Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel Sejarah » Sejarah Embrio Jemaat Kristen di Bahu: Dari Kawasan Persinggahan hingga Tumbuhnya Persekutuan Iman

Sejarah Embrio Jemaat Kristen di Bahu: Dari Kawasan Persinggahan hingga Tumbuhnya Persekutuan Iman

  • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
  • visibility 94
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kawasan Bahu di Manado, Sulawesi Utara, menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah, khususnya dalam perkembangan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakatnya.

Sebelum dikenal sebagai bagian dari wilayah perkotaan Manado seperti saat ini, Bahu pada mulanya merupakan daerah pinggiran yang didominasi hutan kecil dan menjadi tempat persinggahan bagi masyarakat Minahasa yang melakukan perjalanan dari pedalaman menuju kota.

Hingga awal abad ke-20, Bahu belum termasuk wilayah administratif Kota Manado. Kawasan ini masih menjadi bagian dari wilayah Malalayang dan dikenal sebagai daerah peristirahatan di sepanjang pesisir Teluk Manado. Seiring waktu, keberadaan para pendatang yang mulai menetap menjadikan Bahu berkembang menjadi sebuah kampung tersendiri, meskipun secara administratif baru kemudian dipisahkan.

Nama “Bahu” sendiri memiliki akar yang erat dengan kondisi alam setempat. Penamaan ini diambil dari jenis pohon bakau yang dahulu banyak tumbuh di sepanjang pesisir pantai Bahu. Dalam bahasa Tountemboan, pohon tersebut dikenal sebagai kalimbowan, yang memiliki bunga kuning menyerupai kembang sepatu. Masyarakat setempat kemudian menyebutnya sebagai pohon Bahu. Kini, keberadaan pohon tersebut sudah semakin jarang ditemukan, namun namanya tetap melekat sebagai identitas wilayah.

Selain itu, terdapat pula pandangan lain yang menyebut bahwa nama Bahu mencerminkan semangat persatuan dan gotong royong masyarakat yang mendiami kawasan tersebut sejak awal. Hal ini menunjukkan bahwa selain faktor alam, nilai sosial juga turut membentuk identitas lokal Bahu.

Secara geografis, Kelurahan Bahu terletak di bagian barat daya Kota Manado, membentang sepanjang pesisir Teluk Manado. Di sebelah utara berbatasan dengan laut dan Kelurahan Sario Tumpaan yang kini berkembang pesat dengan berbagai pembangunan, termasuk kawasan perbelanjaan modern.

Di sisi timur, wilayah ini berbatasan dengan Kampus Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) dan Kelurahan Kleak. Sementara di bagian selatan, Bahu berbatasan dengan Kelurahan Malalayang Timur dan Batu Kota.

Di tengah perkembangan wilayah tersebut, kehidupan keagamaan masyarakat Bahu, khususnya umat Kristen, memiliki perjalanan yang tidak sepenuhnya terdokumentasi secara rinci pada masa awal. Tidak ditemukan catatan tertulis yang menjelaskan secara pasti bagaimana bentuk ibadah pertama jemaat Kristen di Bahu sebelum tahun 1927.

Namun, berdasarkan penelusuran sejarah, masyarakat yang mendiami kawasan ini berasal dari suku Tombulu dan Tountemboan, yang sebagian besar telah memeluk agama Kristen, meskipun ada pula yang masih berada dalam kepercayaan tradisional.

Sebelum Bahu berdiri sebagai kampung tersendiri, aktivitas pelayanan keagamaan terpusat di Malalayang. Masyarakat Bahu mengikuti ibadah di wilayah tersebut, baik dalam bentuk persekutuan umum maupun ibadah keluarga.

Pelayanan rohani saat itu ditangani oleh para pelayan gereja, termasuk penolong jemaat dan guru Injil yang berasal dari Malalayang.

Salah satu tokoh yang dikenal dalam pelayanan awal di Bahu adalah Penolong Rombang. Ia tinggal di Malalayang, namun aktif melayani kebutuhan rohani masyarakat Bahu, terutama sebelum adanya rumah ibadah permanen dan guru jemaat yang menetap di wilayah tersebut.

Perkembangan signifikan terjadi pada akhir tahun 1927, ketika Bahu secara resmi dipisahkan dari Malalayang secara administratif. Keputusan ini disetujui oleh Hukum Tua Malalayang serta pejabat Onder Distrik Manado Khusus Luar Kota saat itu. Meski demikian, dalam hal kepolisian, Bahu masih berada dalam wilayah Malalayang.

Pemisahan administratif tersebut membawa dampak langsung terhadap kehidupan keagamaan masyarakat.

Jemaat Kristen di Bahu mulai merasakan kebutuhan mendesak untuk memiliki tempat ibadah sendiri serta pelayanan rohani yang lebih mandiri. Berdasarkan data sensus saat itu, terdapat sekitar 46 kepala keluarga dengan total 138 jiwa yang mendiami kampung tersebut.

Sebelum berdirinya rumah ibadah pertama atau kanizah pada tahun 1927, kegiatan ibadah sebenarnya telah berlangsung secara aktif. Masyarakat mengadakan persekutuan dalam lingkup keluarga maupun kelompok kecil antar tetangga. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan iman telah tumbuh dan berkembang meskipun belum didukung fasilitas yang memadai.

Pembangunan kanizah pertama yang berlokasi di tanah milik keluarga Mundung menjadi tonggak penting dalam sejarah jemaat Kristen di Bahu. Kehadiran rumah ibadah tersebut menandai awal terbentuknya persekutuan yang lebih terorganisir dan mandiri.

Memasuki periode berikutnya, pelayanan jemaat semakin terstruktur dengan hadirnya guru jemaat pertama, Jan Senduk, yang melayani pada tahun 1928 hingga 1931. Kehadirannya menjadi bagian penting dalam memperkuat fondasi kehidupan rohani masyarakat Bahu yang terus berkembang.

Sejarah embrio jemaat Kristen di Bahu mencerminkan perjalanan panjang sebuah komunitas dalam membangun identitasnya dari kawasan persinggahan sederhana hingga menjadi bagian integral dari perkembangan Kota Manado.

Lebih dari sekadar catatan sejarah, kisah ini juga menggambarkan kuatnya semangat kebersamaan, iman, dan gotong royong yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Bahu hingga kini.

Penulis John Damongilala referensi Ivan RB Kaunang

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Ibu Dora Marie Sigar (inilah.com)

    Dora Sigar: Ketika Perempuan Minahasa Menjadi Pilar Keluarga Besar Republik

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Di balik perjalanan panjang keluarga Djojohadikusumo yang melahirkan ekonom besar hingga Presiden Republik Indonesia terdapat sosok perempuan yang jarang tampil di garis depan sejarah, namun memainkan peran penting dalam menjaga ketahanan keluarga di tengah pergolakan politik dan pengasingan. Sosok itu adalah Dora Marie Sigar, perempuan berdarah Minahasa-Eropa yang dikenal luas sebagai pendamping setia Prof. Soemitro […]

  • Salomon Manoppo digiring ke kapal untuk dibuang ke Afrika (ilustrasi)

    Salomon Manoppo dan Amarah VOC di Perbatasan Minahasa

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • visibility 180
    • 0Komentar

    Dalam sejarah kolonial di jazirah utara Sulawesi, hubungan antara penguasa lokal dan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) tidak pernah benar-benar berjalan damai. Di balik perjanjian dagang dan kontrak politik, tersimpan ketegangan panjang mengenai kekuasaan, tenaga kerja, dan kendali wilayah. Salah satu episode paling dramatis dari konflik tersebut adalah pengasingan Raja Salomon Manoppo pada pertengahan abad ke-18 […]

  • Sejarah Pendidikan Minahasa 1826–1869

    Sejarah Pendidikan Minahasa 1826–1869

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Pekerjaan Nederlandsch Zendelinggenootschap di Minahasa mengalami perkembangan sejak kedatangan zendeling Hellendoorn. Craandijk mencatat bahwa pada 1826 Hellendoorn datang ke Minahasa. Ia berkeliling dari satu distrik ke distrik lain dan dari satu negeri ke negeri lain, bahkan perjalanan kerjanya mencapai Kep. Sangihe dan Gorontalo. Karena melihat kemungkinan perkembangan pekerjaan zending di Minahasa, Hellendoorn terus mendesak agar […]

  • Pantai Mangatasik

    Pantai Mangatasik, Surga Pantai dan Spot Selam di Minahasa

    • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
    • visibility 31
    • 0Komentar

    Lokasi Strategis dan Akses Mudah   Pantai Mangatasik terletak di Desa Tanawangko, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Jaraknya sekitar 30 km dari pusat Kota Manado, dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit menggunakan kendaraan pribadi. Karena berada di dekat jalan utama, pengunjung bisa dengan mudah menjangkaunya kapan saja, baik pagi maupun sore hari. […]

  • Penandatanganan Verbond II pada 10 September 1699 (Ilustrasi)

    Verbond Minahasa–VOC: Diplomasi yang Berujung Dominasi

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Sejarah kolonial di Nusantara sering dibayangkan sebagai kisah penaklukan bersenjata: benteng dibangun, perlawanan dipatahkan, wilayah dikuasai. Namun, pengalaman masyarakat Minahasa menunjukkan jalur yang berbeda. Di wilayah ini, kolonialisme tidak datang dengan meriam, melainkan dengan perjanjian. Hubungan awal antara masyarakat Minahasa dan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dibangun melalui diplomasi. Serangkaian kesepakatan yang dikenal sebagai Verbond menjadi […]

  • Jejak Kolonial dalam Semangkuk Tinutuan: Sejarah Bubur Manado dari Masa Paceklik hingga Menjadi Warisan Budaya

    Jejak Kolonial dalam Semangkuk Tinutuan: Sejarah Bubur Manado dari Masa Paceklik hingga Menjadi Warisan Budaya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Tinutuan yang lebih dikenal luas sebagai Bubur Manado bukan sekadar menu sarapan khas dari Manado, Sulawesi Utara. Di balik tampilannya yang sederhana, hidangan ini menyimpan jejak panjang sejarah sosial-ekonomi masyarakat Minahasa, mulai dari masa kolonial hingga pergolakan pasca-kemerdekaan.   Lahir dari Krisis: Dari Tanam Paksa hingga Permesta   Sejarah Tinutuan tidak dapat dilepaskan dari situasi […]

expand_less