Ketika Juru Bahasa Membantah Residen VOC: Pieter Tobias di Manado 1719
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi artistik seorang juru bahasa di loji Kompeni, Manado, tahun 1719.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada 25 Juli 1719 di loji VOC Manado, seorang residen Kompeni menyalahkan juru bahasanya dan juru bahasa itu membantah.
Residen Jacob van Gijn berkata bahwa juru bahasalah yang menyampaikan kepadanya permintaan para kepala negeri bawah. Pieter Tobias menjawab bahwa ia tidak pernah menerjemahkan permintaan itu.[1]
Sebelum 1719, juru bahasa dalam arsip Sulawesi Utara hampir selalu bekerja tanpa nama atau hanya muncul sebagai tanda tangan di bawah kontrak. Tobias adalah juru bahasa pertama dalam bahan yang sudah saya periksa yang kata-katanya sendiri dipersoalkan lalu yang membela diri di depan saksi. Artikel ini mengikuti jejaknya selama lima minggu kunjungan komisi Voges–Reaal, sejauh arsip mencatatnya.
Komisi dari Ternate
Pada Juli 1719 Kapten Casper Voges dan onderkoopman Frans Reaal tiba di Manado sebagai komisaris Gubernur Ternate Jacob Bottendorp dan Dewan Politiknya.[2] Tugas pertama mereka memulangkan orang Tongkimbut dan negeri lain yang menyingkir. Tugas kedua memeriksa keluhan tertulis para kepala negeri terhadap residen Jacob van Gijn.
Laporan komisi diserahkan di Kasteel Oranje, Ternate, pada 11 September 1719. Setahun kemudian laporan itu disalin ke dalam kiriman Ternate ke Batavia bertarikh 31 Agustus 1720, dan dalam bentuk itulah ia kini tersimpan di Nationaal Archief, inv. 8088.[3]
Kisah lengkap komisi ini diceritakan dalam dua artikel terpisah. Di sini kisah yang diikuti hanya satu orang, Pieter Tobias .
Dalam laporan itu Tobias bekerja di dua tempat yaitu di jalan, sebagai utusan ke negeri-negeri, dan di meja rapat, sebagai suara yang menghubungkan para kepala negeri dengan para komisaris.
Di jalan: Tompaan, beras, dan barang residen
Tobias pertama kali muncul dalam catatan karena pesan orang lain gagal sampai. Pada 4 Juli para komisaris mengirim utusan ke Amurang. Mereka kembali membawa jawaban posthouder (pegawai pos kompeni) bahwa orang-orang itu tidak mau turun.
Setelah ditanyai ternyata “den Posthouder zijn boodschap qualijk gedaan had” (posthouder itu menyampaikan pesannya dengan buruk). Maka pada Sabtu, 8 Juli 1719, “den Tolcq Pieter Tobias” dikirim ke Tompaan. Ia harus menyuruh orang segera menghadap ke loji atau kalau bisa membujuk mereka turun “met hem tolck te gelijk” (bersama juru bahasa itu sendiri).
Selasa petang pada 11 Juli, “den Tolcq Pieter Tobias” kembali dan melapor bahwa ia tidak menemukan seorang pun dari negeri Tonkienboet. Hukum Lontaan yang bersama kira-kira separuh penduduk Tombatsian di teluk Amurang juga sudah pindah ke Tompaan, ia berkata kepadanya bahwa orang Tonkienboet sudah pulang ke negeri yang mereka tinggalkan.
Keterangan yang sama ia dapat dari “den Schoolmr. en posthouder” (guru sekolah dan posthouder) di teluk Amurang.[4] Tobias tidak hanya membawa pesan, ia juga memeriksa kabar dari tiga sumber sebelum melapor.
Perjalanan itu gagal, tetapi keterangan yang ia bawa pulang ternyata benar. Pada 19 Juli ketiga hukum mayor menyatakan kepada para komisaris bahwa Kapten Mayor Tombal, Sersan Alla, dua marinyo dan para pengikut mereka sudah kembali ke negeri yang mereka tinggalkan.[4] Jadi tugas pertama Tobias bukan menerjemahkan, melainkan mencari orang dan membawa kabar.
Awal Agustus jurnal mencatat dua tugas lagi untuk “den Tolcq” atau “den Tolk”, kali ini tanpa nama. Pada Kamis petang 3 Agustus, ia dikirim memberi tahu orang agar besok datang ke loji untuk memuat barang di kapal brigantin Achilles. Jawabannya, semua sedang “naar haar thuijnen” (ke kebun) dan baru bisa datang lusa. Pada 5 dan 7 Agustus kapal Achilles memuat dua last beras setiap hari.[5]
Senin petang 7 Agustus, juru bahasa dikirim ke “de vijf beneden negerijen” (lima negeri bawah) untuk memanggil orang memikul barang bekas residen Van Gijn ke kapal. Ia membawa pulang jawaban yang tajam, “dat zulx niet wilde doen, maar de gecomm.n haar goederen heel gaarne” (mereka tidak mau melakukannya, tetapi barang para komisaris dengan senang hati).[6]
Juru bahasa awal Agustus itu hampir pasti Tobias. Jurnal yang sama memperkenalkannya pada 8 Juli sebagai “den Tolcq Pieter Tobias” dan pada Agustus menulis “den Tolcq” dengan kata sandang tentu, seolah pos itu hanya punya satu juru bahasa. Namanya tetap tidak ditulis di kedua tempat itu.
Di meja: membacakan ulang
Pada Sabtu, 22 Juli, ketiga hukum mayor Soepit, Paat, dan Lonto menyatakan di depan para komisaris bahwa Van Gijn memaki mereka “voor varkens” (sebagai babi), dan para perwira negeri atas yang mengantar beras “voor honden” (sebagai anjing). Pernyataan itu dibubuhi tanda ketiganya.[7]
Dua hari kemudian Senin 24 Juli, Soepit dan Lonto dipanggil lagi. Pernyataan mereka dibacakan ulang “de novo duijdelijk en distinct” (sekali lagi dengan jelas dan terang), dan keduanya tetap pada isinya tanpa menambah atau mengurangi. Paat tidak hadir, sebab ia pulang menguburkan putrinya. Penerjemah pengukuhan ini adalah Pieter Tobias.[8]
Di sinilah pekerjaan Tobias paling jelas. Pernyataan para kepala negeri ditulis dalam bahasa Belanda oleh juru tulis Kompeni. Para kepala negeri sendiri tidak membacanya. Satu-satunya cara mereka tahu bahwa yang tertulis sama dengan yang mereka katakan adalah suara juru bahasa yang membacakannya kembali. Tanda yang mereka bubuhkan bersandar pada kejujuran suara itu.
Hari yang sama sebelum saksi negeri bawah didengar, para komisaris meminta ketiga hukum mayor keluar dari rapat supaya tidak memengaruhi kesaksian.[9] Kepala lima negeri bawah lalu bersaksi tentang makian, pukulan, dan pasungan, lalu pernyataan mereka dikukuhkan lagi keesokan harinya.[10]
Kelima pernyataan resmi yang diambil komisi ditutup dengan rumus yang sama. Di bawah tanda para kepala negeri, tanda tangan Voges dan Reaal, serta saksi Van Leene dan Van Hontenburg, tertulis “voor de vertaling” (untuk terjemahannya), lalu nama Pieter Tobias. Rumus itu ada pada pernyataan tiga hukum mayor (22 Juli), pengukuhannya (24 Juli), pernyataan lima negeri bawah (24 Juli), pengukuhannya (25 Juli), dan pemeriksaan pernyataan Van Gijn (25 Juli).[7][8][10][1] Jadi setiap kesaksian yang dicatat komisi ini sampai ke kertas lewat dia.
Tidak pernah saya terjemahkan
Untuk membela diri, Van Gijn menyerahkan pernyataan bertanggal 25 Juli 1719 tentang sumpah damai yang gagal antara negeri bawah dan empat negeri atas, Tonsea, Tondano, Remboken, dan Kakas. Menurut kisahnya, ketiga hukum mayor terus mempersulit sumpah itu, dan negeri bawah akhirnya menyatakan akan bersumpah di negeri mereka sendiri.
Di ujung kisahnya Van Gijn menambahkan satu hal. Negeri bawah, katanya, pernah meminta “een voorseker brief” (surat jaminan) bahwa mereka tidak wajib memberi hadiah kepada para hukum dan bobato negeri atas. Ia menolak memberi tulisan semacam itu dan menyerahkan kepada mereka sendiri apakah mau memberi hadiah atau tidak.[1]
Para komisaris menyebut tulisan itu “Libel”. Mereka mengujinya dengan cara yang sama seperti pernyataan para kepala negeri. Atas permintaan Van Gijn sendiri (“op versoek van voorn. Sr Van Gijn”), “door den Tolk Pieter Tobias”, isinya ditanyakan kepada semua perwira kelima negeri bawah yakni apakah ia memuat kebenaran yang murni. Mereka serempak membenarkannya, kecuali satu hal, mereka tidak pernah meminta surat dari Van Gijn yang membebaskan mereka dari kewajiban memberi hadiah kepada negeri atas.[1]
Lalu Van Gijn, “in haar aller presentie” (di depan mereka semua), menyatakan “dat door voorn. Tolcq hem sulx onderrigt is” (bahwa juru bahasa tersebutlah yang memberitahukan hal itu kepadanya). “Maar in tegendeel debatteert den Tolcq daar tegen van nooijt sulx vertaald te hebben” (sebaliknya juru bahasa itu membantah, bahwa ia tidak pernah menerjemahkan hal itu).[1]
Di bawah catatan pemeriksaan itu, sesudah tanda tangan para komisaris dan saksi, tertulis lagi “voor de vertaling” dan nama Pieter Tobias.[1] Ia menerjemahkan dan mengesahkan berita acara yang memuat tuduhan terhadap dirinya sendiri. Laporan tidak mencatat siapa yang dipercaya para komisaris. Yang tercatat hanya dua klaim yang saling meniadakan. Kali ini juru bahasa tidak berdiri di luar perselisihan sebagai penyambung lidah, tetapi menjadi salah satu pihak yang dipersoalkan.
Posisi Tobias menjadi sulit. Ia bekerja untuk Kompeni, di loji yang dipimpin Van Gijn. Tetapi dengan membantah, ia berpihak pada kesaksian negeri bawah melawan residen yang baru saja lengser. Keberanian itu mungkin tumbuh karena para komisaris dari Ternate ada di ruangan, dan Van Leene sudah menggantikan posisi Van Gijn sejak 21 Juli sebagai residen Manado yang baru.
Ada satu ironi dalam berkas yang sama. Van Gijn sendiri juga adalah seorang penerjemah “Translaat van een Maleyds geschrift”, terjemahan sebuah tulisan Melayu dalam perkara Danobanko, dikerjakan olehnya.[11]
Residen menerjemahkan surat, juru bahasa menerjemahkan suara. Ketika keduanya berselisih tentang apa yang pernah dikatakan, yang dipersoalkan adalah terjemahan lisan, yang tidak meninggalkan naskah. Dalam “Debatt”-nya yang panjang, butir demi butir, Van Gijn menjawab tuduhan makian dan pukulan.[12] Di seluruh “Debatt” itu, fol. 235–243, ia tidak sekali pun menyebut juru bahasa.
Dari lingua tanpa nama ke juru bahasa yang membantah
Tobias mengisi celah antara kontrak 1699 dan surat residen 1791 dalam deret juru bahasa Sulawesi Utara. Yang berubah sepanjang deret ini bukan pekerjaannya, melainkan seberapa terlihat orangnya.
| Tahun | Tempat | Juru bahasa | Keterangan arsip |
|---|---|---|---|
| 1563–1564 | Manado | Tak bernama | Disebut sebagai lingua oleh Jesuit Pero Mascarenhas[13]. |
| 1568 | Kolongan, Sangihe | Tak bernama | Membantu menjelaskan isi iman kepada raja[13]. |
| 1677 | Manado, Siau, Sangihe | Tak bernama | Tercatat melalui dokumen terjemahan[14]. |
| 1679 | Manado | Bastiaan Saway | Nama dan jabatan tolk dalam kontrak 10 Januari 1679[15]. |
| 1699 | Manado | Manuel Perera | Menandatangani terjemahan ke bahasa Alfur[16]. |
| 1719 | Manado | Pieter Tobias | Mengesahkan terjemahan kesaksian, lalu membantah tuduhan residen[1][8]. |
| 1791 | Manado | Laurens Pankeij | Residen meminta kenaikan gajinya karena sulit mencari pengganti[17]. |
Sampai 1699 juru bahasa yang bernama hanya muncul untuk mengesahkan, namanya menjamin bahwa naskah dua bahasa itu sama isinya.
Pada 1719 untuk pertama kalinya kita melihat juru bahasa yang kesetiaannya pada kata-kata diragukan, dan yang menjawab sendiri keraguan itu. Pada 1791 juru bahasa sudah menjadi orang yang tak tergantikan, sampai seorang residen merasa perlu menulis ke atasannya untuk menahannya.
Konten Khusus Anggota Komunitas
Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum terdaftar sebagai anggota, silakan hubungi admin untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran. Terima kasih atas kunjungan dan partisipasi Anda dalam mendukung komunitas kami.
- Penulis: Alfa Leo
