Cornelis Pietersz: Orang Manado di Tengah Perompak Balangingi 1838–1839
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- visibility 75
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada suatu hari di kampung Sepa (Sipac/Sipak, benteng terbesar di Balangingi – Filipina), Pulau Balangingi, seorang tawanan meminta pensil dan sehelai kertas kepada tuannya. Alasannya masuk akal bahwa ia seorang tabib dan ia hendak menitipkan pesanan obat kepada seorang pedagang perempuan yang akan berlayar ke Solok (Jolo). Tuannya tidak keberatan, malah menyuruhnya memesan obat sebanyak-banyaknya.[^1]
Yang ditulis tawanan itu bukan daftar obat. Ia menulis satu surat dalam tiga bahasa sekaligus yaitu Belanda, Inggris, dan Melayu dan yang dibuka dengan sapaan kepada siapa pun yang mungkin membacanya: Aan alle achtbare heeren en gezagvoerders! Isinya permohonan agar siapa pun yang menerima surat itu sudi membelinya, sebab ia jatuh ke tangan perompak Balangingi bersama lima orangnya yang kini “berada antara hidup dan mati”, dan ia tidak sanggup lagi bertahan di antara orang-orang yang hidup di luar segala hukum.[^2]
Empat halaman kemudian dalam naskahnya, di geladak sebuah bark Amerika yang berlabuh di Solok, seorang nakhoda menyambutnya dengan kalimat yang menutup lingkaran itu: “bagus kau ada di sini, sebab akulah yang sedang mencarimu, karena aku telah menerima suratmu dari seorang perempuan.”[^3]
Surat itu sampai. Nama penulisnya Cornelis Zacharias Pietersz, orang Manado.
Sumber
Kisah ini terbit sebagai “Lotgevallen van C. Z. Pietersz onder de zeeroovers van Magindanao” dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, terbitan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Deel IV (Nieuwe Serie, Deel I), Batavia: Lange & Co., 1855, hlm. 492–515.
Satu keterangan pada baris terakhir menentukan nilai seluruh naskah ini: “Uit het maleisch vertaald door C. W. Walbeehm” — diterjemahkan dari bahasa Melayu oleh C. W. Walbeehm.[^4] Artinya naskah aslinya berbahasa Melayu, disusun atau didiktekan oleh Pietersz sendiri; Walbeehm hanya penerjemahnya. Tidak ada pengantar redaksi, tidak ada bingkai penjelas dari pejabat kolonial. Teks dimulai langsung pada kalimat pertama Pietersz sendiri.
Untuk sejarah Minahasa abad ke-19, ini termasuk barang langka karena kesaksian orang Manado tentang pengalamannya sendiri, dalam bahasanya sendiri, bukan laporan seorang residen tentang dirinya.
Pelayaran yang gagal
Pietersz meninggalkan Manado pada 17 Mei 1838 dengan kotter Petronella, bermuatan barang dagangan senilai f 6.000 (uang tembaga), tujuan Gorontalo. Ia tiba di Kema pada 20 Mei. Di sana, pada 23 Mei, ia mengangkut seorang sersan Eropa bernama Hof, seorang kanonir bernama Heintje, serta empat militer Gorontalo yang sudah habis masa dinasnya beserta tiga istri mereka.[^5]
Ia berangkat 25 Mei, tetapi angin dari haluan begitu keras hingga kemudi kapal patah dan ia terpaksa kembali ke Kema, tiba 30 Mei. Pada 1 Juni ia berlayar lagi, esoknya mencapai pantai Tondano dan melanjutkan pada 4 Juni. Tanggal 5 Juni singgah di Belang mengambil beras, berangkat 7 Juni, 9 Juni mencapai Kotabunan dan pada 11 Juni meneruskan perjalanan ke Gorontalo.[^6]
Malam 14 Juni, sekitar pukul sembilan ia melihat sebuah prau di sisi kanan. Ia menghardiknya tiga kali, pada kali keempat prau itu sudah begitu dekat sehingga jelas terlihat sebagai prau perompak Balangingi yang tengah kapal mereka. Prau itu menembak kotter-nya (kotter/cutter adalah kapal dagang pesisir kelas kecil) dengan meriam empat pon dan menyalakan api sebagai isyarat bagi kapal-kapal lain, yang segera membalas dengan tanda yang sama. Dari lampu-lampu yang tampak, ada sepuluh prau di sekitarnya. Mereka mengejar semalam suntuk.[^7]
Pagi 15 Juni, sepuluh prau (lima besar, lima kecil) menyerbu. Pertempuran mulai pukul setengah enam dan berlangsung sampai pukul sepuluh. Seorang awaknya tewas kena peluru, demikian pula orang yang biasa melayani meriam. Dua juru mudinya terluka begitu berat sampai tak sanggup lagi memegang kemudi. Dua tiga kali perompak berusaha naik. Pietersz bertahan sampai lengan kirinya terluka dan ia tak lagi mampu membela diri.[^8]
Ketika luka kedua membuatnya tak bisa bangkit, ia melemparkan senjata yang masih terjangkau ke laut dan menyuruh membawa tong mesiu ke hadapannya, dengan maksud tegas meledakkan diri, lebih baik binasa dengan cara itu daripada dianiaya perompak. Seorang pemimpin perompak naik dengan pedang balingkong terhunus dan memintanya menyerah. Pietersz tidak menjawab. Melihat tubuhnya berlumur darah, orang itu menyarungkan senjatanya, tetapi mencekik lehernya begitu kuat sampai ia hampir tak bisa bernapas.
Pada saat itulah Pietersz melemparkan sebatang cerutu menyala yang sengaja ia sulut sesaat sebelumnya ke dalam tong mesiu. Tong itu meledak. Ia dan kapten perompak sama-sama terhempas dengan luka parah di sekujur tubuh, perompak lain melompat ke air, tetapi sempat melukai dada kanan dan jari-jarinya lebih dulu. Ia kehilangan kesadaran. Ketika sadar, ia mendapati dirinya telanjang, terikat di dalam sebuah prau dan seluruh pakaian serta barangnya telah dijarah.[^9]
Pasar budak di depan Likupang
Setelah delapan belas hari dan malam dalam keadaan terikat pada tangan, kaki, dan leher, rombongan itu mencapai Pulau Bangka. Di depan Likupang, seratus orang tawanan hasil rampasan dari sepuluh prau itu dibagi-bagi. Di antara mereka ada orang Ternate, Tidore, Buton, Banggai, Sangir, Makassar, dan Gorontalo.[^10]
Perairan Minahasa sendiri, dengan kata lain, dipakai sebagai tempat membagi hasil rampasan. Pietersz jatuh ke tangan seorang bernama Baloedin. Ia sudah lebih dulu memperhitungkan risikonya, karena tawanan berdarah tinggi (agresif) dijual dengan harga besar, pada hari mereka dijual ia melarang orang-orangnya memberi hormat atau menyebut namanya yang sebenarnya.
Mereka hanya boleh memanggilnya Djoemaät atau kalau nama itu terlupa, Dominggo. Ketika tuan barunya menanyakan namanya dan dijawab Djoemaät, ia justru diberi nama lain lagi: Kantores.[^11]
Satu kalimat pendek pada halaman yang sama layak dicatat tanpa dihaluskan. Pietersz menulis bahwa ia berpesan kepada “mijn volk en slaven” — orang-orangku dan budak-budakku. Dalam hal ini, ia sendiri pemilik budak. Kisah ini bukan kisah perbudakan melawan kebebasan melainkan kisah seorang pemilik budak yang diperbudak.
Di Balangingi ia ditanya dari mana asalnya. Jawabnya, dari Moerang, antara Kwandang dan Gorontalo. Ketika mereka mengira Moerang sama dengan Amurang, ia menegaskan itu sama sekali bukan tempat yang sama — Amurang, katanya, dihuni orang Kompeni.[^12]
Hidup Sebagai Tabib
Pietersz bertahan hidup dengan menjadi tabib. Ia membaca nadi, dan dari orang-orang sakit yang ia kunjungi biasanya menerima dua tiga batang jagung, ubi, atau beras yang ia bawa pulang dan bagikan kepada kawan-kawan setawanan yang selalu kelaparan.[^13]
Perawatan terbesarnya adalah atas diri Langoejang, guru Baloedin, seorang tua yang sudah tak bisa berjalan. Kepada istri Langoejang ia sengaja mengatakan bahwa penyakit itu terlalu berat untuk disembuhkan, supaya tak disalahkan bila si sakit mati, sebab untuk kecelakaan semacam itu ia pasti dihukum atau dibunuh. Istri itu tetap mendesak dan menjanjikan dua orang budak bila suaminya sembuh, sehingga dengan budak itu Pietersz dapat menebus dirinya sendiri.[^14]
Ia merebus daun loloro dan katang dalam periuk besar, meletakkannya di bawah kursi tempat si sakit didudukkan, menyelimutinya dengan tikar rotan dan kain, lalu membuka tutup periuk. Keesokan paginya si sakit menemukan sejenis kepiting laut bercangkang putih di antara jari kaki kanannya. Pietersz menyatakan itu zeeduivel — setan laut — yang harus dibuang.[^15]
Upacara pembuangannya dipersiapkan besar-besaran. Sebuah prau dilengkapi kursi, payung, aneka kain, dan sebuah mangkuk putih bertutup piring berisi binatang itu. Pietersz meminta agar disertakan beberapa “pendeta” dan beberapa orang pilihannya sendiri dan ia memilih tiga kawan setawanan yang tak pernah cukup makan dari tuan mereka, supaya mereka bisa memanfaatkan kesempatan itu. Ia juga menuntut agar makanan disediakan berlimpah dengan ancaman bahwa bila mereka kelaparan, seekor binatang yang lebih besar akan bersarang di jantung si sakit dan ia pasti mati. Untuk menambah kesan sungguh-sungguh, ia menyuruh mengambil tujuh batu untuk dilempar ke laut bersamaan.[^16]
Di pulau itu, pulau tempat orang Balangingi biasa membuang mayat orang asing dan tawanan. Pietersz berbicara kepada ketiga kawannya dalam bahasa Melayu, supaya para pengawal tidak mengerti. Perhatikan pantai ini baik-baik, barangkali kalian berniat melarikan diri. Kalau begitu, pergilah lebih dulu tetapi beritahukan bahwa aku ada di sini.[^17]
Upacara itu, dengan kata lain, adalah pengintaian.
Berpura-pura Sakit
Ketika Somis menilai harga 1.000 spaansche mat terlalu tinggi dan menanyakan pendapatnya, Pietersz mengaku setuju, ia tahu takkan pernah sanggup mengembalikan uang sebesar itu. Turun ke darat, ia begitu putus asa sampai tak tahu harus berbuat apa. Melarikan diri tidak mungkin, tinggal lebih tidak mungkin lagi, kapan lagi ia akan melihat istri, anak-anak, dan kerabatnya?[^18]
Maka ia memilih jalan ketiga, berpura-pura sakit supaya harganya jatuh. Ia duduk sepanjang hari di depan pintu menghadap laut, menolak makan siang dengan alasan penyakit lamanya kambuh dan ketika didesak, ia menyatakan bahwa pada penyakit semacam itu ia sama sekali tak boleh makan sebab akan menghambat napasnya. Ditanya obat apa yang biasa ia pakai, ia menyebut sebuah nama yang tidak ada: “kolera–kartonis“. Orang-orang Oenkoed mencarinya ke seluruh kapal di pelabuhan dan baru pukul setengah tujuh malam kembali dengan kabar bahwa obat itu tak ada di mana pun.[^19]
Pukul sepuluh malam ia membuat tangan dan kakinya gemetar seolah terserang kolera. Ia ditarik-tarik sampai kesakitan di seluruh badan, lalu didatangkan seorang penyembuh yang mengusap wajahnya dengan air memakai sehelai daun sambil mengeluarkan bunyi seperti orang memancing.[^20]
Setelah dua hari dua malam berpura-pura, pada hari ketiga ia benar-benar jatuh sakit dan menulis bahwa itu justru yang ia inginkan, sebab kalau ia toh tak dapat dijual, lebih baik mati daripada terus hidup di antara manusia yang bisa memperlakukannya sesuka hati.[^21]
Tiga hari kemudian pada pukul delapan pagi, Oenkoed datang dari kapal dengan kabar bahwa Somis telah membelinya.
Permintaannya kepada Pietersz nyaris lucu bahwa “Bangunlah sekarang dan makanlah sebanyak-banyaknya, supaya kapten tidak melihat kau merosot, yang bisa membuatnya membatalkan pembelian.” Juru mudi Minerva Gregorio Baredo datang menjemputnya. Di kapal ia tahu harganya 300 spaansche mat. Somis sendiri heran bagaimana orang yang beberapa hari sebelumnya menolak menawar sepeser pun kini bersedia turun sampai 300.[^22] Muslihat itu berhasil.
Menghadap Sultan Solok
Dua hari kemudian Pietersz minta izin turun ke darat untuk menghadap Sultan. Dari Oenkoed ia tahu prosedurnya, siapa pun yang hendak berbicara dengan raja wajib lebih dulu melapor kepada radja laut, bernama datoe Tael, yang lalu menyampaikannya kepada sultan.[^23]
Yang ia katakan di hadapan sultan sering dikutip sebagai penyamaran, tetapi teksnya lebih rumit dari itu:
“Aku datang kepadamu, sultan, karena aku tahu engkau sahabat sultan Ternate dan dari tempat itulah aku berasal. Aku perlu memberitahumu bahwa aku bersama lima orangku ditawan perompak Balangingi, negeri yang berada di bawah kekuasaanmu, jika engkau berkenan dan ada kesempatan, sangat kuharap engkau menyuruh membawa kelima orang malang itu ke kapal Minerva. Berapa pun uang yang engkau minta untuk itu, kapten Somis atau aku akan memberikannya.”[^24]
Kepada Somis ia menyebut dirinya orang Manado, kepada Sultan ia menyebut dirinya orang Ternate. Tetapi alasannya ia nyatakan sendiri dan itu bukan sekadar menyembunyikan asal: Sultan Solok bersahabat dengan Sultan Ternate dan hubungan itulah yang ia pakai sebagai pintu masuk. Perlu ditambahkan bahwa keterangannya juga tidak seluruhnya palsu karena pada halaman kemudian ia menolak tawaran tinggal di Manila dengan alasan ia punya istri, anak-anak, dan kerabat di Ternate dan Manado.[^25]
Sultan menjawab bahwa memenuhi permintaan itu sama sekali tidak sulit dan tidak perlu dibayar sepeser pun, ia hanya minta nama-namanya. Pietersz menyebut empat nama, yang segera dicatat juru tulis sultan:
Abraham Samuel, Lukas Sinoeboe, Christiaan Voerman dan Sardonis.[^26]
Empat nama orang Manado masuk ke dalam catatan seorang juru tulis istana di Sulu pada tahun 1838.
Sepulangnya, datoe Tael menanyakan apa yang ia bicarakan dengan sultan, lalu memberinya satu spaansche mat untuk membeli buah. Dari uang itu Pietersz membeli jarum, benang, tembakau, dan buah.[^27]
Jalan pulang
Dari Solok ia dibawa dengan brik Spanyol Leonidas ke Zamboanga, menumpang pada Josefo Ramero, administrator angkatan laut. Pada 17 September 1838 komandan marinir Manoel de la Cruz menawarinya ikut pelayaran memburu perompak Balangingi, dan ia menerima. Mereka berlayar dengan flotila terdiri atas sebuah skuner dan tiga kapal meriam, menyusuri Pulau Basilan dan kepulauan Magindanao.[^28]
Pada 23 September flotila itu mencapai Solok. Sultan mengirim beberapa kepala untuk menanyakan maksud kedatangannya dan di antara utusan itu ada Oenkoed, bekas tuannya yang memandanginya dengan saksama tanpa yakin siapa yang ia hadapi, sebab pakaian Pietersz kini sama sekali berbeda.
Komandan memperingatkannya untuk berhati-hati. Pietersz menjawab bahwa itu tidak mengherankan karena orang itu bekas tuannya, yang kini barangkali malu mengenalinya. Mereka berjalan mondar-mandir di geladak sampai Oenkoed akhirnya bertanya apakah Pietersz masih mengenalnya. Ya, jawabnya. Lalu Oenkoed berkata: “sungguh! kau tampaknya orang besar sebab baik di kalangan Inggris maupun Spanyol kau sangat dihormati.”[^29]
Ia kembali ke Minerva, berangkat ke Manila 22 Oktober, tiba 3 November. Gubernur jenderal Andreas Camba memanggilnya dan menawarinya tinggal namun ia menolak karena keluarganya di Ternate dan Manado.
Ketika rencana Somis singgah di Batavia batal pada Februari 1839, Pietersz tinggal di Manila, menyewa rumah dekat gereja Binondo dari seorang bernama Antonie Tuwasang, bersama Abraham Schultsz. Ketika Schultsz dirawat lebih dari sebulan di rumah sakit, biaya perawatannya tidak dihitung.[^30]
Ia berlayar 19 Mei 1839 dengan brik Rosario, kapten Benito Bira, tiba di Zamboanga 30 Mei, meninggalkannya 7 Juni bersama tiga orangnya dan seorang bernama Tombasijang dari Amurang. Pada 29 Juni 1839 mereka akhirnya mencapai Manado pada dua belas setengah bulan sesudah Petronella meninggalkan pelabuhan itu.[^31]
Nasib enam orang Manado
Yang menjadikan naskah ini penting bagi Minahasa bukan hanya kisah Pietersz sendiri, melainkan bahwa ia menelusuri nasib awaknya satu per satu.
Abraham Samuel, juru mudinya dibeli oleh seorang kapten bernama Manoel Aldagar ketika kapten itu berada di Solok. Hanya atas keterangan Pietersz bahwa orang itu salah seorang awaknya, Aldagar mengembalikannya tanpa menuntut uang sepeser pun.[^32]
Lukas Sinoeboe, juru mudinya yang lain, ia temukan di Zamboanga pada 30 Mei 1839. Lukas lolos dari tangan perompak Balangingi pada Oktober 1838, tetapi sesudah itu empat kali lagi jatuh ke tangan orang jahat. Ia baru sebulan di Zamboanga dan dalam perkelahian dengan orang-orang yang hendak menyusulnya dalam pelarian ia mendapat enam luka.[^33]
Abraham Schultsz, sepupu Pietersz sendiri, dibeli Oenkoed dan ditemukan kembali di geladak Minerva. Pertemuan itu tidak hangat. Schultsz mengaku dialah yang memberi tahu Oenkoed bahwa Cornelis adalah orang penting dan justru keterangan itulah yang melambungkan harganya. “Kau sungguh membuatku celaka,” kata Pietersz. “Membuatmu celaka?” jawab Schultsz, “justru kupikir dengan banyak bicara baik tentangmu, aku akan lebih cepat membebaskanmu dari tangan orang-orang barbar ini.”[^34]
Tentang Christiaan Voerman dan Sardonis, naskah ini tidak mengatakan apa-apa lagi sesudah nama mereka dicatat juru tulis sultan.
Dan tentang kanonir Heintje, Pietersz menyimpan keterangannya sampai hampir di akhir. Heintje jatuh ke tangan perompak yang sama dengan Lukas Sinoeboe. Ia dibawa ke pulau tempat mereka biasa membuang mayat, diikat pada sebuah tiang, lalu dicincang. Lukas Sinoeboe bertanya mengapa mereka melakukan kekejaman seperti itu, jawaban mereka sederhana, mereka hanya ingin melihat setajam apa senjata mereka. Sisa-sisa tubuh Heintje setelah mendapat izin dari para perompak, dikuburkan oleh Lukas Sinoeboe.[^35]
Daftar Nama Dalam Naskah Ini
Orang Manado, Minahasa, dan awak Petronella
| Nama | Keterangan |
|---|---|
| Cornelis Zacharias Pietersz | nakhoda kotter Petronella; keluarga di Ternate dan Manado; nama samaran Djoemaät, Dominggo, Kantores |
| Abraham Schultsz | sepupu Pietersz, salah seorang awaknya; dibeli Oenkoed |
| Abraham Samuel | juru mudi; dibeli lalu dikembalikan Kapten Manoel Aldagar |
| Lukas Sinoeboe | juru mudi; lolos Oktober 1838, empat kali tertangkap lagi, enam luka |
| Christiaan Voerman | salah satu dari lima orang yang dimohonkan kepada Sultan |
| Sardonis | salah satu dari lima orang yang dimohonkan kepada Sultan |
| Heintje | kanonir; dibunuh perompak di pulau pembuangan mayat |
| Hof | sersan Eropa, naik di Kema 23 Mei 1838 |
| Tombasijang | orang Amurang; ikut pulang dari Zamboanga 7 Juni 1839 |
| (tanpa nama) | perempuan asal Manado, istri seorang Tionghoa, pedagang dari Solok — pembawa surat Pietersz |
| (tanpa nama) | empat militer Gorontalo yang sudah habis masa dinas, beserta tiga istri mereka |
Orang Balangingi dan Solok
| Nama | Keterangan |
|---|---|
| Baloedin | tuan pertama Pietersz; juga tercatat sebagai kepala perompak |
| Tamsé | paman Baloedin; membawa Pietersz ke Solok; melukai bibirnya karena dengki |
| Langoejang | guru Baloedin, yang dirawat Pietersz |
| Oenkoed | orang Solok, tuan kedua Pietersz; kemudian utusan Sultan |
| (tanpa nama) | istri Oenkoed — yang memperingatkan Pietersz dan mengusahakan pembeliannya |
| datoe Tael | radja laut, penjaga pintu masuk ke hadapan Sultan |
| (tanpa nama) | Sultan Solok |
Kepala perompak yang didaftar Pietersz sendiri adalah Elias, Abbal, Tamsé, Langoejang, Soealij Bapa Depa, Toelawe, Poetalandang, Goenoembal, Seid Pale, Baloedin, Hasan, dan Masleman.[^36]
Kampung berbenteng dan tak berbenteng di Pulau Balangingi menurut daftarnya: Boewasoewang, Seppa (berbenteng), Boekiet-tingal, Soeitang, Paat, Boalimoe (terdiri atas tiga kampung), Balangingi (berbenteng) dan Basangmoendi. Dekat Boekiet-tingal terletak Madioeliam, tempat pengungsian perempuan dan anak-anak bila kampung pertama diserang, dengan jalan keluar ke pantai timur.[^37]
Orang Eropa, Amerika, dan Spanyol
M. A. Somis (nakhoda bark Amerika Minerva), Gregorio Baredo (juru mudi Minerva); Escrebano (kapten brik Spanyol Leonidas); don Antonio Moralis (Zamboanga); Plant dan Grey (kapten dua kapal penangkap paus); Josefo Ramero (administrator angkatan laut Zamboanga); Manoel Zavis (gubernur Zamboanga); Manoel de la Cruz (komandan marinir); Andreas Camba (gubernur jenderal Manila); Manoel Aldagar (kapten yang mengembalikan Abraham Samuel); Benito Bira (kapten brik Rosario); Antonie Tuwasang (pemilik rumah di Binondo, Manila); C. W. Walbeehm (penerjemah).
Tiga catatan pengaman
Pertama, judul dan isi tidak cocok. Terbitan 1855 memberi judul “onder de zeeroovers van Magindanao“, tetapi seluruh isi naskah berbicara tentang Balangingi dan Solok, bukan Magindanao. Selisih ini kemungkinan berasal dari redaksi atau penerjemah, bukan dari Pietersz. Kutiplah judulnya apa adanya, tetapi jangan menyimpulkan dari judul itu bahwa peristiwanya terjadi di Mindanao.
Kedua, kalimat penutup adalah tuduhan, bukan temuan. Pietersz menutup naskahnya dengan pernyataan bahwa perompak Balangingi dalam kejahatan mereka didukung oleh Sultan Solok.[^38]
Itu kesimpulan seorang bekas tawanan, bukan hasil pemeriksaan. Perlu dicatat pula bahwa pada 1855 pernyataan semacam itu selaras dengan kepentingan pemerintah Belanda maupun Spanyol yang sedang menyiapkan tindakan keras terhadap Balangingi dan Sulu. Ini klaim Pietersz, bukan sebagai fakta.
Ketiga, kesamaan nama bukan bukti. Salah satu kampung Balangingi dalam daftar Pietersz bernama Paat, sama dengan salah satu marga besar Minahasa. Tidak ada apa pun dalam naskah ini yang menghubungkan keduanya dan kebetulan bunyi tidak pernah menjadi bukti kekerabatan.
Mengapa naskah ini penting
Sejarah perompakan Sulu di perairan Sulawesi Utara biasanya kita baca dari sisi yang salah yaitu dari laporan residen, dari surat gubernur, dari angka korban dalam arsip. Naskah Pietersz membalik sudut pandang itu. Yang berbicara adalah orang yang ditawan dan ia berbicara dalam bahasa Melayu, bahasa yang ia pakai sendiri, dua kali dalam kisah ini justru sebagai senjata: sekali untuk menyampaikan pesan rahasia kepada sesama tawanan di bawah hidung pengawal dan sekali untuk menulis surat permohonan yang akhirnya menyelamatkannya.
Kisah ini juga tidak nyaman dan sebaiknya tetap dibiarkan tidak nyaman. Pietersz seorang pedagang dan pemilik budak yang jatuh menjadi budak. Ia bertahan hidup dengan berbohong tentang namanya, tentang asalnya, tentang penyakitnya, tentang obat yang tidak ada, tentang setan laut di antara jari kaki seorang tua. Semua kebohongan itu ia catat sendiri tanpa membelanya, seolah tidak terpikir olehnya bahwa ada yang perlu dibela.
Dan pada akhirnya yang tersisa dari daftar panjang nama-nama itu adalah tujuh orang dari Manado dan sekitarnya yang berangkat pada Mei 1838, satu pulang dan menulis, dua ditemukan kembali, satu dicincang di pulau pembuangan mayat dan dikuburkan oleh temannya sendiri dan dua orang — Christiaan Voerman dan Sardonis — hilang dari catatan tepat setelah nama mereka ditulis oleh seorang juru tulis di Sulu.
Catatan kaki
Akses Member
Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.
- Penulis: Alfa Leo
