Darah dan Upeti: Perlawanan Minahasa terhadap Ekspansi Kesultanan Ternate
- calendar_month Senin, 22 Jun 2026
- visibility 215
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sultan Sibori menyerang pemukiman Tombulu 1675 di pesisir Wenang (ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada abad ke-16 hingga ke-17, kawasan utara Sulawesi berada dalam pusaran perebutan pengaruh antara kerajaan-kerajaan lokal, Kesultanan Ternate, dan kekuatan-kekuatan Eropa yang berdatangan.
Ternate memang tampil sebagai kekuatan maritim paling berpengaruh di Maluku. Namun sejarawan David Henley, yang secara khusus mengkaji hubungan Ternate dengan Sulawesi Utara, menyimpulkan sesuatu yang berbeda dari citra “imperium” itu: kendali Ternate di kawasan ini tidak pernah lebih dari sekadar tambal sulam dan terputus-putus.[^1]
Alasannya satu kata: persaingan.
Bukan Cengkih, Melainkan Beras dan Emas
Kekuatan Ternate memang bertumpu pada cengkih. Tetapi Sulawesi Utara sendiri, sampai pertengahan abad ke-17, tidak menghasilkan rempah mahal itu.[^1]
Yang mengalir dari utara Sulawesi ke Ternate adalah emas, cendana, sisik penyu,persaingan ditukar dengan kain India dan, belakangan, senjata api. Sejak awal abad ke-17, beras Minahasa menjadi komoditas yang paling diperebutkan, karena garnisun Belanda maupun Spanyol di Maluku sama-sama kesulitan memperoleh pangan.
Justru di sinilah letak kerapuhan kekuasaan Ternate. Selama hanya ada satu sumber barang impor, hubungan upeti berjalan mulus. Begitu Portugis, Spanyol, VOC, dan Makassar sama-sama menawarkan kain dan senapan, Ternate kehilangan monopoli dan tuntutan upetinya menjadi semakin sulit dipaksakan.[^1]
Armada 1563 dan Pembaptisan di Manado
Bukti tertanggal paling awal mengenai ekspansi Ternate ke Sulawesi Utara berasal dari tahun 1563. Sultan Hairun menyiapkan armada perang untuk memaksakan Islam atas kelompok-kelompok di kawasan itu yang telah meminta kepada Portugis di Ternate agar dibaptis sebagai orang Kristen.[^1]
Urutan ini penting dan sering dibalik dalam tulisan populer: permintaan pembaptisan datang lebih dulu, armada Ternate adalah reaksinya. Menurut laporan misionaris Jesuit, utusan dari utara Sulawesi telah berkali-kali menghadap Kapten Portugis di Ternate, Henrique de Sá (menjabat 1562–1564), sebelum 1563.
Sebagai jawaban, de Sá menyiapkan dua kora-kora dan meminta Rektor Jesuit Marcos Prancudo mengirim seorang imam. Yang datang adalah Pater Diogo de Magalhães, yang kemudian membaptis Raja Manado, Raja Siau, dan sekitar 1.500 penduduk.[^2]
Beberapa catatan menyebut armada Ternate 1563 itu dipimpin Kaicili Baab, putra Hairun yang kelak menjadi Sultan Baabullah (memerintah 1570–1583). Perlu ditegaskan bahwa pada 1563 ia belum menjadi sultan, dan penyebutan namanya sebagai panglima ekspedisi ini tidak muncul dalam ringkasan Henley atas sumber Jesuit tersebut, sehingga sebaiknya disampaikan sebagai keterangan yang masih perlu dikuatkan.
Bahwa pembaptisan itu adalah langkah geopolitik, bukan semata perkara iman, tampak dari apa yang terjadi kemudian. Bila sumber-sumber Eropa dibaca apa adanya, Manado dikristenkan, diislamkan, dikristenkan, lalu diislamkan lagi hanya dalam rentang 1563 sampai 1644.[^1]
Siau, Sangir, dan Pola yang Berulang
Kekerasan dan persaingan menjadi ciri tetap ekspansi Ternate. Dalam tiga tahun setelah pos misi Jesuit berdiri di Siau pada 1584, pulau itu diserang dan dijarah Ternate. Pada 1593 raja Siau membalas dengan berlayar ke Manila dan bersumpah setia kepada Raja Spanyol, ditukar dengan garnisun kecil Spanyol.[^3]
Pola yang sama terulang terus: satu pihak menerima perlindungan Ternate, pihak lawannya segera mencari pelindung tandingan. Tagulandang menjadi vasal setia Ternate justru karena tetangganya, Siau, jatuh ke tangan Spanyol.
Di Minahasa, pertarungan panjang antara Spanyol dan aliansi Belanda–Ternate bersimpul erat dengan permusuhan antar-walak dan dengan ketegangan antara orang pedalaman dan Raja Manado penguasa yang keturunannya di masa kolonial dikenal sebagai raja-raja Bolaang-Mongondow.[^1]
Raja Manado sendiri berganti pelindung lebih dari sekali. Pada 1614 ia meminta perlindungan Spanyol terhadap orang Ternate yang dituduhnya menjarah perempuan dan harta rakyatnya. Ketika Spanyol berbalik membakar ibu kotanya, ia kembali ke pangkuan Ternate, yang dengan bantuan Belanda mengusir Spanyol dari kawasan itu pada 1644.[^1]
Tahun 1660: Siapa Menghukum Siapa
Pada 1660, Ternate masih membantu Manado dalam tindakan penghukuman terhadap kelompok-kelompok Minahasa. Namun alasannya bukan penolakan membayar upeti, melainkan karena kelompok-kelompok itu melindungi ekspedisi-ekspedisi Spanyol yang sesekali datang.[^1]
Catatan ini berasal dari berkas VOC overgekomen brieven en papieren di Arsip Nasional Den Haag (VOC 1233, hlm. 291–292) bukan dari Dagh-Register Batavia, sebagaimana kadang keliru dikutip.
Pada tahun yang sama, Spanyol diusir dari Minahasa untuk terakhir kalinya. Tiga tahun kemudian ancaman serangan Koxinga atas Manila memaksa Spanyol menarik pasukannya dari Maluku, menyisakan Siau sebagai pos Spanyol terakhir di kawasan. Pada 1667 Makassar ditaklukkan Belanda dan melepas seluruh klaimnya di Sulawesi Utara.[^1]
Aliansi VOC–Ternate kini tanpa lawan. Tetapi VOC-lah yang menjadi separuh yang dominan.
1675: Dua Rombongan, Satu Kawasan
Tahun 1675 layak dilihat lebih dekat, karena dua rombongan berbeda menyusuri kawasan yang sama pada tahun yang sama, dan keduanya meninggalkan catatan.
Rombongan pertama adalah Sultan Ternate yang baru dilantik, Kaicili Sibori (dikenal pula sebagai Sultan Amsterdam), yang pada musim kemarau melakukan kunjungan kenegaraan ke Sulawesi Utara.
Ia disambut dengan upacara besar. Di Manado, utusan dari kampung-kampung pegunungan yang kini disebut Minahasa membawa upeti berupa beras dan daging, sambil menanyakan apakah sultan punya perintah bagi mereka. Di Tagulandang para kepala menyambutnya dengan sembah dan mencium kakinya. Di Tabukan, Sangir Besar, ia disambut kerumunan yang menabuh gendang dan bernyanyi.[^4]
Namun ada tanda yang luput: dalam upeti yang diberikan para “vasal” itu kini terdapat gong, porselen, sebuah senapan, dan sebuah meriam kecil, barang-barang manufaktur asing yang dahulu hanya bisa disediakan Ternate. Dasar ekonomi hubungan tuan–vasal itu sudah lenyap.[^1]
Rombongan kedua adalah seorang pendeta VOC yang melakukan visitasi gereja dan sekolah ke Obi, Bacan, Makian, Tidore, Ternate, Manado, Tagulandang, Siau, dan Sangir. Laporannya ditujukan kepada Gubernur Maluku Anthonio Hurdt dan dimuat lengkap oleh Valentijn.[^5]
Laporan itu memperlihatkan sesuatu yang tidak tampak dari upacara-upacara penyambutan Sibori: kewibawaan Ternate sedang runtuh dari dalam.
Orang Gorontalo dan Limboto, tulis laporan itu, sejak wafatnya Sultan Mandar Syah yang meninggal pada 3 Januari 1675, hanya beberapa bulan sebelumnya terus-menerus mendesak lewat utusan bahwa mereka tidak mau lagi berada di bawah Mahkota Ternate, yang mereka sebut berlumur rampasan dan darah sesama negeri mereka. Mereka bahkan mendirikan benteng pertahanan dan berulang kali meminta perlindungan Kompeni.
Pada saat yang sama, penguasa-penguasa lain berdatangan ke Fort Amsterdam di Manado untuk mencari bendera Kompeni: Tontoli dan Bool karena takut kepada orang Mandar, lalu Parigi, dan Raja Cajeli bernama Jala yang sedang berperang dengan Palu.
Jadi pada tahun yang sama Sibori menerima sembah dan upeti, klien-klien Ternate sudah antre di gerbang benteng Belanda.
Manado 1675 dari Dekat
Laporan yang sama memberi potret rinci Manado pada tahun itu dan potret itu tidak menyebut Ternate sama sekali sebagai kekuatan yang hadir di lapangan.
Raja Manado disebut namanya: Loloda. Wilayah yang diklaimnya membentang sampai tanah Bolaang di barat dan ke utara sampai tanjung Pulisan, mencakup pulau-pulau di selat Bangka dan Lembeh. Leluhurnya pernah merebut Negeri Bonton di Gorontalo dan menarik upeti dari sana; ayahnya menaklukkan Kaidipang dengan bantuan Raja Siau, dan hasilnya dibagi dua.
Namun penulis laporan menambahkan penilaiannya sendiri: Loloda “hanya bergelar raja secara nama belaka”, dan bila perkara ini ditelusuri ke abad-abad sebelumnya, mungkin dapat dibuktikan bahwa raja-raja Manado sesungguhnya tidak punya hak atas daratan Celebes.[^5]
Tiga negeri di sekitar Fort Amsterdam disebut namanya: Ares, Bantik, dan Klabat. Penduduknya digambarkan masih sepenuh hati memeluk kepercayaan leluhur, dan sebagian di antaranya tidak mengenal Kekristenan selain bahwa mereka pernah dipercik air baptis oleh seorang pastor Spanyol, sisa jejak masa Iberia yang masih bertahan tiga dekade setelah Spanyol terusir.
Yang juga tercatat: sebagian penduduk Manado pada tahun itu justru bergerak ke arah Islam. Ini persis pola yang dikemukakan Henley bahwa afiliasi agama di kawasan ini lebih sering merupakan fungsi dari kesetiaan politik ketimbang penentunya.
Kema, dan Sebuah Etimologi yang Sudah Kacau Sejak 1675
Satu bagian dari laporan itu layak dikutip khusus, karena tampaknya inilah hulu dari sebuah teori yang masih beredar sampai hari ini.
Penulis laporan menyebut bahwa sejak dahulu kepala pemerintahan Sulawesi Utara yang ditegaskannya, tidak pernah bergelar raja berkedudukan di sebuah tempat bernama Kime, yang dalam bahasa Alfur berarti kerang batu atau kima. Nama itu kemudian dalam bahasa Spanyol menjadi Kema, yang berarti “terbakar”, karena banyaknya pembakaran yang dilakukan Spanyol di sana.[^5]
Dua hal perlu dicatat.
Pertama, ini agaknya sumber tertua bagi seluruh teori Kema–quemada yang kini dikutip di mana-mana. Kedua, dan lebih penting: percampuran antara Kima dan Kema ternyata sudah terjadi di dalam sumber abad ke-17 itu sendiri, bukan kekeliruan penulis modern. Penulis laporan bahkan menempatkan tempat itu “di pesisir barat, di balik pegunungan”, padahal Kema terletak di pesisir timur. Kejanggalan geografis ini belum terpecahkan dan sebaiknya disampaikan apa adanya.
Yang menarik dari bagian itu justru keterangan lain: kedudukan Kema demikian dihormati sehingga sampai saat laporan ditulis, orang Ternate, Tagulandang, dan Sangir yang hendak membanggakan nama keturunannya tidak membawa bukti lain selain bahwa mereka berkerabat lama dengan yang di Kema.
Dengan kata lain, prestise di kawasan ini tidak mengalir satu arah dari Maluku ke Sulawesi.
1677–1679: Urutan yang Sering Terbalik
Yang runtuh lebih dulu bukan Minahasa, melainkan kepulauan. Menjelang akhir 1677, para penguasa Tagulandang dan Sangir telah menandatangani perjanjian yang menolak kekuasaan Ternate dan menyatakan diri sebagai vasal VOC.[^6]
Pada tahun yang sama, ekspedisi gabungan Ternate–Belanda menaklukkan Siau untuk kedua dan terakhir kalinya, mengusir Spanyol secara permanen dari Sulawesi Utara. Gorontalo menyusul pada 1678 tuntutan yang, seperti terlihat di atas, sudah mereka suarakan sejak 1675.
Semua ini terjadi karena Gubernur Maluku Robertus Padtbrugge memutuskan pada 1677 untuk membawa seluruh Sulawesi Utara ke bawah kendali langsung Belanda dan Sibori yang muda serta lemah posisinya tidak melakukan apa pun untuk menghalanginya.[^1]
Baru setelah itu giliran Minahasa. Pada 10 Januari 1679, para kepala walak menandatangani perjanjian dengan VOC yang diwakili Padtbrugge. Perjanjian itu dibuat di Manado, di sekitar benteng VOC bukan di Minawanua, kawasan rawa di tepian Danau Tondano yang baru menjadi pusat perlawanan pada Perang Tondano 1808–1809. Kekeliruan penempatan lokasi ini cukup sering beredar dan perlu dihindari.[^7]
Pemberontakan Terakhir
Perjanjian 1679 dibuat melampaui kepala Raja Manado, Loloda, yang sejak 1656 sudah bersitegang dengan Belanda karena mereka membangun benteng dekat ibu kotanya dan mulai mengambil alih wewenangnya atas Minahasa.
Beberapa bulan setelah perjanjian itu, Sibori akhirnya melancarkan pemberontakan terhadap Belanda, dan Loloda bergabung dengannya. Pemberontakan itu berlangsung sampai 1681, ketika VOC menangkap Sibori dan membuat Loloda melarikan diri.[^8]
Pada tahun itu juga, Raja Manado digambarkan sebagai pihak yang “sepenuhnya bergantung” pada tuannya di Ternate sebuah ironi terakhir bagi kekuasaan yang sedang berakhir.[^1]
Warisan Sejarah
Sejarah hubungan Ternate dan Minahasa memperlihatkan bahwa ekspansi politik jarang melahirkan loyalitas. Perpindahan kesetiaan secara mendadak dari satu pelindung ke pelindung lain adalah praktik lazim di Sulawesi Utara prakolonial, dan itu berlaku merugikan maupun menguntungkan Ternate secara bergantian.
Yang tersisa dari kekuasaan Ternate di Minahasa hari ini bukan struktur politik, melainkan bahasa. Melayu Manado adalah varian dialek Melayu Maluku Utara dan memuat banyak sekali kata berasal-usul Ternate. Lebih dari dua abad setelah Minahasa menanggalkan otoritas “raja” pribumi mana pun, cerita rakyat Minahasa masih menyebut raja bukan dengan kata lokal datu atau kata Indic raja, melainkan kolano — gelar yang dahulu disandang para sultan Ternate.[^1]
Catatan Kaki
Akses Member
Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.
- Penulis: Moderator Malesung
