Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Sejarah Bangsa Spanyol di Minahasa

Sejarah Bangsa Spanyol di Minahasa

  • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
  • visibility 184
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sejarah Indonesia modern terbiasa memulai kisah Eropa di Nusantara dari Belanda. Untuk Sulawesi Utara, urutan itu keliru: ketika kapal VOC pertama merapat di Wenang pada pertengahan abad ke-17, orang Manado sudah lebih dari seratus tahun berurusan dengan orang Portugis dan Spanyol berdagang, berperang, bersekutu, dan sebagian dibaptis.

Masalahnya, kisah itu beredar dalam dua bentuk yang sama-sama tidak memadai: ditiadakan sama sekali dalam buku pelajaran, atau dibesar-besarkan dalam narasi populer dengan detail yang tidak punya dasar dokumen. Artikel ini mencoba jalan ketiga: menyusun apa yang benar-benar tercatat, dan menyebut dengan jelas di mana catatannya berhenti.

Kontak paling awal: 1521–1523

Ekspedisi Fernão de Magalhães yang berlayar untuk Mahkota Spanyol tiba di kepulauan Filipina pada 1521. Setelah Magalhães tewas di Mactan pada 27 April 1521, armadanya terpecah, Victoria melanjutkan pelayaran keliling dunia, Trinidad tertahan di perairan Maluku. Antonio Pigafetta, juru catat pelayaran itu, mendaftar gugusan pulau yang dilewati antara Mindanao dan Maluku; sebagian peneliti mengidentifikasinya dengan rantai Sangihe, meski identifikasi toponim Pigafetta masih diperdebatkan dan tidak semuanya dapat dipetakan dengan pasti.[^1]

Penyebutan tertulis paling awal yang dapat dipegang untuk Manado justru datang dua tahun kemudian. Dalam Tratado dos Descobrimentos karya António Galvão, bagian tahun 1523 mencatat bahwa Antonio de Brito, kapten Maluku, mengirim sepupunya Simão d’Abreu mencari jalan ke Borneo menuju Malaka, dan rombongan itu “melihat pulau-pulau Manada Panguensara”.[^2]

Bentuk kalimatnya penting. “das ylhas de Manada” berarti “pulau-pulau bernama Manada”; kata benda Portugis manada (kawanan) akan menuntut artikel dan tidak berpadu dengan konstruksi itu. Nama tersebut juga berdiri dalam deret toponim rute seperti Panguensara, selat Dantreminao, pulau-pulau São Miguel, Borneo, Pedra Branca, selat Singapura, Malaka. Pembacaan sebagai toponim, dengan demikian, jauh lebih kuat daripada pembacaan sebagai kata benda biasa.[^3]

Perlu ditegaskan bahwa Galvão bukan gubernur melainkan capitão Ternate (1536–1540), ia wafat pada 1557, dan bukunya terbit anumerta pada 1563. Cakupan kroniknya berhenti sekitar pertengahan abad ke-16 karena itu tidak ada peristiwa 1563 di dalamnya, termasuk pembaptisan yang dibahas di bawah.

Galvão juga mencatat pelayaran Francisco de Castro ke utara pada 1538 atas perintahnya sendiri, yang membaptis enam raja beserta keluarga dan pengikut mereka di Mindanao “dan pulau-pulau lain di atasnya”.[^4]

Pasase ini kerap dipakai untuk mengklaim pembaptisan paling awal di Sangihe atau Sulawesi Utara padahal Galvão tidak menyebut satu pun nama pulau di luar Mindanao, dan tidak mengidentifikasi keenam raja itu. Ia tidak bisa dijadikan sandaran untuk Minahasa.

1563: pembaptisan yang tercatat

Titik yang benar-benar terdokumentasi adalah tahun 1563. Pater Jesuit Diego de Magelhães dikirim dari Ternate pada masa kapten Henrique de Sá, dan membaptis raja Manado serta raja Siau. Laporannya termuat dalam surat Pero Mascarenhas kepada rekan-rekan Jesuit di Lisbon, bertarikh Ternate 10 Februari 1564.[^5]

Dua catatan agar peristiwa ini tidak berlebihan dibaca: Lokasinya di Manado, bukan di Kema. Versi yang memindahkan pembaptisan 1563 ke Kema bersandar pada teori etimologi Quemada, yang akan dibahas di bawah dan tidak berdiri.

Hasilnya tidak bertahan. Surat-surat misi berikutnya mencatat bahwa sebagian orang yang dibaptis Magelhães kembali ke kepercayaan lama atau memeluk Islam.[^6]

Laporan Antonio Marta dari Tidore pada April 1588 memberi gambaran sezaman tentang keadaan kawasan ini.[^7]

Kekristenan Manado abad ke-16 adalah rintisan yang terputus-putus, bukan garis lurus menuju gereja masa kini.

Abad ke-17: Spanyol dari Ternate

Setelah Ternate direbut dari kekuasaan setempat pada 1606, Spanyol menempatkan gubernur di sana dan menjadikannya pangkalan bagi apa yang mereka sebut Provinsi Molucas wilayah yang dalam klaim administratifnya mencakup Sangihe, Talaud, dan pesisir Sulawesi Utara. Klaim itu jauh lebih rapi di atas kertas daripada di lapangan: kendali efektif Spanyol tidak pernah menjangkau pedalaman Minahasa.

Beberapa titik yang terdokumentasi:

  • 1620 — Fray Blas Palomino, misionaris Fransiskan, wafat pada 10 Maret 1620 di dekat Manado. Kisahnya dicatat Francisco de Bilches, S.J. pada 1653.[^8]
  • 1617 — kesaksian misi menggambarkan ketegangan tinggi antara Manado dan penduduk pedalaman, tanda bahwa kehadiran Iberia di pesisir tidak berarti penerimaan di gunung.[^6]
  • 1644 — sumber Spanyol menyebut raja Kristen Manado bernama Don Fernando, dengan sekitar 500 orang Kristen termasuk para pemimpin kerajaan. Yang dicatat sumber itu adalah siapa raja Kristen pada 1644, bukan kapan ia dibaptis.[^6]

Kehadiran itu berakhir dalam dua tahap. Di daratan Sulawesi Utara, posisi Spanyol di Manado runtuh pada pertengahan 1650-an seiring masuknya VOC ke Wenang dan berdirinya pos Belanda di sana sekitar 1657.[^9] Di Maluku, Spanyol mengosongkan Ternate seluruhnya pada 1663 — bukan karena kalah perang, melainkan penarikan strategis untuk memperkuat Manila menghadapi ancaman Koxinga (Zheng Chenggong).

Yang bertahan paling lama justru Siau, bukan Minahasa. Kerajaan itu tetap Katolik dengan padri Jesuit sampai ditaklukkan VOC pada 1677.

Sisa jejak Iberia dalam arsip Belanda

Bukti paling menarik tentang kedalaman jejak Iberia justru datang dari dokumen Belanda satu generasi kemudian. Dalam laporan visitasi gereja dan sekolah ds. Jacobus Montanus, bertarikh Ternate 17 November 1675, tiga negeri di sekitar Fort Amsterdam Manado — disebutnya Aris, Bantik, dan Clabbat — digambarkan masih memeluk kepercayaan lama, dan sebagian penduduknya hanya pernah dipercik air baptis oleh seorang “Spaansche Paap”.[^10]

Laporan yang sama mencatat dua padri Jesuit yang masih bertugas di Siau pada 1675 — Emanuel Espagnola asal Aragon di negeri Ulu dan Carolo asal Flandria di negeri Pehe — serta Don Philippo di Sangihe, yang dahulu dibaptis Spanyol.[^11] Enam belas tahun setelah Spanyol angkat kaki dari Manado, jejaknya masih terbaca di lapangan oleh pendeta Protestan yang datang menggantikannya.

Kema, Quemada, dan sebuah kekeliruan yang berumur panjang

Etimologi populer menurunkan nama Kema dari kata Spanyol quemada (terbakar), kadang disertai klaim adanya toponim “Las Quemas” pada peta Iberia. Klaim peta itu tidak dapat diverifikasi dan sebaiknya tidak dipakai.

Sumber hulu teori ini sebenarnya bukan dokumen Iberia sama sekali, melainkan laporan Montanus 1675. Di situ disebutkan bahwa pusat pemerintahan Sulawesi Utara sejak dahulu berkedudukan di “Kime” — kata dalam bahasa Alfur yang berarti klip-oester, yakni kima — dan kemudian dalam bahasa Spanyol disebut “Kema”, yang diartikan terbakar karena banyaknya pembakaran yang dilakukan Spanyol di sana.[^12]

Artinya: pencampuran antara Kima (kini di Kecamatan Molas, dekat Manado) dan Kema (Kecamatan Kauditan, Minahasa Utara) sudah terjadi setidaknya sejak 1675, dan yang beredar hari ini adalah pantulan dari kekeliruan berumur tiga setengah abad. Ada pula kejanggalan geografis dalam laporan itu sendiri: Montanus menempatkan “Kime” di sebelah barat pantai di balik pegunungan, padahal Kema berada di pesisir timur.

Warisan bahasa dan budaya — dengan tanda tanya yang jujur

Serapan Portugis dalam bahasa Melayu Manado memang nyata: kadera (cadeira), meja (mesa), pesta (festa), jendela (janela), garpu (garfo), gereja (igreja), bendera (bandeira).

Tetapi menjadikannya bukti kehadiran Iberia di Minahasa adalah lompatan yang tidak sah. Hampir semua kata itu juga hidup di Melayu Ambon, Melayu Kupang, Melayu Jakarta, bahkan bahasa Indonesia baku — jalur masuknya adalah Melayu-Portugis dari Malaka dan kreol Portugis yang menyebar lewat perdagangan, bukan kontak langsung Spanyol–Minahasa. Kata serapan hanya bisa membuktikan kontak Iberia dengan dunia Melayu secara umum.

Hal serupa berlaku untuk Katrili. Nama dan bentuk tariannya jelas turunan quadrille Eropa, tetapi jalur masuknya lebih mungkin melalui pergaulan salon kolonial abad ke-19 daripada misi Iberia abad ke-17 — dan sejauh ini tidak ada dokumen abad ke-17 yang menyebutkannya.

Batata (ubi jalar) memang tanaman Amerika yang menyebar ke Asia lewat jaringan Iberia, khususnya galiun Manila. Ini bagian dari proses yang disebut Alfred Crosby sebagai Pertukaran Kolumbia.[^13] Pola persebaran dan penerimaan tanaman pangan Amerika di Minahasa sendiri dibahas panjang oleh David Henley.[^14]

Daftar Gubernur Spanyol di Ternate, 1606–1663

Periode Nama
1606–1609 Juan de Esquivel
1609–1610 Lucas de Vergara Gaviria
1610–1612 Cristóbal de Azcueta Menchaca
1612–1617 Jerónimo de Silva
1617–1620 Lucas de Vergara Gaviria (II)
1620–1623 Luis de Bracamonte
1623–1636 Pedro de Heredia
1636–1640 Pedro de Almonte Verástegui
1640–1642 Francisco Suárez de Figueroa
1642–1643 Pedro Fernández del Río
1644–1650 Lorenzo de Ugalde y Orella
1652–1656 Francisco de Esteybar
1656–1658 Diego Sarria Lascano
1658–1659 Francisco de Esteybar (II)
1659–1660 Francisco de Atienza Ibáñez
1660–1662 Juan de Chaves
1662–1663 Agustín de Cepeda y Lira

Daftar ini disajikan sebagai daftar kerja, bukan hasil verifikasi.[^15] Tanggal peralihan berbeda antarsumber, dan rentang 1643–1644 serta 1650–1652 tidak konsisten tercatat sebagai masa jabatan penuh. Yang paling aman dipegang adalah tiga titik: Esquivel sebagai gubernur pertama sejak 1606, masa jabatan panjang Pedro de Heredia, dan evakuasi total ke Manila pada 1663.

Mengapa jejak ini terpinggirkan

Alasannya sebagian besar bersifat kearsipan. Dokumen Iberia untuk kawasan ini tersimpan di Archivo General de Indias (Sevilla), Madrid, Roma, dan Manila — bukan di Jakarta atau Den Haag. Sebagian besar terbit dalam bahasa Spanyol, Portugis, dan Latin, dan baru dapat diakses luas setelah seri Documenta Malucensia suntingan Hubert Jacobs terbit pada 1974–1984. Sementara itu historiografi Indonesia berkembang di atas rak arsip VOC dan Hindia Belanda.

Akibatnya, satu setengah abad interaksi Iberia–Minahasa nyaris tak muncul dalam buku pelajaran nasional — dan ketika muncul, sering dalam bentuk yang tidak bisa dilacak ke dokumen mana pun.

Penutup

Minahasa bukan semata hasil pertemuan dengan Belanda. Tetapi kalau lapisan Iberia ingin dipulihkan ke dalam ingatan, ia harus dipulihkan dengan alat yang benar: surat Jesuit yang bertanggal, kronik yang berfolio, laporan visitasi yang bisa dibuka halamannya. Klaim yang tidak bisa diperiksa tidak memperkuat sejarah Minahasa — ia justru memberi alasan bagi orang lain untuk mengabaikannya.

Catatan Kaki

[^1]: Antonio Pigafetta, Relazione del primo viaggio intorno al mondo (1524–1525); terjemahan Inggris standar: The First Voyage Around the World, 1519–1522, ed. Theodore J. Cachey Jr. (New York: Marsilio, 1995). Identifikasi toponim Pigafetta di perairan antara Mindanao dan Maluku bervariasi antar-editor dan belum ada kesepakatan penuh.

[^2]: António Galvão, Tratado dos Descobrimentos (Lisboa: João da Barreira, 1563), fol. 48v.

[^3]: Bandingkan pembacaan alternatif yang menganggap manada sebagai kata benda Portugis; lihat pula G.S.S.J. Ratulangi, “De oorsprong van den naam Menado”, Indië, 1917.

[^4]: Galvão, Tratado, fol. 68v.

[^5]: Surat D 125, Pero Mascarenhas kepada para Jesuit di Lisbon, Ternate, 10 Februari 1564 (dengan penutup oleh Marcos Prancudo), dalam Hubert Jacobs, S.J. (ed.), Documenta Malucensia, Vol. I: 1542–1577 (Roma: Institutum Historicum Societatis Iesu, 1974), hlm. 412–420.

[^6]: C. Wessels, S.J., “De katholieke missie in Noord-Celebes en op de Sangi-eilanden, 1563–1605”, Studiën 65 (1933), hlm. 365–396; dan De katholieke missie in Noord-Celebes en op de Sangi-eilanden, 1606–1677 (Tilburg: Henri Bergmans, 1935).

[^7]: Surat D 73, Antonio Marta, Tidore, April 1588, dalam Hubert Jacobs, S.J. (ed.), Documenta Malucensia, Vol. II: 1577–1606 (Roma: Institutum Historicum Societatis Iesu, 1980), hlm. 247–255.

[^8]: Francisco de Bilches, S.J., Santos y Santuarios del Obispado de Iaen, y Baeza (Madrid, 1653), Parte I, Cap. LXVIII–LXIX, hlm. 218–223.

[^9]: Tahun pendirian pos VOC di Wenang tidak seragam dalam literatur (1657 dan 1658 sama-sama beredar); lihat David Henley, “A Superabundance of Centers: Ternate and the Contest for North Sulawesi”, Cakalele Vol. 4 (1993), hlm. 39–60.

[^10]: Laporan visitasi ds. Jacobus Montanus, Ternate, 17 November 1675, dalam François Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indiën, ed. S. Keijzer, Eerste Deel, cetakan ke-2 (Amsterdam: Wed. J.C. van Kesteren & Zoon, 1862), hlm. 565.

[^11]: Valentijn ed. Keijzer, Oud en Nieuw Oost-Indiën I, hlm. 569–570.

[^12]: Valentijn ed. Keijzer, Oud en Nieuw Oost-Indiën I, hlm. 566.

[^13]: Alfred W. Crosby, The Columbian Exchange: Biological and Cultural Consequences of 1492 (Westport: Greenwood Publishing, 1972).

[^14]: David Henley, Fertility, Food and Fever: Population, Economy and Environment in North and Central Sulawesi, 1600–1930 (Leiden: KITLV Press, 2005).

[^15]: Daftar ini belum dikolasikan dengan pengantar Hubert Jacobs dalam Documenta Malucensia Vol. III (1606–1682) maupun dengan berkas Archivo General de Indias, Sevilla.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Supit, Paat dan Lontoh didepan benteng Amsterdam (ilustrasi)

    Darah Harus Tumpah di Tanah Sendiri: Perlawanan Hukum Minahasa terhadap VOC

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Dinamika hukum pasca-penandatanganan perjanjian 10 September 1699 di Minahasa tidak pernah benar-benar berada dalam garis lurus. Arsip Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 mencatat sebuah episode penting: benturan tajam antara ambisi sentralisasi hukum kolonial dengan kedaulatan adat lokal yang masih tegak. Meskipun para pemimpin adat Minahasa telah menyepakati penghapusan praktik hukuman tradisional tocktocken, yakni eksekusi […]

  • Pengaruh Bahasa Asing dan Bahasa Daerah Lain

    Pengaruh Bahasa Asing dan Bahasa Daerah Lain

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
    • visibility 31
    • 0Komentar

    Bahasa-bahasa di Minahasa memperlihatkan penggunaan unsur dari bahasa Melayu, Tombulu, Ternate, Belanda, Spanyol, dan Portugis. Dalam artikel-artikelnya, F. S. Watuseke membahas pengaruh tersebut melalui sejarah Melayu Manado, istilah pemerintahan, nama kelompok etnolinguistik, dan nyanyian lama. Ia juga menelusuri perjalanan sebuah kata dari Makian Barat melalui Melayu Maluku hingga digunakan dalam bahasa Portugis, Belanda, dan Melayu […]

  • Gusti Muhammad Tarip / Pangeran Perbatasari Kesultanan Banjar (Ilustrasi)

    Jauh dari Tepian Barito: Pangeran Perbatasari dan Jejak Eksil Banjar di Minahasa (1885)

    • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Di pesisir dan dataran tinggi Minahasa pada abad ke-19, sejarah tidak hanya ditulis oleh penduduk setempat, melainkan juga oleh mereka yang datang sebagai buangan. Wilayah ini menjelma menjadi ruang pertemuan tak terduga bagi para tokoh perlawanan Nusantara, sebuah lanskap sunyi tempat api perlawanan dipadamkan secara paksa, namun tak pernah benar-benar padam. Setelah Tondano menampung eks-kombatan […]

  • Perang Tasikela 1644 (Ilustrasi)

    Pasukan Meriam Pasan: Warisan Panglima Potangka dalam Perang Mengusir Spanyol (1644)

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Dalam historiografi Perang Spanyol–Minahasa (1644–1646), perhatian sering terpusat pada aliansi Walak Tondano dan Tomohon sebagai kekuatan utama dalam menghadapi ekspansi kolonial. Namun, kemenangan strategis di pesisir Wenang (kini Manado) juga ditopang kontribusi penting dari “Aliansi Selatan”, terutama pasukan dari wilayah Pasan (Ratahan). Wilayah ini dikenal memiliki tradisi militer yang berbeda dibanding walak pedalaman. Jika pasukan […]

  • Jejak Kuda dan Sapi di Minahasa: Integrasi Ekonomi Agraria dari Era Iberia hingga Hindia Belanda

    Jejak Kuda dan Sapi di Minahasa: Integrasi Ekonomi Agraria dari Era Iberia hingga Hindia Belanda

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • visibility 210
    • 0Komentar

    Sejarah kuda dan sapi di Minahasa sering dibuka dengan kedatangan Portugis dan Spanyol pada abad ke-16. Sumber sezaman menunjukkan urutan yang lain. Selama dua abad pertama kontak dengan Eropa, arsip berbicara tentang beras yang dipikul manusia. Kuda baru menjadi penting pada abad ke-19 dan sapi lebih kemudian lagi. Keduanya didorong oleh kopi wajib dan jalan-jalan […]

  • pulau gangga

    Pulau Gangga, Surga Snorkeling Tersembunyi yang Bikin Betah!

    • calendar_month Senin, 9 Jun 2025
    • visibility 33
    • 0Komentar

    🌊 Pulau Gangga: Surga Snorkeling yang Siap Bikin Kamu Jatuh Cinta Hai, Sobat Traveler! 👋Lagi nyari destinasi liburan yang beda dari biasanya? Coba deh masukkan Pulau Gangga ke dalam bucket list kamu! Pulau kecil yang terletak di ujung utara Sulawesi ini memang belum sepopuler Bali atau Raja Ampat, tapi jangan salah — keindahan alam bawah […]

expand_less