Vaksinasi dan Berakhirnya Epidemi Cacar di Minahasa pada Awal Abad ke-20
- calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
- visibility 78
- comment 0 komentar
- print Cetak

Het Koningin Wilhelmina Ziekenhuis (KWZ 'Rumah Sakit Ratu Wilhelmina') Manado, tahun 1936 'puncak Gunung Wenang' - Tropenmuseum
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
A. C. N. Bouvy adalah seorang dokter yang bertugas di Minahasa pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Dalam tulisan De Minahassa en de Geneeskunst, yang diterbitkan pada 1924, ia memperkenalkan dirinya sebagai A. C. N. Bouvy, Arts, Off. v. Gez. le kl. O. I. L. Dalam pendahuluannya, Bouvy menjelaskan bahwa ia telah bekerja selama empat tahun sebagai geneesheer (dokter) di Minahasa. Berdasarkan pengalaman tersebut, ia berusaha menggambarkan apa yang telah dilakukan dan apa yang menurutnya masih perlu dilakukan bagi kesehatan penduduk Minahasa. Tulisan itu sekaligus menjadi catatan seorang dokter mengenai pelayanan kesehatan, vaksinasi, penyakit menular, dan kondisi kesehatan masyarakat Minahasa pada awal abad ke-20. [1]
Kondisi vaksinasi sebelum 1908
Dalam uraian mengenai sejarah pelayanan kesehatan, Bouvy menempatkan vaksinasi sebagai salah satu perkembangan penting dalam pemberantasan cacar atau pokken di Minahasa. Ia mencatat bahwa pada awal abad ke-20 masih terdapat 12 Dokters-djawa yang bekerja di Minahasa. Sebelum 1908, vaksinasi masih banyak dilakukan dengan cara dari manusia ke manusia. Perubahan penting terjadi pada 1908, ketika vaksinasi menggunakan animal vaccine mulai diperkenalkan dan pekerjaan para vaccinateurs — petugas vaksinasi diatur dengan lebih baik dan sistematis. Menurut Bouvy, perubahan dalam metode vaksinasi dan pengorganisasian tersebut menjadi titik penting dalam pengendalian penyakit cacar. [2]
Perubahan sistem vaksinasi pada 1908
Bouvy kemudian memberikan gambaran mengenai keadaan sebelum perubahan tersebut. Menurut catatannya, sebelum 1908 setiap tahun terjadi epidemi cacar di Minahasa. Pada masa itu jumlah penderita dalam satu tahun dapat mencapai 20 hingga 200 kasus atau lebih. Namun, setelah vaksinasi penduduk dilakukan secara sistematis, keadaan berubah. Bouvy menulis bahwa setelah 1910 epidemi tahunan tersebut telah berakhir. Ia secara khusus mencatat bahwa pada 1911 tidak ditemukan satu pun kasus cacar, dan keadaan tersebut terus berlangsung sampai 1916. Dengan demikian, dalam catatan Bouvy, vaksinasi sistematis menjadi faktor utama yang berkaitan dengan berhentinya pola epidemi cacar tahunan di Minahasa. [3]
Meskipun demikian, Bouvy tidak menggambarkan keadaan setelah 1910 sebagai bebas sepenuhnya dari cacar. Ia mengingat sebuah epidemi kecil pada 1916 yang hanya terbatas pada satu kampung. Ketika wabah tersebut muncul, tindakan yang dilakukan sangat cepat. Dalam beberapa hari, menurut Bouvy, sekitar 10.000 orang divaksinasi ulang. Ia menggambarkan tindakan tersebut secara metaforis sebagai usaha mengelilingi sumber wabah dengan sebuah “dinding” orang-orang yang baru divaksinasi. Hasilnya, hanya satu kasus yang ditemukan di luar wilayah tersebut, beberapa mil jauhnya, di tengah hutan, pada seorang lelaki tua yang menurut Bouvy tidak pernah divaksinasi. [4]
Epidemi cacar tahunan sebelum 1910
Bagi Bouvy, pengalaman epidemi 1916 tersebut memperlihatkan pentingnya vaksinasi dalam menghadapi penyebaran cacar. Ia bahkan menyinggung bahwa penentang vaksinasi relatif sulit ditemukan di Hindia, khususnya di daerah-daerah luar Jawa, karena masyarakat di sana masih mengenal penyakit cacar secara langsung. Ia membandingkannya dengan Belanda, tempat penyakit tersebut secara praktis sudah tidak dikenal oleh masyarakat. Bouvy juga mencatat bahwa penggunaan vaksinasi dengan koepokstof atau vaksin cacar sapi berlangsung secara bertahap. Menurutnya, baru pada September 1910 seluruh Minahasa menggunakan koepokstof secara eksklusif. [5]
Perbandingan Minahasa dan Bolaang-Mongondow tahun 1909
Bouvy memberikan sebuah perbandingan angka yang menurutnya sangat menunjukkan perbedaan hasil vaksinasi. Ia mencatat bahwa dalam sebuah epidemi pada 1909, Minahasa mengalami 144 kasus cacar. Pada waktu yang sama, wilayah yang berdekatan, Bolaang-Mongondow, yang menurut Bouvy memiliki tingkat vaksinasi yang buruk, mengalami sekitar 7.800 kasus. Setelah melihat laporan-laporan dari tahun-tahun tersebut, Bouvy menyatakan bahwa data tersebut menjadi pukulan terhadap prasangka terhadap vaksinasi. Dalam kerangka penilaiannya, perbedaan jumlah kasus antara kedua wilayah tersebut memperlihatkan hubungan yang sangat kuat antara vaksinasi dan pengendalian cacar. [6]
Bouvy kemudian menyampaikan kesimpulannya dengan sangat tegas. Ia menulis bahwa ribuan nyawa telah terselamatkan di Minahasa setelah 1910 dan bahwa hal tersebut, menurutnya, dapat dipahami oleh siapa pun yang mau melihat data tersebut. Ia juga mengacu pada pengalamannya sendiri setelah melakukan puluhan ribu vaksinasi. Dalam pengalamannya, ia mengatakan tidak pernah melihat satu kematian yang menurutnya dapat disebabkan oleh vaksinasi. Ia memang mencatat adanya reaksi keras atau ruam pada beberapa kesempatan. Namun, bagi Bouvy, kemungkinan terjadinya efek samping tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak tindakan yang menurutnya telah membawa manfaat besar bagi kesehatan masyarakat. [7]
Penilaian Bouvy terhadap keberhasilan vaksinasi dan peran vaccinateurs
Dalam bagian lain artikelnya, Bouvy kembali menegaskan keberhasilan pekerjaan para vaccinateurs di Minahasa. Ia menyebut mereka sebagai bagian yang sangat memadai dari pelayanan kesehatan yang tersedia. Bahkan, menurutnya, jumlah mereka secara teoritis dapat dikurangi karena setiap wilayah kerja tidak terlalu luas. Namun, ia menilai pengurangan jumlah petugas bukan pilihan yang bijaksana karena gaji mereka memang kecil dan biaya vaksinasi sangat rendah. Dalam penilaiannya, penyakit cacar yang sebelumnya secara teratur muncul dalam epidemi tahunan telah berakhir. Setiap vaccinateur memiliki wilayah kerja tertentu dan diwajibkan melakukan sejumlah perjalanan keliling. Setiap vaksinasi dicatat dalam buku harian, yang kemudian berada di bawah pengawasan opziener der vaccine, yaitu petugas pengawas vaksinasi yang merupakan Officier van Gezondheid. [8]
Bagi Bouvy, keberhasilan vaksinasi juga menjadi bagian dari gagasannya yang lebih luas mengenai kesehatan masyarakat Minahasa. Ia menganggap pemberantasan penyakit menular harus menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan, bahkan ia menempatkan perbaikan keadaan higienis dan perawatan tubuh yang sakit sebagai sesuatu yang harus dilakukan sebelum atau bersamaan dengan upaya pendidikan dan pembinaan masyarakat. Dalam konteks cacar, pengalaman vaksinasi menjadi contoh konkret bahwa penyakit yang sebelumnya muncul sebagai epidemi tahunan dapat dikendalikan melalui tindakan kesehatan yang terorganisasi. Karena itu, dalam tulisan Bouvy, vaksinasi bukan hanya tindakan medis terhadap individu, tetapi juga merupakan pekerjaan kesehatan masyarakat yang membutuhkan petugas, wilayah kerja, pencatatan, pengawasan, dan pelaksanaan secara sistematis. [9]
Vaksinasi dan berakhirnya epidemi cacar di Minahasa
Catatan Bouvy mengenai cacar di Minahasa pada awal abad ke-20 dengan demikian memperlihatkan sebuah perubahan yang berlangsung bertahap. Sebelum 1908, vaksinasi masih banyak dilakukan dari manusia ke manusia dan epidemi cacar muncul setiap tahun. Mulai 1908, penggunaan animal vaccine diperkenalkan dan pekerjaan vaksinasi diatur secara lebih sistematis. Pada September 1910, menurut Bouvy, seluruh Minahasa telah menggunakan koepokstof, dan sejak 1911 tidak lagi ditemukan kasus cacar sampai kemudian muncul epidemi kecil pada 1916 di satu kampung. Ketika wabah lokal itu muncul, sekitar 10.000 orang divaksinasi ulang dalam beberapa hari. Bagi Bouvy, rangkaian pengalaman tersebut merupakan bukti keberhasilan vaksinasi dalam mengakhiri pola epidemi cacar tahunan di Minahasa. [10]
Catatan Kaki
[1] A. C. N. Bouvy, “Uit en over de Minahasa. I. De Minahassa en de Geneeskunst,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 80 (1924), hlm. 364–365.
[2] Bouvy, “De Minahassa en de Geneeskunst,” hlm. 366.
[3] Ibid., hlm. 366.
[4] Ibid., hlm. 366.
[5] Ibid., hlm. 366.
[6] Ibid., hlm. 366–367.
[7] Ibid., hlm. 367.
[8] Ibid., hlm. 373–374.
[9] Ibid., hlm. 372–374.
[10] Ibid., hlm. 366–367, 373–374.
- Penulis: Engel Yong
