Hessel Rooker dan Pelayanannya di Minahasa: Lima Puluh Tahun di Tondano
- calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
- visibility 56
- comment 0 komentar
- print Cetak

Hessel Rooker
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hessel Rooker lahir pada 27 Februari 1830 di Bovenkarspel, Noord-Holland. Ayahnya bernama Jan Rooker dan ibunya Antje Mooi, keduanya berasal dari kalangan petani berada. Ketika berusia hampir tiga tahun, Hessel kehilangan ayahnya, dan empat tahun kemudian ibunya meninggal. Pada usia tujuh tahun ia menjadi yatim dan kemudian ditempatkan di Weeshuis van de Hervormde gemeente te Grootebroek. Selama sepuluh tahun, dari 1837 sampai 1847, ia menerima perawatan, pendidikan, dan pengajaran di sana. Ia memperoleh pendidikan sekolah desa dari meester Bruinier dan pendidikan agama dari pendeta M. M. Rappardus. Meskipun semula diarahkan untuk menjadi petani, Rooker justru ingin terus belajar dan pergi ke Oost-Indië. Pada akhirnya ia diterima di Zendelinghuis te Rotterdam, tempat ia mempersiapkan diri menjadi zendeling. Selama enam tahun, 1847–1853, ia belajar bahasa, sejarah, geografi, bahasa Melayu, teologi, musik dan nyanyian. Pada 9 Juni 1853 ia menjalani ujian dan ditahbiskan sebagai Evangeliedienaar onder de heidenen.¹
Dari Boelekomba ke Tondano: Awal Perjalanan Pelayanan
Rooker kemudian berangkat ke Oost-Indië dan pada awalnya ditempatkan di Boelekomba, Zuid-Celebes. Di sana ia menemukan bahwa sejumlah keluarga Belanda yang ditemuinya tidak lagi memahami bahasa Belanda, sehingga ia harus menggunakan bahasa Melayu dalam katekisasi dan ibadah. Sambil melayani, ia belajar berbicara Melayu dan menggunakannya untuk memberikan pelajaran membaca, menulis, dan berhitung. Namun, setelah beberapa bulan, datang surat dari Rotterdam yang memberitahukan bahwa ia ditunjuk sebagai pengganti mendiang Nooy di Tondano, Minahassa. Ia kemudian berangkat menuju Menado dan dari sana melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda menuju Tondano.²
Meneruskan Pelayanan Riedel di Tondano
Di Tondano, Rooker diterima oleh masyarakat Tondano (dalam bahasa buku ditulis masyarakat Alfoersch) dan bertemu dengan zendeling Johann Friedrich Riedel yang saat itu sudah lanjut usia dan kesehatannya menurun. Setelah dokumen pengangkatannya selesai, Rooker secara resmi memasuki pekerjaannya pada November 1854 sebagai zendeling-leeraar. Ketika pengangkatannya berlangsung, jemaat menyanyikan sebuah lagu gerejawi yang dalam buku nyanyian Melayu disebut Tahlil 104, ajat 5. Moorrees menggambarkan keadaan Tondano saat itu sebagai sebuah jemaat yang telah lebih dahulu dibentuk oleh kerja Riedel selama 22 tahun. Dengan demikian, Rooker tidak memulai pekerjaannya dari keadaan tanpa dasar, melainkan melanjutkan pekerjaan yang telah dibangun sebelumnya.³
Bahasa Melayu, Sekolah, dan Pendidikan
Salah satu ciri penting pelayanan Rooker adalah penggunaan bahasa Melayu. Moorrees secara jelas menyebut bahwa pada masa itu bahasa Melayu dianggap cukup untuk pemberitaan Injil. Rooker tidak terlebih dahulu mempelajari bahasa penduduk setempat (Alfoersch) untuk digunakan sebagai bahasa utama pemberitaannya. Ia tetap menggunakan bahasa Melayu dan, menurut Moorrees, mempertahankannya sampai akhir pelayanannya. Pada hari Minggu setelah mulai bekerja, Rooker berkhotbah dalam bahasa Melayu. Pada pertemuan sore, terutama perempuan datang dan meminta agar orang-orang yang paling cepat dan paling cakap di antara mereka menerjemahkan atau menjelaskan kembali khotbah Melayu itu ke dalam bahasa penduduk setempat (Alfoersch). Rooker menyambut hal tersebut karena ia sendiri ingin semakin mengenal bahasa penduduk setempat.⁴
Pelayanan Rooker tidak hanya berlangsung di gereja Tondano. Ia juga memperhatikan sekolah-sekolah di berbagai negeri. Moorrees mencatat bahwa di sebagian besar negerijen terdapat sekolah yang didirikan oleh Zendelinggenootschap dan dipimpin oleh inlandsche schoolmeesters atau goeroes. Rooker memperhatikan kemajuan para murid dan meneliti bagaimana para guru menjalankan kewajibannya. Ia mengundang para guru ke rumahnya untuk bersama-sama membaca terjemahan Alkitab dalam bahasa Melayu serta memperkenalkan mereka lebih jauh kepada pengetahuan sejarah Alkitab. Dengan demikian, guru sekolah menjadi bagian penting dalam jaringan pelayanan yang berada di sekitar Rooker.⁵
Para guru tersebut pada awalnya bukan orang yang secara ilmiah dipersiapkan untuk menjadi pengajar. Mereka adalah orang-orang muda yang sedikit lebih menonjol daripada yang lain dan menunjukkan kemajuan yang baik. Mereka dipilih untuk mendapatkan pendidikan di sekolah yang dibiayai oleh Zendelinggenootschap. Pelajaran yang diberikan meliputi membaca, menulis, berhitung, sejarah Alkitab, serta menyanyikan lagu-lagu keagamaan. Semuanya diajarkan dalam bahasa Melayu, bukan bahasa penduduk setempat (dalam bahasa buku di tulis ‘bukan bahasa Alfoersch’). Guru atau goeroe yang setiap hari mengajar di sekolah kemudian juga diberi tugas pada hari Minggu dalam kehidupan keagamaan jemaat.⁶
Goeroes dan Penoelongs: Membentuk Pelayan Lokal
Dari lingkungan sekolah itu kemudian berkembang peranan penoelongs, atau para pembantu zendeling. Moorrees menjelaskan bahwa kebutuhan akan pemimpin yang lebih berkembang semakin besar. Selain goeroes, diangkatlah penoelongs, yakni pemuda yang telah dilatih menyusun dan menyampaikan uraian yang bersumber dari kata-kata dan kisah-kisah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mereka mendapat pengajaran langsung dari para zendeling dan dipersiapkan melalui latihan di rumah para zendeling. Setelah diangkat, mereka dapat memberikan pengajaran agama, memimpin ibadah, memberkati perkawinan, mengunjungi orang sakit dan berdoa bersama orang yang sedang menghadapi kematian. Namun, pelayanan baptisan dan Perjamuan Kudus tetap menjadi tugas zendeling.⁷
Rooker juga secara teratur melakukan perjalanan ke buitengemeenten. Pada Oktober 1855 ia mulai mengunjungi negeri-negeri di luar Tondano. Moorrees mencatat dua belas negeri di seberang Pegunungan Lembean, yaitu Kombie, Sawanggang, Kalongan, Rèrer, Makalisang, Kinabasang, Ranawangko, Lalóempei, Toelap, Kajoeroja, Kapataran dan Benkol. Selain itu terdapat lima negeri di sekitar danau, yakni Telop, Watoemea, Eris, Tandangan dan Toelian. Perjalanan tersebut kemudian dilakukan dua kali setahun dan masing-masing berlangsung lima minggu. Dalam perjalanan itu Rooker didampingi goeroes atau penoelongs.⁸
Pelayanan ke Gemeenten di Sekitar Tondano
Dalam perjalanan pelayanan tersebut, pendidikan agama kepada anak-anak dan pemuda menjadi bagian penting. Karena penduduk di sejumlah negeri luar kurang memahami bahasa Melayu, Rooker menggunakan para goeroes sebagai penerjemah. Para guru desa itu sebelumnya mengajarkan bahasa Melayu kepada kaum muda di sekolah. Dengan bantuan mereka, Rooker memberikan pengajaran agama kepada para murid dengan menggunakan buku Melayu Veertig vragen aangaande de Christelijke leer. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dihafalkan oleh murid, tetapi Rooker tidak berhenti pada hafalan. Ia memeriksa apakah setiap murid memahami pertanyaan dan jawabannya, kemudian menggunakan Alkitab Melayu terjemahan Klinkert untuk menjelaskan isi pelajaran tersebut.⁹
Pelayanan Rooker juga tampak dalam pembangunan kehidupan gereja di Tondano. Gereja kayu yang digunakan pada masa Riedel telah rusak akibat gempa bumi pada 1845. Setelah berbagai usaha pembangunan mengalami hambatan, pada 1864 masyarakat memutuskan untuk membangun rumah ibadah dengan kekuatan sendiri. Masyarakat dari kampung-kampung yang termasuk wilayah Tondano ikut memberikan uang maupun tenaga. Kayu ditebang di hutan, dibawa ke Tondano dan dikerjakan dengan tenaga masyarakat. Perempuan juga ikut membantu. Pembangunan berlangsung bertahun-tahun dan pada 1875 bangunan tersebut telah memiliki atap dari 12.000 lembar atap. Rooker kemudian menetapkan agar pembangunan diselesaikan dan pada akhirnya gereja baru Tondano selesai serta diresmikan pada 2 November 1884. Bangunan itu berukuran 22 meter lebar, 30 meter panjang dan 6½ meter tinggi, seluruhnya terbuat dari kayu, dengan 1.550 tempat duduk.¹⁰
Hubungan Rooker dengan masyarakat Minahasa juga berkembang melalui pelayanan para goeroes, penoelongs, dan perempuan jemaat. Moorrees mencatat bahwa para perempuan Minahasa membentuk Vrouwen-vereeniging untuk pembelajaran dan penguatan bersama. Mereka berkumpul pada Minggu sore untuk membicarakan khotbah pagi. Mereka berbicara satu sama lain dalam bahasa Alfoersch, sedangkan kutipan-kutipan Alkitab digunakan dalam bahasa Melayu karena terjemahan Alkitab Melayu itulah yang mereka kenal dan juga digunakan oleh para hulppredikers dalam pengajaran. Dalam kehidupan gereja, perempuan juga disebut berani berbicara dan bahkan memimpin doa.¹¹
Pembangunan Gereja dan Kehidupan Jemaat Tondano
Pada 31 Oktober 1879, genap 25 tahun sejak Rooker memulai pekerjaannya. Ia sebenarnya ragu untuk merayakannya, tetapi akhirnya mengikuti keinginan istri dan anak-anaknya karena berharap perayaan itu dapat semakin mendekatkan dirinya dengan jemaat. Lima tahun kemudian, pada 2 November 1884, ia menyaksikan peresmian gereja baru Tondano. Pada masa itu ia telah tiga puluh tahun bekerja. Dalam gereja yang penuh sesak, Rooker menyampaikan sejarah pembangunan gereja, berterima kasih kepada jemaat atas kerja sama mereka, dan berbicara mengenai Injil yang diberitakan kepada semua bangsa.¹²
Pada tahun 1904, menurut Moorrees, Tondano memiliki 10.000 penduduk dan bersama buitengemeenten berjumlah 25.000. Seluruh wilayah pelayanan itu memiliki 30 jemaat mandiri dengan gereja, sekolah, goeroes dan penoelongs. Kunjungan Rooker ke jemaat-jemaat tersebut mencakup pemeriksaan sekolah, baptisan anak-anak, pengujian para katekumen, penerimaan anggota jemaat, serta pelayanan Perjamuan Kudus. Dua hari di setiap jemaat dianggap cukup untuk seluruh pekerjaan tersebut, sehingga ia harus menyediakan dua kali tiga puluh hari untuk mengunjungi buitengemeenten.¹³
Lima Puluh Tahun Pelayanan dan Perpisahan dengan Minahasa
Pada perjalanan terakhirnya, Rooker melihat kembali masyarakat dan jemaat yang telah dilayaninya selama puluhan tahun. Gereja dan sekolah dihias, anak-anak sekolah menyanyikan lagu, sementara para penoelongs menyampaikan pidato dalam bahasa Melayu. Ia memikirkan masa depan masyarakat Minahasa: apakah penoelongs kelak akan menggunakan bahasa penduduk setempat (Alfoersch) sebagai bahasa rakyat dalam khotbah, apakah Alkitab akan diterjemahkan ke dalam bahasa rakyat, apakah goeroes akan meningkatkan pendidikan di sekolah dan mengembangkan kaum muda, serta apakah perempuan Tondano akan memperoleh tugas penting pada masa mendatang. Beberapa minggu kemudian, pada 5 April 1905, Rooker dibebastugaskan dengan hormat dari pekerjaannya di Minahasa.¹⁴
Rooker kemudian kembali ke Nederland. Moorrees menyebut bahwa ia telah bekerja di Indië selama lima puluh tahun. Setelah berada di Nederland, ia tetap memikirkan Tondano dan jemaat-jemaat penduduk setempat (Alfoeren). Surat-surat dari Tondano membuatnya gembira, dan ia masih menulis surat dalam bahasa Melayu kepada mereka. Dalam kenangan Moorrees, setengah abad pelayanannya di Tondano berarti bahwa ia berkhotbah, membaca Alkitab, berdoa, mengucap syukur dan bernyanyi dalam bahasa Melayu bersama warga Minahasa (Alfoeren). Hessel Rooker meninggal pada Desember 1915 dan dimakamkan di Renkum pada 9 Desember 1915.¹⁵
- Penulis: Engel Yong
