengan mantan gubernur Robbertus Padtbrugge, yang dibuat di Manado pada 10 Januari 1679, akan dipelihara tanpa boleh menyimpang sedikit pun, dan dengan ini dianggap diperbarui.[^14]

Pasal 2. Diperbarui pula ikatan akhir September 1694 dengan Bolaang, seperti diuraikan di atas.

Pasal 3 — pasal yang paling keras. Para hukum kepala dan kepala negeri menyatakan, untuk diri mereka dan keturunan mereka, melepaskan selama-lamanya hak adat mereka untuk memenggal (tocktocken) atau mencincang (in huspot cappen) seorang yang tak bersalah — Godée menambahkan glosarium nya sendiri: onnosele = onschuldige — baik yang berstatus lijfeigene maupun landeigene, sebagai ganti seorang pembunuh yang sudah terbukti atau penjahat besar lainnya. Mereka menyatakan muak terhadap perbuatan itu, berjanji tidak akan pernah lagi membiarkan seseorang dihukum mati dengan cara demikian di bawah dalih apa pun dan sebaliknya mengikat diri menyerahkan setiap pembunuh dan penjahat yang layak dihukum mati atau dihukum badan ke tangan Kompeni. Kepala yang lalai atau menentang akan diperlakukan sebagai pemungkir perjanjian.[^15]

Pasal 4. Mereka berjanji menyerahkan kepada Kompeni siapa pun yang kedapatan berkhianat atau yang menghasut raja-raja dan sekutu di sekitarnya untuk melawan Kompeni, untuk dihukum mati dengan cara yang paling keras.

Pasal 5. Mereka berjanji tidak menerima atau membiarkan bangsa Eropa lain di negeri mereka yakni Spanyol, Portugis, Prancis, Inggris, Denmark, Swedia begitu pula orang Makassar, Jawa, Aceh, atau bangsa mana pun di luar wilayah pemerintahan Maluku, apalagi musuh Kompeni. Orang semacam itu harus ditunjukkan ke Ternate atau kepada residen setempat atau dibawa ke sana dalam keadaan diamankan.

Pasal 6. Mereka mengikat diri untuk selalu menjadi sahabat sahabat Kompeni dan musuh musuh Kompeni, dan membantu sekutu-sekutu Kompeni lainnya baik di laut maupun di darat, sampai mati bila keadaan menuntut.

Pasal 7. Karena itu, tidak boleh ada perang maupun perdamaian yang mereka adakan dengan siapa pun tanpa izin Kompeni terlebih dahulu.

Pasal 8. Perselisihan berat yang tidak dapat diselesaikan para kepala negeri di tempat kejadian harus diputus dalam Landvergadering umum di loji Kompeni dengan dihadiri residen. Bila sidang itu pun tidak sepakat, perkara ditangguhkan sampai datangnya komisaris khusus Kompeni dan dalam masa tunggu itu tidak boleh dilakukan tindakan kekerasan seperti yang dahulu biasa terjadi.[^16]

Pasal 9. Sebaliknya, Kompeni mengikat diri selalu mengakui masyarakat seluruh negeri bawah, atas, dan pedalaman sebagai sekutu sejatinya, melindungi mereka dari segala kekerasan dan gangguan dari pihak mana pun dan pada waktunya membantu mereka melawan musuh-musuh semacam itu.

Pasal 10. Penutup. Mereka berjanji memelihara seluruh pasal tanpa pengurangan sedikit pun dan membuat rakyat mereka memeliharanya, serta mengesahkannya dengan tanda tangan biasa dan sumpah khidmat “op de Alphoerse wijse” — menurut cara Alfur.

Pasal ini juga memuat keterangan prosedural yang berharga yaitu enam negeri tidak hadir. Tiga hukum kepala bertindak sebagai kuasa mereka untuk negeri Tonkinbot-beneden, Romohon, Tombatsan, Tompasso, Tongsawan, dan Passang, yang hoecums dan bobatos-nya tidak muncul dalam pertemuan itu. Stapel menjelaskan bobatos sebagai boepatih atau regent dan mencatat bahwa dalam Overgecomen brieven keenam nama negeri itu tertulis berbeda: Tankibooi-beneden, Romon, Tombatsian, Tompasso, Tangsawan, dan Passang.[^17]

Cap, Tanda, dan Tiga Bahasa

Rumusan penutupnya: dikontrakkan, ditutup, dan disumpahkan di Manado, di loji Kompeni di benteng Amsterdam, pada 10 September 1699.

Susunannya berlapis, dan lapisan itu bermakna:

  • Di bawah naskah Belanda: cap Kompeni dalam lak merah — Godée menyebutnya cap kecil — lalu tanda tangan Paulus de Brievings dan Samuel Hatting atas nama Kompeni.
  • Di bawah naskah Melayu: merken — tanda — dari sembilan belas kepala Minahasa.
  • Lebih rendah lagi: “Voor de vertalinge in ‘t Alphoerees, was geteeckent: Manuel Perera, tolcq” — untuk terjemahan ke dalam bahasa Alfur, ditandatangani Manuel Perera, juru bahasa.
  • “Ter onser presentie” — atas kehadiran kami — ditandatangani Henry de Chiese dan Christoffel Doncker. Stapel menempatkannya di antara naskah Belanda dan Melayu; Godée mencatatnya sebagai catatan pinggir (in margine).

Jadi dokumen ini melewati tiga bahasa (Belanda → Melayu → Alfur), dan tiap sambungan disahkan orang yang berbeda. Yang mengikat para kepala negeri, secara fisik, adalah naskah Melayu — di situlah cap mereka dibubuhkan. Bahasa yang mereka pahami dalam sidang, menurut catatan Perera, adalah bahasa Alfur, yang tidak dirinci lebih lanjut namanya.

Identitas salah satu saksi terjawab dari halaman lain buku yang sama karya Henry de Chiese adalah Sersan Komandan di Manado yang merupakan pejabat militer tertinggi di tempat itu, bukan orang yang kebetulan lewat. Beberapa tahun kemudian ia pula yang membebaskan penduduk dari kewajiban pagar dengan membangun tembok batu keliling benteng.[^18]

Daftar orang

Nama dalam naskah Kedudukan Keterangan
Paulus de Brievings (juga: de Brieving; P. D. Brieving) capitain Komisaris penutup kontrak; penulis daghregister 30 Agt–19 Sept 1699
Samuel Hattingh (juga: Hatting) ondercoopman Komisaris kedua
Salomon Lesage / Salomon le Sage Gubernur & Direktur Maluku Memerintah 1696–1700; pemrakarsa pembaruan kontrak
Wilhelm van Oudshoorn Gubernur Jenderal Disebut sebagai pihak yang diwakili
Robbertus Padtbrugge mantan gubernur Penutup kontrak 10 Januari 1679 yang diperbarui di sini
Pieter Alsteyn / Alsteijn ondercoopman, di tempat lain disebut Secretaris Pada kesepakatan September 1694
Stephanus Thierry / Thierrij ondercoopman Pada kesepakatan 1694
David Haak vaandrig (panji) Pada kesepakatan 1694
Manuel Perera tolcq (juru bahasa) Menandatangani terjemahan ke dalam bahasa Alfur; hanya ada pada redaksi Overgecomen brieven
Henry de Chiese / H. D. Chieze saksi; Sersan Komandan di Manado Pembangun tembok batu benteng, sekitar 1703
Christoffel Doncker / C. Doncker saksi —
Loloda Maccoago mendiang raja Boulang (Bolaang) Dilengserkan rakyatnya sendiri; menyerang Tompasso; wafat tak lama setelah itu
Herman Jansz. Steynkuyler Residen Manado Mencegah serangan balasan ke Mondona

Sembilan belas penanda tangan pihak Minahasa

Nama Gelar/kedudukan dalam naskah Negeri
Soepit hooft-hoecum-majoor — (menurut Rooselaar 1706: Tombariri)
Lonto hooft-hoecum-majoor — (menurut Rooselaar 1706: Tonsea atau Tonsaronson)
Paät hooft-hoecum-majoor — (menurut Rooselaar 1706: Tomohon)
Lolaby hoecum-majoor negeri-negeri bawah —
Lasoet hoecum-majoor negeri-negeri bawah —
Diogo hoecum Clabat-beneden
Saloemanna hoecum Bantik
Marcus Ravoety hoecum Nieuwe Negorye
David Liaha hoecum Manado
Balebancko hoecum Clabat-boven
Beuas hoecum Tonsea
Tamboery capitain Tondano
Sauma hoecum Nimbocco
Masuigy hoecum Kakas
Mangoua capitain Langoebang
Pessick hoecum Tonckiboet-boven
Tikoenceboe hoecum Cascassen
Losou hoecum Datahan
Gohan capitain Poenoefackan

Tiga hal yang layak dicatat. Pertama, gelar tidak seragam. Sebagian besar hoecum (hukum), selain Tondano, Langoebang dan Poenoefackan diwakili seorang capitain. Kedua, tiga nama membawa nama baptis Eropa yaitu Diogo (Klabat di Bawah), Marcus Ravoety (Negeri Baru), dan David Liaha (Manado) sedangkan sisanya tidak.

Ini sejalan dengan gambaran negeri-negeri sekitar benteng sebagai zona kontak agama paling lama, tetapi bukan bukti kapan atau oleh siapa mereka dibaptis. Ketiga, nama Soepit, Lonto, Paät muncul di sini sebagai jabatan yang sedang dipegang pada 1699, bukan sebagai tokoh legendaris.

Daftar Negeri Dan Kewajibannya

Daftar berikut adalah jadwal kerja dan setoran bahan untuk benteng (fortresse), loji (logie), dan bangunan pelengkapnya.

Atap dan penutup

  • Tomon, Tomeririj, Tonsoronson, Cascassen — menyediakan adap (atap, daun palma kering) untuk menutup benteng, loji, dua combuis (dapur), penutup sumur dan jamban, serta memasang atap loji.
  • Langoeban, Clabat-boven — menyediakan kayu dan bambu untuk atap jamban; Nieuwe Negorij (negeri baru) mendirikan dan mengatapinya; orang Manado memagarinya rapat dengan bambu.

Kayu bangunan

  • Tonkinbot-boven, Tonkinbot-omlaag, Tomohon, Tombatsan — pekerjaan kayu untuk rumah sumur.
  • Passan, Datahan, Ponosaccan, Tonsawan — papan sebanyak yang diperlukan benteng dan loji, juga untuk affuyten dan rompaarden (dudukan meriam kapal).
  • Orang Manado (Manaders) — seluruh pekerjaan kayu dan papan yang diperlukan, menyiapkan dan meratakannya.

Pagar keliling (pagger)

  • Tondano, Tonsea, Tonpasso, Romohon, Cacas — mengerahkan pekerja untuk pagar benteng, sekaligus mengerjakannya.
  • Tonkinbot-boven, Tonkinbot-omlaag, Tonbatsan, Langoeban, Romboekan — mengerahkan pekerja untuk pagar sekeliling loji, sekaligus mendirikan dan mengerjakannya.

Kapur, batu, dan pemeliharaan

  • Negeri-negeri atas dan negeri-negeri pantai — seluruh pekerjaan kayu untuk benteng dan loji, kecuali Passan, Datahan, Tonsawan, Ponosaccan, Manado, dan Nieuwe Negorij; juga kapur dan batu. Pembakaran kapur dikerjakan orang Nieuwe Negorij; pengayakan kapur diatur orang Manado.
  • Nieuwe Negorij juga turun tangan bila terjadi kebocoran atau kerusakan angin pada benteng, loji, dapur, dan bangunan lain, serta pada pagar bila roboh diterpa angin keras.

Tugas khusus

  • Ombin, sersan — bersama orangnya, bila kapur habis dan terjadi kebocoran genting di atas loji; membakar arang seperlunya; melengkapi sudut-sudut atap benteng dengan goemoet (ijuk aren) dan bambu. Juga wajib mendirikan orembaijs huis, rumah perahu.
  • Manado — memelihara seorang tukang besi khusus untuk barang-barang kecil, membuat keranjang, mengantar surat, dan mengantar pendeta pada visitasi gereja.
  • Clabat-boven — menyediakan bambu seperlunya, dan mengatapi rumah perahu.
  • Nieuwe Negorij — mengusahakan rotan untuk pengikat loji.
  • Manado dan Nieuwe Negorij bersama — mendirikan sekolah dan memeliharanya.
  • Cascassan, Tomohon, Tomeririj, Tonsoronsan, Tonkinbot-boven dan –beneden, Romohon, Tonbatsan, Tonpasso, Langoeban, Tonsea, Clabat-boven, Clabat-omlaag, dan Bantek — menyerahkan kulit kayu untuk membuat sumbu api (lond).[^19]

Ombin bukan nama negeri

Dalam tata letak Stapel, “Ombin” berdiri di kolom kiri seperti nama negeri, dengan keterangan “Sergeant gehouden…”. Susunan Godée Molsbergen menyelesaikan keraguan itu: di sana terbaca “Ombin, sergt. met sijn volk” dan “Ombin sergt. gehouden het orembaijs huis op te maken” — Ombin, sersan, bersama anak buahnya. Dengan kata lain, hampir pasti nama seorang sersan dengan pasukannya, bukan sebuah negeri. Ia satu-satunya pemikul kewajiban dalam daftar itu yang berupa perorangan.

Apa Yang Bisa Dibaca Dari Daftar Ini

Daftar ini memperlihatkan benteng Amsterdam bukan sebagai bangunan Belanda melainkan sebagai bangunan yang berdiri di atas kerja negeri-negeri Minahasa, dengan pembagian yang rinci dan tetap: negeri pegunungan menyetor kayu dan atap, negeri pesisir tenggara (Passan, Datahan, Ponosaccan, Tonsawan) menyetor papan, negeri di sekitar benteng (Manado dan Negeri Baru) menanggung pemeliharaan harian, kapur, sekolah, dan tugas kecil yang menuntut kehadiran terus-menerus. Kewajiban “mengantar pendeta pada visitasi gereja” menempatkan pelayanan gerejawi dalam kerangka kerja wajib yang sama dengan mengangkut kayu.

Butir sekolah patut digarisbawahi. Pada 1699 pemeliharaan sekolah di Manado sudah menjadi kewajiban kontraktual dua negeri, bukan urusan zending. Ini menyambung dengan keberadaan guru sekolah di Manado seperempat abad sebelumnya.[^20]

Kewajiban pagger juga tidak bertahan lama. Sekitar empat tahun kemudian, atas permintaan penduduk sendiri, pagar keliling benteng diganti tembok batu dan kedua kelompok negeri itu terbebas dari beban tersebut.

Tiga Hukum Kepala Dan Walak Mereka

Kontrak 1699 menyebut Soepit, Lonto, dan Paät tanpa menyebut asal negeri mereka. Tujuh tahun kemudian, Landvoogd Maluku Pieter Rooselaar menutup celah itu. Dalam uraiannya yang ditulis di Kasteel Orange, Ternate, 11 Juni 1706, ia menyebut ketiga hukum kepala itu satu per satu: Soupit dari Tombariri, Lonto dari Tonsea atau Tonsaronson dan Paät dari Tomohon.[^21]

Keterangan ini mengubah bacaan atas daftar kewajiban 1699. Kelompok pertama dalam daftar itu — Tomon, Tomeririj, Tonsoronson, Cascassen — memuat, bila Tomeririj memang bentuk lain dari Tombariri, dua dari tiga walak hukum kepala sekaligus. Walak Paät, Tomohon, ada di kelompok kedua.

Dan di sinilah kemiripan yang sudah lama dicatat menjadi lebih sukar diabaikan bahwa keempat negeri kelompok pertama itu berbunyi mirip dengan empat negeri asal para utusan dalam hikayat yang direkam Riedel pada 1862 — Toumuung, Toun Waririj, Toun Saronsong, dan Kekaskasan.[^22] Tiga nama hukum kepala pada 1699 pun sama dengan tiga dari empat nama utusan dalam hikayat itu.

Yang bisa dan tidak bisa disimpulkan perlu dipisahkan dengan tegas. Bisa, pada 1699 keempat toponim itu berkelompok bersama dalam satu satuan kewajiban pada 1706 dua di antaranya tercatat sebagai walak dua hukum kepala. Belum bisa, bahwa hikayat 1862 merekam peristiwa nyata abad ke-16 atau ke-17. Nama Soepit, Lonto, dan Paät bisa saja nama jabatan atau nama turun-temurun yang berulang dan memang berulang. Soepit masih menjabat pada 1706 dan sesudahnya. Jarak antara kontrak dan hikayat lebih dari satu setengah abad dan jarak itu belum terisi sumber.

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Ilustrasi

    Ketika Pater Spanyol Membawa Mesiu ke Tondano

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Pada 15 Juni 1663, para pembesar Kompeni di Kasteel Batavia mencatat sebuah keluhan yang sekilas tampak sederhana: pasokan beras dari Manado menurun. Sejak keberangkatan Gubernur Cos, tulis mereka, Manado tidak lagi mengirim lebih dari satu muatan padi. Van Aernsbergen, ketika mengutip bagian ini, menambahkan tanggal keberangkatan Cos: 25 Mei 1662. Tanggal tersebut tampil dalam tanda […]

  • Sam Ratulangi, duduk di depan ke-3 dari kiri (Wikipedia)

    Minahasaraad dan Awal Demokrasi Modern di Tanah Minahasa

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Di jantung Kota Manado, tak jauh dari kawasan yang kini dikenal sebagai Zero Point, berdiri sebuah bangunan tua yang pernah menjadi simbol kemajuan politik masyarakat Minahasa pada masa kolonial. Bangunan itu adalah Gedung Minahasaraad, rumah bagi Dewan Minahasa yang sejak awal abad ke-20 menjadi wadah representasi rakyat dalam memperjuangkan kepentingan daerahnya. Jauh sebelum Indonesia merdeka, […]

  • Kantor Pos Manado 1910

    Kantor Pos Manado 1910

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Foto kantor pos di Manado tahun 1910, Postkantoor te Menado, Noord-Celebes Sumber: http://hdl.handle.net/1887.1/item:803276  

  • Sejarah Panjang Tomohon: Dari Pemukiman Walak Hingga Kota Bunga Otonom

    Sejarah Panjang Tomohon: Dari Pemukiman Walak Hingga Kota Bunga Otonom

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • visibility 351
    • 0Komentar

    Di dataran tinggi Minahasa, diapit lanskap vulkanik yang subur dan udara sejuk pegunungan, Tomohon menjelma sebagai salah satu simpul penting dalam sejarah sosial, pendidikan, dan administrasi di Sulawesi Utara. Kota yang kini dijuluki “Kota Bunga” ini tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang dari komunitas agraris berbasis walak, intervensi misi Eropa, hingga menjadi kota […]

  • Waruga Dotu Lolong-lasut di Manado

    Ketika Wenang Menjadi Manado: Awal Kota Kolonial di Tanah Minahasa

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Di pesisir utara Sulawesi, sejarah Manado tidak bermula begitu saja sebagai sebuah kota kolonial Belanda. Jauh sebelum VOC membangun benteng dan menjadikan kawasan itu pusat administrasi, pesisir yang kini menjadi jantung Kota Manado telah menjadi ruang hidup masyarakat lokal, tempat berlangsungnya hubungan antara permukiman Minahasa, perdagangan antarpulau, dan jaringan maritim yang menghubungkan Sulawesi Utara dengan […]

  • Wisata God Bless Minahasa

    Wisata God Bless Minahasa, Ikon Baru wisata di Sulawesi Utara

    • calendar_month Kamis, 10 Jul 2025
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Destinasi Baru yang Menarik di Minahasa   Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara secara resmi membuka Taman Wisata God Bless Minahasa pada 19 Maret 2024 melalui acara soft-opening yang dipimpin langsung oleh Gubernur. Pemerintah menempatkan taman ini di Lapangan Dr. Sam Ratulangi, Tondano, sebagai bagian dari proyek revitalisasi kawasan Danau Tondano. Oleh karena itu, taman ini tidak […]

expand_less