Arie Frederik Lasut, Pahlawan Pertambangan dan Geologi

 

Indonesia merupakan negeri luas yang membentang dari Sabang sampai Merauke, memanjang dan tepat berada di tengah-tengah garis khatulistiwa. Memiliki sejuta kekayaan yang terkandung di dalamnya, di laut, hutan, termasuk di dalam perut buminya. Kekayaan alam yang terkandung di perut bumi Indonesia bukanlah sembarangan, selain memiliki potensi yang besar, ia memiliki kekhasan dan kualitas yang baik. Dan ini pula yang menjadikan Indonesia dulu (Nusantara) sebagai daerah rebutan para penjajah.

Kita mengetahui bahan tambang yang berada di bumi Papua memiliki kualitas terbaik di dunia, begitu pula timah yang ada di Bangka Belitung, batu bara di Kalimantan juga tak ingin ketinggalan menyumbang devisa untuk negara. Tarakan memiliki kualitas minyak bumi yang baik sehingga menjadi incaran Jepang guna memenuhi bahan bakarnya saat perang pasifik, potensi panas bumi di “komplek” gunung api yang tersebar di Jawa dan Sumatera sangat besar, coal bed methane yang merupakan sumber energi fosil yang baru dikembangkan di Sumatera Selatan, hingga cadangan gas raksasa yang masih tersimpan di laut Natuna. Semuanya merupakan kekayaan alam di sektor pertambangan dan energi yang dimiliki oleh Indonesia dan harus dijaga.

Oleh karena itu, sektor energi berperan penting dalam perkembangan bangsa yang kita cintai ini. Dan kamu harus tau, Indonesia memiliki pahlawan nasional disektor ini. Selain dengan mengangkat senjata, jasa para pahlawan juga ditetapkan melalui tindakan-tindakan heroik yang ia lakukan dalam mempertahankan segala bentuk yang berhubungan kedaulatan kemerdekaan Indonesia. Entah itu daerah, asset, bahkan dokumen sekalipun!

Nah tulisan saya kali ini akan membahas tentang satu tokoh penting dalam keberlangsungan sektor pertambangan dan energi di Indonesia. Tak banyak yang mengenalnya, namun di beberapa tempat namanya abadi dikenang. Selain aksi heroiknya, ia juga dikenal sebagai pahlawan tampan.

Pertama kali saya melihat nama ini adalah ketika masuk kuliah dulu. Gedung Fakultas kami, Fakultas Teknologi Mineral (FTM) bernama Arie Frederick Lasut (AFL). Semula saya sama sekali tidak ngeh dengan nama ini, pun tidak tahu bahwa Arie Lasut merupakan seorang Pahlawan Nasional. Foto dan profil singkat beliau yang saya lihat di dalam gedung fakultas baru membuat saya mengerti, bahwa nama gedung ini diambil dari nama Pahlawan Nasional disektor energi pertambangan.

Namun saat itu belum terbesit untuk menuliskan profil tentang Arie Lasut, karena belum memiliki blog. Lama berlalu, baru kemarin ketika sedang nyekrol-nyekrol akun instagram kementrian ESDM dan ketemu tentang profl singkat AFL, terus — terus — hingga akhirnya alhamdulillah bisa chatting sama cucunya langsung! Dari beliau lah saya mendapatkan berbagai sumber di internet untuk menulis biografi singkat bapak Arie Frederick Lasut ini.

Lahir dan Pendidikan Awal (1918 – 1937) : Murid Pintar

Arie Frederick Lasut lahir di Desa Kapataran dekat Tondano, Sulawesi Utara pada 6 Juli 1918 sebagai anak pertama dari delapan bersaudara. Ayahnya bernama Darius Lasut asal Tulap dan ibunya Ingkan Supit. Arie lahir dari keluarga sederhana, ayahnya yang berprofesi sebagai seorang guru sangat disiplin dalam mendidik anak-anaknya, Arie Lasut dan saudara-saudara kandungnya juga dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat.

Arie Lasut memulai pendidikannya pada tahun 1924 di Hollands Inlandse School (HIK) di Tondano. Setelah lulus dengan prestasi terbaik, Arie kemudian melanjutkan ke sekolah guru Hollands Inlandse Kweekschool (HIK) di Ambon dan lulus tahun 1933. Sebagai pelajar terbaik, ia terpilih ke HIK di Bandung, setingkat diatas HIK Ambon. Namun sekolah guru ini tidak ia selesaikan, ia pindah ke Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas (Algemeene Middlebare School) bagian B (Wisen Natuurkundiege Afdeling -IPA-) di Jakarta.

Arie Lasut memulai pendidikannya pada tahun 1924 di Hollands Inlandse School (HIK) di Tondano. Setelah lulus dengan prestasi terbaik, Arie kemudian melanjutkan ke sekolah guru Hollands Inlandse Kweekschool (HIK) di Ambon dan lulus tahun 1933. Sebagai pelajar terbaik, ia terpilih ke HIK di Bandung, setingkat diatas HIK Ambon. Namun sekolah guru ini tidak ia selesaikan, ia pindah ke Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas (Algemeene Middlebare School) bagian B (Wisen Natuurkundiege Afdeling -IPA-) di Jakarta.

Pendidikan Lanjut dan Pekerjaan (1937-1941) : Pemuda Tangguh

Setelah tamat dari AMS tahun 1937, ia masuk ke Geneeskundige Hooge School, Sekolah Kedokteran di Jakarta (FKU UI sekarang). Ternyata sekolah itu pun tak ia teruskan karena kesulitan biaya waktu itu. Sekolah kedokteran itu hanya mampu ia tempuh selama setahun.

“Diceritakan oleh Nelly Lasut -adik Arie Lasut : (geomagz)-, ketika sekolah di Jakarta, Arie tinggal dengan pamannya dari pihak ayah. Untuk membantu meringankan beban finansial keluarga dalam membiayai kuliahnya, Arie memberikan les privat kepada siswa SMA, dan dia pernah belajar di bawah penerangan lampu jalan demi menghemat biaya listrik di rumah pamannya itu.”

Pada tahun 1938, ia sempat bekerja di Departemen Urusan Ekonomi (Departement van Ekonomische Zaken). Lalu ditahun 1939 ia melamar beasiswa dan diterima masuk Techniche Hoogeschool te Bandung (kini ITB). Lagi, kuliah di sini tidak ia teruskan karena masalah biaya (sumber lain menyebutkan adalah karena prasyarat yang diberikan Belanda : Arie harus menyatakan bersedia menjadi orang Belanda gelijkgesteld dan Arie menolak persyarat itu). Sumber lain juga mengatakan bahwa tidak dilanjutkannya pendidikannya tersebut adalah karena Perang Dunia ke II. Arie Lasut pun batal menjadi dokter dan Insinyur.

Pada tahun 1939 dia mengikuti ujian masuk kursus asisten geologi pada Dienst van den Mijnbouw (selanjutnya menjadi Jawatan Tambang dan Geologi dan sekarang menjadi Direktorat Jendral Geologi dan Sumber Daya Mineral). Arie melamar beasiswa. Lamaran diterima dan ia lulus dua terbaik diantara 400 pelamar beasiswa pendidikan tinggi geologi. Arie Frederick Lasut bersama rekannya R. Soenoe Soemosoesastro kemudian menjadi asisten ahli geologi pertama di Indonesia. Keduanya sama-sama memiliki mental pejuang.

Arie dan Soenoe bertemu di Bandung ketika mereka sama-sama diterima sebagai siswa kursus asisten geologi yang diselenggarakan oleh Dienst van den Mijnbouw. Mereka merupakan murid dari dari RW Van Bemmelen, seorang geologis berkebangsaan Belanda yang meneliti dan menulis buku Geology of Indonesia. Banyak manuskrip yang beliau pelajari dan disimpan semasa belajar dan meneliti bersama sang guru (geopedia).

 

Kursus di Dienst van den Mijnbouw berlangsung selama tiga tahun (1939-1941) dan lulusannya langsung diangkat menjadi pegawai Dienst van den Mijnbouw. Arie dan Soenoe adalah siswa bumiputera pertama sekaligus terakhir yang diterima dikursus tersebut. Perubahan peta politik kala itu membuat kursus asisten geologi ditutup bersamaan dengan datangnya Jepang ke Nusantara. Selama masa studinya di Dienst van den Mijnbouw, Arie juga dilatih sebagai Corps Opleiding Rerserve Officer (CORO) oleh Belanda untuk membantu pertahanan melawan serangan tentara Jepang.

Menikah dan Keluarga (1941) : Putri Semata Wayang

Pada 31 Desember 1941, Arie Frederick Lasut menikah dengan Nieke Maramis. Arie tak sempat menikmati bulan madu karena harus ditugaskan ke medan perang melawan Jepang karena Arie masuk dalam anggota CORO. Dari perkawinannya, lahir putri cantik jelita yang diberi nama Winny Lasut pada tanggal 23 Maret 1944. Saat dewasa, Winny Lasut menikah dengan Lukman Arifin hingga melahirkan 3 orang putera yakni Iskandar Zulkarnaen Arifin, Arie Arifin, dan Sandy Arifin.

Masa Kependudukan Jepang (1942-1945)

Saat Belanda menyerah tanpa syarat pada Jepang tanggal 8 Maret 1942 pada perjanjian Kalijati, secara otomatis segala aset Belanda berpindah tangan ke Jepang. Berikut gambaran awal-awal pendudukan Jepang lewat tulisan Soenoe :

8 Maret 1942 : Gencatan senjata. Ternyata benar, kelompok-kelompok pejuang (prajurit? – pen.) dengan secarik kain putih melilit di leher mereka, lewat dengan pakaian penuh lumpur, berjalan terseok, dan mata yang lapar. Empat hari tanpa makan, dan berada dibaris depan, mereka sungguh menderita. Beberapa kelihatan gembira dan bersemangat, mereka beruntung masih dapat hidup, sedang teman-teman mereka tidak akan kembali lagi. Kantor kami kosong, orang-orang dari ML (Militaire Luchtvaart) sibuk membakar dokumen. Tugasku sebagai penjaga kebakaran (dokumen itu) selesai. Kantor-kantor milik pemerintah kolonial Hindia Belanda segera diduduki dan diambil alih oleh Jepang, termasuk Dienst van den Mijnbouw.

11 Maret 1942 : Hari ini kantor sudah diduduki oleh Jepang. Saya pikir, untuk sementara waktu kami tidak diizinkan untuk masuk. Apa lagi yang akan terjadi sekarang? Kehidupan kota mulai hari ini diharuskan berjalan normal kembali. Toko dan restoran harus buka kembali. Bagaimana semua aturan ini bisa berjalan dengan adanya jam malam?

Jepang juga merubah nama Dienst van den Mijnbouw menjadi Zogyo Zimusho dan kemudian diubah lagi menjadi Chishitsu Chosacho. Arie dan Soenoe serta beberapa karyawan Indonesia masih tetap bekerja di departemen ini. Arie juga diangkat menjadi asisten di departemen yang berkedudukan di Bandung ini. Ia merupakan salah satu dari tiga orang pribumi yang memiliki jabatan strategis di departemen yang dikuasai Jepang tersebut, dua orang lagi adalah Soenoe dan Ali Tirtosuwirjo. Arie dan rekan-rekan juga melakukan penelitian tentang geologi. Salah satu hasil penelitiannya adalah temuan bahan mineral yang disebut “yarosit” yang ditemui di daerah Ciater. Laporan-laporan hasil penelitian tersebut kini tersimpan di Perpustakaan Pusat Survei Geologi, Badan Geologi di Bandung.

Masa Awal Kemerdekaan (1945-1949) : Cerita Perjuangan

Tahun 1945 merupakan tahun terakhir kependudukan Jepang di Indonesia, setelah melalui berbagai peristiwa, termasuk peristiwa bom Atom Hiroshima Nagasaki dan kalah dalam perang pasifik. Akhirnya Jepang mengakui kedaulatan Negara Indonesia. Indonesia merdeka dengan diproklamirnya proklamasi kemerdekaan oleh bung Karno di rumah syekh Farad bin Marta di jalan Pegangsaan Timur no 56. Dengan ini, serta merta pula aset-aset dan instansi-instansi yang dimiliki Jepang beralih tangan menjadi milik Indonesia sesuai dengan Instruksi Presiden.

 

Arie Lasut berperan penting dalam perebutan aset-aset di Chishitsu Chosacho. Bersama Raden Ali Titosuwirjo yang berjiwa ”tut wuri handayani”, bangkitlah Arie Frederick Lasut dan rekan-rekannya dengan jiwa ”ing madya mangun karso” dan sekaligus berdiri di barisan depan dengan jiwa pejuang ”ing ngarso sing tulodo”. Akhirnya pada 11 September 1945 (sumber lain menyebutkan tanggal 28 September 1945, link), pada pukul 09.00 Chishitsu Chosacho diambil oleh para karyawan Indonesia dari Jepang tanpa ada pertumpahan darah dan namanya diganti menjadi Poesat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG).

Pengalaman yang ia dapatkan sewaktu bekerja di lembaga tersebut memberikan manfaat bagi negara ketika proklamasi kemerdekaan berkumandang. Karena pengetahuannya akan Geologi Indonesia yang baik itu pulalah, tanggal 16 Maret 1946 Arie F. Lasut dipilih dan diserahi tugas menjadi Kepala Djawatan Tambang dan Geologi, pada saat usianya baru menginjak 28 tahun. Sementara Soenoe menjadi wakilnya. Kecerdasan, keuletan kerja, serta kepeloporan Arie Lasut membuat beliau yang masih muda mampu mengelola suatu jawatan yang saat itu merupakan salah satu yang terbesar di Asia. Memang sangat luar biasa ketika pemuda mampu mengelola suatu lembaga ilmiah dan kekayaan bangsa dan negara Indonesia yang sangat bermanfaat yang terasa manfaatnya hingga saat ini.

 

Masa awal-awal kemerdekaan Indonesia ternyata tak berjalan mulus. Belanda ternyata bernafsu kembali ingin menjajah Indonesia. Mereka kembali datang dengan membonceng tentara sekutu untuk mengambil alih Indonesia. Peristiwa ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan Agresi Militer Belanda I dan II.

Kedudukan yang diemban serta pengetahuannya akan aset Pertambangan dan kekayaan negara membuat ia menjadi incaran Belanda. Arie yang semula diragukan kesetiaannya kepada Indonesia karena ia berasal dari Manado (orang dulu beranggapan bahwa orang Manado lebih memihak kepada Belanda – M.M. Poerbo), ternyata malah menolak bekerjasama dengan Belanda. Bahkan Arie berjuang dalam laskar rakyat bersama KRIS.

Kepahlawanan Arie Lasut ternyata tak hanya dibidang ilmu dan teknologi saja. Darah pejuang titisan Dotu Lolong Lasut yang mengalir dalam diri pemuda Arie Frederik Lasut semakin bergejolak sejak datangnya Belanda setelah Indonesia merdeka. Arie F. Lasut turut aktif dalam organisasi Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) yang memiliki tujuan membela kemerdekaan Republik Indonesia. Ia juga berjuang bersama adik kandungnya Welly Lasut yang saat itu menjabat sebagai Komandan Kompi BS (Berdiri Sendiri) Brigade 16, Kesatuan Reserse Umum X. Dalam rangka perjuangannya itu, Arie F. Lasut sering memasok bahan-bahan kimia untuk membuat bom molotov yang diperlukan oleh para pejuang kemerdekaan. Bahan-bahan kimia itu diperoleh dari laboratorium geologi. Arie juga beberapa kali menyerang pos Belanda dan merebut senjata dari tangan Belanda kemudian dibagi-bagi kepada anak buahnya dan digunakan untuk melawan Belanda.

Merasa pentingnya dokumen-dokumen yang berisi tentang informasi kekayaan negara ini, ia pun beberapa kali memindahkan kantor Djawatan Tambang dan Geologi ke berbagai tempat guna menyelamatkan dokumen-dokumen tersebut agar tak jatuh di tangan Belanda.

“Poerbo Hadiwidjojo, murid Arie Lasut menjelaskan tentang sosok sang guru. Ia menceritakan bahwa Arie merupakan orang yang lugas dan pemberani, ia adalah tipe pejuang yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda.”

Jalur penyelamatan dimulai pada tanggal 12 Desember 1945 dari Gedung Museum Geologi ke Braga 3 toko Onderling Belang (sekarang ”Sarinah”). Setelah makin tidak-amannya Kota Bandung saat itu, akhirnya Arie memindahkan kantornya ke Tasikmalaya pada tanggal 24 Maret 1946 jam 12 malam atas petunjuk dari Asykari, seorang perwira TRI (Tentara Republik Indonesia). Setelah situasi di Jawa Barat juga semakin genting, dan kantor Jawatan tidak bisa dipertahankan lagi di Tasik, Arie memindahkan kantornya ke Magelang karena mempertimbangkan dekatnya jarak Magelang dengan pusat pemerintahan di Yogyakarta saat itu. Kantor Jawatan secara berangsur-angsur pindah ke Magelang pada tanggal 6 september 1946.

Merasa pentingnya ilmu geologi dan pertambangan bagi bangsa ini, maka perlu pula untuk mencetak generasi penerus. Oleh karena itu saat masa pengungsian di Magelang, atas gagasan Soenoe, mereka mendirikan Sekolah pelatihan geologis. Soenoe sadar, masih sedikit orang Indonesia yang memiliki keahlian dibidang geologi dan pertambangan. Dia berusaha mengisi kekosongan tenaga Indonesia dibidang tersebut dengan cara mendirikan sekolah. Sekolah-sekolah yang ia dirikan antara lain Sekolah Pertambangan dan Geologi Rendah, Sekolah Laboratorium Geologi, dan Sekolah Pertambangan Tinggi. Arie juga turut mengajar di sekolah tersebut. Jasa terbesar duo Soenoe dan Arie dibidang geologi adalah perubahan istilah-istilah geologi dari bahasa Belanda menjadi bahasa Indonesia. Nelly Lasut (adik Arie Lasut) menuturkan bahwa ketika ia ikut dengan Arie tinggal di Magelang, dia diminta membantu Arie menerjemahkan buku-buku geologi berbahasa Belanda ke Bahasa Indonesia untuk keperluan Arie mengajar.

Segi lapangan dari segi geologi tambang adalah usaha Soenoe memperkenalkan geologi kepada siswanya. Bagi Soenoe geologi adalah salah satu cara untuk menanamkan rasa cinta kepada Tanah Air, dan kunjungan ke lapangan akan menunjang tumbuhnya rasa cinta tersebut. Demikianlah, Soenoe dan Arie bahu-membahu dalam berjuang didunia pendidikan. Soenoe lebih banyak memegang mata pelajaran; walaupun demikian Arie tetap turut memberi warna tersendiri pada sekolah tersebut. Namun sekolah-sekolah tersebut tak bertahan lama karena adanya Agresi Militer Belanda I.

Keadaan Republik Indonesia semakin sulit dan areanya semakin sempit semasa Agresi Militer Belanda. Magelang pun tak luput dari serbuan Belanda. Arie sempat mengamankan dokumen-dokumen penting negara hingga dibawa ke Sumatera tepatnya di Bukittinggi. Arie kembali ke Magelang tanggal 7 Mei 1947. Akibat Agresi Militer Belanda I tanggal 21 Juli 1947, kantor Jawatan Tambang dan Geologi kembali dipindahkan, kali ini ke Yogyakarta atas surat perintah dari Menteri Muda Kemakmuran No. 92/T.O/JO tanggal 20 November 1947.

Tahun 1947 merupakan tahun kesedihan bagi Arie, istri tercintanya Nieke, meninggal beberapa hari menjelang natal. Nieke meninggal karena kekurangan darah ketika melahirkan anak kedua mereka. Segala daya upaya telahpun dilakukan oleh Willy Lasut (adik Arie Lasut) yang membantu untuk mendapatkan bantuan darah, namun gagal. Nieke meninggal dalam usia yang sangat muda serta meninggalkan Winny Lasut, putri mereka yang baru berusia 3 tahun. Malang nasib Arie, perjuangannya belum selesai namun ia sudah ditimpa musibah. Arie F. Lasut sangat menghormati istri dan keluarganya. Dia tidak ingin mengecewakannya. Dalam keadaan yang sangat terpukul ia tetap meneruskan perjuangannya.

Di Yogyakarta, kantor Jawatan Tambang dan Geologi menempati suatu bagian dari rumah paman Sri Sultan Hamengkubuwono IX di Pugeran. Arie dan keluarga yang belum mendapat tempat tinggal menumpang di rumah Paman Sultan tersebut. Di Jogja ia kembali membangun kantor Jawatannya karena baru saja pindah dari Magelang, ia selalu mendapat kesulitan terlebih masalah pegawai karena setiap kepindahan kantor, ada saja pegawai yang tidak ikut serta. Perlahan tapi pasti, ia mengumpulkan kembali pegawai-pegawainya yang mengungsi ke Jogja. Sekolah Geologi yang ia dan Soenoe dirikan di Magelang yang sempat tutup akibat Agresi Militer Belanda kini dapat dibuka kembali di Jogja. Selama pengungsian dan penyelamatan dari Bandung hingga ke Jogja ini ia dibantu oleh Amsir, Wana, Rd. Subroto S. Masdar, dan lain-lain.

Sekolah Geologi yang ia dirikan bersama Soenoe beberapa waktu lalu berhasil mencetak beberapa anak didiknya yang ternyata mampu menjadi mata rantai penerus kegiatan kerja geologi. Mereka antara lain adalah Djajadi Hadikusumo, Suryo Ismangun, Mohammad Jasin Rachmat, Oemar Chatab, Prajitno, dan M.M. Purbo Hadiwidjojo.

 

Disamping jabatannya sebagai kepada Djawatan Tambang dan Geologi. Ia juga diangkat menjadi Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang menjalankan fungsi legislatif seperti Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI sekarang. Ia terlibat dalam berbagai perundingan dengan Belanda untuk mendapatkan pengakuan atas kemerdekaan Indonesia. Dia juga adalah salah satu anggota delegasi Mohamad Roem dalam berunding dengan Van Roijen.

 

Agar lebih fokus dengan jawatan yang ia pegang dan dengan perjuangannya melawan Belanda. Arie mengungsikan Winny Lasut dan Utje Dengah, sekretaris pribadinya yang sudah menjadi tunangannya ke Jakarta. Mereka berangkat ke Jakarta setelah mendapat izin dari Pemerintah RI dan Pemerintah Pendudukan Belanda di Yogyakarta. Ia, anaknya dan tunangannya pergi ke Jakarta pada bulan februari 1949. Selama di Jakarta pun ia tak membuang-buang waktu. Ia gunakan untuk berunding dengan pengusaha-pengusaha tambang asing (selain Belanda) yang ada di Jakarta dengan maksud jika nanti Belanda sudah pergi meninggalkan Indonesia maka Jawatan Tambang dan Geologi telah siap untuk mengurus tambang-tambang yang dikuasai asing tersebut.

Maret 1949, ia kembali ke Yogyakarta. Sebelumnya ia sudah ditahan oleh sang tunangan untuk tidak kembali ke Yogyakarta dengan berbagai alasan. Lantas Arie berkelakar :

”Ah, kasihan Nieke, dia terbaring sendirian (di sana)!”

Begitu kata Arie mengenang istri tercintanya. Sederhana namun bermakna sangat dalam.

-Sang tunangan, Utje Dengah, sampai akhir hayatnya diusia 80an, tetap setia dengan ikatan tunangannya bersama Arie Lasut. Setiap saat ia selalu membanggakannya, dengan barang-barang peninggalan, surat-surat cinta, dan lainnya. (Arie Arifin, cucu AFL, komunikasi pribadi, 2018)-

Gugur (1949) : Pahlawan Nasional

Pengetahuannya akan dokumen-dokumen kekayaan negara serta jabatan yang diembannya membuat Arie Lasut menjadi target incaran Belanda. Rumah dan kantornya di Jogja pun sering dimasuki oleh orang-orang tak dikenal. Surat-surat yang berada di laci-laci meja di rumah dan kantornya sering berantakan. Jelaslah orang tersebut ingin mencari dokumen-dokumen penting. Sejak saat itu pula, rumah dan kantor Arie menjadi sasaran geledah Belanda, dan ruang geraknya pun makin terbatas.

 

Beragam bentuk bujukan diterima Arie oleh Belanda agar Arie berpihak pada mereka. Bahkan Belanda pernah mengutus Prof. Ir. Achersdijk, seorang guru besar yang pernah mengajarinya saat sekolah geologi dulu untuk membujuknya agar mau bekerja sama dengan Belanda. Berbagai rayuan mulai dari fasilitas yang baik, gaji yang tinggi hingga disekolahkan ke luar negeri ia terima. Namun sedikitpun Arie tak tertarik dengan tawaran dari Belanda tersebut.

Ada satu kebiasaan aneh Arie sepulangnya ia dari Jakarta yang diucapkan pembantunya. Ia sering mengeluarkan baju istrinya dan ia gantung digantungan pakaian, lalu menangis. Ia juga bercerita pada teman-teman dekatnya bahwa ia telah membeli tanah di samping kuburan istrinya agar tak “didesak” orang lain. Arie juga menulis surat untuk putri semata wayangnya berupa nasehat bagaimana cara hidup yang baik sebagai wanita. Kepada rekannya R.I Soebroto Imam Wirejo ia menunjukkan tempat dimana ia menguburkan bahan-bahan untuk kepentingan laboratorium.

Arie yang memegang jabatan sebagai Kepala Djawatan Tambang dan Geologi tentulah mengetahui dokumen-dokumen rahasia negara. Oleh karena itu Belanda sangat ingin agar ia berpihak kepada Belanda. Berbagai cara dilakukan Belanda namun tak kunjung berhasil. Usaha terakhir Belanda adalah menariknya saat perundingan Roem Roijen. Itu juga gagal.

 

Tanggal 3 Mei 1949, waktu itu ia baru kembali dari perundingan Roem Roijen. Ia didatangi oleh dua orang pegawainya, Amsir dan Saloran. Kepada mereka, Arie mengatakan bahwa naskah perundingan Roem Roijen sebentar lagi akan ditandatangani. Ia juga meminta pegawainya itu tetap tenang, hati-hati dan waspada dalam tindakan. Arie berharap kepada pegawainya itu agar dapat merasakan nikmatnya negara yang merdeka. Ia juga berpesan agar menghormati siapa saja yang menghormati kita sebagai bangsa yang merdeka dan jangan merasa rendah diri.

 

Merasa segala daya upaya yang dikerahkan Belanda tak menuai hasil, Belanda semakin meradang. Puncaknya, pada 7 Mei 1949 jam 9 pagi, datang pesan radiogram dari Pemerintah Belanda di Jakarta kepada Komandan Pasukan Belanda yang ada di Yogyakarta.

“A.F. Lasut zoospoedig mogelijk wegwerken”

Begitu isi pesan radiogram yang diterima oleh I.V.G (inlichtingen veilig heid grop -dinas rahasia Belanda-), kurang lebih berarti “A. F. Lasut secepat mungkin dihilangkan“. Mendengar perintah yang masuk tersebut, Arie langsung “dijemput” oleh Belanda di kediamannya di Jogja jam 9.30 kemudian dibawa ke Pakem (Kaliurang, Sleman). Kejadian penjemputan Arie oleh Belanda merupakan hal yang biasa terjadi, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dan biasanya Belanda juga bersikap ramah. Namun tidak untuk saat itu. Dalam perjalanan Arie dipukul, disiksa dengan kejam agar mau memberitahukan rahasia negara berupa kekayaan tambang dan geologi. Penyiksaan kejam tersebut ternyata tidak membuat Arie F. Lasut berkhianat bagi negaranya, juga bagi tanah leluhurnya Toar Lumimuut, tapi justru memicu semangat berani mati untuk kejayaan Bangsa dan Negara Indonesia.
Setelah dihajar dengan popor senjata, ditampar dan dipukul, serta disiksa habis-habisan, Arie F. Lasut tetap tidak mengeluarkan sepatah-katapun dari mulutnya. Akhirnya sambil menatap tentara Belanda dengan gagah berani, beliau ditembak dengan keji oleh Belanda yang putus asa. Arie gugur tepat pada hari saat perjanjian Roem Roijen ditandatangani di Jakarta. Saat itu usianya 30 tahun dan masih menjabat sebagai kepala Djawatan Tambang dan Geologi. Jenazahnya ditemukan terbujur mengenakan celana dan kaus putih serta tangannya memegang granat.
Beberapa bulan kemudian, pada tanggal 13 Agustus 1949 makamnya digali kembali dan pada keesokan harinya kerangkanya dikuburkan kembali di sisi makam istrinya di Pemakaman Umum Kristen Kintelan Yogyakarta dengan Upacara Kenegaraan. Upacara penguburan dihadiri pejabat presiden Republik Indonesia pada saat itu, Mr Assaat.
Atas jasa-jasanya, terutama dalam menyelamatkan dokumen geologi dan pertambangan, Arie Frederick Lasut ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 012/T.K/1969 tanggal 20 Mei 1969. Prasasti untuk mengenang jasa-jasa Arie dipasang di tangga menuju lantai 2 Museum Geologi di Bandung.
Nama Arie F. Lasut juga diabadikan menjadi nama sebuah gedung Fakultas Teknologi Mineral di kampus energy -UPN “Veteran” Yogyakarta-. Bersama Soenoe, Arie F. Lasut dinobatkan menjadi Bapak Pertambangan Indonesia. Menurut pak Arie Arifin, nama Arie F. Lasut juga diabadikan pada nama sebuah gelanggang olahraga dan jalan protokol di Manado, Sulawesi Utara, tempat dimana sang pahlawan dilahirkan.
Arie Lasut sudahpun gugur meninggalkan kita semua, namun keteladanan dan semangat dalam mempertahankan kemerdekaan patutlah kita teruskan. Keteladanan yang bisa diambil dari dua sosok ini adalah kesederhanaan, kesetiaan, dan semangat pantang menyerah demi menjaga harkat martabat bangsa agar tak jatuh ketangan asing. Khususnya kepada para pemuda “penerus” Arie dan Soenoe dibidang Geologi dan Pertambangan. Para pelajar dan mahasiswa. Jika dulu mereka mengorbankan segalanya untuk bangsa, maka saat ini kita diwariskan ilmu dan keteladannya untuk belajar dengan baik, sehingga bisa menjadi bangsa yang sepenuhnya merdeka disegala sektor.

Ucapan terimakasih saya kepada bapak Arie Arifin (cucu pak Arie Lasut) atas berkenannya untuk membagi berbagai sumber, mereview, dan mengoreksi data sehingga saya bisa buatkan tulisan biografi singkat pahlawan nasional dibidang yang pernah saya tekuni ini.

sumber: http://www.naldoleum.com/2018/09/arie-lasut-geologi-pertambangan.html

Tinggalkan Balasan